Kiara jadi gemas-gemas kesal melihat Enggar diam saja. Setelah menyeruput segelas air mineral, ia langsung berbicara panjang lebar.
"Iya Bu. Jadi tadi itu saya lagi nungguin ikan. Terus bawaan saya 'kan berat. Jadi saya mau minta bantuan Enggar, ehm ... maksud saya Mas Enggar ambilin bawaan saya di dalam pasar. Eh, tahu-tahunya dia sama Nirma malah ninggalin aku ke toko baju enggak pamit-pamit dulu. Mana aku mulai kelaparan lagi," omel Kiara dengan wajah cemberut.
"Wah? Kamu ditinggal sendiri sama mereka berdua? Kelaparan? Emang kamu enggak diajak sarapan tadi?" tanya Bu Jeny sambil menatap tajam pada Enggar.
"Sudah diajak, dia-nya aja yang enggak mau," Enggar membela diri.
"Terus, kok bisanya kalian ninggalin Kia sendiri bawa belanjaan?" tanya Bu Jeny lagi tanpa mau mengalihkan pandangan dari wajah Enggar.
"Yaaa, itu karena Nirma maksa Ma. Nirma maksa minta antarin ke toko baju. Katanya mau liat-liat baju buat resepsinya kita," jawab Enggar entah benar atau hanya mengada-ngada.
"Padahal tahu, bawanku berat. Gak mau nyusul malah pergi," gumam Kiara masih jengkel. Bu Jeny menarik napas dalam dan menghembus perlahan.
"Ini! Kamu pulang sekarang! Bawa ini!" titah Bu Jeny keras sambil meraih pisau yang tersemat di tempat penyimpanan lalu mengacungkan pada putranya. Enggar langsung berdiri dan menarik badan, karena kaget melihat kemarahan ibunya. Kiara hampir tersedak makanan mendengar Bu Jeny begitu marah mendengar ucapannya. Menurut Kiara jawaban dan perkataannya biasa saja. Hanya sebatas luapan emosi karena Enggar dan Nirma membuatnya kelelahan dan kelaparan saja.
Buru-buru Enggar meraih pisau yang di sodorkan, lalu bergegas keluar meninggalkan rumah mertuanya.
"Kiara! Ibu mau berbicara penting sama kamu! Tolong dengarkan ibu dan patuhlah pada apa yan ibu ucapkan," Bu Jeny menggantikan posisi Enggar duduk di sebelah Kiara tadi. Kiara bertanya-tanya dalam hati. Apa yang ingin di katakan oleh Bu Jeny? Sepertinya cukup penting.
"Kiara, berjanjilah sama Ibu, kamu akan menerima pernikahan ini dan menerima Enggar sebagai suamimu sampai kapanpun." Bu Jeny meraih tangan Kiara. Kiara jadi bingung. Akhirnya ia dia saja, tak tahu harus menjawab apa.
"Kiara! Berjanjilah demi ibu Nak. Berjanjilah kamu akan membuat Enggar jatuh cinta padamu," ucap Bu Jeny membuat Kiara harus menelan Saliva berulang kali. Ia yang baru saja menyudahi makan dan minum, merasa tenggorokannya kembali kering.
"Ibu tahu, kalian tidak saling mencintai. Tapi ibu yakin, kamu adalah pilihan yang tepat untuk Enggar," tutur Bu Jeny lembut sambil meraih tangan Kiara yang sedari tadi diam saja.
Kiara memberanikan diri menatap wajah ibu mertuanya dan bertanya," kenapa ibu bisa yakin? Dan kenapa harus Kiara Bu?"
Bu Jeny menghela napas sambil berpaling menatap kosong ke tembok dapur besannya.
"Karena kami yakin, kamu yang bisa mengurus, mengerti, juga menjaga Enggar dan Nirma kelak."
Kiara mengernyitkan dahi. Ucapan Bu Jeny memunculkan teka-teki baru di otaknya. Kenapa dia harus menjaga Enggar dan Nirma?
"Ibu, penilaian dari sisi mana itu? Bagaimana Ibu bisa yakin akan hal itu? Sementara Ibu tahu sendiri bagaimana saya. Mengurus diri sendri saja saya tidak becus. Masak enggak bisa. Semua orang juga tahu saya ngapa-ngapain tidak pernah becus. Kerja saja selalu dipecat dalam waktu seminggu," ucap Kiara lirih sambil tersenyum kecil. Baginya, harapan Bu Jeny hanyalah sebuah rayuan semata dan untuk membesarkan hatinya.
"Justru itu Kiara. Ibu dan Bapak memang ingin Enggar memiliki istri seorang wanita yang tidak bekerja. Seorang wanita yang bisa menghabiskan waktunya untuk mengurus keluarga di rumah saja. Soal pekerjaan rumah, nanti kamu akan bisa dengan sendirinya seiring waktu."
Kiara terdiam. Semakin tidak mengerti arah pkkiran juga pembicaraan mertuanya.
"Kenapa ibu berbicara seolah-olah ke depannya hanya Kiara, Mas Enggar dan Nirma yang tinggal?" Kiara akhirnya tak mampu lagi menyimpan rasa penasarannya..
Bu Jeny tersenyum sambil menepuk pundak menantunya lembut. "Memang iya! Selanjutnya kalian bertiga yang akan tinggal di rumah depan."
Kiara mendongak dengan wajah dan perasaan terkejut luar biasa. Matanya memicing menatap wajah ibu mertuanya di samping, seolah berkata ibu mertuanya berbohong.
"Maksud Ibu? Ibu sama Bapak mau pergi? Pergi jauh?" Kiara menegaskan maksud pembicaraan Bu Jeny.
Bu Jeny mengangguk, membuat Kiara merasa senang bukan kepalang. Bukankah bila mereka hanya bertiga di rumah itu, artinya dia bebas bisa pindah tidur ke kamar mertuanya jika sudah kosong? Tapi, tak etis rasanya bila Kiara terang-terangan menunjukkan kesenangannya. Sementara dia akan bersikap antusias dulu.
"Tapi, Bu. Ibu mau kemana? Pergi kenapa?" tanya Kiara tidak sepenuhnya berpura-pura antusias. Kiara memang penasaran Bu Jeny ingin meninggalkan mereka kemana.
"Bapakmu terkena mutasi oleh kantor pusat ke cabang lain di daerah Kotabangun, Hulu Samarinda, Kia. Sebenarnya di sana sudah disediakan mes dan sudah ada kantin khusus buat karyawan non lokal. Hanya saja ibu tidak tega membiarkan Bapakmu sendiri di sana. Bagaimana kalau sakit? Dari sini ke Kota Bangun perlu waktu dua hari, karena hanya ada jalur perjalanan darat untuk menuju ke sana," jelas Bu Jeny panjang lebar supaya Kiara mengerti kenapa dia harus meninggalkan rumah.
Kiara mengangguk-anggukan kepala ringan. "Berangkatnya kapan Bu?"
"Begitu selesai beres-beres setelah resepsi kalian, Bapak sama ibu segera berangkat," sahut Bu Jeny membuat Kiara makin senang. Hari kebebasannya sebentar lagi tiba. Tak perlu lagi ia sembunyi-sembunyi meninggalkan kamar Enggar. Nirma pasti tidak akan mengadu apa-apa pada orang tuanya. Toh, sebelumnya Nirma dengan senang hati membantunya menjauh dari Enggar.
"Tapi Kiara! Sebelum ibu pergi, ada hal penting untuk rumah tanggamu, yang akan ibu ceritakan padamu terkait Enggar dan Nir ...."
"Mamaaa! Kok malah asik ngobrol di sini sih? Bu Lilis di rumah, mama di sini!"
Kemunculan Nirma disertai ocehannya membuat ucapan Bu Jeny menggantung begitu saja. Ia menatap Nirma sekilas denga tatapan tak bersahabat.
Bu Jeny langsung bangkit dan bersiap meninggalkan Kiara yang masih penasaran dengan apa yang ingin Bu Jeny katakan soal Nirma dan Enggar. Mungkin penjelasan Bu Jeny bisa menjawab rasa di hatinya. Ya! Sejak menikah dengan Enggar, Kiara merasa ada yang agak aneh dengan sikap Nirma. Sikapnya agak janggal terhadap Kia. Tapi sayangnya, Bu Jeny seolah lupa pada apa yang ingin ia ceritakan sebelumnya. Bu Jeny melangkah pulang tanpa berkata apa-apa lagi.
"Kak Kia, disuruh ngambil talenan tadi," ucap Nirma menatap Kiara. Kiara langsung bangkit mengambil talenan. Lalu keduanya menyusul langkah Bu Jeny kembali ke seberang.
Di sana Bu Lilis sudah mulai mengupas bawang. Hari ini mereka membuat bumbu untuk menu makanan orang-orang yang akan rewang dua hari lagi.
Kebiasaan warga setempat, bila rewang tuan rumah memberi makan orang-orang yang membantu mempersiapkan acara mereka tiga kali sehari. Jadi orang-orang yang datang, hanya fokus mengerjakan khusus persiapan untuh hari H saja tanpa terganggu oleh kegiatan memasak untuk makan orang-orang yang bekerja. Dengan begitu, semua pekerjaan bisa tepat waktu dan tidak perlu sampai malam.
Kiara mengambil tempat di dekat ibunya untuk membantu mengupas bawang.
"Eh, Kiara. Udah kamu istirahat aja dulu sana di kamar. Kasian tadi kamu bawa belanjaan sendiri. Kamu enggak boleh capek-capek loh. Takut sakit pas acaranya. Biar Nirma yang bantuin," cegah Bu Jeny sambil merampas pisau kecil dan talenan dari tangan Kiara lalu menyerahkan pada Nirma.
Nirma melirik Kiara sekilas setelah menyambut pisau dan talenan yang di sodorkan Bu Jeny. Lirikannya kurang mengenakkan bagi kiara. Seperti kurang suka atas perintah ibunya Kiara sempat menolak perintah Bu Jeny karena tak enak hati pada Nirma, tapi Bu Jeny tetap memaksa.
"Udahh. Nurut kata Ibu. Jangan sampai kamu sakit karena kecapean. Nanti juga ada Rista ke sini. Iya'kan Bu Lilis?" Bu Jeny berpaling menatap Bu Lilis yang tersenyum sambil mengangguk.
Akhirnya Kiara terpaksa kembali ke kamar Enggar. Di dalam hati Kiara berharap, semoga Enggar sedang berada di luar. Tapi harapannya melesat. Enggar masih saja mengurumg diri dalam kamar. Sepertinya lelaki tak peka itu betah mendekam di kamar. Mentang-mentang lagi cuti.
"Sudah kenyang?"
Enggar menyambut dengan pertanyaan yang tak enak didengar nada bicaranya oleh Kiara. Sepertinya Enggar benar-benar tersinggung oleh ulahnya tadi.
"Sudahlah. Makan hati sekaligus makan nasi, masa enggak kenyang-kenyang!" sahut Kiara berusaha menanggapi pertanyaan Enggar dengan santai.
Enggar mendengkus kesal.
"Lain kali jangan gitu, Kia. Kaya suamimu gak bisa kasih makan aja. Bikin malu tahu," gumam Enggar sambil menatap Kiara yang memilih duduk di lantai kamar sambil mengurut-urut pergelangan tangannya yang masih agak sakit dan lengannya yang terasa pegal.
Kiara meringis saat jarinya memencet bagian yang paling sakit. "Gitu aja malu! Nih, liat Ni. Tanganku masih sakit gara-gara memaksakan diri buat ngangkat bawaan berat tadi. Biasa aja!" Kiara menyahut ketus masih sambil mengurut -urut tangan dan lengannya bergantian.
"Siapa suruh dibawa sekalian. Dua kali 'kan bisa. Diangsur!" sahut Enggar sambil membalikkan badan acuh, membelakangi istrinya. Kiara jadi kesal mendengar ucapan Enggar.
"Kalo gak bantuin, gak usah banyak omong juga! Tadi aku mau cepat-cepat karena lapar tahu! Gitu katanya suami.
Suami apaan coba!" tukas Kiara cemberut dengan nada marah. Egois sekali Enggar menurutnya. Ingin menunjukkan pada orang tuanya dia suami bertanggung jawab, padahal tak mau tahu kesulitan Kiara saat mereka berdua. Sikap Enggar membuat Kiara merasa dia bukan lelaki yang ia impikan selama ini.
Sontak Enggar membalikkan badan mendengar ucapan Kiara.
"Suami apaan? Suami di atas kertas pastinya. Atau jangan-jangan, kamu mau aku jadi suamimu di atas ranjang? Tunggu!"
Enggar langsung menegakkan badan lalu melangkah turun untuk menghampiri Kiara.
"Kamu mau aku jadi suami beneran? Aku sih ayoook!" tanpa basa-basi Enggar langsung menggendong tubuh kiara.
Spontan Kiara menjerit karena terkejut oleh ulah Enggar.
"Apa-apaan kamu. Lepasin! Enggak gitu. Lepasin!" Kiara meronta saat Enggar meletakkan tubuhnya di atas pembaringan.
"Katanya mau beneran!" ucap Enggar bersiap-siap melepas kancing bajunya. Kiara kembali menjerit sambil menendang-nendang Enggar yang berdiri di tepi ranjang sambil mencondongkan tubuhnya seolah ingin berbaring di atas tubuh Kiara yang tengah terlentang.
"Ehm! Kalo mau nge-gym berdua, minimal pintunya dikunci dulu toh. Biar yang lewat enggak liat. Apalagi ini masih siang!" suara seorang wanita dari luar berbicara sambil cekikikan membuat Enggar langsung menarik tubuhnya agar tegak kembali. Enggar tak sadar, jika pintu kamar mereka terbuka dan Rista yang usil sedang melintas menuju dapur. Sepertinya ia datang untuk membantu pekerjaan orang tua mereka di dapur.
Enggar melangkah untuk merapatkan pintu. Suara cekikikan Rista makin menjadi melihat ulah Enggar. Kekesalan Kiara pun semakin menjadi-jadi karena Enggar membuatnya malu. Entah apa yang ada di pikiran Rista dan apa yang dia katakan di belakang.
Yang jelas, ulah Enggar kali ini membuat Kiara memilih bertahan di kamar seharian daripada keluar dan menjadi bulan-bulanan Rista yang usil bukan kepalang.
Enggar sukses membuat Kiara merasa malu untuk menampakkan diri di depan adiknya sendiri hari ini.