Bau Badan

1238 Words
Ervin mulai gelisah berada di perpustakaan karena Elina tidak kunjung membalas pesannya. Tidak biasanya gadis itu mengabaikan pesannya cukup lama. Ponsel Ervin bergetar,ada pesan singkat dari Elina. Ternyata pesan itu dikirim oleh Gina dengan ponsel Elina yang memberitahu Ervin bahwa Elina ada di ruang kesehatan. Bergegas Ervin merapikan buku dan laptopnya lalu berlari ke ruang kesehatan. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada istri dan anaknya. “Elina!”teriak Ervin saat membuka pintu. Ia terdiam melihat Varen menyuapi Elina makanan. Di samping Varen ada Gina yang duduk santai. Elina langsung menolak suapan dari Varen. Ia tidak mau Ervin cemburu atau marah pada sahabatnya. “Mister,” lirihnya. Ervin meletakkan tas punggungnya di atas meja lalu menghampiri Elina yang duduk di atas kasur. Tanpa disangka Ervin memeluk Elina di depan Varen dan Gina. Elina tidak bisa menolaknya karena dia sangat membutuhkan Ervin. “Kamu nggak apa-apa, kan?” bisik Ervin. Elina mengangguk dalam dekapan Ervin. “Ehem… maaf, jangan bermesraan di sini. Mohon mengerti perasaan para jomblo,” kata Gina. Ervin melepas pelukannya. Ia tersenyum lebar sementara wajah Elina sudah memerah. “Makanya Gina cepat-cepat cari pasangan, jangan nungguin pasangan orang. Entar jomblonya akut,” kata Ervin. Matanya melirik Varen. Gina menanggapi sahutan Ervin dengan guyonan. Berbeda dengan Varen yang menatap Ervin tidak suka. Seolah mereka siap untuk berperang. “El, aku pergi dulu, ya. Lagi pula sudah ada yang jagain kamu. Kalau ada apa-apa hubungi aku, ya.” Elina mengangguk dan berterima kasih pada Varen. Tanpa diduga Varen mengusap kepala Elina yang membuat Ervin melotot. Varen tidak merasa bersalah saat melakukannya. Varen berpamitan dengan Gina dan Elina, saat matanya menatap Ervin dia berpaling begitu saja. Ervin sangat jengkel dengan sifat Varen, tapi sebelum Varen benar-benar menghilang dari hadapan mereka, Ervin pun menucapkan terima kasih. Varen tidak menanggapi. Ia langsung keluar setelah Ervin selesai bicara. *** Sejak sampai di rumah Elina terus menempel pada Ervin. Bau badan suaminya bagaikan candu yang ingin dihirup setiap saat. Ervin yang duduk di atas kasur sambil memangku laptop sedikit terusik ketika Elina memeluknya dari belakang. “El, sudah dong bau tahu. Aku keringetan dari tadi. Di kamar aku nggak ada AC,” kata Ervin berusaha melepaskan tangan Elina yang melingkar di perutnya. Namun, gadis itu kembali melingkarkan tangannya dan bahkan memeluk Ervin lebih erat. “Nggak mau.” Elina menenggelamkan wajahnya di punggung Ervin. Bau badan dan wanginya parfume membuat Elina betah berlama-lama menghirup bau badan suaminya. “Tapi jangan nyium bau badan dong,” kata Ervin. Ia agak risih dengan kelakuan Elina, terlebih dirinya belum mengganti pakaian sejak pulang kampus. Lebih tepatnya Elina melarang Ervin mengganti pakaian. “Terus aku nyium apa?” tanya Elina yang kini menatap wajah Ervin dari samping. “Cium bau ketek aku saja. Harum juga kok bahkan lebih dahsyat,” kata Ervin membuat Elina kesal. “Ih, Mister belum nyukur bulu ketek, bau banget,” kata Elina sembari menutup hidung. Ervin belum mengangkat tangannya, tapi gadis itu sudah menjauh. Rencananya lumayan berhasil untuk menjauhkan Elina. “Nah, kamu tahu. Makanya jangan nyium badan aku,” ujar Ervin. Elina bergegas pergi kembali ke kamarnya. “Dari tadi kek pergi. Aku bisa fokus buat tugas,” gumam Ervin setelah pintu tertutup. Ponsel Ervin bergetar, sebuah pesan dari Cinta. Setelah berhari-hari tanpa kabar sekarang gadis itu kembali menghubunginya. Ervin, kita bisa bertemu nanti sore jam 6? Aku mau pamitan sama kamu. Ervin mempertimbangkan permintaan Cinta. Ia harus meninggalkan Elina sendirian di rumah. Ervin tidak mau terjadi sesuatu pada Elina. Apa lagi penciuman dan perasaan gadis itu semakin sensitif dan peka terhadap gerak-gerik Ervin. Bisa bahaya kalau istrinya tahu ia bertemu wanita lain di luar. To: Ukul Maaf Cinta, aku nggak bisa. Aku sibuk banget. Kamu memangnya mau pamitan ke mana? Ervin segera mengirim pesan balasan untuk Cinta. Sengaja ia mengubah nama Cinta di kontak tersimpannya dengan nama Ukul. Gadis itu langsung membaca dan mengetik pesan balasan untuk Ervin. Sebentar saja, Vin. Gak sampai 20 menit kok. Kalau kamu lagi sama pacar ajak saja keluar, kita ketemu sebentar saja nggak akan ganggu. Bisakan? Ervin mempertimbangkan keinginan Cinta untuk bertemu. Ia pun setuju dan meminta Cinta mengirim alamat tempat mereka akan bertemu nanti. Hitung-hitung ia membawa Elina jalan-jalan. Ervin segera menemui Elina yang sedang rebahan sambil mendengarkan musik. Berbeda dengan Ervin yang sibuk belajar Elina justru sangat santai seperti tidak punya masalah dengan tugas kuliahnya. “El, entar malam mau jalan nggak?” tanya Ervin yang bersandar pada kusen puntu. Elina segera mengecilkan volume musiknya. Ia kembali bertanya apa yang Ervin katakan. Mau tidak mau Ervin kembali mengulang ucapannya. Elina tampak kaget, ia tidak menyangka Ervin mengajaknya jalan-jalan. “Mister lagi banyak duit, ya?” tanya Elina. Ervin mendekati Elina lalu duduk di pinggir kasur. “Kan jalan-jalan pakai duit kamu, kalau untuk rumah tangga baru pakai duit aku,” ucap Ervin membuat wajah Elina berubah. “Nggak, ah… aku di rumah saja. Kasihan uang aku, mau dibeliin skincare biar nggak b***k,” kata Elina membuat Ervin mengusap kepala gadis itu gemas. “Aku bercanda pakai uang aku saja, tapi bayar parkirnya doang, kalau makan pakai uang kamu,” kata Ervin. Elina yang sempat melayang merasa jatuh kembali. Ervin belum berdamai dengan sifat pelitnya. “Mister jangan pelit dong,” protes Elina. Setelah Ervin berdiskusi cukup panjang akhirnya diputuskan mereka hanya jalan-jalan biasa tanpa makan malam romantis. *** Elina sudah siap dengan helm dan jaket barunya. Ervin sudah membelikan jaket itu dua hari yang lalu. I tidak ingin istri tercinta masuk angin. Ervin mengunci pintu rumahnya lalu memakai helm yang tergantung di motor. “Sudah siap?” tanya Ervin. Elina mengangguk mengacungi jempolnya. “Mister, papa bilang mau ngasi mobil. Benar nggak sih?” tanya Elina saat mereka berkendara. “Kuncinya sudah dikasi hanya saja aku belum les mengemudi. Maunya tiap Sabtu dan Minggu, tapi lihat situasi lagi,” kata Ervin. “Mister kalau sudah bisa bawa mobil anterin aku mau jalan-jalan, ya,” kata Elina. Ia sudah membayangkan bagaimana mereka berdua menghabiskan banyak waktu untuk jalan-jalan. “Kamu mau jalan ke mana?” tanya Ervin. Lampu lalu lintas menyala merah sehingga ia harus berhenti. “Mau ke kebun binatang lihat buaya darat,” kata Elina. “Lah, ngapain jauh-jauh ke kebun binatang? Tadi pagi kamu ketemu sama buaya darat,” ujar Ervin. Elina menekuk alisnya dalam-dalam. “Maksud Mister si Varen?” tanya Elina. Ervin mendadak takjub dengan perkembangan Elina. Sekali kode langsung paham.Biasanya Ervin harus berpikir keras supaya isyaratnya dipahami gadis itu. “Siapa lagi.” “Kalau Varen buaya darat berarti Mister monyetnya. Buaya sama monyet nggak akur, kan?” “Kamu mau punya suami monyet?” “Enggak mau. Mister jangan jadi monyet deh, jadi Taehyung saja.” “Siapa Taehyung?” “Suami aku,” jawab Elina membuat Ervin cemberut. Ada rasa cemburu ketika Elina mengakui pria lain sebagai suaminya walau Ervin sadar itu hanya kehaluan istrinya. “Mister kenapa diam?” “Terus kamu mau aku jingkrak-jingkrak?” tanya Ervin. Tidak butuh waktu lama mereka sampai di tempat janjian dengan Cinta. Ervin memarkir motornya di mall. Sekarang giliran Elina yang terheran-heran dengan Ervin. Suaminya tidak takut lagi mengajak Elina belanja. “Mister kita mau shopping?” tanya Elina setelah melepas helm-nya. “Nggak. Kita taruh motornya di sini biar aman, terus jalan deh nikmati malam,” kata Ervin. Elina yang tidak tahan ingin belanja pun berusaha merayu suaminya agar mereka masuk ke mall. Kedipan mata Elina membuat Ervin berpikir keras untuk mengalihkan Elina dari shopping.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD