Belajar Rajin

1498 Words
Kiara merasa suasana rumah sepi sekali. Ia menengok ke depan. Rumah orang tuanya pun tertutup rapat. Kiara melangkah keluar mencari keberadaan Enggar, lalu kembali masuk melihat tidak ada mobil di garasi. Kiara bergegas ke dapur. "Bu, Enggar kok enggak ada? Pergi kemana? Eh, maksudnya Mas Enggar pergi kemana pagi-pagi?" bicara Kiara jadi belibet, karena sering lupa jika ia harus menyertakan Mas jika menyebut nama Enggar di depan orang tua ataupun mertuanya. Bu Jeny yang sejak tadi sibuk seorang diri di dapur langsung menoleh dan tersenyum sebelum menjawab,"Oh, itu. Enggar nganterin Rista sama Mamamu belanja ke pasar." "Kepasar? Kok aku enggak diajak sih? Enggak pamit-pamit lagi!" protes Kiara mendadak cemberut. Bu Jeny malah tersenyum senang melihat Kiara mulai perduli pada Enggar. Ia kembali menyibukkan diri sambil terus mengulum senyum. "Udaah! Nanti aja tanya sama protesnya kalau Enggar sudah datang. Sekarang mending kamu sarapan dulu sana," ucap Bu Jeny masih sambil senyum-senyum sendiri melirik Kiara yang masih berdiri di dekatnya dengan wajah yang masih sama seperti tadi. "Belum lapar Bu," tolak Kiara. "Apa yang bisa Kia bantu Bu?" Kiara lanjut menawarkan diri meskipun ia sadar hanya bisa membantu sebatas mengupas bawang atau memotong-motong sayuran saja. "Belum ada kerjaan apa-apa selama mereka bertiga belum datang dari pasar. Udah kamu sana aja. Calon manten enggak boleh terlalu banyak kerja di dapur," ujar Bu Jeny seperti mengusir. Kiara pun beranjak meninggalkan Bu Jeny kembali ke depan. Ia meraih sapu yang bergantung, dan menyapu kamar beserta ruangan lainnya meskipun sudah terlihat bersih. Entah sudah disapu atau belum Kiara tetap saja menyapu. Sungguh ia bosan bila seharian berada di kamar tanpa melakukan apa-apa selain berselancar di layar ponsel dan membalas chat Mayang yang selalu meledeknya. Selesai menyapu, Kiara berinisiatif untuk pergi ke seberang. Kiara baru menyadari bahwa semenjak pindah ke rumah mertua, ia hanya sekali masuk rumah orang tuanya, saat kelaparan kemaren. Tiba-tiba Kiara rindu ingin membersihkan rumah juga rindu pada kamar lamanya. Dengan penuh semangat Kiara melangkah ke seberang. Tapi Kiara mendadak murung saat menyadari rumahnya sedang kosong dan pintunya terkunci. Sedangkan kunci serap yang ada padanya sudah diambil kembali oleh Bu Lilis karena orang tuanya khawatir Kiara nekat pulang malam-malam seperti yang dilakukan Enggar di malam pertama dulu. Akhirnya Kiara hanya duduk di teras rumahnya saja menatap ke rumah mertuanya. Pikiran Kiara mulai berkelana. Hatinya kembali gundah mengingat beberapa hari lagi hanya akan tersisa mereka bertiga di rumah itu. Sementara sikap Nirma padanya semakin hari semakin tidak bersahabat. Kiara jadi sangsi dia bisa bertahan sampai hitungan bulan di rumah itu setelah kepergian mertuanya. Kiara berulang kali mengusap wajah risau. Cerita Bu Jeny tentang Nirma dan Enggar, juga permintaan Bu Jeny yang sudah terlanjur ia sanggupi kini selalu mengisi pikirannya. Untuk menghilangkan keresahan, Kiara berdiri dan meraih sapu ijuk khusus untuk menyapu halaman rumah biasanya. Perlahan ia mulai menyapu. Kiara merasa heran. Ternyata pekerjaan yang biasanya sangat tidak disukainya kini jadi pengobat pikiran saat ia risau. Dengan menyibukkan diri, Kiara merasa lebih baik. Mungkin memang mulai sekarang ia harus lebih banyak belajar mengerjakan pekerjaan rumah dengan hati-hati. "Kiaraaa! Eh, Kiara sekarang jadi rajin nih. Tumben pagi-pagi sudah nyapu halaman." Kiara yang tengah membungkuk menoleh sekilas dan tersenyum melihat salah satu tetangga yang tengah melintas menegurnya. "Belajar rajin, Bu," sahutnya masih sambil tersenyum. "Nah, iya. Gitu dong biar kelihatan perempuannya," sahut tetangganya sambil berlalu. Kiara meringis di dalam hati. Memang selama ini penampakannya seperti laki-laki? Ada-ada saja! Kiara hanya mengeleng-gelengkan kepala sambil terus menyapu sampai ke bagian samping kanan dan kiri rumah ibunya. Selesai menyapu, Kiara duduk berselonjor sebentar di teras rumahnya, kemudian kembali ke seberang untuk membersihkan diri. Menyapu sekeliling rumah saja ternyata membuat tubuhnya cukup gerah. Sebelum memasuki kamar mandi, Kiara menatap sejenak ke kapstok. Selembar baju koko khusus Enggar salat tergantung dengan rapi. Kiara meras aneh. Keranjang khusus pakaian kotor di kamar itu hanya berisi pakaian Kiara. Pakaian Enggar tak pernah menumpuk. Rajin sekali Enggar mencuci baju-bajunya sendiri. Tapi baguslah! Selama ini Kiara memang paling malas berurusan dengan cucian. Karena itu, di rumah dia hanya mencuci seminggu sekali khusus bajunya saja. Kiara pun melanjutkan niatnya mandi. Selesai mandi, Kiara memilih-milih baju di dalam tasnya. Sambil memilih baju, tak henti-hentinya Kiara menggerutu dalam hati karena lelah membongkar dan menyimpan kembali pakaian ke dalam tas. Tapi mau gimana lagi. Enggar tidak mau membantunya memindahkan lemari di seberang karena lemarinya memang cukup besar dan susah dipindah-pindah. Tapi Enggar juga tidak mengijinkan baju-baju Kiara numpang di lemarinya, padahal Kiara tahu lemari Enggar tidaklah penuh. Baju lelaki tak sebanyak baju wanita. Selesai berpakaian barulah Kiara merasa lapar. Ia pun bergegas ke ruang makan dan makan dengan rasa canggung, karena Kiara tidak ikut memasak makanan yang dimakannya. *** Mendekati waktu Zuhur, terdengar deru mobil Enggar memasuki pekarangan. Kiara yang sedari tadi menunggu di ruang tamu bergegas membuka pintu. Ia membantu menurunkan belanjaan, sementara Rista pamit sebentar untuk menjemput anak-anaknya. Ia berjanji akan kembali selepas waktu zuhur pada ibunya. Bu Jeny datang membantu. Mereka berempat gotong royong membawa barang-barang masuk. Belanjaan mereka banyak sekali. Entah berapa undangan yang mereka siapkan, Kiara tak ingin bertanya soal itu. Sampai azan zuhur berkumandang, barulah pekerjaan mereka beres. Bu Lilis pamit pulang sebentar. Enggar berjalan menuju kamar diikuti oleh Kiara dari belakang. Iba juga hati Kiara melihat Enggar yang nampak kelelahan. Kiara ingin menawarkan sesuatu pada Enggar, tapi bingung cara menyampaikannya. Akhirnya ia terus membuntuti Enggar saja sampai ke kamar. Enggar langsung meraih handuk lalu mandi. Kiara masih mondar mandir di dalam kamar sampai Enggar selesai mandi. Enggar langsung meraih baju koko dan peci, bersiap untuk salat zuhur. "Eh, tunggu sebentar," tahan Kiara. Enggar menoleh dan menatap Kiara heran. "A-aku ... aku mau ikut. Maksudnya ... aku juga belum salat," ucap Kiara ragu-ragu. "Mau bareng?" tegas Enggar. Kiara langsung mengangguk. "Ya sudah, cepat wudhunya," sahut Enggar sambil menghampar sejadah dan duduk di atasnya sambil menunggu Kiara berwudhu. Kiara mengangguk cepat. Selesai berwudhu Kiara buru-buru mengenakan mukena karena Enggar sudah berdiri. Pertama kalinya mereka berdua salat bersama. Usai salat dan berdoa, Enggar berpaling dan menyodorkan tangan kanannya. Kiara menyambut dan mencium tangan suaminya dengan ragu. Selesai salat, Enggar langsung merebahkan diri di kasur. Sepertinya dia benar-benar kelelahan. Kiara meliriknya berulang kali sambil melepas dan menggantung mukenah. "Emm ... Ka-mu ... enggak makan?" tanya Kiara ragu-ragu. "Nanti aja. Aku masih capek," sahut Enggar sambil meraih dan memeluk bantal guling. "Mau teh?" tanya Kiara lagi. Enggar menggeleng. Kiara sedikit kecewa karena di saat bersamaan dua kali mendapat penolakan dari suaminya. "Kia! Aku bisa minta tolong enggak?" tanya Enggar tiba-tiba sambil berbalik menatap wajah Kiara. "Bisa!" sahut Kiara senang karena bakal berguna juga barang sedikit di mata Enggar. "Aku capek banget sumpah. Pijitin aku yah?" ucap Enggar sambil membalikkan badan hingga posisinya bertelungkup. "Hah? Pi-jit?" Kiara ternganga. Dia pikir Enggar bakal memintanya membawa makanan ke kamar seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya. "Tolong. Aku capek banget Kia," ucap Enggar terdengar lemas. Terpaksa Kiara mulai memijit Enggar. Syukurnya Enggar tidak melepas baju, hingga Kiara tidak menyentuhnya secara langsung. Baru sekitar 10 menit kegiatan pijat memijat berlangsung, terdengar suara Bu Jeny memanggil nama Enggar dari luar. Kiara bergegas meninggalkan Enggar yang langsung duduk. "Ada apa Bu?" tanya Kiara. "Ituu. Ada orang ngantar lemari atas nama Enggar. Dia pesan ya?" tanya Bu Jeny. Kiara tak menjawab pertanyaan mertuanya, tapi langsung kembali ke kamar menemui Enggar. "Kamu pesan lemari?" tanyanya. Enggar langsung membalikkan badan lalu duduk. "Sudah datang ya? Suruh angkat langsung ke kamar aja." Kiara merasa senang sekali. Berarti Enggar membelikan lemari untuknya? Perhatian juga dia. Dengan riang Kiara kembali keluar dan menyampaikan perintah Enggar pada tiga orang lelaki yang bersiap menurunkan lemari tiga pintu tersebut dari bak sebuah mobil pick up berwarna hitam. Tanpa mengalami kendala, lemari tersebut langsung berpindah ke dalam kamar mereka. Setelah Enggar mengucapkan terima kasih, tiga orang yang mengantar tadi langsung berpamitan. Enggar pun keluar kamar untuk makan. Rupanya ia sudah tidak berminat meminta Kiara melanjutkan pijatannya. Kiara merasa surprise. Hatinya mulai berbunga-bunga menatap lemari baru yang berwarna hijau stabilo tersebut. Ia tak menyangka Enggar enggan memindahkan lemari lamanya karena ingin membelikan lemari baru. Sesuai pula dengan warna kesukaannya. Ah! Ternyata Enggar manis juga. Kiara senyum-senyum sendiri sambil mengusap permukaan lemari tersebut. Ia menarik tas yang berisi pakaian bersihnya mendekat. Pasti sebentar lagi Enggar akan memerintahkannya untuk memindahkan isi tas tersebut ke dalam lemari baru. Kiara jadi tak sabar menanti Enggar kembali ke kamar. Tak lama berselang, Enggar kembali. Kiara menatap suaminya sambil tersenyum. "Makasih ya," ucap Kiara tanpa sadar. Enggar menoleh dengan dahi berkerut. "Makasih buat apa?" "Eh, ehm ... maksudnya, makasih sudah nganterin mama sama adikku ke pasar dan menemani mereka berbelanja," sahut Kiara buru-buru sambil memalingkan wajah menatap keluar melalui jendela. Percaya diri sekali Kiara mengucapkan terima kasih untuk barang yang belum diserahkan secara resmi menjadi miliknya. Untung saja masih ada jalan mengalihkan ucapan terima kasih mendadaknya. "Biasa aja. Oh ya, kalo enggak ngapa-ngapain lagi hari ini, kamu pindahin itu isi lemariku ke lemari yang baru. Kalau udah kosong kamu pindahin itu isi tasmu ke lemari bekasku. Biar gak berantakan!" perintah Enggar spontan membuat senyum dan keceriaan di wajah Kiara lenyap seketika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD