“Rotinya enak.” Carrie memecah keheningan. Roti isinya telah setengah habis dan dia tidak bisa menyembunyikan rasa laparnya. Bekerja seharian membuatnya amat sangat kelelahan. Hari ini berlangsung cepat, dia pun tidak tahu mengapa masih bertahan disini. Namun, pada dasarnya ia tidka peduli dimanapun dia berada, dia hanya takut jika ayahnya akan bertindak di luar pemikirannya.
James memang tidak terlihat seperti penculik. Ya, sekarang dia malah seperti sedang menjamu seorang teman lama. “Terima kasih.”
Carrie tahu perdebatan akan kembali berkobar jika membahas penculikan ini. Alhasil dia lebih memilih mengorek informasi tentang James. “Jadi kau tinggal disini selama ini?”
“Tidak, ini hanya rumah singgah.”
“Jadi kau tidak tinggal disini—maksudku dalam waktu lama?”
“Aku punya apartemen di Austin jika itu maksudmu, dan jika kau ingin tahu lengkapnya ada di dekat rumah kalian. Itulah kenapa aku bisa melakukan pengintaian dengan mudah.”
“Bagaimana mungkin kau bisa mengintaiku dan aku sama sekali tidak mengetahuinya?”
“Aku ini terkadang bisa menjadi orang yang berbahaya, Nona.”
“Kau tidak tinggal dengan siapapun disini?”
“Apa kau masih penasaran apakah ada Nyonya Woodruff atau tidak? Kau khawatir, Nyonya Woodruff ini akan datang dan memergoki kita berdua disini?”
“Bukan itu maksudku!”
“Tidak dengan siapapun, selama ini aku tinggal sendiri, dan selalu sendirian—dan aku suka sendirian, tapi bukan berarti ranjangku akan selalu sendirian, jika kau juga mau tahu.”
“Tidak mau tahu.”
“Kukira kau sedang menyelidiki tentangku, Nona?”
“Tidak sama sekali, aku hanya ingin tahu orang yang menculikku.”
“Well, namaku James Harry Woodruff, usia dua puluh tujuh tahun, tinggal di kota Austin, tepatnya di Parmerced Third Apartemen, nomor kosong-sembilan, aku sedang tidak berkencan dengan wanita manapun, tapi sebelumnya aku menjalin hubungan dengan wanita yang ternyata seorang p*****r. Aku mahir memasak, mahir segalanya, termasuk di ranjang. Tamat.”
“Aku tak mau tahu tentang itu.”
“Bukankah kau sedang ingin melakukan pendekatan psikologi padaku? Kukira biasanya mereka melakukan itu pada kriminal agar mau menyerahkan diri. Kau pikir jika kita seperti teman yang sedang mengobrol begini, maka ada kesempatan aku mengubah pikiranku dan melepaskanmu?”
“Dengar, Pintar, aku tak peduli dengan pikiranmu, berhentilah menuduhku, oke, kau jangan khawatir—aku tak punya rencana kabur di malam hari seperti ini. Kau benar, di luar saja bisa saja ada p*******a, walaupun aku yakin—kau juga berbahaya.”
“Aku suka b******a, tapi bukan p*******a, Sayang. Jika kau diam dan menurut perintahku, maka tubuhmu tidak akan mengalami lecet sedikitpun, aku bisa menjaminnya. Jika semuanya sudah tuntas, jika urusanku dengan ayah licikmu sudah selesai, aku akan membebaskanmu—kau mungkin menganggapku kriminal, tapi aku takkan melukai seorang wanita.”
Wajah Carrie seolah terlukiskan sebuah kata, ‘omong kosong’.
James sangat mengerti apa yang sedang dipikirkan wanita itu. Lagi-lagi, dia merasa lepas saat mengekpresikan kegeliannya. Dia tertawa terbahak-bahak melihat Carrie yang masam. “Kau manis sekali, kau tahu itu?”
Carrie terkejut. “Hah?”
“Maksudku, jangan dibahas lagi. Intinya aku ini orang baik yang sedikti sakit hati pada ayahmu—dan kau.” James menghela napas panjang, teringat akan kecemburuan beratnya terhadap sisi lain Carrie. “Kau memang manis—tapi sayang, p*****r, dan aku benci pelacur.”
Carrie mendengus kesal. Tidak mau ini yang dibahas, dia pun kembali bertanya tentang tempat ini. “Kau bilang ini rumah singgah, tapi kau akrab sekali dengan Mrs. Fenroy.”
“Ya, dulu kami pernah disini, pada dasarnya setelah ibuku meninggal dunia, aku di bawa ayahku untuk tinggal di banyak tempat. Aku sendiri sampai tidak mengerti darimana asalku. Kami berpindah-pindah hampir setiap beberapa bulan sekali. Dahulu pekerjaan ayahku adalah montir biasa, kami harus banyak berpindah agar mendapat lebih banyak uang—intinya kami miskin dan harus mencari banyak hal untuk bertahan hidup.”
Rasa iba kembali mengguyur diri Carrie. “Bagaimana dengan sekolahmu?”
“Berpindah-pindah, dan aku tak mau membahas masalah pendidikan.”
“Lalu—sekarang kau bekerja? Mrs. Fenroy bilang—”
“Aku tadinya bekerja di perusahaan jasa keamanan, itupun berkat kemampuanku yang memalsukan identitas. Ya, sebenarnya hidupku aman-aman saja setelah aku mengganti namaku menjadi Jordan Wright, itulah kenapa aku tak mengganggu kalian selama ini, tapi—aku sadar, kenapa aku yang menderita saja—ayahmu harus menebus perbuatannya.”
“Sebenarnya ayahku—”
“Ayahmu melakukan tuduhan palsu pada ayahku, itu benar, terserah apa katamu. Aku yakin kau sangat membanggakan ayahmu, Carrie, tapi dia tidak seperti bayanganmu. Saat aku bekerja di tempatku dulu, aku sering berusaha meretas kegiatan yang dilakukan oleh ayahmu, dan beberapa di antaranya mencurigakan, seperti skandal tentang ijin pembukaan tambang di daerah Timur Austin?”
“Aku tidak mengerti.”
“Ya, tak perlu, kau hanya tawanan disini, kau hanya alat yang aku gunakan untuk menekan ayahmu. Ayahmu hanya memilikimu, jadi jangan salahkan aku kalau kau ada disini. Syukurlah, setelah seharian bekerja, kau sudah mulai tenang—aku lebih suka melihat wanita yang tenang ketimbang kucing yang berusaha keras melarikan diri.”
Carrie masih tidak ingin bercerita tentang hubungan antara dirinya dan sang ayah apda siapapun. Mulutnya tetap terbungkam. Untuk sementara, dia hanya menginginkan keselamatan atas dirinya, tidak ada alasan lain. Intinya dia harus terus mengorek informasi dan menenangkan sang penculik. Dia tidak mau kejadian ciuman tadi pagi terulang kembali.
“Kau boleh tidur kalau kau ingin, aku hanya akan tetap berada di sofa ruang tengah setelah ini,” kata James mengatakan itu dengan lembut. Dia sangat ingin tahu apa yang sedang dipikirkan Carrie. “Kau ingin bicara sesuatu?”
Roti isi Carrie telah habis. Dia tersenyum kecil terhadap sang pembuat makan malam hari ini. “Terima kasih untuk makanannya. Aku hanya merasa aneh, aku tidak pernah memakan makanan yang dibuat pria lain, jadi ini ... maksudku, lupakan.” Dia mendehem untuk menepis ucapan yang dia rasa sangat aneh. Perkataan itu keluar begitu saja sampai dia kebingungan. Mengapa bisa sejujur ini dengan penculik menyebalkan yang mengambil ciumannya secara paksa?
James mengamatinya.
“Apa?” Carrie gugup. Ketika situasinya tenang begini, dia malah terpesona akan sosok James. Dia tidak pernah tertarik secara berlebihan terhadap pria lain, dan anehnya pesona yang dimiliki pria penculiknya ini malah menarik perhatiannya. Sembari menelan ludah, benaknya terus mengumpat.
“Tidak apa-apa, kurasa kita sudah berdamai, oke? Aku sudah bilang, aku memang menculikmu, tapi kau tak perlu takut—aku takkan menyakitimu.” Suara James begitu lembut, sangat kontras dengan perlakuannya pagi tadi. Ya, dia seperti orang yang berbeda saja.
Carrie memandangnya dalam-dalam. Kesan kriminal yang dia sebutkan pada pria itu perlahan lenyap. Dia sadar, James tidak memiliki sorot mata jahat yang selama ini dia lihat pada musuh-musuh kepolisian. “Kau—harusnya tidak melakukan ini.”
“Apa kita akan berdebat lagi?”
“Kau tidak bisa melawan ayahku.”
“Apa sikap tenangmu ini hanya cara untuk mempengaruhiku?”
“James, kau orang baik, aku yakin itu, kau tidak akan bisa kembali ke kehidupanmu yang sebelumnya kalau ayahku bisa menemukanmu disini.”
“Kau ini sedang merayuku?”
“Aku bersungguh-sungguh, ayahku orang yang licik, dia akan membunuh kita berdua, kemungkinan—agar jangan sampai ini bocor di media. Sungguh, percayalah padaku, aku yakin dia akan mencari kita untuk melenyapkan kita berdua.”
James memperhatikan raut wajah Carrie lebih serius. Selama ini, dia tidak mengerti mengapa wanita secantik ini memiliki tabiat buruk. Akan tetapi, keputusannya untuk melakukan tindakan perlawanan terhadap kepala kepolisian departemen Conroe sudah bulat. Tawanan sudha dia dapatkan. Sekalipun dia gagal dan tertangkap polisi, berkas buruk yang dia dapatkan dari hasil mengorek informasi sosok Jeffrey Wilson akan tetap diketahui publik. Intinya adalah dia hanya ingin tahu, apakah seorang Jeffrey Wilson mau mengakui kesalahannya?
Jawabannya jelas tidak.
***