Kiara menatap punggung Enggar yang balas membelakanginya cukup lama. Janjinya pada Bu Jeny menggema di benak. Enggar tak menyadari bahwa Kiara memperhatikan sikapnya. Setelah menguap berulang kali, Enggar kembali terlelap.
Kiara duduk, memperbaiki posisi selimut yang menutupi kedua kakinya. Bila musim panas, di tempat tinggal mereka hawa malam hari terasa begitu dingin. Sebaliknya, bila musim hujan tiba udara malam akan terasa panas. Kiara kembali berbaring, memaksa memejamkan mata dan mengosongkan pikirannya sejenak. Tapi tak berhasil. Ia malah gelisah seorang diri.
Kiara menyingkap selimut dan melewati tubuh Enggar yang baru saja tertidur pulas pelan-pelan. Kiara duduk dan menatap lekat wajahnya melalui pantulan cermin, lalu beralih menatap wajah Enggar yang tertidur pulas. Ada rasa tak pantas dalam dirinya menjadi istri seorang Enggar. Tapi, bagaimana caranya melepaskan diri. Persiapan kedua orang tua mereka sudah terlalu jauh untuk dibatalkan.
Apalagi besok, undangan akan disebar. Ibunya pun sudah memberitahukan kepada tetangga dekat untuk datang membantu persiapan pernikahan mereka. Ada beberapa kerabat mereka yang jauh akan segera datang juga. Rasa gundah makin menyelimuti hati Kiara, mengingat setelah resepsi mereka kedua orang tua Enggar akan meninggalkan mereka bertiga.
Kiara tidak tahu kenapa dia mendadak resah memikirkan akan hidup bertiga dalam rumah tersebut. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Kiara mulai berharap agar Nirma juga ikut pindah bersama kedua mertuanya. Mungkin hidup berdua dengan Enggar akan lebih baik.
"Eh! Astagfirullahaladzim ... pikiran macam apa ini," gumam Kiara pada dirinya sendiri sambil mengusap wajahya kasar. Ia bergegas kembali ke tempat tidur, merebahkan diri meskipun mata dan pikiran belum bisa membawanya ke alam mimpi.
Sampai azan subuh berkumandang, Kiara hanya membolak-balik badannya dengan perasaan gelisah di belakang tubuh Enggar. Kiara lalu bangkit dan mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah dua raka'at. Usai salat, Kiara merebahkan dirinya di atas sajadah. Matanya mulai perih karena tidak tidur, bertambah perih saat menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.
Kiara mulai menguap. Entah mengapa rasa kantuk menyerangnya di waktu subuh. Padahal seharusnya, usai subuh dia langsung ke dapur untuk belajar memasak bersama Bu Jeny, karena Nirma tak mungkin ada di dapur saat ini. Mulut Kiara tak henti-hentinya menguap, hingga akhirnya dia mulai lupa pada keadaan di sekelilingnya.
Sekitar 30 menit setelah Kiara terlelap, Enggar baru terbangun. Enggar terkejut saat melihat Kiara tertidur di lantai masih menggunakan mukenah. Melihat Kiara tertidur begitu nyenyak, Enggar tak tega untuk membangunkan. Akhirnya ia mengangkat tubuh Kiara dan meletakkanya pelan--pelan di atas tempat tidur.
Karena waktu subuh hampir terlewat, Enggar buru-buru berwudhu dan melaksanakan salat subuh di atas sajadah yang semula digunakan oleh Kiara.
Usai salat, Enggar langsung menuju keluar untuk melihat keadaan Nirma. Raut khawatir jelas terlihat di wajahnya. Pintu kamar Nirma masih terkunci. Enggar merapatkan telinga ke lubang pintu. Terdengar suara kedua orang tuanya berbincang di dalam. Enggar mengurungkan niatnya untuk melihat kondisi Nirma. Ia memilih kembali ke kamarnya saja, dan duduk di dekat Kiara yang masih memakai mukenah. Dalam hati Enggar merasa heran melihat Kiara tidur sepulas itu menjelang pagi.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamarnya diketuk. Enggar bergegas membuka pintu, dan wajah ibunya menyembul dari luar.
"Kiara masih tidur?" tanya Bu Jeny.
Enggar tak menjawab, tapi langsung membuka pintu agak lebar supaya ibunya bisa melihat langsung ke dalam. Bu Jeny melangkah masuk, dan duduk di dekat Enggar. Ia melirik Kiara sekilas, lalu mulai berbicara.
"Hari ini undangan pernikahan kalian akan disebar Enggar. Mama minta kamu tidak mempermainkan pernikahan ini. Mama harap, kamu dan Kiara bisa saling menerima. Jangan lagi kamu biarkan Kiara tidur di luar. Suami macam apa yang membiarkan istrinya tidur di kamar orang lain. Atau jangan-jangan, memang kamu yang menyuruhnya tidur di kamar Nirma? Jangan-jangan kamu dan Nirma bekerja sama?" tuduh Bu Jeny setengah berbisik.
Enggar langsung menggeleng.
"Ya Enggaklah Ma. Dia sendiri kok yang mau! Kan Mama tahu sendiri, Kiara susah diatur." Enggar tak mau disalahkan begitu saja. Memang kenyataannya Kiara yang keluar sendiri meninggalkan dirinya.
"Ya mulai sekarang kamu harus bisa mengatur. Kamu 'kan suaminya. Masa gitu aja enggak bisa," ucap Bu Jeny sambil mengedipkan mata dengan perasaan dongkol kepada Enggar. Bu Jeny tahu, Enggar orangnya memang simpel. Tidak mau banyak debat. Tapi bukan berarti sikapnya membiarkan Kiara pindah begitu saja ke kamar bisa dibenarkan juga.
"Iya Mama. Bagaimana keadaan Nirma? Kata Kiara dia demam?" tanya Enggar mengalihkan pembicaraan.
"Dia baik-baik saja. Mulai sekarang, kamu jangan terlalu banyak mengurusi adikmu Enggar. Urusi saja istrimu. Ingat! Dia adik tirimu. Sekali tiri tetaplah tiri, kalian bukan muhrim! Aku tidak mau kedekatanmu dengan Nirma menyulitkan rumah tanggamu bersama Kiara ke depannya. Apalagi kalau Mama perhatikan, sikap dan perhatian Nirma terhadapmu kadang berlebihan. Ibu kurang suka itu!"" ucap Bu Jeny tajam. Enggar terdiam sambil menundukkan wajah mendengar ucapan ibunya yang bernada mengecam.
"Iya Ma. Enggar tahu. Enggar hanya ingin tahu keadaan Nirma saja. Mama jangan mikir berlebihan gitu ah. Lama-lama nanti mama jadi parno sendiri. Bahaya Ma," gumam Enggar pelan setelah cukup lama mereka berdua saling diam.
"Bukan berlebihan Gar. Mama 'kan bingung, Nirma kenapa enggak mau waktu diajak ikut Mama sama Papa ke tempat tugas yang baru nanti? Padahal sangat enggak mungkin kan kalian tinggal berdua-duaan di rumah. Untung aja orang tuanya Kiara langsung terima lamaran Mama sama Papa Gar!"
"Ya ampun Ma. Jadi karena itu Mama sama Papa mendadak nikahin Enggar? Mama sama Papa aja yang mikirnya kejauhan. Kan mama sama papa tahu sendiri, Nirma lagi nunggu panggilan kerja di sini," bela Enggar.
"Kan nyari kerjaan bisa diulang lagi di sana Gar. Lagian Mama jadi curiga sama Nirma. Kenapa dia mendadak sibuk nyari kerja saat Papamu bilang mau pindah?"
Enggar tak menjawab apa-apa.
"Kurasa selama ini kamu memanjakan Nirma berlebihan. Buang kebiasaanmu itu Gar. Mama takut, Nirma terlalu terbiasa bergantung sama kamu. Mama takut, dia enggak bisa jauh dari kamu. Ingat! Sekarang istrimu adalah Kiara. Dia yang harus terus membersamaimu dalam keadaan apapun!" lanjut Bu Jeny tetap pada pendiriannya, tanpa mau dibantah.
Enggar tetap diam, enggan mendebat ibunya jika yang dibahas adalah soal Nirma. Entah sudah ke berapa puluh kalinya dalam tahun ini Sang Ibu mewanti-wanti hal yang sama padanya.
Bu Jeny rupanya masuk kamar hanya ingin mengomeli Enggar soal itu saja. Setelah cukup lama saling terdiam, Bu Jeny meninggalkan kamar Enggar tanpa pamit. Tetapi tak lama berselang, Bu Jeny kembali lagi.
"Satu lagi. Nanti kamu antar mertua dan iparmu belanja naik mobil. Ingat! Bantu bawa belanjaan. Ikut masuk ke pasar! Jangan seperti kemaren-kemaren!" titah Bu Jeny dengan telunjuk lurus tertuju pada Enggar.
Enggar hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ibunya yang agak aneh hari ini. Setelah ibunya tak nampak lagi, Enggar menarik napas berat kembali. Ia tak habis pikir, kenapa ibunya begitu bersemangat memilih Kiara yang menyebalkan dan tak bisa apa-apa menjadi pendamping hidupnya. Padahal Bu Jeny sendiri tahu, orang tua Kiara saja kadang menyerah mengatur Kiara. Dan sekarang, tiba-tiba tugas itu beralih padanya? Ya Tuhaaan. Enggar mengusap wajah resah. Ia tak yakin mampu mengemban tanggung jawab itu nantinya.