Setelah melewati beberapa adegan drama semalam, Keesokan paginya Kiara masih bermalas-malasan di tempat tidur. Kedua bahunya terasa begitu pegal karena terlalu lama bermain-main dengan kipas tadi malam. Entah sengaja atau memang kepanasan, Enggar baru tertidur pulas dua jam setelah Bu Lilis dan Pak Johan meninggalkan kamarnya.
Notif WhatssApp di ponsel Kiara berbunyi beberapa kali. Sambil menggeliatkan badan, Kiara meraih benda pipih kesayangannya tersebut. Kiara duduk sambil mengucek-ngucek mata beberapa kali. Ia melirik ke samping. Bantal dan selimut Enggar sudah tersusun dengan rapi. Kiara tak perduli kemana Enggar. Ia lebih memilih membuka pesan di aplikasi berwarna hijau dengan logo gagang telpon sebagai pembuka kegiatannya pagi itu.
"Gimana malam pertamanya?"
Pesan dari Mayang yang pertama kali menarik perhatian Kiara untuk dijawab terlebih dahulu.
Kiara mengernyitkan dahi, berpikir sejenak memikirkan jawaban yang pas. Dia tahu Mayang hanya meledeknya.
"Dahsyat." Kiara membalas singkat sambil cengar-cengir sendiri.
"Wah? Menang apa kalah? Lupa nih sama Irwan."
Balasan Mayang disertai emotikon yang menandakan dirinya sedang melongo di seberang sana.
"Ya kalah-lah. Lawannya duda! Gak usah bawa-bawa Irwan."
Kiara jadi masygul sendiri membaca balasannya dari Mayang yang membawa-bawa nama Irwan. Sampai saat ini Kiara belum berani jujur pada Irwan soal pernikahannya dengan Enggar. Sesungguhnya Kiara juga tak tahu, apakah selama ini Irwan serius, atau memang hanya bermain-main dengannya.
"ya deh! Iya! Sorry. E ... tapi, etapi .... ngomong-ngomong gimana rasanya?" Mayang menggoda Kiara lagi.
"Gak usah tanya-tanya, Aku mau mandi wajib dulu. Bye!" Kiara berbohong sekali lagi.
"Biyuh, makin judes aja yang udah nikah. Dah mandi yang bersih!" Balas Mayang.
Kiara hanya membalas pesan Mayang dengan emotikon lidah yang menjulur.
Pagi-pagi Mayang sudah ngerusuh di pesan w******p. Anggap saja sarapan pagi. Kiara kembali merebahkan tubuhnya untuk lanjut bermalas-malasan.
"Kiara!" tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dengan keras. Suara Bu Lilis. Lekas Kiara bangkit kembali. Karena pintunya tidak terkunci, Bu Lilis dengan leluasa langsung masuk dan berdecak sebal melihat Kiara masih duduk di tempat tidur.
"Kamu ini sudah jadi istri Kia! Biasakan habis subuhan, langsung bangun. Tuuh! Suamimu sudah sarapan. Kamu masih aja melungker di atas kasur! Ini terakhir mama liat kamu bangun siang. Besok kamu tidur dirumah mertua. Jangan bikin malu mama. Sudah syukur Bu Jeny mau nerima kamu jadi menantunya. Sana! Cepat bangun dan temani suamimu sarapan!" omel Bu Lilis sambil menyingkap selimut Kiara. Kiara tak menjawab, namun langsung bergerak mengikuti langkah ibunya yang masih mengomel menuju ruang makan.
Pak Johan menoleh sekilas melihat Kiara keluar dengan wajah kusut. Pak Johan hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar istrinya menggerutu sambil menarik kursi dan duduk untuk sarapan juga.
Dengan gerakan malas, Kiara ikut menarik kursi dan duduk di samping Enggar. Kiara melirik sejenak pada Enggar yang makan dengan lahap. Rupanya, pengobatan yang dilakukannya tadi malam cukup ampuh meskipun sedikit menyiksa. Buktinya bentol-bentol di wajah Enggar sudah hilang. Syukurlah! Semula Kiara juga khawatir dia bakal mendapat omelan tambahan tentang kejadian semalam lagi. pagi ini.
"Ayo. Makan juga. Belajar bangun pagi, mandi pagi, juga sarapan pagi!" titah Pak Johan yang hampir menyelesaikan sarapannya pada Kiara. Kiara meraih piring dan memindahkan sedikit makanan ke dalamnya. Kali ini ia tak ingin membantah, supaya sesi sarapan cepat berakhir. Setelah itu, tak ada lagi pembicaraan antara mereka berempat. Hanya suara piring dan sendok yang mendominasi, sampai suara seseorang berbicara mengalihkan perhatian mereka berempat kembali.
"Assalamu'alaikum. Gimana kabarnya pengantin baru?" Rista datang langsung menghampiri mereka dengan suara khasnya. Sepertinya Rista langsung mampir setelah mengantar anaknya ke sekolahan.
"Walaikumsallam ... kabar baik, Ris!" sahut Enggar sok ramah. Kiara diam saja tak menggubris basa-basinya Rista yang pasti berujung pembullyan terhadap dirinya.
"Gimana Kak Enggar? Malam tadi, aman?" tanya Rista membuat Kiara yang sedang minum langsung terbatuk kecil. Enggar hanya tersenyum menanggapi ucapan adik iparnya.
"Heboh!" sahut Bu Lilis yang sudah selesai sarapan.
"Heboh?" Rista langsung menarik kursi juga. Walaupun jarang sekali ikut makan, Rista memang terbiasa ikut duduk bila di rumah orang tuanya saat mereka sedang makan.
"Iya! Sampe Bapak- Bapak yang ronda turun tangan semua!" sahut Bu Lilis sambil menuang air minum dari teko, membuat wajah Kiara bersemu merah.
"Waaaaw! Kok bisa, Ma? Ceritain dong!" Rista menampakkan jiwa keponya terang-terangan di depan Enggar yang langsung cengengesan. Pak Johan pun mengulum senyum mendengar jawaban istrinya. Hanya Kiara yang menunjukkan ekspresi berbeda dari yang lain. Cemberut dengan wajah berwarna merah seperti udang di masak saos.
"Tahu enggak sih, kalau orang masih ada yang makan itu enggak boleh ngomong?" ujar Kiara sewot.
Kiara mencium aroma tak sedap. Sepertinya dia mau dijadikan bahan ghibah terang-terangan lagi. Sebenarnya Kiara sudah kebal, dighibah terang-terangan oleh ibu dan adiknya apalagi bila membahas masalah menikah dan pekerjaan sebelumnya. Tapi karena saat itu ada Enggar, harus kelihatan berwibawa sedikitlah dia sebagai orang yang lebih tua daripada Rista.
"Cie, yang udah beda status, langsung berubah emosian! ya udah, Ma. Kita ceritanya nanti-nanti aja. Kak, hari ini kita ke rias pengantin ya, sama Kak Enggar juga," Rista mendadak serius
"Ngapain?" tanya Enggar dan Kiara serempak.
"Loh? Kok nanya? Ya buat fitting baju pengantinlah? Masa baju tidur? Kalau yang lain, bisa diurus Kak Farel. Kalau baju, mana bisa?" Rista menatap Enggar dan Kiara bergantian dengan tatapan heran.
"Jadi ini serius mau resepsi?" tanya Enggar tak percaya. Sungguh, ia tak menginginkan itu.
"Loh, iya! Kan undangan sudah dicetak sama Kak Farel. Aku juga udah bayar uang muka MUA-nya loh," sahut Rista membuat Enggar terkejut. Persiapan mereka sebelumnya ternyata sudah sematang ini? Pantas saja akhir-akhir ini, ia sering melihat Farel dan Rista datang dan Bu Jeny pun sering ke rumah Bu Lilis saat mereka ada. Rupanya, ini yang mereka rencanakan.
"Ta-tapi ... uangnya?" Enggar mengeratkan dahi, karena ia merasa kedua orang tuanya tak pernah meminta uang sebelumnya.
"Semua sudah kami atur. Kalian berdua tinggal duduk manis saja nanti di pelaminan," jawab Pak Johan sambil tersenyum dan bangkit meninggalkan mereka. Bu Lilis pun menyusul langkah Pak Johan yang sudah siap meninggalkan rumah.
Mendengar kata pelaminan kontan membuat wajah Kiara berubah muram. Kiara langsung berdiri dan melangkah meninggalkan meja makan. Enggar pun sebenarnya sangat tidak menginginkan hal itu. Membayangkan akan bersanding dengan Kiara dan disaksikan langsung oleh orang sekampung itu cukup mengerikan. Tapi demi menghargai yang mereka lakukan, Enggar tetap berusaha menampakkan wajah biasa saja. Enggar bahkan menjadi orang terakhir yang masih duduk di meja makan, karena Rista pun akhirnya meninggalkan ruangan tersebut untuk menyusul Kiara ke kamarnya.
"Kak Kia! Ayook fitting baju," ajak Rista begitu berhasil mengejar kakaknya.
"Enggak! Kamu aja sendiri," tolak Kiara ketus. Kiara kesal bukan main, karena mereka merencanakan pernikahan tanpa berkompromi lebih dulu dengannya.
"Lah, gimana sih, Kak? Kan yang mau bersanding Kakak!" Rista terus mengekori Kiara yang melangkah dengan kaki di hentak-hentakkan menuju kamarnya.
"Terus?" Kira menatap Rista tajam.
"Yaa ... ya ... kok Kakaknya malah gitu?" tanya Rista bingung.
"Kan yang kepingin aku nikah kalian? Ya sudah, aku terima bersih aja semuanya!" jawab Kiara tak mau tahu.
"Lah, gimana ini?" Rista bergumam pada dirinya sendiri.
Tak lama berselang, Enggar pun muncul. Rista beralih menatap Enggar kemudian melirik Kiara. Lirikan mata Rista menyiratkan kebingungan atas tanggapan Kiara terhadap ajakannya. Enggar yang juga tak tertarik pada ajakan Rista hanya mengendikkan bahu.
"Kamu atur aja, Ris. Badan kalian 'kan, kurang lebih aja. Buatku juga sembaranglah. Aku lagi malas kemana-mana hari ini. Mau tidur, ngantuk banget rasanya tadi malam cuma tidur sebentar." Enggar juga bersikap masa bodoh soal resepsi.
"Nanti kalo punya Kak Enggar enggak muat gimana?" Rista menggaruk-garuk kepalanya yang mendadak pusing menghadapi sepasang pengantin baru tersebut.
"Ya bawa aja Kak Farel! Kan perawakannya sama aja! Kalian yang mau!" sahut Kiara yang sudah berada di kamarnya cepat.
"Weh, yang sudah mulai kompak saling membela suami istri. Iya-iya! Paham aku. Capek banget ya habis bertarung tadi malam? Sabar ya? Bulan madunya nanti aja habis resepsi, dapat uang amplop kubokingkan hotel, biar enggak terganggu!" Rista akhirnya menyerah dan langsung cengengesan usai meledek mereka berdua, kemudian berlari kecil meninggalkan kamar kakaknya.
Rista yang ngeledek, Enggar yang dipelototin oleh Kiara.
"Aku salah apalagi?" tanya Enggar heran.
"Banyak!" sahut Kiara ketus. Enggar mengernyitkan dahi meminta penjelasan.
"Perasaan dari tadi malam, kamu yang banyak nyiksa aku. Harusnya aku yang marah," ujar Enggar sembari mendekat pada Kiara yang duduk dengan wajah cemberut. Enggar mendongakkan wajah Kiara dengan tangannya.
"Hey, Kiakia! Nanti malam, kamu yang tidur di rumah. Berarti nanti malam giliran kamu membayar semua perbuatanmu ke aku tadi malam," ucap Enggar pelan. Kiara menepis tangan Enggar dari dagunya, dan balas menatap suaminya tajam.
"Kamu mau aku tidur di luar juga semalaman? Siapa takut? Akan aku siapkan lotion anti nyamuk sekardus!" sahut Kiara sambil tertawa meremehkan.
Bagi Kiara tidur di luar semalaman bukan hal yang menakutkan. Yang menakutkan bagi Kiara adalah membayangkan tidur seranjang dengan Enggar, dan perlahan Enggar menggeranyangi tubuhnya, lalu memaksanya melayani. Itu lebih menakutkan bagi Kiara.
"Siapa yang nyuruh kamu tidur di luar? Aku ini suami yang baik. Kamu bayarnya dengan sesuatu yang bikin ketagihan loh. Siapkan dirimu, ya!" ucap Enggar sambil menaik-turunkan alis menatap Kiara yang langsung menampilkan ekspresi jijik.
"Siap-siap buat apa?" tanya Kiara sambil melengos, pura-pura polos. Padahal dia sudah tahu arah pembicaraan Enggar.
"Siapkan dirimu-lah buat berkembang biak!" Kekeh Enggar membuat mata Kiara langsung membulat.
"Haaa? Memangnya aku kucing?"
"Bukan kucing, tapi ayam betina!" sahut Enggar sambil menarik selimutnya dan berlari keluar kamar. Kiara cepat-cepat mengunci pintu. Tak berselang lama, pintu kamarnya kembali diketuk. Kiara tak perduli dan tak berniat membuka walaupun posisinya berada di dekat pintu.
"Ngapain balik, Gar? Minta jatah? Jangan mimpi. Malam aja aku enggak sudi ngasih kamu! Apalagi siang. Sudah, sana balik!" usir Kiara dari balik pintu dengan suara pelan, takut didengar orang tuanya.
Tapi pintu kamar masih saja diketuk. Kiara jadi kesal sendiri. Ia meraih sebuah botol semprotan pembasmi nyamuk dan membuka pintu sambil mengeluarkan sebelah tangan yang memegang semprotan. Tanpa pikir panjang, Kiara menyemprot cairan tersebut keluar pintu kamar sebanyak tiga kali semprotan berturut-turut.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
"Mampus. Siapa suruh mengganggu. Hama memang perlu dibasmi!" ucap Kiara puas sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan tubuhnya langsung lemas.
Ternyata yang disemprotnya bukanlah seorang Enggar, melainkan ibu Jeny. Sialnya Kiara menyemprot tepat di wajah ibu mertuanya sendiri.