Kesempatan

1177 Words
"Aku bukan maling! Aku Enggar! Enggar!" Enggar berontak saat kedua orang tersebut langsung menyergap dan menggulung selimut di kepala Enggar tanpa mau menggubris ucapannya. "Maling? Pa ... pa ... bangun. Ada maling, kok ribut diluar?" Mendengar suara brisik di samping kamarnya, Bu Lilis kaget dan langsung membangunkan Pak Johan. Pak Johan mengerjap seperti orang bingung sejenak, lalu sontak menegakkan badan, kemudian beringsut turun dari pembaringan dan langsung berlari menuju pintu. "Siapa di situ?" Pak Johan menoleh ke kanan dan ke kiri rumahnya begitu berhasil membuka pintu. Di depan rumah mereka tak ada siapa-siapa. Bu Lilis yang menyusul berdiri takut-takut di belakang Pak Johan. Kedua tangan Bu Lilis mencengkram baju suaminya kuat-kuat. "Ini kepergok mau maling di rumah Bapak, untung pas jadwal kami keliling. Dia lagi nyongkel jendela bapak tadi. Pake ngaku-ngaku sebagai Enggar lagi." Jawaban seseorang sontak membuat Pak Johan menoleh ke samping dan menatap dengan mata menyipit. Dari kegelapan, dua orang bapak-bapak mengapit Enggar. Kepalanya ditutup selimut. Dua bapak lain di belakang menjaga takut ia melarikan diri. "Tapi saya memang Enggar, Pak!" ketus suara dari dalam selimut. Pak Johan mengerutkan kening. Suaranya memang mirip Enggar. Bu Lilis menyikut suaminya tak sabar. Pak Johan mendekat lalu menarik selimut yang menutupi wajah Enggar. "Loh, Enggar beneran?" Pak Johan terperanjat. Enggar mendengkus kesal sambil berusaha melepaskan tangannya. "Loh? Memang Enggar, to?" dua orang yang mengapitnya tadi langsung melepas dan seketika merasa kikuk. Begitu juga dengan dua orang di belakangnya. "Sudah dibilangin, enggak percaya!" gerutu Enggar dengan napas mangap-mangap. "Ngapain kamu malam-malam keluar dan berdiri di dekat jendela?" tanya Bu Lilis penasaran. Belum sempat Enggar menjawab, Kiara muncul dari dalam dan langsung menatap Enggar dengan sorot kebingungan. Sikap sok polos Kiara seketika membuat Enggar ingin sekali mencongkel biji matanya. Bentol-bentol dan gatal di seluruh tubuh sampai dikira maling. Semua gara-gara ulah Kiara. Malam pertama yang buruk untuk Enggar. Jika tahu apa yang ia lakukan tadi akan menyiksa dirinya sendiri dan membuat keributan seperti ini, tentu saja Enggar lebih memilih untuk gelud dengan Kiara sampe pagi di dalam kamarnya. "Sudah ... sudah! sudah! Bapak-bapak kembali ngeronda ke tempat lain saja." Pak Johan berbicara pada petugas ronda setengah mengusir, karena melihat menantunya seperti risih. Bapak-bapak petugas ronda menatap Enggar dengan pandangan heran. Enggar paham, mereka heran. Tapi ia juga tak mau mengakui dia menantu di rumah Pak Johan. Gengsilah! Sama saja dia mengakui Kiara sebagai istrinya. Biar saja mereka berimajinasi sendiri tentang kenapa dia malam-malam berada di situ, asal jangan mereka tahu bahwa dirinya dan Kiara sudah menikah. Enggar belum siap mengumumkan hal itu. "Ooh! I-ya sudah. Kalau gitu kami permisi. Maaf ya Enggar. Maaf ya Pak Johan, kami sudah membuat keributan di rumah Bapak," pamit salah satu dari petugas ronda tadi mewakili temannya. Pak Johan dan Bu Lilis mengangguk serempak. Enggar diam saja. Sepertinya dia masih sangat kesal. "Apa kamu tidur di luar? Sampe mukamu bentol-bentol begitu, Enggar? Ayo cepat masuk!" tanya Bu Lilis khawatir setelah beberapa orang tadi sudah menjauh dari mereka. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pertanyaan Bu Lilis menguntungkan posisi Enggar. Kesempatan membalas Kiara. "Iya. Tadi Kiara ngusir saya. Mau balik ke rumah, pagarnya aja sudah dikunci. Tadi aku ke samping, buat ngetuk je delanya Kiara. Tapi tetap aja enggak dibukain. Ditelpon, ponsel Kia langsung dimatiin juga," sahut Enggar sambil merapikan selimut, melangkah acuh melewati Kiara yang langsung membeliakkan mata. "Ya Allah Kiara!" Mata Pak Johan melotot tajam pada putrinya. Kiara langsung tertunduk menatap kedua jempol kakinya. "Bohong, Pa. Dia memang mau pulang sendiri." Kiara membela diri akhirnya walaupun memang tadi dia mengusir Enggar secara halus. "Lah? Nyatanya dia sendiri di luar, sampe dikira maling?" "Horeee ... dibela." Enggar bersorak dalam hati. Tidak sepenuhnya bohong 'kan? Dia sudah berusaha mencari cara masuk, Kiara saja yang sengaja. Kiara langsung menghentakkan langkah kembali ke kamar. "Kia! Diobatin itu badannya Enggar bentol-bentol semua tuh. Kelakuanmu Kiaraaa!" Bu Lilis geregetan sendiri melihat ulah anaknya. Kiara tak mau menyahut. "Ya udah, kamu kembali tidur, Gar! Kalau Kiara berulah lagi jangan sungkan-sungkan bilang aja sama Bapak," titah Pak Johan sambil mengusap wajah. Kiara masih mendengar ucapan ayahnya. Andai kekesalan itu berbentuk gumpalan. Pasti akan terlihat kekesalannya pada Enggar yang semula sebesar bola kasti, sudah mengembang sebesar bola kaki yang siap tendang. Berbeda dengan yang dirasakan Kiara, keberuntungan sedang berpihak pada Enggar karena mendapat dukungan dari Bapak Mertua. Enggar mengangguk sopan kemudian menyusul Kiara ke kamar. *** Enggar menutup pintu kamar Kiara pelan-pelan. Kiara sudah tenggelam dalam selimut dari ujung rambut ke ujung kaki. Ceile! Marah ceritanya. "Kia! Kamu dengar enggak, tadi disuruh ngobatin aku. Nih, liat kaki sama mukaku bentol-bentol semua!" suara Enggar sok tegas. Kiara masih diam saja. Berubah bagai mayat hidup, tak bergerak tapi masih bernapas. Sumpah! Enggar baru tahu kalau perempuan jadi-jadian macam Kiara kalau marah berubah jadi pendiam. Enggar merasa seperti dapat mainan baru. Kebetulan sekali dia orang yang suka usil. "Kiaraaa! Aku tahu kamu belum tidur. Tadi kamu dengar sendiri kan? Disuruh ngobatin aku, loh!" Enggar menjawil tangan Kiara yang masih tak bergerak sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Kiara. "Kiaa. Tadi kamu juga dengar kan? Aku dapat dukungan loh, dari Bapak," bisik Enggar lagi. Berhasil. Kiara menurunkan selimut dan langsung duduk bersila. Kedua bibirnya meruncing, matanya langsung menyoroti wajah Enggar dengan tajam. Benci sekali dia. Sekali berkedip, kelopak matanya lama baru membuka. Itupun sambil melengoskan wajah ke samping. "Mau apa-sih?" akhirnya Kiara bersuara juga walaupun ketus. "Gatal," sahut Enggar sambil menumpu sebelah kakinya di tepi ranjang. "Gatal ya digaruk!" "Garukkan!" Enggar ngelunjak, menyodorkan betisnya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Kiara menetralkan perasaannya sebentar. Ia melirik kaki Enggar. Lumayan banyak bentol memang. Tapi kesal karena merasa Enggar sejak tadi memojokkan dirinya, gatalnya Enggar tidak lantas membuatnya iba. "Oooh, kamu mau minta garukkan?" tanya Kiara sambil memindai wajah Enggar yang lumayan banyak juga bintik-bintik merah bekas keganasan nyamuk. "Iya, kan kamu yang bikin aku begini! Enggak mau bukain pintu!" "Lah, kan belum waktunya. Bukankah tadi kita janjian jam 4 kan? Sebelum azan subuh?" Kiara tak mau disalahkan. "Iya! Tapi aku ketahuan mama. Terus diusir. Cepat, garuk! Kalau enggak kamu bakal kena lagi nanti," ancam Enggar. "Hohoho! Ngancam. Iya ... iya! Sebentar ya. Kamu baring dulu aja. Tengkurap! Tunggu ya. Aku pipis sebentar, sekalian minum" ujar Kiara langsung menarik Enggar ke kasur. Enggar menurut saja, membaringkan tubuhnya sesuai dengan posisi yang diperintahkan Kiara tadi. Kiara bergegas ke dapur. Membuka kulkas dan minum. Dia tidak berbohong, memang benar-benar haus. Setelah itu Kiara bukan menuju kamar kecil, melainkan menuju tempat pencucian piring. Sambil tersenyum ia meraih sikat kawat yang biasa digunakan untuk menggosok noda membandel pada bagian luar panci atau wajan. "Kamu pikir aku takut sama ancamanmu, Enggar Pramudya," gumam Kiara sambil menimang sikat kawat tersebut seperti menimang sebuah permata. "Satu lagi!" ucapnya pelan sambil melangkah menuju lemari yang menyimpan obat-obatan. Ia meraih sesuatu. HOTIN CREAM level hot, dikolaborasikan dengan minyak urut cap Gandapura sepertinya ampuh untuk menyembuhkan gatal. Dengan langkah ringan ia memasuki kamar. Enggar masih seperti posisi semula. Pasrah macam ayam potong yang menunggu untuk dieksekusi. "Aku akan membuatmu makin tersiksa, Enggar Pramudya!" gumam Kiara dalam hati sambil mendekat membawa senjata dadakannya sebagai alat yang akan dia gunakan untuk memberikan pelajaran pada Enggar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD