Carlos menikmati waktu liburnya dengan menyewa seorang wanita. Itu adalah rutinitas yang wajib dia lakukan ketika ada waktu luang. Wanita dan uang, hanya itu yang dia sukai. Selama ini, orang terdekatnya mengenal sebagai orang yang hedonis. Tidak ada keburukan sedikitpun yang menyangkut tentangnya.
Semua warga mencintai Carlos Goldstein, kecuali Carrie Wilson.
Dia selalu bangga melihat potretnya sendiri di internet, lalu membaca komentar dari kebanyakan wanita yang begitu mendambanya. Sebagai anggota kepolisian muda dan punya ketampanan yang tidak biasa, sudah pasti dia mudah terkenal.
“Aku sangat tampan,” kata pria ini memainkan tabletnya untuk melihat foto-fotonya yang dipajang semua warga Texas. Dia masih berada di atas ranjang, telanjang, berada di bawah satu selimut dengan si wanita berambut pirang yang sedikit memiliki karakateristik seperti Carrie.
Meskipun tidak pernah setia pada Carrie, tapi Carlos menyukai wanita itu hingga sekarang. Ya, hanya sebatas suka secara fisik, namun tidak terlalu peduli. Kalau saja skandalnya dengan wanita tak diketahui, dia sudah pasti sudah menjadikan wanita itu menjadi istri. Baginya, menjadikan Carrie sebagai pasangan hidup tidak ada ruginya sama sekali.
“Sayang, kau akan ke tempatku malam ini?” tanya wanita yang berbaring di sebelahnya. Dia menempel lengket di d**a Carlos layaknya cicak. “Kau akan suka, banyak temanku yang akan datang.”
“Oh, Chelsea, aku ingin sekali bertemu dengan kalian, tapi liburku hanya hari ini saja—dan sebentar lagi aku juga harus memeriksa sebuah kasus.”
“Kasus? Kukira pekerjaanmu di dalam ruangan saja? Kau bekerja lapangan?”
“Memeriksa bukan berarti terjun ke lapangan, Manis,” kata Carlos mencolek dagu wanita ini dengan tatapan menggoda, “aku sedang mencari anak dari kenalanku yang hilang.”
“Oh, sayang sekali, kenapa kau tak serahkan saja ke divisi orang hilang?”
“Kalau diserahkan pada mereka biasanya akan terlalu lama, kenalanku ini istimewa—jadi kuutamakan, khusus untuknya saja, lagipula—anak yang hilang ini juga sama istimewanya.”
“Lantas? Bagaimana perkembangannya?”
“Ya, kurasa sebentar lagi orang-orangku akan menemukannya.”
“Kalau begitu serahkan pada mereka, kau harusnya bersenang-senang dengan kami, kau pasti takkan bisa bangun lagi setelah bersama kami selamaman, teman-temanku penggemar beratmu.” Chelsea menggelitiki d**a bidang Carlos dengan s*****l. “Kau takkan kecewa.”
“Astaga, kau benar-benar seperti iblis saja,” kata Carlos tertawa, lalu mengecup bibir wanita itu dengan penuh nafsu, “menggoda seperti iblis neraka.”
“Aku senang ... mendengarnya.”
***
James dan Carrie duduk di depan toko kelontong Mrs. Fenroy. Mereka menikmati burger sembari melihat suasana depan jalanan yang hanya dilewati beberapa orang saja, kebanyakan oleh mereka yang rumahnya tak jauh dari sini.
Tepat di depan toko kelontong ini adalah gereja protestan. Di malam hari, tempat itu hanya tersinari oleh satu lampu saja. Ini membuat situasi semakin sunyi. Tak heran, hanya satu atau dua orang saja yang masuk ke toko milik Mrs. Fenroy.
“Tempat ini hanya sebagai tempat singgah, biasanya orang yang melakukan perjalanan antar kota dan kebetulan melewati jalan pintasan sini,” terang James sembari menikmati makanannya. “Kau tak pernah kemari?”
“Aku tidak tahu ada tempat seperti ini.”
“Oh, tentu saja, kau menghabiskan seluruh hidupmu di kota besar.”
“Terima kasih untuk sindirannya.”
“Tidak, tidak, kenapa kau ini sinis sekali padaku?”
“Kau yang sinis, Brengsek.”
“Hei, jangan berkata kasar, kita ada di depan gereja.”
Carrie menghela napas panjang. “Gereja itu kelihatan tua sekali dan jarang dibuka.”
“Entahlah, aku sendiri sudah lupa bagian dalamnya. Aku sedikit lupa kegiatan di gereja itu melakukan apa.” James setuju pendapat itu.
“Kau tak pernah gereja?” Carrie menoleh dengan ekspresi terkejut.
James berpura-pura terkejut. “Aku ‘kan kriminal. Aku harus melakukan kejahatan dulu, baru setelah menumpuk banyak, aku akan kembali ke gereja.”
“Aku serius, kau tak pernah masuk ke gereja?”
“Seingatku aku masuk gereja terakhir usia tujuh belas tahun.”
“Berapa usiamu sekarang?”
“Dua puluh tujuh tahun.”
“Kau tak pernah ke gereja selama sepuluh tahun?”
“Kenapa? Tuhan ada di manapun ‘kan? dan bisakah kita tidak membahas hal yang religius? Ini sangat aneh, mengingat kita sedang apa.” James tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Carrie yang benar-benar terkejut dengan hal seperti itu. “Dan jangan coba-coba melakukan pendekatan batin untuk membuatku mengurungkan niat kriminal yang sedang kulakukan padamu.”
“Aku hanya kaget, oke?”
“Oh, Carrie, kau tak perlu seheran itu, ada banyak warga di Texas yang ateis.”
“Karena aku baru melihatnya sekarang.”
“Jujur saja, aku bukan ateis, dan aku akan kembali ke jalan yang benar setelah ini, ya—kita berdoa saja. Amen.”
“Kuharap Tuhan membakarmu di neraka.”
“Jangan begitu, Sayang.” James kembali tergelak. “Kau ini santailah sedikit. Aku minta maaf karena terlalu kasar tadi malam.”
“Jangan membahas apapun, aku tak mau ke rumah itu lagi.”
“Kenapa? Terlalu sempit?”
Carrie menatapnya, lalu menjelaskan satu hal, “kau tak bisa berdiam diri di satu tempat lama jika berurusan dengan ayahku, James.”
Sebelum menjawab, tiba-tiba ponsel James bergetar di balik saku celananya. Wajahnya menjadi terkejut, tapi tidak panik. Pandangannya pun mengarah ke arah rumah itu.
Carrie ikut bingung. “Ada apa?”
“Aku memasang alat deteksi kalau ada orang asing masuk, dan sepertinya ada untungnya kau kubawa pergi berbelanja, Sayang, ada yang masuk ke rumahku.” James segera bangkir dari kursi, lalu menyambar lengan Carrie. “Ayo ke persembunyian selanjutnya.”
“James.” Carrie antara ingin kabur, tapi juga tidak bisa melawan. Tubuhnya dihempaskan ke dalam truk dengan paksa.
James menaiki truk tersebut, lalu menginjak pedal gas tanpa mengatakan apapun.Dia sendiri juga tidak menyangka kalau persembunyian itu akan terbongkar lebih cepat dari dugaannya.
***
Carlos ditemani dua anggota rahasianya menggeledah rumah singgah James. Dia mengamati kondisi sekitar yang masih hangat dan baru saja ditempati. piring makanan yang masih ada di meja ruang tengah. Tak lupa, dia juga memasuki kamar yang digunakan untuk menyekap Carrie.
“Oh, kasihan sekali Sayangku, dia pasti dipaksa melayani pria b******k itu,” katanya malah tersenyum penuh kebencian. Dia menemukan piama Carrie yang tergeletak di atas kursi. Ia menghirupnya dan yakin kalau parfum yang melekat ini benar milik sang mantan tunangan. Pikiran buruk pun terbayang di kepalanya. “Kalau saja kau masih tidak tersentuh siapapun kecuali aku, Carrie, mungkin aku berpikir mengurungkan niatku untuk membunuhmu.”
Dia pun duduk di ranjang tipis yang digunakan Carrie untuk tidur, lalu merabanya. Ada semacam kecemburuan, tapi juga enggan mengakui. Pria ini seperti baru merasakan kalau sedang kehilangan setelah tahu Carrie kemungkinan tidur dnegan pria lain. Selama ini, Carrie memang tidak punya orang lain kecuali dirinya. Bahkan, dialah orang pertama yang mengambil kesucian wanita itu.
“Entah kenapa—rasanya memuakkan,” katanya lagi.
Seorang pria berpakaian serba hitam mendatanginya. Dia sudah memeriksa bagian belakang rumah dan melapor, “Mr. Goldstein, tidak ada siapapun, dan sepertinya mereka sedang keluar baru saja.”
“Ya, aku tahu, mungkin sekitar sejam yang lalu, coba kalian periksa ke pertokoan di sekitar sini, cari sampai ketemu, kita sudah hampir menangkapnya.”
“Baik, Sir.”
“Tapi ingat, jangan membawa-bawa nama kepolisian, ini penyelidikan tertutup, jangan sampai orang sipil tahu tentang kita dan tentang wanita yang kita cari, cukup katakan saja tentang James Woodruff atau Jordan Wright. Paham?”
“Paham, Sir.”
“Pergilah, aku akan melakukan sesuatu disini.”
Pria itu pun langsung berbalik, lalu mendatangi kawannya. Mereka berdua pergi ke arah pertokoan dimana Mrs. Fenroy berada. Pengejaran pun dimulai.
***