3. Gara-Gara Kiara

1077 Words
"Kamu kenapa jadi kayak cacing kepanasan sih, Kia?" ucap Enggar sambil berusaha turun dari tempat tidur dengan susah payah untuk menjauhkan diri. "Aku memang biasa gitu, lambat tadi lepas celana jadi gatalnya lama," sahut Kiara bersikap bodo amat. Kiara meraih guling kemudian berbalik membelakangi Enggar. Sengaja menonjolkan bagian belakang tubuhnya sambil memainkan ponsel. Ck! Enggar berdecak sebal. Ingin kembali merebahkan diri, takut tak bisa mengontrol naluri kelaki-lakiannya melihat kelakuan Kiara yang ngasal. Mau beraksi tapi gengsi sudah terlanjur jual mahal tadi. Akhirnya Enggar mondar-mandir kesal sendiri. Mengintip ke luar kamar, Pak Johan dan Bu Ningsih sepertinya belum tidur. Enggar jadi makin gelisah. Hampir setengah jam Enggar gelisah sendiri, Akhirnya ia mengendap-endap keluar untuk memastikan kedua mertuanya sudah tidur. Aman terkendali. Enggar kembali ke kamar. Posisi Kiara masih seperti tadi, membuat isi otak Enggar makin tercemar. Sebelum pencemarannya berakibat fatal, lebih baik pulang. Lekas ia memasang baju kembali. "Kia!" panggil Enggar sambil membelakangi. Kiara menoleh, dan menutup mulut melihat Enggar yang enggan menatapnya. Kiara kembali ke posisi semula, sambil memejamkan mata pura-pura terlelap. "Kiara!" Enggar tak tahan lagi, menarik kaki Kiara turun. "Aku mau ...." "Aku enggak mau! Aku belum siap! Jangan paksa aku!" Kiara menendang-nendang tangan Enggar kemudian turun untuk meraih selimut dan celana yang tergeletak di lantai. Lekas ia masuk dalam selimut dan memasang celana panjangnya kembali. Kiara mengumpat kebodohannya sendiri yang tak berpikir panjang. Niat hati ingin membuat Enggar panik, nyatanya dia lebih panik. Kiara lupa kalau suaminya seorang Duda bukan perjaka yang belum ternoda. "Aku lagi datang bulan, tolong jangan paksa aku. Tadi, aku cuma bercanda," Kiara panik sendiri. "Mau kamu datang bulan kek, datang bintang kek, aku enggak peduli. Emang kamu pikir aku nafsu?" tanya Enggar mendekat sambil menatap Kiara tajam. Kiara mengatur napas sebentar. "Terus?" tanya Kiara menunduk pura-pura menggaruk kaki, padahal melirik ke arah Enggar. "Masih tidur," gumamnya tanpa sadar. namun Enggar masih dengar. "Apanya?" "Eh, itunya. Eh, tadi baru tertidur tahu! Kamu kenapa sih? Main tarik aja," ujar Kiara sok ketus menutupi kegugupannya. "Jangan tidur dulu!" "Kenapa?" "Aku mau pulang!" "Ya bagus! Pulang aja sana! Masa minta diantar? Gitu aja ngeribetin aku!" sambar Kiara bersemangat. Nampaknya strateginya mengusir Enggar secara halus berhasil. "Hiyyuuuh! Otakmu memang jomplang sedikit, ya? Aku keluar kamu kunci dong rumah. Biar enggak ketahuan, nanti sebelum azan jam empat subuh, kamu keluar bukain lagi pintu. Kita gitu aja terus tiap malam," usul Enggar. "Sampe kapan?" tanya Kiara polos. Enggar mengernyit heran. "Sampe aku bisa punya uang buat bayar kamu tiga kali sekaligus! Aku enggak suka kreditan!" Mampus! Kiara menelan ludah. Gimana kalo dia beneran nagih nantinya? "Penawaranku terbatas waktu," jawab Kiara ketar-ketir. Enggar tertawa kecil. "Takut ternyata. Tenang aja Kia, aku penggemar daun muda. Kita kaya gini sampai kepergok, terus mereka sadar, kalau kita enggak satu selera. Gimana?" Walau sempat keki mendengar jawaban Enggar, namun Kiara lega. Lantas kepalanya pun mengangguk pertanda sepakat. "Ayok, entar Nirma keburu tidur!" "Emang kamu bawa kunci rumah?" "Enggak sih. Aku telpon Nirma nanti. Besok baru aku bawa kunci serap," sahut Enggar. Senyum Kiara merekah. "Baiklah! Dengan senang hati." Mereka berdua melangkah pelan-pelan, takut ketahuan. Setelah Enggar berada di luar, Kiara menutup pintu dan berjingkrak-jingkrak kesenangan selamat dari Enggar di malam pertama. Kiara kembali ke kamar dan langsung meraih ponsel. Mengirim pesan pada sahabat yang sejak tadi menjadi teman chatnya. [Aku selamat, May! Dia sudah pulang kandang!] Send. Demi ketenangan tidur, Kiara menonaktifkan ponsel dan mengaktifkan jam weker dengan volume kecil di dekat kepalanya. Pukul 04.00 dia harus sudah bangun. *** Enggar masuk kamarnya buru-buru. "Loh, kok balik, Gar? Siapa yang bukain kamu pintu?" Enggar mundur tiga langkah. Kaget setengah mati karena ternyata Bu Jeny berbaring di ranjangnya. "A-anu, Ma! Itu ... aku ... emm ... mau ambil selimut. Selimut di sana terlalu tebal," sahut Enggar gugup. "Siapa yang bukain kamu pintu? "Euuum, Nir-ma Ma!" jawabnya ragu-ragu. Bu Jeny bangkit dan menuju saklar. Kamar yang tadi gelap gulita, jadi terang benderang. Bu Jeny menatap Enggar dengan raut curiga. "Sudah kuduga!" "Cuma mau ambil selimut, Ma!" jawab Enggar setelah terdiam sesaat. Enggar tak menduga sikap ibunya bisa berubah protektif menyaingi Security komplek, hanya demi seorang Kiara yang hampir meraih nilai sempurna untuk angka minus sebagai seorang perempuan di matanya. "Ya sudah, kalau gitu balik sana ke tempat istrimu! Nanti setelah resepsi, giliran dia yang tidur di sini! Mama tunggu di depan kamar Nirma!" titah Bu Jeny. "I-ya ... Ma!" Terpaksa Enggar bergegas mengambil selimut. Sepertinya tak ada harapan. Nirma pasti sudah dimarahi habis-habisan oleh ibunya. "Sudah? Enggak ada yang ketinggalan lagi?" Enggar menggeleng lesu. "Yakin? Habis ini enggak ada lagi yang bisa bukain kamu pintu. Ponsel sama kunci kamar Nirma Mama yang pegang sampai nanti subuh! Enggak ada alasan kamu kembali lagi!" Bu Jeny memperlihatkan dua benda yang disebutnya. Enggar menarik napas dalam sambil mengayun langkah menuju pintu dengan perasaan berat. "Yakin enggak ada yang ketinggalan, kan?" tegas Bu Jeny. "Iyaaah!" sahut Enggar malas sambil menyeberang jalan. Sampai di depan rumah mertuanya, Enggar menoleh sekali lagi ke seberang. Pagar rumahnya sudah terkunci. Hanya lampu luar yang menyala. Lampu dalam juga sudah dimatikan. Enggar meraih ponsel dan menghubungi Kiara. Tubuhnya mendadak kaku, Kiara tak bisa dihubungi. Enggar kesal pada dirinya sendiri. Kenapa tadi dia tak terpikir meminta kunci rumah Kiara saja? "Siapa ini yang dihubungi selanjutnya? Mertua belum nyimpan nomor karena selama ini sudah bertetangga, jadi menyepelekan. Nirma sudah tak mungkin." Akhirnya Enggar memutuskan menelpon orang tuanya lebih dahulu. Tapi nomor kedua orang tuanya pun tak ada yang bisa dihubungi. Harapan terakhir. Mengetuk jendela kamar. Enggar berjalan ke samping menuju kamar Kiara. Berkali-kali ia mengetuk jendela Kiara tapi tak bangun-bangun. Apa Kiara benar-benar tidur mati, atau takut, atau sengaja mengerjainya? Enggar putus asa dan kembali ke teras rumahnya. Ia tak ingin mengetuk jendela mertuanya karena sudah terlalu malam. Akhirnya Enggar meringkuk di kursi tempat bersantai di teras rumah Kiara saja. Dingin mulai menusuk tulang. Enggar tak bisa tertidur lelap. Hanya tidur-tidur ayam saja meskipun dirinya benar-benar kantuk. Lepas pertengahan malam, Enggar sudah tak tahan. Nyamuk mulai menyerang. Ia kembali mencoba menghubungi Kiara. Lalu kembali mengetuk jendela kamar. Nihil lagi. Akhirnya dengan terpaksa Enggar menuju jendela kamar mertua. Lama ia berdiri menatap jendela, memegang tepinya sambil berpikir dalam remang malam. "Hey! Ngapain di situ malam-malam? Mau maling ya? Maling!! Maling!! Jangan lari! Maling di rumah Pak Johan ...." suara seseorang berteriak diikuti derap langkah beberapa orang berlari mendekat. Disangka maling oleh Pasukan Ronda. Oh tidaaaak! Nahas sekali nasibmu Enggar! Sial bertubi-tubi di malam pertamanya melepas status duda. "Ini semua gara-gara Kiara! Tunggu saja pembalasanku Kia!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD