Pagi-pagi sekali Farel sudah datang ke rumah Bu Lilis membawa sekebat undangan. Rista pun datang lebih cepat untuk berbincang mengenai persiapan-persiapan lainnya dan menemani ibunya berbelanja persiapan hari H. Meskipun sudah disepakati bawa masak-masaknya diadakan di rumah Bu Jeny karena dapurnya lebih luas, namun prihal belanja kebutuhan tetaplah menjadi tanggung jawab dari pihak mempelai wanita, karena uang sudah diberikan pada mereka.
"Kita belanja sama siapa, Ma? Naik angkot?" tanya Rista melihat sederet catatan belanjaan yang lumayan panjang di kertas. Tak mungkin memakai sepeda motor. Farel tadi juga datang hanya untuk mengantar undangan yang akan dibagi saja oleh orang khusus yang sudah dibayarnya. Setelah itu ia buru-buru pergi ke kantor.
"Kemaren sore Bu Jeny bilang, nanti Enggar yang ngantarin kita. Kamu siapian aja tas belanjanya. Mama mau mandi dulu," sahut Bu Lilis sambil berlalu ke kamar mandi.
Rista langsung menyiapkan tas yang dimaksud ibunya. Setelah itu Rista menuju ke seberang untuk membicarakan prihal baju dan MUA pada Enggar dan Kiara.
"Assalamu'alaikum," ucap Rista begitu tiba di depan pintu.
"Wa'alaikumsallam," sahut Enggar yang tengah menikmati secangkir teh di ruang tamu.
"Kak Kia-nya mana?"
"Ada tuh, masuk aja ke kamar," Enggar mempersilahkan Rista menemui Kiara secara langsung. Rista mengangguk dan langsung melangkah ke kamar Enggar.
Rista kaget bukan kepalang begitu pintu kamar terbuka karena melihat Kiara masih tertidur. Ia langsung masuk dan mengguncang-guncang tubuh Kiara.
"Ya ampuun Kak. Kirain di kamar ngapain? Ini sudah siang masih tidur ajaa! Ya Allah berubah dikit Kak. Di sini rumah mertua bukan rumah Mama. Malu sedikitlah kak kalo masih bangun siang juga," Rista gemas melihat tingkah laku Kiara yang tidak mengalami perubahan sedikitpun meski statusnya sudah berubah.
"Eeemm, apasih Ris? Rusuh aja. Aku masih ngantuk tahu! Masih pusing ni kepalaku," Kiara bangkit sambil memijit-mijit kepala. Mulutnya pun mengeluarkan ringisan kecil.
"Masih sakit? Enggak panas gitu kok badannya," ujar Rista sambil menempel punggung tangannya ke dahi Kiara.
"Emang enggak sakit. Aku pusing karena kurang tidur. Habis subuhan tadi aku baru bisa tidur makanya ni masih pakai mukenah." Kiara mengucek matanya yang masih terasa perih lalu melepas mukenahnya.
Rista malah mesem-mesem sendiri mendengar jawaban kakaknya. "Oooh, kurang tiduuuur. Yayaya! Aku paham kok."
Kiara mengerutkan kening mendengar kesimpulan adiknya yang sok tahu.
"Paham apa? Pasti mikir yang enggak-enggak. Dih! Susah ngomong sama orang tua. Pikirannya m***m melulu," sahut Kiara sambil menggantung mukena dan melipat sajadah. Rista hanya tertawa.
"Lagian kamu ngapain sih pagi-pagi ngerusuh ke sini?" Kiara menatap Rista heran.
"Eeh, gini. Aku tadi mau kasih tahu aja kalau kamu nanti pakai baju 3 warna kan resepsi sampe malam. Jadi, pagi-pagi kamu pake model gaun dulu warna putih. Terus siang ganti sama baju adat Banjar aja ya, warna kuning. Terus malam, pake gaun lagi aja. Warna merah," terang Rista panjang lebar.
"Terserah aja," sahut Kiara tak bersemangat.
"Gitu doang tanggapannya?" protes Rista sambil melotot menatap Kiara.
"Terus? Aku harus bilang wow sambil memasang ekspresi kaget atau kesenangan gitu? Dih! Kan aku udah bilang dari awal. Terserah kalian yang kepengen banget ngadain acara! Kalau aku sih maunya enggak usah ada acara-acaraan," ucap Kiara mengulang kembali pernyataannya beberapa hari yang lalu.
"Ya udah deh. Ya udah! Iya. Enggak usah emosi pagi-pagi. Mending mandi sana. Eh, sebelum salat tadi sudah mandi ya?" Rista mundur menuju pintu sambil meledek Kiara yang mulai jengkel.
"Keluar cepat gak? Keluar gak? Kutimpuk pake ini nih sekalian. Ngolok mulu!" Kiara mengangkat guling siap menimpuk kepala adiknya yang langsung ngacir keluar sambil menutup mulut. Suatu kesenangan bagi Rista bila berhasil membuat Kakaknya geram.
"Sudah siap belum Mama-mu Ris?" tanya Bu Jeny begitu melihat Rista di ruang tamu.
"Sudah Bu."
"Ya sudah, di luar Enggar sudah menyiapkan mobil. Kalian bertiga aja ya yang ke pasar."
"Iya Bu. Saya ke seberang dulu," pamit Rista untuk memberitahukan pada ibunya bahwa Enggar sudah siap. Tak lama kemudian, Bu Lilis dan Rista bersamaan menyeberang jalan kembali menuju mobil Enggar.
"Sudah siap Bu?" tanya Enggar sambil meraih tas belanja dari tangan mertua dan meletakkannya ke dalam mobil terlebih dahulu. Bu Lilis mengangguk sambil tersenyum. Mereka bertiga lalu menuju pasar yang kemaren menjadi sumber pertengkaran Kiara dan Enggar untuk membeli segala kebutuhan yang akan di kerjakan oleh orang-orang yang rewang esok hari.
***
Sementara Enggar mengantar Bu Lilis dan Rista ke Pasar, Kiara yang baru bangun langsung mandi. Setelah mandi, ia bergegas ke kamar Nirma untuk melihat keadaannya.
"Gimana keadaanmu, Nir? Udah mendingan?" tanya Kiara sembari mendekat pada adik ipar tirinya tersebut.
"Lumayan," sahut Nirma agak acuh bahkan terkesan tak suka melihat kehadirannya di kamar itu. Kiara mengabaikan perasaannya tentang ketidaksukaan Nirma. Ia tetap mendekat untuk mengecek suhu tubuh Nirma dengan cara menempelkan punggung tangan di dahi. Memang tak sepanas saat ia menggigau menyebut nama Enggar tadi malam, tapi masih hangat.
"Ya sudah. Nanti kalau kamu mau apa-apa, kamu panggil aja aku," Kiara menawarkan diri untuk menjaga dan melayani Nirma, mengingat kemaren wanita berusia 22 tahun tersebut begitu khawatir saat kakinya terluka akibat pecahan piring.
"Enggak usah sok perduli, Kak. Aku tahu Kak Kia sengaja ngadu sama mama kalau aku yang punya ide supaya kakak pindah tidur ke sini 'kan?" tukas Nirma dengan wajah cemberut dan nada kurang bersahabat. Nirma bahkan memalingkan wajahnya ke arah lain, karena tak ingin menatap wajah Kiara.
Kiara kaget bukan kepalang. Tuduhan Nirma tidaklah benar. Malam tadi dia tidak mengatakan itu. Tapi memang, Bu Jeny sepertinya tidak begitu mempercayai ucapannya tadi malam. Kiara tidak menyangka, Bu Jeny ternyata sangat sulit untuk dikelabui.
"Enggak! Enggak ada Nir. Demi Tuhan aku enggak ada bilang begitu sama Ibu. Aku bahkan bilang kalau aku yang meminta tidur bersamamu. Demi Tuhan!" ucap Kiara sungguh-sungguh.
Penjelasan Kiara tak lantas membuat Nirma percaya. Ia tetap menatap Kakak Iparnya dengan sorot mata menuduh.
"Sudah Kak. Keluar sana! Enggak usah masuk-masuk lagi ke kamarku kalau enggak ada yang penting!" usir Nirma membuat Kiara tersentak. Nirma mengusirnya dengan nada membentak.
Kiara perlahan mundur. Tangannya meraba ke belakang mencari handle pintu. Setelah pintu terbuka, Kiara langsung keluar dan menutup pintu kamar Nirma kembali. Ia merasa ada yang berbeda begitu keluar dari kamar Nirma. Hatinya mendadak diserang rasa resah dan gundah. Sekarang saja Nirma sudah mulai memperlihatkan ketidaksukaan padanya secara terang-terangan. Bagaimana ke depannya nanti?