James telah memberikan kabar penculikannya pada ayah Carrie secara personal. Dia memberikan waktu seminggu untuk pria itu membeberkan fakta ke publik tentang kebenaran ayahnya. Dia juga menantang agar kepolirian berhasil mengungkap keberadaannya. Ancaman selanjutnya yang dia katakan adalah jika dalam waktu seminggu tidak juga ada kabar tentang fakta itu, dia akan membocorkan informasi ke publik bahwa putrinya diculik.
Di kediaman keluarga Wilson, Ayah Carrie, Jeff, merasa muak dengan ancaman tersebut. Dia mengurung diri di dalam ruang kerjanya sambil berkali-kali menggebrak meja. Posisinya sebagai kepala polisi sangatlah kritis, tidak boleh ada pemberitaan buruk sedikitpun. Dia mengingat usaha kerasanya demi mencapai posisi ini, mana mungkin dia merelakan segalanya hanya demi seorang wanita.
Jeffrey Wilson, pria paruh baya bertubuh tegap, berambut pirang terang dan bermata coklat. Dia tidak pernah menikah sekalipun. Carrie adalah anak haram yang terpaksa dia asuh karena ibunya meninggal dunia akibat sakit keras belasan tahun silam. Sepanjang hidup, dia memang punya satu penyesalan yaitu berkencan dengan wanita yang melahirkan Carrie.
Pria ini adalah tipikal orang yang tidak akan melakukan segala sesuatu jika tidak ada untungnya. Sekarang, jika media mengetahui bahwa anaknya sedang berada di tangan penculik, semua warga pasti membicarakannya. Dia adalah kepala polisi, bagaimana mungkin anaknya bisa diculik—terlebih oleh seorang anak kriminal yang dulu dia tangkap?
Selain itu, dia tidak mungkin melaporkan ini ke divisi penculikan di wilayahnya. Dia tidak ingin ada orang yang tahu kalau Carrie diculik, tapi dia juga tidak ingin melakukan perintah dari penculik. Tidak ada pilihan lain, dia menelpon satu-satunya orang yang bisa menolongnya di saat genting.
Carlos Goldstein.
Dia adalah mantan tunangan Carrie, tapi sudah berpisah sekitar setahun belakangan. Alasan perpisahan mereka menurut versi media adalah kelakuan Carrie yang tidak setia. Semua orang menyalahan Carrie atas pengkhianatannya pada pria sebaik Carlos, dan mencemarkan nama baik kepala polisi.
Selain orang terdekat Jeff, Carlos juga petinggi di departemen Conroe bidang hubungan masyarakat. Hanya dialah yang bisa diandalkan jika situasinya seperti ini.
Jeff menelponnya dengan sambungan pribadi.
“Halo, Mr. Wilson, ada apa pagi-pagi begini kau menghubungiku?” tanya Carlos di balik sambungan telepon.
“Aku butuh bantuan.”
“Bantuan apa? Membereskan sesuatu lagi?”
“Bukan. Kau ingat kriminal yang pernah melambungkan namaku belasan tahun lalu?”
“Oh, sudah pasti, Sir. Berita itu sudah seperti bom yang menarik perhatian banyak orang. Ada apa memangnya?”
“Sekarang ada bom yang berniat meledakkanku. Anak dari kriminal itu menculik Carrie, dan aku tak bisa membiarkan semua orang tahu kalau putri seorang kepala polisi menghilang dari rumahnya dan diculik oleh kriminal kotor.”
“Carrie diculik, Sir?”
“Ya, wanita sialan itu terus saja membuatku susah.”
“Harusnya kau membuangnya dari dahulu, Sir.”
“Bagaimana aku bisa membuangnya? Sejak publik tahu aku punya anak, kau pikir mereka akan mengampuniku ketika aku menelantarkan anak sendiri?”
“Benar, tapi dengan adanya Carrie, kau juga bisa mendapatkan simpati banyak warga, Sir, dia memang wanita yang polos, tidak banyak bertingkah—tidak menyusahkan kita. Kenapa tidak kita biarkan saja, Sir?”
“Kau mau penculik b******k itu menyebarkan rumor kalau aku membiarkan putriku diculik? Dia mengancam akan menyebarkan pemberitaan ini dalam waktu seminggu jika aku tak membeberkan fakta tentang peristiwa penangkapan Harry Woodruff? Kalau aku mengatakan salah tangkap, dan bahwa perampok yang sesungguhnya itu—orang-orangku? Kau pikir apa yang akan terjadi? Kau juga ikut terseret, Goldstein.”
“Tenanglah, Sir, itu peristiwa lama, kenapa kita tidak mencari saja Carrie, lalu kita bunuh dia, dan melakukan tuduhan palsu pada kriminal itu? Dengan begitu, reputasi kita akan semakin terangkat.”
“Kita bicarakan lagi nanti, untuk sementara, kau tahu tugasmu ‘kan? Cari apapun yang berhubungan dengan Woodruff, jangan sampai orang mengetahui ini sedikitpun.”
“Baik, Sir.”
***
Malam hari tiba.
Carrie sudah selesai membersihkan kamar mandi yang kotornya membuat dia ingin muntah. Segala jenis debu telah hilang dari rumah ini. Tadinya tempat ini penuh dengan pakaian kotor, debu dan sampah, namun kini terlihat rapi, bersih dan wangi. Ya, aroma semerbak bunga mawar memenuhi setiap ruangan.
Hanya dalam waktu seharian, Carrie berhasil menjelma sebagai petugas kebersihan profesional. Ini membuat James yang sedari tadi hanya merebahkan diri di atas sofa ruang tengah merasa senang.
Hanya ada mereka berdua di rumah ini, semua akses pintu telah terkunci kembali, dan dipastikan takkan ada tamu selanjutnya yang datang. Carrie berulang kali menatap jendela kaca ruang tengah yang memperlihatkan suasana malam gelap gulita di luar. Dia ingin keluar dari sini, tapi tak yakin bisa selamat dari kriminal lain di luar.
Televisi menyala berjam-jam, tapi tidak ada yang menonton. James sibuk membaca majalah otomotifnya. Selama ini dia memiliki ketertarikan pada dunia itu, dan sudah menabung untuk membuka toko onderdil mobil suatu hari nanti. Semenjak menculik Carrie, dia sudah keluar dari tempat kerjanya. Sebelumnya dia hanya bekerja sebagai ahli IT di sebuah perusahaan swasta bidang jasa keamanan. Itupun dia diterima kerja karena berhasil memalsukan dokumen identitas.
“Kau sudah selesai, Nona Wilson?” tanya James pada akhirnya. Dia tidak tahan melihat Carrie yang berdiri tegak sembari pandangan tetap lurus ke jendela. “Kau takkan bisa kabur, jadi berhentilah memutar otak untuk pergi.”
Carrie mengangguk.
James bangkit dari sofa tersebut. Suasana hatinya membaik karena Carrie terlihat lebih tenang. “Kau lapar, bukan? Ayo kita makan malam, dan kemudian tidur.”
Tidak mau banyak bicara, Carrie menurut saja. Dia mengekor punggung James menuju ke ruang makan. Berkat tangan cekatannya, suasana di dapur ini sudah sangat rapi. Semua piring kotor telah dicuci dan tertata pada raknya. Segala perabotan kecil telah masuk ke dalam laci.
“Kau cukup rajin,” puji James mengamati tingkat kebersihan meja dapur yang benar-benar berkilauan. “Kalau saja kau wanita baik-baik, setiap pria pasti menginginkanmu jadi istri mereka. Ya, walaupun memang sudah pasti mereka menginginkanmu untuk di ranjang bukan jadi tukang bersih-bersih.”
“Kau ini memuji atau menghina?” tanya Carrie seraya duduk di salah satu kursi. Dia ingin menyiapkan mkanan sendiri, tapi sepertinya tidak akan mendapatkan peran dalam membuat makanan di sini. Ya, lagipula dia adalah tawanan, sementara pria di depannya itu adalah penculik. Mana mungkin sang penculik membiarkan tawanannya yang mempersiapkan makanan?
“Dua-duanya.” James membuat roti sandwich. Dia melelehkan keju dan daging yang masih tersisa di dalam lemari pendingin. Stok makanan mereka sudah menipis, dalam beberapa ke depan, dia harus berbelanja.
“Kau terlihat lebih baik dari pada tadi.”
“Kau juga jauh lebih tenang, tak seperti kucing ingin berkelahi denganku.”
“Diam kau.”
James menaruh dua roti buatannya ke piring, lalu menyajikannya di atas meja. “Aku bersungguh-sungguh, kau jauh lebih tenang. Untunglah, karena kepalaku pusing jika kau terus-terusan mencari masalah.” Dia duduk di kursi seberang meja, berhadapan langsung dengan Carrie. Tanpa dia sadari, dia merasa begitu bahagia berada satu meja dan makan bersama dengan wanita ini. Wanita yang selama ini hanya bisa dia lihat dari kejauhan.
Mereka memakan itu dengan berpandangan. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin mengatakan sesuatu. Carrie juga masih khawatir dengan apa yang akan dilakukan oleh sang ayah jika tahu dirinya diculik. Sementara James masih saja terjebak oleh kecemburuannya—dia terkadang tidak fokus pada tujuan menculik Carrie. Dia ingin memiliki wanita ini seutuhnya, tidak perlu membahas tentang pembalasan dendam—tapi seluruh pemberitaan mengerikan tentang Carrie memutus keinginan tersebut. Bagaimana mungkin dia menyukai wanita penkhianat seperti ini?
***