BAB 13

1080 Words
Setelah berkendara beberapa menit, truk itu sampai di halaman parkir toko kelontong milik Mrs. Fenroy. Tempat ini sebenarnya masih dalam kawasan kota. Tapi, kota tempat mereka berbelanja ini nyaris tidak pantas disebut kota. Selain toko tersebut, hanya ada sebuah toko makanan ternak, sebuah kantor pos, sebuah stasiun pemadam kebakaran, sebuah Dairy Queen, sebuah sekolah, dan gereja Protestan. Semuanya sudah usang dan kelihatan tak banyak orang yang tinggal disini. “Tempat ini terpencil sekali,” komentar Carrie begitu turun dari truk, dia sedikit takut melihat toko kelontong di depannya yang atapnya sudah tidak layak. Dia tidak yakin kalau bagian dalamnya masih terawat. Namun, jika dilihat dari kaca depan, semua barangnya tampak rapi dan terlihat Mrs. Fenroy sedang membersihkan meja kasir. “Jangan khawatir begitu, semua barang disini terjamin, kau tak perlu jijik,” sindir James membanting pintu truknya yang agak kendor. Dia muak sekali jika harus memakai tru. Carrie menoleh ke arahnya, mengira kalau dia marah. “Aku tidak melakukan apapun!” “Oh, maaf, pintu truk ini agak—kau tahu, kendor, biasanya kalau kebanyakan dipakai,” kata James menatap Carrie dengan tatapan menghina. Setiap kalimat yang terucap darinya selalu bagaikan bilah pisau menyayat telinga wanita itu. “Kau kenapa? tersinggung? Aku bicara—pintu truk.” “Boleh kutanya sesuatu?” “Kau tak perlu tanya, kau bisa mengambil k****m sebanyak yang kau mau didalam.” Carrie muak. Ia menuding truk tua yang pernah dijadikannya alat melarikan diri kemarin. “Yang ingin kutanyakan, apakah ini milikmu?” “Tentu saja, kau pikir ini truk b****k siapa? Pemberian Santa karena aku nakal?” “Aku—tanya.” “Kau tidak tanya, kau basa basi yang tidak penting.” “Oke.” “Dan mana mungkin aku menaruh mobilku di rumah, aku sedang menyekap wanita licik, dia mungkin bisa mencuri mobilku dan kabur.” “Lucu.” Carrie jengkel, lalu masuk ke dalam toko tersebut tanpa banyak bicara lagi. Mereka berdua masuk ke dalam. Mrs. Fenroy tersenyum cerah begitu melihat mereka datang. Selain karena mereka pelanggan pertama setelah buka, kedua orang ini sangat istimewa. “Selamat datang, aku senang akhirnya kalian keluar rumah juga. Sudah tidak marahan?” James menjawabnya dengan asal, “Oh, kalau saja makanan di kulkas penuh, aku mungkin akan menghabiskan lebih banyak waktu di ranjang dengan Carrie, benar ‘kan Sayang, kita tak perlu keluar rumah—dan bersenang-senang sampai Minggu depan.” “Ya, lalu mati kelaparan,” sahut Carrie begitu saja. “Kurasa lebih tepatnya, mati kelelahan.” “Entah kenapa aku tidak tahu kenapa isi otakmu hanya seks, Tuan Woodruff.” “Mau bagaimana lagi, kekasihku, Nona Wilson terlalu seksi.” Sindiran demi sindiran yang mereka ucapkan dianggap saling menggoda oleh Mrs. Fenroy. Wanita ini malah tersenyum lebar memandangi keromantisan itu. “Kalian sangat cocok.” “Pastinya.” Carrie mengambil keranjang, lalu berjalan menuju ke rak-rak makanan. Dia menoleh ke arah James seolah meminta ijin. “Bagaimana?” “Beli saja makanan yang kau sukai, aku tak mau mendengar omelanmu tentang sandwich buatanku lagi.” “Aku tidak mengomel, kau saja yang terlalu sensitif.” Carrie sebal karena dirinya terus disalahkan. “Kau benar-benar menyebalkan.” James mendekatinya seraya merayu, “ayolah, Sayang, apa belum puas seharian penuh kita berdebat? Bahkan semalam kau menggelitiki pinggangku.” “Aku tidak menggelitiki—” Carrie menoleh ke arah meja kasir dimana obrolan konyol mereka didengar jelas oleh Mrs. Fenroy. Sekarang sekalipun dia mengaku sedang diculik, wanita paruh baya ini tidak akan percaya sama sekali. “Kau lupa sausmu,” kata James menyambar sebotol saos pedas, lalu dimasukkan ke dalam keranjang bersama dengan irisan daging asap, segala yang dibutuhkan untuk membuat sandwich. “Dan jangan lupa bacon itu penting.” “Kau ini tidak bisa jauh-jauh dari daging, ya?” James menyeringai seraya berbisik, “pria dewasa, kau tahu.” “Kau memang karnivora.” Carrie menyingkir beberapa langkah karena terlalu dekat dengan James. “Aku akan membeli ikan kalengan, boleh ‘kan?” “Ambil saja sesukamu, karena status kita yang saling terkait ini, nutrisi tubuhmu juga akan menjadi perhatianku. Mana mungkin aku membiarkanmu terlihat seperti zombie setelah pulang dari sini. Ambil makanan yang kau sukai, asal jangan merencanakan sesuatu dengan membeli hal aneh, seperti racun tikus untuk ditabur di sandwich-ku.” “Aku tidak peduli sandwich milikmu.” “Kau benar-benar kaku.” “Aku tidak suka daging asap.” “Kau suka apa? Daging bakar?” “Diam saja.” “Aku suka bicara.” Carrie memandanginya dengan tatapan tak nyaman. “Oke, aku akan menemani Mrs. Fenroy, segala kebutuhan makan urusanmu,” kata James berjalan menjauh, tak lupa dia menuding ke rak paling belakang dimana terdapat barang-barang seperti obat dan k****m. “Oh, kalau kau ingin tahu, itu rak berisi kebutuhan bercinta.” *** “Semuanya sudah kutambahkan ke tagihanmu, James,” ucap Mrs. Fenroy memasukkan semua barang belanjaan ke dalam kantong kertas. “Kau bisa ambil kesukaanmu sebagai service toko ini.” Carrie berdiri di samping James. Mereka berdua berada di depan meja kasir menunggu Mrs. Fenroy selesai menghitung semua belanjaan. “Kesukaan?” ulang Carrie menoleh pada James. “Daging asap lagi?” James merendahkan tubuhnya, lalu berbisik di telinga Carrie, “pengaman ekstra tipis.” “Astaga.” Pipi Carrie kemerahan lagi, dan berusaha untuk tidak membayangkan hal-hal yang berhubungan dengan seksual. Dia ingin memukul dirinya sendiri karena tidak bisa melawan segala ocehan dari James. “Kau benar-benar brengsek.” James tertawa. Mrs. Fenroy ikut tertawa. “Kalian benar-benar cocok.” “Hah?” Carrie tidak paham darimana tepatnya cocok di antara dia dan James. Mereka berdua bagaikan air dan minyak, bagaikan api dan air, keduanya saling tidak bisa bersatu. “Kurasa tidak mungkin, hubunganku dengan James akan segera berakhir, Mrs. Fenroy.” “Oh, dia bercanda.” James segera meraba rambut Carrie. “Gadis manisku suka sekali sekali padaku, mana mungkin dia rela kalau prianya ini pergi meninggalkannya. Dia selalu bilang aku ini mirip artis p***o favoritnya.” “Apa kau bilang?” Carrie merinding mendengarnya. “Apa mulutmu itu tidak punya sopan santun?” “Jangan sungkan, ini Mrs. Fenroy, dia sangat terbuka.” James tersenyum pada wanita yang dia anggap sebagai ibu itu. “Iya ‘kan?” Mrs. Fenroy tertawa terbahak-bahak, merasa begitu bahagia. “Kau tak pernah sebahagia ini sebelumnya, James, aku bangga padamu, kau punya kekasih secantik Carrie.” Carrie tertegun memandangi mereka berdua bergantian. Ucapan Mrs. Fenroy sangatlah tulus, dan wajah James pun tidak terkesan sedang berakting. Ya, itu adalah wajah pria yang sedang berbahagia karena bersama orang yang dia cintai. James menatapnya lagi. “Ada apa? Terpesona?” “Omong kosong.”Carrie memalingkan wajah. “Jangan murung begitu, apa gara-gara pintu truk kendor , kau jadi kesal padaku?” Carrie kembali memberikannya lirikan tajam “Apa katamu?” “Sayang, apa dialogmu cuma apa katamu?” James menyeringai lebar. “Diamlah.” “Kita ini harus akur.” “Ya, santai saja, sesuai kesepakatan, Bukan? Seminggu?” “Oh iya, seminggu itu untuk kita saling memahami dulu, Sayang, kau sangat pemarah.” “Oke, oke, oke.” Carrie tidak tahan sehingga berjalan mendahului James. James menyambar lengan wanita itu. “Hei, mau kemana, hah?” Dia memberikan tatapan penuh ancaman, lalu melirik ke salah satu kantong belanja. “Kita harus adil, aku bawa satu, kau satu.” Carrie tahu kalau James waspada dia kabur lagi. Dia pun menurut tanpa banyak bicara. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD