Dibela Mertua

1212 Words
Posisi Enggar yang bertelungkup memudahkan Kiara untuk melancarkan aksinya. Mula-mula ia membalurkan minyak gosok Gandapura yang tidak semua orang tahan memakainya. Setelah itu ia membalur betis Enggar dengan Hotin Cream. Sengaja Kiara memberi pijatan-pijatan lembut sambil melancarkan aksinya supaya Enggar percaya bahwa ia benar-benar mengobati. "Aku garuk, ya?" tawar Kiara dengan nada lembah lembut sambil terus memberikan pijatan-pijatan ringan di betis Enggar. "Yaaah!" sahut Enggar tanpa menggerakkan sedikit pun anggota tubuhnya yang lain. Ia masih menikmati setiap apa yang dilakukan Kiara terhadapnya. Kiara tersenyum melihat kepasrahan Enggar. Satu ... dua ... ti ... ga! Kiara mulai menggaruk betis Enggar dengan sikat besi. Seolah sedang menyetrika pakaian maju mundur cantik. "A ... aaa ... auuuu! Sakit! Kamu garuk pakai apa, Kia?" Spontan Enggar menekuk kakinya, hingga telapaknya mengenai wajah Kiara. Kiara mendengkus kesal karena hidungnya harus mencium telapak kaki Enggar. Walau kesal namun Kiara cukup puas melihat Enggar kesakitan. "Ini!" sahut Kiara sambil memamerkan sikat besi yang diangkat sejajar wajahnya begitu Enggar sudah duduk. Bola mata Enggar membulat sempurna. Pantas saja sakit sekali. Jangan bilang bulu kakinya ada yang tercabut dan tersangkut di benda itu? "Kamu nyamain kakiku sama panci, Kia?" protes Enggar tak terima. "Memangnya kamu pikir aku mau garuk pake kuku? Enggak sudi!" sahut Kiara cuek sambil meletakkan sikat besi sembarangan, lalu menarik selimut untuk melanjutkan tidur. Biar saja Enggar membereskan sendiri masalahnya setelah itu. Kiara sudah cukup puas melihat suaminya sudah mulai gelisah. Kini saatnya dia melanjutkan tidurnya. "A-duh. Aaaa ... sakit ... sakiiit! Astaga Kia! Kamu taruh apa? Kiaaa!" seru Enggar sambil melompat turun dari ranjang langsung berjongkok mengusap betisnya dengan kain selimut. Beberapa saat kemudian, hilang rasa sakit akibat gosokan panci, tapi rasa panas menjalar. Panasnya dari biasa saja, sampai luar biasa. "Aaa .... duh! Panas ... pedaas! Kiara kamu gosokin apa?" Enggar mengipas betisnya sambil melompat-lompat ringan. "Itu!" Kiara menunjuk pada dua benda yang ia jadikan senjata tadi di lantai dengan gerakan santai. "Ya Allah, Kiaaaa! Aku loh, paling enggak tahan pake ini!" Enggar kesal dan menendang kecil dua benda tersebut dari dekat kakinya. Tiba-tiba wajahnya juga gatal. Enggar lupa tangannya baru saja habis mengusap betis. Tanpa pikir panjang ia langsung menggaruk ke wajah. Tak lama kemudian, intensitas lompatan Enggar semakin cepat . Kiara tak perduli, dan memilih menggantikan Enggar berbaring membelakangi Enggar di balik selimut. "Aduuh! Kia! Panas Kia! Mukaku panas, Kia. Mataku enggak bisa kebuka. Pedas, panas! Kalau sampai aku buta, kucongkel juga biji matamu, Kia!" ucap Enggar meracau tak karuan. . "Hah? Kenapa lari ke mata? Kan yang kukerjain kaki?" Kiara bermonolog dengan dirinya sendiri dari dalam selimut sambil tertegun. Perlahan ia menurunkan selimut dan menampakkan wajahnya kembali, kemudian langsung panik dan turun dari ranjang. Kiara melihat Enggar melompat-lompat dengan mata terpejam, Kiara jadi bingung sendiri. "Aduuh! Kenapa jadi ke mata sih, Gar?" Kiara mondar-mandir ikutan bingung. Tak tahu harus berbuat apa. "Gara-gara kamu! Aku habis pegang kaki, mukaku gatal! Ya kugaruk!" omel Enggar sambil meringis. Ealah ... ini akibat saling benci mungkin ya. Dari kaki naik ke mata. Kan, kalau cinta katanya dari mata turun ke hati. Kebalik! "Kiaaaa! Kamu ngapain? Bantuin!" Enggar sudah tak tahan. Sepertinya Kiara tidak melakukan apa-apa untuk membantu dirinya. Padahal sudah jelas yang terjadi lagi-lagi ulah Kiara. "Bantu ngapain?" Kiara makin bingung sendiri. Mendadak Kiara lupa letak barang-barang yang bisa digunakan untuk membersihkan wajah di kamarnya sendiri. "Ya ngapain, kek. Ambilin apa gitu. Perih nih, heeh!" ucap Enggar setengah mengumpat dengan mata tetap terpejam. 'Air! Iya air, sabun, dan kain basah'. Setelah berpikir cepat, akhirnya Kiara langsung berjalan menuju pintu untuk mengambil barang yang ada dalam pikirannya ke dapur. "Ada apa lagi kalian berdua ribut sekali di dalam? Belum tidur aja lagi rupanya. Sudah mau subuh ini!" Kiara melompat mundur. Jantungnya berdegup tak beraturan. Kedua orang tuanya ternyata berdiri tepat di depan pintu kamarnya entah sejak kapan. "Eng-enggak ada apa-apa, Ma," jawab Kiara berusaha menyembunyikan keadaan suaminya dengan cepat-cepat merapatkan pintu kembali untuk menghalangi Bu Lilis dan Pak Johan masuk. "Enggak apa-apa apanya Kia? Aku gak bisa buka mata gini kamu bilang gak apa-apa!" ujar Enggar sambil meringis begitu mendengar suara kedua mertuanya di luar. "Buu tolong saya kepanasan. Enggak bisa buka mata ini!" Enggar sengaja berbicara agai nyaring, supaya kedua mertuanya masuk. "Panas kenapa sih? Minggir dulu kamu!" Bu Lilis menarik Kiara menjauh dari pintu. Lagi-lagi Kiara merasa ia akan ketiban sial. Bakal kena ceramah lagi akhirnya.Tapi mau gimana? Kali ini memang benar ulahnya. Terpaksa ia memberikan celah kepada Kedua orang tuanya untuk masuk dan melihat apa yang terjadi pada Enggar secara langsung. "Ya ampuuun! Kiaraaa! Masuk!" pekik Bu Lilis dari dalam. Kiara menggigit bibir, sambil berbalik dan kembali masuk kamar. "Kenapa? Kamu apain lagi, suamimu? Kalian dari tadi kenapa kerusuhan?" Pak Johan langsung menatap Kiara dan Enggar bergantian begitu Kiara sudah berdiri sejajar dengan Enggar di dalam kamar. "I-tu Pa! Enggar kepanasan. Ta-di ... kakinya kugosok pakai minyak i-tu!" jawab Kiara tergagap sambil menunjuk ke lantai. "Astagfirullah'aladzim ...." Bu Lilis beristigfar nyaring sambil masuk, lantas meraih tisu basah yang dari tadi sebenarnya ada di meja rias dan menyodorkan ke tangan Kiara. Kiara mengerti maksud ibunya. Seharusnya dari tadi itu yang dia lakukan. Malah bengong sendiri dan berinisiatif yang bukan-bukan. Pak Johan dan Bu Lilis sama-sama memperhatikan cara Kiara memperlakukan suaminya. Tatapan kedua ornag tuanya seperti seorang pengawas, membuat Kiara risih sebenarnya. Perlahan Kiara menggandeng Enggar ke kasur. Lalu ia menyapu wajah Enggar pelan-pelan. Setelah mengusapkan beberapa lembar tissue bawah di bagian wajah suaminya, Kiara beralih ke bagian kaki. Pak Johan geleng-geleng kepala." Kenapa jadi sebanyak itu, Kia? Kamu yang oles? Sampai habis ini punya Papa baru dibeli seminggu yang lalu?" Pak Johan mengangkat botol Hotin Cream yang sudah terasa ringan. Kiara mengangguk ragu-ragu. Enggar tak ingin ikut menimpali. Ia hanya fokus pada wajahnya yang masih panas dan matanya yang sangat perih. Enggar sampai mengeluarkan air mata. "Tahu enggak itu panasnya minta ampun?" sambung Pak Johan bertanya. Kiara menggeleng pelan. "Kan enggak pernah pake, Pa." "Lah, terus itu kenapa gosokan panci di belakang malah ikutan nongkrong di kasur?" Bu Lilis memgernyit sambil mendekat. Ia menjimpit benda sumber keributan tadi dan mendekatkan ke hidung. "Ya Allah, Kiaaaa! Jadi kamu gosok kaki Enggar banyak-banyak, pakai ini juga? Buat apa? Ya Allah Kia! Mama salah ngidam apaya pas hamil kamu? Kok kamu modelnya begini? Jauh sekali sifatnya dari Farel sama Rista!" Bu Lilis geleng-geleng kepala. Tak habis pikir ia dengan ulah anak keduanya itu. "Kipasin itu kaki sama mukanya Enggar sampe dia bisa membuka mata!" titah Pak Johan. "Tapi, kipas anginnya kan, rusak. Pinjam kipas ...." "Enggak ada! Kipas pakai tangan aja," ucap Pak Johan memotong ucapan Kiara. Bu Lilis keluar sebentar, dan tak lama kemudian kembali lagi membawa dua buah kipas tangan. "Nih! Kipasin sampe Enggar tertidur nyenyak. Malam ini kamu benar-benar menyiksa suamimu, Kiara! Dosa kamu Kiara!" omel Bu Lilis sambil menyodorkan Kipas. Kiara menyambutnya dengan lemas. Tangan kanannya mengipas kaki Enggar, dan tangan kirinya mengipas bagian wajah. "Jangan berhenti sebelum Enggar tertidur nyenyaj. Besok, giliranmu yang pindah tidur ke seberang! Ayo, Ma!" Pak Johan mengajak istrinya keluar. "Tapi, Pa!" Kiara ingin protes. "Enggak ada tapi-tapian! Kalau kamu enggak mau, tidur di luar seperti Enggar tadi!" ucapan Pak Johan membuat Kiara tak berkutik, dan Enggar langsung membuka mata. Besok giliran Kiara tidur di kamarnya? Aseeek! Nasib baik lagi-lagi berpihak padanya. Kesempatan besar, untuk membalas perbuatan Kiara malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD