Enggar langsung meninggalkan meja makan. Begitu juga dengan Kiara. Keduanya berlalu tanpa mau mendengar seruan dari kedua belah pihak yang meminta mereka untuk makan bersama lalu membahas lebih lanjut soal rencana perjodohan mereka.
"Eh, Enggar! Tunggu!" Kiara mengejar Enggar dari belakang, dan menyeretnya menjauh dari pintu rumah.
"Enggak usah pegang-pegang!" Enggar menepis tangan Kiara.
"Heh! Kamu sengaja ya, minta orang tuamu ngelamar? Asal kamu tahu ya! Aku gak ada minat secuil pun, buat menikah dengan kamu! Kalau kamu, kurasa pasti sudah lama naksir aku!" Kiara menjentik ujung jari telunjuknya di depan wajah Enggar.
"Ya ampun, kalau aku naksir sama kamu, dari dulu kali. Ngapain juga aku cuma nonton kamu sampai jadi perawan tua begini baru dilamar, " sahut Enggar tak mau kalah dalam hal menyombongkan diri.
"Barang berkualitas, biar second masih jos, loh!"
"Aku suka barang buka bungkus. Bukan barang bekas!" tegas Kiara mulai jengkel.
"Jangan marah. Aku juga doyannya daun muda, bukan perawan tua kaya kamu! Kalau aku mau sama kamu, udah dari dulu," jawab Enggar terkekeh lagi, membuat Kiara jadi gedek. Enggar langsung meninggalkan Kiara kembali ke rumahnya. Kiara sendiri memilih kembali ke kamar sampai orang tua mereka selesai makan.
Setelah kedua orang tua Enggar pulang, Kiara kembali ke ruang tamu menemui seluruh anggota keluarganya.
"Pokoknya aku enggak mau! Kan lucu, mama suruh aku cari jodoh kesana-kemari ujung-ujungnya suruh kawin sama orang depan rumah!" Kiara mulai menyampaikan penolakannya.
"Iya, soalnya enggak dapat-dapat. Ini mumpung ada yang mau. Dimana lagi kamu nyari orang yang mau ngambil kamu jadi menantu sedangkan dia sudah tahu kamu itu enggak bisa apa-apa sebagai perempuan!" tukas Bu Lilis.
"Ho-oh, Kia. Langka orang seperti calon mertuamu itu. Udah kelihatan baiknya! Tuh, itu-tuh, semua dari calon mertuamu, aku yang disuruh siapin," timpal Farel menunjuk beberapa kotak yang dipikir Kiara kado tadi sambil bersiap-siap pulang. Kiara masih mondar-mandir di ruang tamu sambil menggigit ujung jari telunjuknya.
"Iya Kak. Kalo aku aja enggak mau punya menantu kaya kak Kia. Bu Jeny sama Pak Marsudi aja tuh yang mau. Sudahlah, nerima aja. Daripada kamu minta duit, minta duit melulu sama Papa sama Mama. Gak kasian apa sama orang tua?" tambah Rista yang sudah bersiap-siap pulang menenteng sebuah rantang berisi makanan untuk anaknya yang tak turut karena hari sekolah.
"Bedeh! Bilang aja kamu ngiri. Siapa suruh dulu buru-buru kawin," Kiara sewot. Selisih umurnya dengan Rista memang hanya 1,5 tahun karena konon Rista dulu anak yang ngeyel hadir ke dunia padahal Bu Lilis sudah ber-KB.
"Dahlah. Gak usah ngajak debat. Siapin diri aja buat melepas status perawan tua besok. Mama ... Papa aku pulang!" pamit Rista nyaring sambil tertawa pada kedua orang tuanya yang sudah meninggalkan ruang tamu sejak tadi.
"Aku juga pulang, Pa ... Ma, besok aku datang lagi, takut Kiara berontak pas akad." Farel menyusul Rista pamit sambil tertawa lebar juga. Keduanya lalu meninggalkan Kiara berbarengan.
Tak puas mondar-mandir di ruang tamu, Kiara pindah mondar-mandir di luar rumah. Berkali-kali ia menatap ke rumah Enggar di seberang jalan dengan gigi gemeretak, lalu meraih ponsel dan menelpon Mayang kembali.
"Gawat May, gawat! Ternyata yang lamar aku itu Duda Pecicilan depan rumah May, ya ampun."
"Lah, kok bisa kamu enggak tahu? Aneh!"
"Huh! Panjang ceritanya, yang jelas, aku enggak minat, enggak mau, dan enggak segalanya deh kalau sama Duda itu. Kalo yang lain lamar siapa aja kuterima dah, yang penting bukan itu. Kamu bantu aku ...."
Ucapan Kiara terputus, saat seseorang merampas ponselnya dari belakang.
Rupanya melihat Kiara mondar-mandir sambil menelpon, Enggar langsung menyeberangi jalan dan menghampirinya.
"Ngapain kesini?" sambut Kiara judes.
"Heh! Kamu jangan ngada-ngada. Yang lamar kamu itu orang tuaku, ya?" kecam Enggar tak terima sambil menyimpan ponsel Kiara di belakang tubuhnya.
"Paling kamu juga sudah tahu. Sok kaget aja," tuduh Kiara.
"Ya ampun. Sudah kubilang, kalau aku mau sama kamu, dari dulu. Ngapain juga nunggu kamu jadi perawan tua gini?" Enggar mencemooh.
"Ya sudah! Kalau kamu memang bukan kamu yang mau, ditentang kek, kamu minggat kek, bunuh diri kek," usul Kiara jengkel.
"Lo-lo-loh? Kenapa enggak kamu aja? Jangan-jangan kamu memang ngarep ya?" Enggar usul balik sekaligus menuduh.
Kiara menatap Enggar tajam. "Asal kamu tahu ya, aku sudah punya calon. Masih bujang pastinya. Sini hapeku!"
Enggar menyerahkan ponsel Kiara sambil terbahak meremehkan. "Ya sudah! Kalau kamu memang punya pacar, suruh pacarmu jemput terus kawin lari sana! Kalo gak ada ongkos, nanti kukasih deh!"
"Enggar! Kiara! Jangan mikir macam-macam kalian? Mau liat orang tua jantungan? Undangan buat resepsinya sudah disiapkan Farel loh!" ucap Bu Lilis yang tahu-tahu sudah berada di pintu menyimak perdebatan mereka.
"Resepsi?" Mata Kiara membulat.
"Iya, resepsi? Besok kalian nikah dulu aja. Resepsinya belakangan. Sederhana gak apa-apa asal orang tahu kalian sudah resmi suami-istri."
Kiara memencet hidung mendengar ucapan ibunya. Sementara Enggar mengusap wajah langsung kembali ke seberang. Kedua orang tuanya juga sudah menunggu di pintu rumah mereka.
"Jangan macam-macam Gar, kalau masih mau dianggap anak!" Bu Jeny juga mengancam. Rupanya ia menyimak ucapan Bu Lilis tadi.
Enggar masuk dengan tanda tanya besar di kepala. Demi apa ibunya begitu ngotot menjodohkan dirinya dengan Kiara? Perempuan jadi-jadian yang jelas tak tahu apa-apa soal urusan sumur dan dapur itu. Entah dengan urusan kasur.
Kiara pun akhirnya masuk dan pasrah menunggu hari esok, hari yang sangat tidak dinantikan olehnya.
***
Benar-benar akad kilat. Semua terjadi begitu cepat. Rupanya orang tua mereka sudah merencanakan dengan matang secara diam-diam. Sah kemudian resepsi dulu, baru mendaftar secara resmi pernikahan mereka ke KUA, supaya lebih mudah mengurus persyaratan yang memerlukan tandatangan dan foto mereka berdua.
Begitu Pak Penghulu sudah pulang, Kiara dan Enggar sama-sama berdiri, lantas putar haluan bersama. Enggar haluan kanan menuju pintu keluar, Kiara haluan kiri kembali ke kamar nampaknya.
Kedua orang tua mereka saling pandang dan geleng-geleng kepala. Farel dan Rista hanya senyum-senyum. Sementara Nirma-adiknya Enggar yang sejak tadi hanya diam menyaksikan, memilih ikut pulang setelah Enggar keluar.
"Kita bujuk Enggar dulu," ucap Bu Jeny seraya berdiri diikuti suaminya. Bu Lilis dan Pak Johan pun mengerti mereka harus berbicara dengan Kiara. Farel dan Rista ikut menyusul orang tua mereka sambil terkikik-kikik dibelakang menertawakan Kiara.
"Farel, Rista!" tegur Pak Johan membuat mereka berdua langsung menghentikan langkah dan berbalik sambil menutup mulut.
"Kia!" Pak Johan mengetuk pintu kamar Kiara yang terkunci.
"Kia! Buka pintunya! Kamu sudah resmi jadi istri Enggar. Kamu harus pindah tidur ke kamar suamimu nanti, Nak!" bujuk Bu Lilis
"Enggak Pa, Ma! Aku akan enggak mau pindah kesana!"
"Dosa loh Kia!"
Kiara diam saja.
"Ya udah, Pa. Aku kasih tahu ke besan seberang. Biar Enggar yang sementara pindah ke sini, nanti lama-lama juga dia luluh ngikut ke seberang," bisik Bu Lilis dan langsung mendapat acungan dua jempol dari suaminya.
***
Malam pun mulai menyapa. Walau terpaksa, namun Kiara tetap membuka pintu saat Pak Johan dan Bu Lilis mengantar Enggar ke kamarnya. Kiara membuang wajah saat melihat Enggar masuk hanya memakai baju singlet dan celana Levis tanggung.
"Ehm. Jangan ngiler ya!" ucap Enggar membuat Kiara langsung berpaling menatapnya kemudian melengos kesal lagi, karena Enggar melepas baju dan celana levisnya lalu menukar dengan kolor tanpa tahu malu di depan Kiara. Reaksi Kia? Dia Lebih memilih menonton prank pocong di channel youtube daripada menatap kegiatan Enggar.
"Minggir!"
Enggar langsung menyingkirkan guling pembatas antara mereka berdua.
"Ma-u a-pa?"
"Mau tidur! Kamu pikir?" sinis suara Enggar menjawab sekaligus bertanya balik.
"Cuma mau tidur, kenapa bajunya dibuka?"
"Namanya panas? Masa iya yang kubuka celana?"
Glek!
Kiara menelan ludah membayangkan Enggar tidur memakai baju tanpa celana.
"Emang kamu pikir aku mau ajak kamu kikuk-kikuk gitu? Halu! Uangku belum cukup buat bayar. Soalnya aku kalau sekali nge-gym langsung minta tiga kali."
"What? Bayar? Kamu nyamain aku sama PSK?
"Kesimpulanku dengar kamu nelpon temanmu kemaren. Jadi sabar ya. Kalau boleh tau berapa tarifnya satu kali? Tiga kali aku dikasih diskon gak?" ledek Enggar membuat telinga Kiara seketika ingin mengeluarkan asap hitam tebal. Ia menahan napas sebentar untuk menghalau emosi.
"Ini harganya mahal karena masih segel. Masih ting-ting. Tahu sendiri kan, di luar sana banyak yang prek-prek. Berani berapa kira-kira?" sahut Kiara menahan jengkel sambil berdiri, kemudian menurunkan celana panjangnya dan meninggalkan begitu saja di lantai, Kiara naik ke tempat tidur.
"Eeh! Ka-mu mau apa?" tampang Enggar langsung blo'on.
"Gatal! Aku biasa gak pake celana panjang emang kalau tidur!" sahut Kiara sambil merebahkan tubuh, kemudian berleha-leha dengan kedua tangan menggaruk-garuk paha di depan Enggar yang langsung menghindar dan memalingkan wajah ke arah lain.
Kiara langsung menarik Enggar yang nampak salah tingkah dan memaksa ikut berbaring di sampingnya.
"Punya berapa sih di dompet? Kalau kurang DP dulu aja. Sisanya boleh dicicil kok," ucap Kiara sambil ndusel-ndusel ke badan Enggar seperti seekor kucing yang menempel di kaki empunya.
"Biar mampus! Nantang sih! Siapa suruh jadi cowok sok jual mahal," Kiara berbicara dalam hati.
Target Kiara hanya satu. Ingin melihat apa yang akan dilakukan Enggar bila jarum kompasnya sudah berputar arah? Kalo mutarnya ke atas, bakal panik enggak tuh?