Mual-Mual

1461 Words
Setelah semua hadiah itu dibuka kini masalah baru muncul. Mereka tidak punya tempat penyimpanan. “Taruh di kamar Mister saja. Lagi pula Mister tidurnya di kamar aku.” Elina langsung membawa semua barang itu ke kamar Ervin tanpa persetujuan. Mulai saat ini Ervin harus rela kamarnya dijadikan gudang. “Bi, tolong bersihkan kertas kado ini, ya,” perintah Ervin pada dua pembantu barunya. “Iya, Den Ervin.” Mereka sangat cekatan membersihkan ruang tv. Tidak butuh waktu lama semua kembali bersih. “Non Elina, Den Ervin makan malamnya sudah kami siapkan. Rumah juga sudah bersih untuk itu kami permisi dulu,” kata Bi Nini. Orang yang merawat Elina sejak kecil. “Bibi nggak mau makan sama-sama?” tanya Elina. “Nggak, Non. Kami pulang saja. Mari.” “Iya, Bi, hati-hati,ya,” ujar Ervin. Setelah kedua pelayan itu pergi kini hanya Elina dan Ervin yang ada di rumah. Elina meraih tangan Ervin lalu melihat garis telapak tangannya. Elina menggeleng pelan membuat Ervin penasaran. “Kenapa, El? Ada yang salah sama tangan aku?” tanya Ervin. “Hah…kalau dilihat rezekinya agak seret sih,” kata Elina. Ia menggeleng sembari menghela napas panjang. “Ada satu cara biar rezekinya lancar.” Ervin mendengarkan dengan seksama. Meski tidak yakin Elina bisa membaca nasib dari garis tangan, tapi Ervin tetap mendengarkannya. Ia suka dengan ramalan-ramalan itu meski kadang ada yang tidak ia percayai. “Bagaimana caranya?” “Mister mau tahu?” bisik Elina. Ervin mengangguk. Elina meminta Ervin lebih mendekat. Pria itu menunduk untuk bisa mendengar jawabannya. “Jangan pelit-pelit sama istri biar rezekinya lancar.” Ervin menegakkan tubuhnya kembali ketika mendengar ucapan Elina. Itu bukan ramalan, tapi minta uang jajan berkedok ramalan. “Hmm… pasti minta uang jajan,’kan?” tebak Ervin membuat Elina tersenyum lebar. Ervin menggelitik perut Elina membuat istrinya tertawa. Kemarahan Elina tadi pagi benar-benar lenyap, sekarang Ervin bisa bersama Elina yang ia cintai. Gadis itu sudah kembali menjadi orang yang menyebalkan seperti biasanya. *** Ervin berlari kencang menuju kelasnya. Hari ini ia ada janji dengan dosen untuk memeriksa hasil pekerjaannya. Gara-gara bangun kesiangan ia buru-buru mencetak hasil pekerjaannya di printer yang tintanya akan habis. Beberapa tulisan memudar, tapi masih bisa terbaca. Ervin harap dosennya bisa memakluminya. “Ervin mana pekerjaan kamu?” Dosen cantik itu bertanya tegas. Ervin segera membuka tasnya lalu memberikan tugas yang sudah dimasukkan ke dalam map berwarna kuning. Dosen cantik bernama Ayunda yang sering dipanggi Bu Ayun terkenal pintar dan pandai mengajar, tapi galak. Ervin berdebar saat sang dosen membuka setiap lembar halaman. “Saya tidak bisa menandatangani lembar asistensi kamu.” Dosen itu menatap Ervin dengan wajah tidak suka. Ia tahu sang dosen sedang marah. Ibu Ayun menyukai kesempurnaan dan Ervin telah melanggarnya. “Kamu tahu kesalahan kamu?” tanya sang dosen. Ervin mengangguk. Ia tidak memberi pembelaan atas kesalahannya. Semua temannya kini menatap Ervin iba. Dia pria yang pintar dan teliti, tapi kali ini Ervin melakukan kesalahan fatal. “Kenapa kamu lakukan itu? Kamu sudah nggak suka saya jadi dosen pembimbing kamu?” tanya Bu Ayun. Ini pertama kalinya Ervin membuat dia kecewa. “Maaf, Bu. Ini kesalahan saya. Saya akan perbaiki segera dan saya sangat senang ibu yang menjadi pembimbing saya,” kata Ervin. Ia bukan tipe mahasiswa yang suka mencari alasan, meski apa yang ia katakan benar. Ervin lebih suka minta maaf dan mengakui kesalahannya. Dia juga menyadari pekerjaannya ini kurang rapi. Tidak seperti biasanya. “Jangan ulangi lagi.” “Baik, Bu.” Ervin kembali duduk di kursinya. Sang Dosen memberikan beberapa kesimpulan setelah memeriksa tugas semua mahasiswa. Setiap kesalahan yang dilakukan mahasiswa dijelaskan di depan kelas berharap tidak ada lagi yang melakukan kesalahan yang sama. Tidak banyak waktu yang dibutuhkan untuk menjelaskan semuanya. Ervin mengusap wajahnya kasar. Kepalanya pusing karena tugas yang semakin hari begitu banyak. Ia harus bisa mengatur waktunya lebih baik lagi. “Vin, nggak pulang?” tanya Isya saat kelas sudah kosong,hanya tersisa mereka berdua. “Nanti saja, Is. Kamu mau pulang sekarang?” kata Ervin. Isya menarik kursi di samping temannya. Ia ingin lebih dekat dengan Ervin. “Kalau kamu mau aku temani aku mau kok.” Senyum Isya membuat Ervin sedikit was-was. Jangan sampai Elina melihatnya bisa-bisa gadis itu mogok bicara lagi. “Nggak perlu. Aku akan pergi sekarang.” Ervin segera memasukkan buku-bukunya. Isya hanya diam melihat punggung Ervin keluar dari kelas. Ia tahu sampai kapan pun perasaannya tidak akan terbalas. *** Elina mencoba untuk menahan rasa mual yang tiba-tiba muncul. Penjelasan dari dosen hanya mampir sebentar di telinganya lalu hilang begitu saja. Ia tidak bisa berkonsentrasi sejak awal pelajaran. “El, kamu nggak apa-apa?” tanya Gina yang khawatir dengan sahabatnya. Elina menggeleng sembari menutup mulutnya. Wajahnya berubah pucat membuat Gina khawatir. “Pak, maaf. Teman saya sakit boleh izin ke ruang kesehatan?” Gina berdiri dari duduknya membuat semua orang menatap ke mejanya. Melihat wajah pucat Elina membuat sang dosen mengizinkan mereka keluar. Elina bergegas ke kamar mandi. Rasa mual yang tidak tertahankan membuat ia lemas. Beruntung ada Gina yang setia mengusap punggungnya. “El, kamu masih bisa berdiri?” tanya Gina. Kaki Elina bergetar lemas. Ia ingin tidur saat ini juga. Beberapa kali Elina memuntahkan air sampai ia tidak bisa bicara pada Gina. “Kamu tunggu sebentar, ya, aku mau cari Kak Ervin dulu.” Gina keluar untuk mencari bantuan. Beruntungnya ia melihat Varen sedang berbincang dengan temanya tidak jauh dari tempatnya berdiri. “Varen!” teriak Gina. Pria itu menoleh lalu menghampiri Gina yang memanggilnya. “Ada apa, Na?” “Boleh minta tolong nggak bantu bawa Elina ke ruang kesehatan. Dia lagi sakit, terus ponsel aku ketinggalan di kelas jadi nggak bisa hubungi Kak Ervin,” jelas Gina. Varen yang mendengar hal itu seketika panik. Elina sedang sakit, Varen harus membawanya ke rumah sakit . “Di mana Elina sekarang?” “Dia ada di kamar mandi.” Varen mengikuti Gina ke kemar mandi. Di sana Elina sudah duduk di lantai bersandar pada tembok. Varen segera berjongkok di samping sahabatnya. “Elina, kamu baik-baik saja?” tanya Varen khawatir. Elina mengangguk lemas. Matanya perlahan terpejam. Gina meminta Varen menggendong Elina ke ruang kesehatan, tapi Varen ingin membawa Elina ke rumah sakit. “Aku nggak apa-apa, Varen. Cuma butuh tidur sebentar,” kata Elina lemah. Varen menggendong Elina keluar dari kamar mandi. Gina membawa tas Varen yang cukup berat. Sampai di ruang kesehatan Varen merebahkan Elina di atas bed. “Kamu sudah makan, El? Aku belikan makanan dulu, ya.” Varen bergegas keluar untuk membeli makanan sementara Gina menjaga Elina. “El, masih mual?” tanya Gina sembari mengusap perut sahabatnya. “Sudah mendingan, tapi aku lemas banget,” ujarnya. “Aku panggil Kak Ervin, ya?” Elina menggeleng. “Kak Ervin lagi ada tugas. Aku nggak mau ganggu dia. Aku sudah mendingan,” sahut Elina dengan mata terpejam. Gina terus mengusap perut Elina supaya rasa mualnya berkurang. Tidak butuh waktu lama Varen datang membawa makanan. Varen meletakkan nampan di atas meja kecil kemudian mendekati Elina. Gina berhenti mengusap perut sahabatnya. Ia tidak mau Varen tahu kalau Elina sedang hamil. Biarkan kabar baik ini disampaikan Elina sendiri. “Elina, kamu makan dulu, ya.” Varen coba membujuk sahabatnya, tapi gadis itu tetap menggeleng. Mata Elina masih terpejam, tapi ia masih bisa bicara dengan Varen. “Aku nggak mau makan. Aku mau tidur,” ujarnya lalu bergiring memunggungi Varen dan Gina. “Biarin Elina istirahat dulu, nanti kalau sudah enakan baru suruh makan,” kata Gina. Varen tidak memaksa Elina lagi. Ia hanya mengusap kepala Elina sampai gadis itu terlelap. “Biar aku yang jagain Elina, kamu ke kelas saja, Varen,” kata Gina. “Aku nggak ada kelas setelah ini. Bukannya kelas kamu masih jalan?” tanya Varen. “Iya, sih, tapi….” Varen menatap Gina. “Kamu balik saja ke kelas, nanti kalau sudah selesai bawa barangnya Elina ke sini. Sekarang biar aku saja yang jagain Elina,” ucap Varen. Gina menatap sahabatnya yang berbaring memunggunginya. Ia tidak mau meninggalkan Elina, tapi satu sisi ia harus kembali ke kelas untuk belajar dan mengabil barang-barang mereka. “Ya, sudah aku ke kelas dulu. Tolong jagain Elina, ya.” Varen mengangguk. “El, aku balik ke kelas dulu, ya. Cepet sembuh.” Varen duduk di sisi tempat tidur. Ia menatap Elina dalam-dalam. Ia yakin Elina tidak makan dengan baik setelah menikah dengan Ervin. Hal inilah yang membuat Varen tidak menyukai suami sahabatnya. Menurutnya Ervin bukan suami yang baik untuk Elina. Buktinya Elina sakit gara-gara makan tidak teratur. Varen menduga asam lambung Elina meningkat. Elina, andai aku pria yang menikah denganmu mungkin hal ini tidak akan terjadi. Aku pastikan kamu makan dengan baik. Aku bahkan bisa membahagiakan kamu lebih dari yang Ervin berikan. Pria itu tidak pantas mendapat gadis sebaik dan sepolos dirimu. Aku berjanji akan menjadikan kamu miliku. Segera, batin Varen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD