Mendadak Grogi

1806 Words
"Bikin malu aja Kamu! Dikira mau ngapain lagi siang-siang. Kamu tahu 'kan Rista itu orangnya pengolokan!" Kiara mengomel sambil memutar posisi tubuhnya di ranjang. "Yaaaah ... dikira mau nganu juga sah-sah aja. Toh kita sudah suami istri," ucap Enggar sambil membaringkan tubuhnya di samping Kiara langsung memeluk istrinya erat. Kiara yang tak menduga Enggar akan melakukan itu sontak meronta. Sungguh, Kiara takut Enggar benar-benar ingin 'mengerjainya' siang ini. "Le-pa-sin. Ja-ngan! Jangan Gar. Lepasin!" Kiara merasa tubuhnya tak bisa bergerak dalam rengkuhan lengan kokoh milik Enggar. "Kalau aku enggak mau gimana?" bisik Enggar sambil mengeratkan pelukan membuat bulu-bulu di sekujur tubuh Kiara serasa berdiri semua. Kiara meronta lebih keras lagi. d**a bidang Enggar menjadi sasaran. Kancing bajunya yang sudah terbuka membuat Kiara leluasa mendaratkan gigitan di d**a Enggar, hingga lelaki itu menjerit tertahan dan langsung melepaskan tubuh Kiara. Kiara langsung mengambil kesempatan tersebut untuk mendorong Enggar hingga ia jatuh dari ranjang karena posisinya memang pas berada di tepi. "Adduuh! Ganas amat si jadi perempuan Kia!" ucap Enggar sambil mengusap bekas gigi Kiara yang meninggalkan bekas di d**a Enggar. "Makanya jadi orang jangan suka gitu. Ingat! Kamu bukan seleraku, aku bukan seleramu!" tekan Kiara sambil mengatur napasnya yang masih tersengal. Enggar berdiri kembali sambil tergelak kecil. "Ge-er amat! Aku cuma testing doang, dianggap serius." "Hidih! Alasan pake mau nge-tes segala. Emang aku mau dites apa? Bilang aja kamu ngarepnya aku luluh. Terus menyerahkan diri begitu saja. Hih! Jangan Mimpi!" ketus Kiara sambil mencebikkan bibir. Tawa Enggar makin menjadi. Nada tawanya menurut pendengaran Kiara sudah sampai ke level meremehkan. "Ngarep apanya. Heh! Kiakia! Aku tadi cuma nge-tes kamu aja gimana sih reaksinya kalau seorang Kiara dipeluk sama laki-laki. Ternyata ...." Enggar menggantung ucapannya kemudian tertawa lagi, membuat wajah Kiara jadi merah padam. "Ternyata apa?" sentak Kiara mulai terpancing emosi melihat ulah suaminya. "Ternyata badanmu jadi kaku. Kaya kanebo kering. Mungkin karena ketuaan baru di belai," sahut Enggar kembali tergelak membuat Kiara jadi salah tingkah. Wajahnya terasa panas. Antara ingin marah tapi malu juga. Kiara menarik napas kesal, lalu membalikkan badan. Enggar kembali duduk di dekat Kiara sambil memasang headset di telinga. Setelah berselancar sejenak di layar ponsel untuk memilih lagu yang ingin dia dengar, Enggar lalu membaringkan tubuh dengan posisi membelakangi Kiara juga. Meskipun tahu Kiara marah, tapi Enggar lebih memilih pura-pura tidak tahu dan bersikap acuh saja. Enggar malah heran, kenapa Kiara jadi jinak dan mau berbaring seranjang dengannya? "Oh, mungkin dia benar-benar kelelahan tadi. Kasian juga," batin Enggar mengingat Kiara baru saja mengurut-urut lengannya. Akhirnya Enggar membiarkan Kiara berisitirahat dalam kemarahan dan kelelahan akibat ulahnya tadi. Enggar memilih keluar dari kamar dan bersantai di kursi teras rumahnya saja sambil memikirkan kira-kira resepsi seperti apa yang direncanakan oleh orang tua dan mertuanya untuk mereka berdua. Jauh di lubuk hati Enggar ada sesuatu yang membuatnya merasa enggan jika harus bersanding dengan Kiara. Tapi mau bagaimana lagi. Semua tetap harus di ikuti sesuai rencana mereka. Enggar merasa cukup resah, membayangkan dirinya dan Kiara duduk berdua di pelaminan disaksikan oleh teman, kerabat, tetangga, dan orang sekampung. Apa kata mereka nanti ya? Bertahun-tahun jadi tetangga. Dari ia masih jejaka sampai duda. Dari kiara masih remaja sampai mulai kepala tiga. Kenapa baru sekarang nikahnya? Membayangkan hal itu, Enggar seperti merasa sebentar lagi ia akan duduk seperti boneka pajangan di samping Kiara. Malas sekali rasany. Tapi harus! Bosan duduk di luar, Enggar memilih masuk dan merebahkan diri di sofa panjang berwarna coklat. Cukup lama ia berselancar di layar ponsel, hingga akhirnya rasa kantuk menyerang. Enggar pun akhirnya terlelap. ** "Gar! Heh! Enggar! Bangun. Kok malah tidur di sini?" Bu Jeny mengguncang-guncang tubuh Enggar di sofa. Enggar menggeliat, lalu mengerjap-ngerjapkan mata. Ia menatap ke sekeliling seperti baru tersadar jika ia tertidur di luar. "Kenapa kok tidur di sini? Ayo makan. Sudah zuhur nih. Sudah waktunya makan siang juga. Ajak istrimu!" titah Bu Jeny. "Euum. Iya. Ini sudah siang ya. Errrgggh!" Enggar menggeliatkan tubuhnya sekali lagi lalu bangkit dan melangkah menuju kamar. Bu Jeny mengikuti langkahnya dari belakang. Enggar menekan handle pintu turun. Ternyata pintu kamarnya terkunci. "Nah, dari tadi mama mau ngetuk enggak enak. Takutnya kalian di dalam lagi ngapain gitu. Eeeh, taunya kamu malah tidur di luar. Ya sudah! dipanggil itu Kiara diajak makan," ucap Bu Jeny sambil terkekeh meninggalkan Enggar yang langsung mengusap tengkuk karena tak habis pikir mendengar ucapan ibunya. Apa pikiran orang dewasa tentang pengantin baru melulu soal 'itu' saja? Aneh .... "Kiara! Buka pintunya!" ucap Enggar sambil mengetuk pintu berulang kali. "Kiara!" Enggar mengetuk lebih keras lagi karena merasa diabaikan. Tak lama kemudian pintu terbuka, dan nampaklah wajah Kiara menyembul dari balik pintu dengan mata melotot tajam. "Bisa sabar enggak sih? Orang masih salat juga!" ujar Kiara sambil membuka pintu lebar-lebar. "Oooh, ya ... maaf!" ucap Enggar begitu melihat mukenah berwarna putih masih membalut tubuh istrinya. Kiara diam saja. Enggar pun langsung mengambil air wudhu. Sudah kebiasaanya sejak kecil, mendahulukan salat daripada makan siang. "Ayo! Makan!" ajak Enggar setelah selesai salat pada Kiara yang berdiri menatap keluar melalui jendela kamar. "Dah kenyang!" tolak Kiara. "Jangan bohong. Tahu-tahu nanti dah ngacir aja ke seberang nyari makanan. Ingat! Jangan malu-maluin aku. Kenyang makan apa coba," tukas Enggar curiga Kiara bakal mencari makanan di rumah orang tuanya lagi. "Makan hati! Sudah kubilang tadi!" sahut Kiara sengit. "Ceileh ... hatinya siapa yang dimakan sampe kenyang gitu," ledek Enggar lagi membuat Kiara makin gedek. Enggar benar-benar membuatnya jengkel dari pagi. Tapi kali ini Kiara memilih diam dan kembali merebahkan diri di ranjang. Sebenarnya ia masih malas keluar, pasti di luar Rista akan meledeknya lagi. Tanpa di duga, Enggar ikut berbaring di sampingnya. "Lah, kamu ngapain ikutan baring di sini? Kamu kalau mau makan ya makan aja sanah! Enggak usah sok romantis pake acara nunggu-nunggu aku segala!" Kiara beringsut menjauhkan diri. Enggar malah sengaja mendekat lagi. "Kalo kamu gak keluar, aku juga males keluar sendiri. Repot entar ditanya-tanyain. Kenapa enggak makanlah. Apalah!" sahut Enggar terdengar kesal karena perutnya lapar. "Oo, jadi kamu lapar?" tanya Kiara sambil meledek balik. "Ya laparlah!" "Ya sudah! Sana! Keluar, makan. Kamu tinggal bilang aja aku lagi gak selera makan. Lagi sakit kek, apa kek!" usul Kiara. "Sakit! Sakit apa juga. Mau-an kamu sakit ya. Sakit beneran baru tahu rasa!" gumam Enggar. "Emang beneran aku sakit kok!" Kilah Kiara "Sakit apa?" "Sakit hati!" "Huh! Lebay! Dari tadi bawa-bawa hati mulu. Sakit hati. Makan hati! Baperan amat jadi perempuan. Pantesan sampe tua gak laku-laku!" gerutu Enggar sambil beringsut turun dari ranjang dan keluar meninggalkan Kiara. "Akhirnya laku juga 'kan sama kamu!" sahut Kiara yang dijawab oleh Enggar dengan cibiran saja. Kiara tertawa senang karena berhasil memaksa Enggar keluar seorang diri. Dia sendiri memang belum merasa lapar, karena sepulang dari Pasar tadi, Kiara menghabiskan nasi dalam porsi jumbo. Setelah Enggar pergi, Kiara memilih menghubungi Mayang. Beberapa hari tak berbincang dengan sahabat dekatnya itu, membuat Kiara merasa lumayan kangen. Kiara memilih untuk melakukan video call supaya lebih puas karena bisa saling melihat. "Assalamu'alaikum Mayaaang. Apa kabar? Kangen deh sama kamu," cerocos Kiara begitu wajah Mayang sudah tampak di layar ponselnya. "Wa'alaikumsallam. Baik Say. Wih, yang udah pindah kamar. Gimana kabar pengantin baru nih?" tanya Mayang begitu melihat latar di belakang Kiara berbeda dengan biasanya. "Kabar buruk!" sahut Kiara cemberut. "Hah? Kenapa? Ceritain dong. Apa gerangan yang membuat sahabat terbaikku ini nampak kesal," ucap Mayang tak sabar dengan dahi berkerut. Kiara menarik napas, lalu mulai bercerita dari A sampai Z apa yang membuatnya kesal dari pagi sampe siang ini sambil mengomel. Bukannya prihatin, Mayang malah tergelak setelah Kiara selesai berbicara panjang lebar. "Kok kamu malah ketawa sih," protes Kiara merasa Mayang sama seperti Enggar. Malah meledeknya bila sedang marah. "Ya lucu aja. Kamu kok marah-marah enggak jelas padahal 'kan Enggar enggak salah-salah amat. Yang salah tu Nirma kok malah ngajak Enggar ninggalin kamu sendiri sedangkan dia tahu bawaanmu banyak. Agak aneh sih. Apa Nirma Enggak suka sama kamu?" tanya Mayang dengan volume mengecil saat menanyakan kalimat terakhirnya. Kiara terdiam sejenak. Bingung mengartikan sikap Nirma. Dari satu sisi dia seperti ingin membantu Kiara dengan tulus. Tapi di satu sisinya lagi, dia seperti sengaja ingin melihat dirinya menderita. "Hey, Kia. Kok melamun. Aku nanya loh. Apa Nirma ada potensi jadi ipar jahat seperti yang ada di sinetron-sinetron itu?" tanya Mayang pelan meskipun ia tahu tak ada siapa-siapa bersama Kiara. "Heeeem ... Eng-enggak juga sih. Cuma ...." Kiara menjeda ucapannya memgingat ucapan Bu Jeny tadi pagi. "Cuma apa?" Mayang jadi penasaran. "Cuma ... tadi pagi agak aneh sih mertuaku. Dia bilang ada yang mau diceritakan soal Enggar dan Nirma tapi belum kelar udah keputus karena Nirmanya keburu hadir di dekat kami. Beliau juga kaya memohon-mohon gitu supaya aku bisa membuat Enggar jatuh cinta." "Loh, agak aneh ya. Tapi, ya memang tugasmulah, membuat Enggar jatuh cinta. 'Kan dia suamimu meskipun dadakan. Ya dilaksanakan to perintah mertua. Bagaimanapun caranya, kamu ya wajib membuat Enggar jatuh cinta," jawab Mayang memberi solusi sambil mengulum senyum, membuat Kiara makin cemberut. "Gimana caranya bikin Enggar jatuh cinta, sedangkan aku aja enggak ada cinta-cintanya sama dia. Kamu kok jadi sama kaya Enggar yah. Bisanya cuma buat aku makin kesal. Dah ah! Males aku ngomong sama kamu. Assalamu'alaikum!" Tanpa menunggu jawaban Mayang atas salamnya, Kiara menekan tombol bersimbol gagang telpon berwarna merah di layar ponselnyanya. Dari pada hatinya bertambah kesal karena Mayang malah mendukung permintaan Bu Jeny, lebih baik pembicaraan mereka diakhiri. Tepat saat ia mengakhiri panggilan, Enggar membuka pintu sambil membawa sebuah nampan yang berisi nasi, ikan, sayur, dan air minum. Ia meletakkan nampan di dekat Kiara duduk. Kiara jadi heran. Kenapa Enggar benar-benar memperlakukan dirinya seperti orang yang sedang sakit beneran? Padahal dia tahu Kiara hanya berpura-pura sakit. "Makan dulu. Mulai sekarang kamu harus membiasan diri makan teratur. Jangan bawa kebiasaanmu sebelumnya ke rumah ini. Nanti kamu sakit beneran," ucap Enggar pelan dan lembut membuat Kiara terperangah. Kenapa Enggar tiba-tiba bersikap dan bertutur semanis itu? Kesambet apa dari luar? "Hey, kok malah bingung? Apa tanganmu masih sakit? Kalau sakit biar aku yang suapin. Yang penting kamu harus makan," ucap Enggar sambil memindai wajah Kiara yang masih tak percaya Enggar bersikap semanis itu padanya. "Eh, Ehm. I-iya. Masih sakit," ucap Kiara berbohong untuk melihat apakah Enggar benar-benar akan menyuapinya atau ucapannya hanya prank semata. "Ya udah, aku suapin ya!" Tanpa ragu Enggar mulai menuangkan sedikit sayur sop dan mencuil sedikit daging ikan dengan sendok. Lalu ia mulai menyendok makanan tersebut untuk menyuapi Kiara yang makin terpana oleh sikap manis Enggar. Ada ketakutan yang lain dalam dirinya. Kiara merasa takut, bila Enggar akan terus bersikap manis seperti itu padanya, bisa-bisa dia yang jatuh cinta duluan. Itu tak boleh terjadi. Enggar yang harus jatuh cinta lebih dulu padanya. Perlaham Kiara membuka mulut, dan Enggar menyuapinya pelan sambil tersenyum. Setelah meletakkan sendok, Enggar meraih selembar tissue dan menyeka sudut bibir Kiara yang basah sedikit oleh kuah sayur. Sialnya, semua tingkah Enggar membuat Kiara jadi grogi, karena tiba-tiba saja dia merasa ada desiran aneh di hatinya. Desiran yang sangat berbahaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD