Kiara mengejar kedua mertuanya yang berjalan tergesa-gesa ke kamar Nirma.
"Nir! Eh! Nirma!" Bu Jeny mengguncang lengan Nirma yang masih menggigau, menyebut nama Enggar. Pak Marsudi kembali keluar kamar. Nirma membuka matanya perlahan. Bu Jeny menempelkan punggung tangan ke dahi putrinya, lalu menghela napas sebentar.
"Kamu mimpi buruk Nir? Sampai demam mendadak," ujar Bu Jeny sambil merapikan selimut Nirma yang berantakan. Bu Jeny melirik ke selimut Kiara di sebelah Nirma.
Pak Marsudi datang kembali membawa sebotol air mineral dan obat, lalu menyerahkannya pada Bu Jeny.
"Minum obat penurun panas ini saja dulu. Besok pagi, kalau tidak ada perubahan barulah ke Dokter," ucap Bu Jeny sambil membuka tutup botol. Kiara mendekat dan membantu Nirma duduk. Bu Jeny mengeluarkan obat penurun panas dari bungkusnya, lalu meletakkan ke tangan kanan Nirma. Setelah itu Bu Jeny menyodorkan air mineralnya. Setelah meminum obat, Nirma kembali berbaring.
"Tutup pakai selimut seluruh tubuhnya Kia. Biar dia keringatan. Biasa habis minum obat terus keluar keringat, bisa enakan badan," titah Bu Jeny. Kiara langsung melaksanakan perintah mertuamya dengan patuh.
Dari tadi Kiara tak berbicara sepatah kata pun karena kikuk. Bu Jeny dan Pak Marsudi pasti sudah paham, kalau dia tidur di kamar Nirma. Memang, sebuah kebohongan pasti akan berakhir sia-sia. Kiara merasa usaha dan perjanjiannya dengan Nirma sebelumnya pun tak akan berguna lagi setelah ini.
Tapi tak apalah. Bukankah Bu Jeny dan Pak Marsudi akan meninggalkan mereka kembali setelah resepsi nanti? Kiara mulai bersemangat lagi mengingat hal itu.
"Tidur aja dulu. Nanti Mama yang akan menemanimu di sini sampai besok pagi. Mudah-mudahan besok sudah sembuh jadi kita tidak perlu ke Dokter. Kiara, mulai sekarang kamu bisa tidur sama Enggar. Enggak usah bolak-balik kesini lagi, ya?" Bu Jeny menatap wajah Kiara yang langsung tertunduk malu. Tatapan Bu Jeny seolah menghakimi dirinya. Kiara merasa seperti maling yang sedang tertangkap basah. Pak Marsudi memilih kembali ke kamar mereka lebih dulu.
"Maaf, Bu," lirih Kiara setelah Pak Marsudi keluar.
Bu Jeny menghela napas, sambil meraih selimut Kiara dan menyerahkan padanya. "Ini! Bawa ini keluar dan kembali ke kamar Enggar!"
Nirma meraih selimut tersebut masih dengan kepala menunduk, sambil pamit meninggalkan mereka. Dengan langkah berat, Kiara meninggalkan kamar Nirma.
"Kia!"
Kiara menghentikan langkah mendengar suara Bu Jeny memanggil dari belakang saat ia sudah berada di depan pintu kamar Enggar. Rupanya Bu Jeny menyusulnya. Kiara menoleh, menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Ibu Mertuanya. Tapi Bu Jeny mendekat tanpa bicara apa-apa. Ia malah menarik tangan Kiara menjauh dari pintu kamar dan membawanya ke ruang makan.
"Duduk dulu. Ada yang mau ibu bicarakan!" titah Bu Jeny sambil menarik kursi untuk Kiara. Kiara mengangguk patuh, dan langsung menjatuhkan bobot di kursi dengan perasaan tak menentu. Apa Bu Jeny ingin menceramahinya? Jika ia Kiara tak akan membantah. Toh memang dia salah membuat ibu mertuanya kecewa malam ini.
"Kiara, liat ibu. ibu mau kamu jawab jujur pertanyaan ibu. Apa selama pindah ke sini kamu tiap malam tidur di kamar Nirma?"
Kiara mendongakkan wajah. Memberanikan diri menatap sepasang mata teduh ibu mertuanya yang tak pernah bertutur kasar sekalipun Kiara berulang kali berbuat salah. Kiara mengangguk pasrah, lalu kembali menunduk.
"Ide siapa?"
Kali ini Kiara bungkam. Mustahil rasanya dia mengatakan semuanya ide Nirma. Kiara tidak ingin Bu Jeny marah pada Nirma yang sedang sakit.
"Kia ... ide siapa Nak?" tanya Bu Jeny lagi sambil menepuk pundak Kiara.
"Kiara yang minta, Bu," bohong Kiara.
Bu Jeny menarik napas dalam-dalam lalu menghembus perlahan. Seperti sedang melepas suatu beban yang berat, ia mulai berbicara dengan mimik serius.
"Sebelumnya pembicaraan kita terputus karena kedatangan Nirma. Malam ini akan ibu lanjutkan kembali. Tapi, sebelum ibu menceritakan suatu hal, ibu ingin kamu berjanji. Kamu tidak akan menjauhi Enggar dengan cara konyol lagi, berjanjilah pada ibu, kamu akan membersamai Enggar selamanya Kiara," pinta Bu Jeny serius.
Kiara berpikir keras. Kenapa Bu Jeny begitu ingin Enggar bersama dirinya yang tidak becus melakukan apa-apa ini? Rasanya berat sekali untuk berjanji. Tapi untuk menolak pun Kiara tidak memiliki alasan. Apalagi dia baru saja melakukan kesalahan dan ketahuan.
"Iya Bu. Inshaa Allah," sahut Kiara akhirnya karena tidak ada lagi pilihan lain.
"Jangan bilang Inshaa Allah, ibu ingin kamu berjanji Kiara!" tegas Bu Jeny membuat Kiara jadi serba salah.
"I-iya Bu. Saya janji!" ucap Kiara akhirnya.
Bu Jeny mengusap bahu Kiara sambil tersenyum. "Terima kasih."
"Kiara. Ibu ingin kamu tahu satu hal yang tak seorang pun pernah tahu di lingkungan ini. Ibumu sendiri pun tidak tahu, karena memang ibu tidak pernah menceritakan pada siapa-siapa soal ini." Bu Jeny menjeda ucapannya sejenak, membuat Kiara merasa tegang.
"Sebenarnya ... Nirma dan Enggar itu hanya saudara tiri!" lanjut Bu Jeny dengan suara pelan.
Kiara spontan menoleh sambil memicingkan mata. Jika bukan Bu Jeny yang berbicara, tentu Kiara tidak akan percaya bahwa mereka berdua saudara tiri. Selama ini baik Bu Jeny maupun Pak Marsudi tidak pernah terlihat berbeda memperlakukan Nirma dan Enggar selama mereka bertetangga. Memang Bu Jeny dan Pak Marsudi merupakan pendatang di daerah mereka 10 tahun yang lalu. Sekarang yang menjadi pertanyaan di kepala Kiara siapa orang tua kandung dari Nirma dan siapa orang tua kandung dari suaminya?
"15 tahun yang lalu, Ibu dan Bapak menikah. Masing-masing membawa anak. Saat itu Nirma ditinggal ibunya saat dia baru saja menginjak usia 7 tahun. Dan aku sendiri membawa Enggar yang masih berusia 17 tahun. Ibu kandung Nirma pergi karena kanker yang bersarang di tubuhnya. Sedangkan ayah kandung Enggar pergi karena terserang penyakit paru-paru," terang Bu Jeny seolah mengerti isi kepala Kiara.
Akhirnya Kiara mengangguk paham. Berarti Enggar anak kandung Bu Jeny, dan Nirma anak tirinya. Kiara makin kagum pada ibu mertuanya karena sebelum dia menikah, tak pernah sekalipun Bu Jeny membedakan kasih sayangnya untuk Enggar dan Nirma. Hanya saja, beberapa hari terakhir, Bu Jeny seperti membatasi interaksi antara Nirma dan Enggar. Apa sebabnya? Tapi untuk bertanya, Kiara merasa terlalu lancang sebagai menantu. Semoga saja Bu Jeny mau melanjutkan penjelasannya.
"Tapi Bu ... kenapa ibu tidak pernah cerita sebelumnya, jika Mas Enggar dan Nirma saudara tiri?" Kiara bertanya pelan. Bu Jeny menggeleng sambil tersenyum.
" Kamu tahu sendiri 'kan, kalau Nirma dan Enggar sangat dekat. Ibu tidak ingin orang-orang salah mengartikan kedekatan mereka dan menjadi cemoohan. Enggar dari dulu memang sangat menyayangi Nirma, seperti adik kandungnya sendiri. Tak ada satu pun yang boleh menyakiti adiknya saat itu. Pernah suatu saat, Nirma berkelahi dengan adik temannya Enggar. Saat itu usia Nirma 12 tahun. Kamu tahu? Enggar bahkan ikut memarahi temannya karena hal itu, hingga mereka pun ikut bertengkar. Dulunya Enggar memang pernah memiliki adik perempuan, tapi lebih dulu dipanggil. Bahkan sebelum ayah kandungnya dipanggil. Jika masih ada, mungkin usianya sekarang sama dengan usia Nirma, " tutur Bu Jeny panjang lebar dengan mata menerawang, mengingat masa yang telah lalu.
Kiara ikut tersenyum, membayangkan manisnya saat bertengkar di masa kecil dan kakak datang sebagai pahlawan untuknya. Farel pun dulu kerap melakukan itu, padahal Kiara mengakui bahwa memang dirinya sendiri yang sering membuat ulah saat itu.
"Tapi ...." Bu Jeny melanjutkan ucapannya dengan suara lirih dan raut wajah muram. Kiara menatap wajah ibu mertuanya penuh rasa penasaran. "Tapi kenapa, Bu?"
"Tapi makin lama Nirma makin tergantung pada Enggar. Ibu hanya takut, jika Nirma memiliki rasa sayang yang berlebihan terhadap Enggar, dan sebaliknya. Karena ibu sering melihat, Nirma sering menatap Enggar diam-diam. Nirma pun selalu ingin menyiapkan segala keperluan Enggar melebihi seorang adik yang menyayangi kakak kandungnya," tutur Bu Jeny lirih membuat Kiara menahan napas sebentar.
Itu artinya, Bu Jeny ingin ia menikah dengan Enggar agar Nirma menjaga jarak? Terjawab sudah kejanggalan perubahan sikap Nirma pada Kiara beberapa hari terakhir. Mungkin itu sebabnya, Nirma begitu bersemangat mendukungnya berpisah dengan Enggar? Nirma diam-diam menyukai Enggar, sampai-sampai dia sakit dan menggigau memanggil nama Enggar.
Ya Allah! Tiba-tiba saja Kiara merasa dirinya hanya menjadi batu sandungan untuk Nirma. Atau mungkin juga bagi Enggar. Siapa tahu dia juga punya perasaan lebih pada Nirma. Ah! Kiara jadi merasa janjinya pada Bu Jeny tadi terlalu berat untuk di laksanakan. Tapi mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terlanjur ....
"Ya sudah. Simpan pembicaraan ini untuk kita berdua saja. Terima kasih sudah bersedia menikah dengan Enggar. Sekarang kamu kembalilah ke kamar suamimu. Ini sudah terlanjur larut. Ibu akan ke kamar Nirma untuk menjaganya," titah Bu Jeny seraya bangkit lebih dulu dan langsung beranjak ke kamar putri sambungnya.
Kiara termangu menatap pundak ibu mertuanya. Rumah tangga macam apa yang dia bangun ini? Entah apa alasan Bu Jeny tidak mendukung Nirma dan Enggar saja yang bersatu? Bukankah itu lebih baik dan lebih mudah? Toh, saudara tiri sah-sah saja menikah. Sungguh aneh. Bu Jeny menyayangi Nirma seperti anak kandungnya, tapi dia tidak menginginkan Nirma menjadi istri anaknya.
Bu Jeny malah memilih dirinya sebagai menantu. Jelas-jelas Nirma lebih segala-galanya jika disandingkan dengan Nirma. Nirma lebih muda, pandai mengurus dapur dan cantik, rajin mengurus rumah. Sedangkan dirinya apa? Seketika Kiara merasa minder pada Nirma. Kiara jadi gamang, bagaimana bisa dia menepati janjinya pada Bu Jeny sedangkan dia sendiri merasa jauh segala-galanya di bawah Nirma. Selain itu ... Kiara juga melihat, Enggar sangat menyayangi Nirma. Mengingat hal itu, Kiara lagi-lagi menyesali diri karena berani berjanji pada ibu mertua sebelum tahu kebenarannya.
Kiara mengacak rambutnya frustasi. Ingin rasanya ia menghabiskan malam ini dengan tidur di ruang tamu saja. Tapi tak mungkin. Kiara tak mungkin mengecewakan Bu Jeny untuk kedua kalinya dalam satu malam.
Akhirnya dengan perasaan berat, Kiara melangkahkan kakinya ke Kamar Enggar. Tangannya tak kalah berat saat mengetuk pintu. Bibirnya terasa kelu saat memanggil nama Enggar. Butuh beberapa kali mengulang panggilan, barulah Enggar membuka pintu sambil menguap lebar.
Matanya mengerjap-ngerjap melihat Kiara berdiri di depannya membawa selimut sambil tertunduk lesu. Enggar menatap jam dinding. Belum jamnya Kiara kembali. Pasti ada yang tidak beres. Enggar langsung menarik Kiara masuk kamar lalu mengunci pintu.
"Kok balik malam-malam. Kenapa?" tanya Enggar penasaran sambil membawa Kiara duduk di ranjang.
"Ketahuan!" jawab Kiara lesu. Enggar tertawa kecil menanggapi ucapan Kiara yang terdengar begitu pasrah.
"Ya sudah. Terima aja takdir, kalau kita memang harus tidur sekamar. Lagi pula, mau kita pisah kamar, mau kita satu kamar, satu ranjang, bagi aku sama saja. Aku tidak tertarik menyentuhmu," ucap Enggar membuat Kiara merasa sedikit tenang sekaligus jengkel. Enggar mulai meremehkan dirinya.
"Jangan sombong. Takut nyesal nantinya," tukas Kiara langsung membaringkan tubuh sembarangan.
"Baringnya yang benar arahnya Kia. Tempatku mana kalau posisimu begitu?" protes Enggar.
"Dilantai!" sahut Kiara asal sambil memutar tubuhnya supaya lurus.
"Enak aja. Ini kamar, kamarku. Kalau kamu enggak mau seranjang, aku enggak bakal ngelarang kok kalau kamu mau tidur di lantai," Enggar ikut merebahkan tubuhnya di samping Kiara.
Kiara tak menjawab ucapan Enggar. Kalau tadi Enggar sendiri sudah bilang tidak tertarik untuk menyentuhnya, kenapa dia harus menderita tidur di bawah. Akhirnya Kiara hanya membalik badan menghadap tembok dan membelakangi Enggar.
"Tapi Kia, bagaimana kamu bisa ketahuan? Apa mama ke kamar Nirma?" tanya Enggar tiba-tiba sambil menyentuh lengan Kiara.
"Aku yang kebablasan manggil ibu ke kamarnya. Nirma sakit," sahut Kiara sambil menepis tangan Enggar. Kiara tidak ingin mengatakan bahwa Nirma menggigau memanggil nama Enggar.
"Nirma sakit?" tanya Enggar dengan suara lemah.
Kiara menoleh untuk melihat ekspresi Enggar. Raut wajah suaminya berubah mendengar jawabannya. Tak seceria tadi.
"Iya," sahut Kiara singkat sembari memutar kepala kembali menatap dinding kamar.
Setelah itu hening. Tak ada lagi pembicaraan antara sepasang suami istri tersebut. Keduanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Perubahan sikap Enggar mendengar Nirma sedang sakit, membuat Kiara jadi yakin akan kecurigaannya, jika Enggar sebenarnya memiliki perasaan yang lain terhadap Nirma. Bukan sebatas Kakak yang menyayangi adiknya saja.
Tiba-tiba rasa gundah menyelimuti hati Kiara. Dalam bayangannya semua akan terasa berat untuk dijalani ke depan. Tapi Kiara berharap, semoga saja feelingnya sebagai seorang istri yang dinikahi Enggar tidak berdasarkan keinginan hati kali ini salah.