Baikan

891 Words

“Ini Den Ervin makanannya.” Pelayan yang lebih muda memberikan nampan itu pada Ervin. “Saya lanjut di dapur, dulu. Permisi,” pamitnya. Kini tinggal Ervin dan pembantu yang usianya lebih tua. Mereka berjalan ke kamar Elina. Si bibi yang namanya disamarkan itu mengetuk pintu sangat pelan sampai membuat Ervin gregetan. “Non makan siangnya,” ucapnya lembut. “Masuk saja, Bi, nggak kekunci, kok,” sahut Elina dari dalam. Ervin bersembunyi membiarkan si bibi masuk terlebih dahulu. Saat pintu terbuka si bibi melihat Elina sedang berbaring di atas tempat tidur sembari memejamkan matanya. Bibi melihat mata Elina ditutupi irisan mentimun. Ia pun meminta Ervin masuk ke kamar. “Non Elina mau makan sekarang?” tanya si Bibi setelah Ervin meletakkan nampan di atas meja. “Nanti saja, Bi. Aku mau ist

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD