Rencana kabur

1437 Words
Rencana kabur Jika aku terbiasa main sembunyi-sembunyian dan terbiasa lepas dari cengkraman para pria liar. Kenapa sekarang aku harus tunduk? Kabur adalah jalan terbaik yang pernah aku miliki. Pikirku hendak kabur sebelum masuk kedalam mobil Alphard putih ini tapi aku kurungkan niat karena melihat beberapa baris pria berjas hitam lainnya dilengkapi airpod dan kabel yang melingkari telinganya. Pintu mobil mulai ditutup dan beberapa orang tadi mulai masuk kedalam mobil Sedan hitam yang ada dibelakang mobil. Aku melihat setiap pergerakan mereka dan saat mobil mulai berjalan perlahan mobil hitam dibelakangnya melakukan pergerakan yang sama. "Tuan, apakah anda tidak merasa mobil anda telah diikuti?" Tanyaku sesopan mungkin padanya. Dia yang sibuk memainkan tabletnya bertanya balik padaku, "Siapa?" Aku mendengus kesal saat pertanyaan dibalas pertanyaan, "Dua mobil Sedan hitam dibelakang mengikuti mobil anda dari sisi kanan dan kiri." Dia mendongak kejendela belakang, "Mobil itu yang kamu tanyakan? Mereka adalah pengawalku." Aku berteriak histeris memegang leherku. Dia bilang apa? Pengawal? Pengawal? Matilah aku. Jika teringat rencanaku hendak kabur mereka pasti langsung melahapku tanpa ampun. Aku berusaha berpikir jernih memikirkan cara lain agar bisa lari dari sini. "Jangan coba-coba untuk kabur itu hanya akan membuang-buang energimu saja." Cih! Aku berdecih dalam hati menanggapi perkataannya. Jalanan sama seperti biasanya padat namun lancar. Banyak kendaraan yang berlalu lalang tampak dari luar cuaca sangat cerah dan menyengat. Melewati beberapa bangunan besar dipinggir jalan membuatku terus berpikir tempat mana yang bisa aku jadi alasan agar bisa melarikan diri. "Tuan? Bolehkah aku mampir kesupermarket?" Tanyaku menunjuk sebuah mall yang cukup besar letaknya dikiri melewati beberapa bangunan setelah perhentian lampu merah. Dia menaikan kedua alisnya, "Kamu mau ngapain?" Tanyanya curiga. Aku meneguk saliva pelan-pelan menjawab dengan keringat gugup yang bercucuran disekitar dahiku, "Mau belanjalah! Masa iya mau perbaiki mobil. Mau cari camilan, makan siang dan beberapa minuman." "Semuanya akan kamu dapatkan setelah sampai dirumah!" Dia tampak tegas dan tidak ingin dibantah. Ah aku benci pria seperti dia. Hidup diatas kekuasaan tanpa hati yang menyertai attitudenya. "Tuan aku ingin membeli pembalut," ujarku malu-malu. Sebenarnya itu sebuah alasan aku baru saja haid akhir bulan lalu dan sudah lewat sepekan sejak haidku selesai. "Apa itu pembalut?" Tanyanya mengerutkan keningnya tanpa mengindahkan pandangannya dari tablet. "Pembalut tuan. Pembalut itu softex. Itu yang dipakai saat seorang perempuan sedang haid." "Pantas saja dirimu emosimu seperti Singa." "APA?!" Tanyaku berteriak padanya. Dia tersenyum miring melihat reaksiku, "Bukankah wanita yang sedang haid selalu dibilang PMS? Dan saat aku bertanya apa arti PMS seseorang mengatakan padaku bahwa PMS adalah perempuan mode singa." Aku tertawa terbahak-bahak mendengar perkataannya, "Kau sangat mudah percaya Tuan hahahaha." Gelak tawaku masih belum berhenti. "Iya aku mudah percaya, namun aku juga tidak bisa diajak bernegosiasi soal kepercayaan-" "Yah yah i know I know, So what I can going to mall?" Aku memotong pembicaraannya tidak ingin mendengar lebih lanjut soal ceramah yang berkali-kali sudah aku dengar. Dia menggelengkan kepalanya, "Lebih baik nanti kamu belanja ke toko kecil saja." "Apa? Sungguh?! Kau benar-benar pelit!" Mobil mulai berjalan setelah lampu merah berganti warna menjadi hijau dan dengan secepat kilat mobil yang aku duduki saat ini sudah melewati beberapa bangunan yang lainnya termasuk mall besar yang aku tunjuk tadi. Dia mematikan tabletnya dimasukannya kedalam tas kecil yang ada disampingnya, "Kamu tau kenapa?" Dia mulai mencondongkan tubuhnya kearahku, "Karena aku tau kamu pasti berniat kabur. Di mall itu besar ruangan banyak kau akan bersembunyi dengan mudahnya menghabiskan energi dan waktu. Aku tau rencanamu jadi aku menolaknya. Jika memang ingin belanja aku akan mengantarmu ke toko kecil itu." Dia menunjuk kearah belakangku. Akupun mendongak kejendela pintu mobil. Kami sudah berhenti disebuah toko kecil bernuansa biru yang biasa disebut dengan Indomaret. "Akh! Sial!" umpatku menutup kasar pintu mobil. Berjalan dengan cepat masuk kedalam Indomaret. Aku terus mencuri-curi pandang mencari kesempatan untuk kabur tapi kenapa justru pria berjas hitam itu kembali menguntitku dari depan pintu. Gara-gara pengawalku itu seperti dilindungi oleh bodyguard, "Sial! Persetan dengan James! Persetan dengan Bisma! Kenapa sih Bule kek gitu orangnya! Nyebelin banget!" Para SPG yang menjaga toko melihatku keheranan karena berbicara sendiri. Aku menutup malu wajahku, "Novel aja tuh yang bilang hidup sama CEO itu menyenangkan! Yang bilang hidup sama CEO bisa berbuat apa saja! Aku? Lah aku hidup sama mereka kek b***k!" "Ah!" Aku memukul berkali-kali rak yang ada didepanku, "Sekarang mau beli apa coba uang cuma sepuluh ribu!" Aku melihat isi dompet dimana isinya hanya selembar uang ungu. "Perasaan aku hidup sama orang kaya gak pernah sekalipun dompetku ini berisi berlembar-lembar uang merah." Aku terus saja mengumpat sampai mengambil sekotak s**u ukuran 500ml dan roti kecil hanya itu yang mampu aku ambil lalu sekarang aku kembali memikirkan cara untuk pergi. Aku mengetuk-ngetukan jari diatas meja kasir, "Mbak apa disini tidak ada jalan persembunyian?" Bodohnya aku bertanya sudah tau bahwa belakang tembok belakang pasti buntu. Mbak penjaga kasir itu menggelengkan kepalanya, "Tidak mbak," jawabnya seraya memberikan barang belanjaanku. "Mbak bisa bantu saya gak?" Tanyaku mengedipkan bola mataku berusaha memohon pada mbak kasir. "Bantu apa?" Tanyanya dengan wajah lugu. "Bantu saja kabur mbak, lihat tuh saya dijaga ketat seperti tahanan." Sembunyi-sembunyi aku menunjuk kearah bodyguard yang ada didepan pintu. Mbaknya tersenyum getir menggelengkan kepala, "Enggak deh mbak. Maaf saya tidak terkena masalah." Aku meremas kasar wajahku, "Saya mohon ya mbak? Bantu saya?" Oh ayolah datanglah keajaiban seperti dunia novel yang sering aku baca. Aku terus memohon padanya. "Maaf mbak, jangan libatkan saya." Dia menolak menolongku meskipun aku terus memohon dan memegangi tangannya. Bahkan dia berusaha melepaskan peganganku darinya. 1 SPG pria datang juga dengan senyum getir, "Permisi." Ternyata dia sedang menaruh stok barang yang ada dibawah meja kasir. "Mas, mas mau bantu saya gak?" Tanyaku memelas padanya berjongkok dihadapannya agar kami saling bertatapan. Dia menggeleng gugup, "Maaf mbak. Permisi saya karyawan baru disini. Permisi mbak saya kebelakang dulu." Aku menghela nafas kesal lalu menggaruk tekuk leherku menyusun rencana yang perbandingan keberhasilannya 1:10. "Gak mungkinkan aku nyerah dilubang buaya? Enggak banget deh." Aku berjalan perlahan mendekati pintu. Kukira pengawal itu akan berjalan duluan eh ternyata pengawal ya pengawal. Mereka berjalan dibelakangku. "s**t!" Perlahan aku membuka pintu mobil dalam hati aku berhitung, 1 2 3 Humph! Saat aku berbalik kedua pengawal itu sudah mengepung diriku. PERCUMA! Gerutu ku dalam hati. "Anda mau kemana nona?" Tanya salah satu pengawal dengan memperlihatkan sosok keseraman dimataku. "Aku? Ah aku melupakan barang penting harus aku beli!" Ah aku tersenyum miring dalam saat menemukan alasan yang bagus. "Maaf nona, waktu terlalu lama anda habiskan didalam. Tuan James sudah sangat terlambat untuk beberapa jadwalnya hari ini. Silahkan masuk nona." Dia membukakan pintu mobil untukku. "Ah bagaimana kalau aku pulang sama kalian aja? Dan biarkan tuan James melanjutkan kembali aktivitasnya." Ide terbodoh yang aku miliki keluar dari kandang singa masuk ke kandang harimau. Benar-benar SINTING! "Maaf nona, Perkataan Tuan James adalah perintah buat kami dan Tuan James tidak suka diubah jadwalnya." Aku mendengus masuk menuruti perkataannya mau bagaimana lagi mau kabur saja tidak ada cela yang mereka berikan. Tampak James tertawa kecil didalam dengan kesal aku menutup pintu mobilnya. "Kalau saja aku menerapkan denda setiap perencanaan kaburmu itu mungkin kamu sudah memiliki banyak hutang denda padaku." "Cuih! Emangnya berapa denda yang harus aku bayar?!" Tanyaku menantang tidak takut dengan ancamannya. "10% dari harga yang aku beli tentu kemahalan, 1% persen aku rasa kamu juga tidak mampu untuk membayarnya ya Hadi aku hanya meminta 0,1% dari harga yang aku beli. Kamu tau harga itu bahkan lebih rendah dari bunga bank, pengkreditan dan juga cicilan." "Tidak dengan tanpa bunga," sanggahku menimpalinya. Dia tertawa, "Gak ada bank tanpa bunga kecuali LPD." Ah sungguh aku kesal dengan manusia seperti James. Jika aku kembali menghitung persenan yang dia ucapkan yang tentu uang itu tak mungkin sanggup aku bayar. Dia memberikan secarik kertas dipahaku. "Apa ini?" Tanyaku keheranan dengan kertas yang dia berikan. "Ini daftar denda sanksi yang kau miliki." Sial! Emang benar-benar orang luar negeri! Setiap tindakan selalu diperhitungkan olehnya. Baris pertama dari deretan beberapa kolom dia benar-benar memberikan aku denda 0.1% dari 1jt dollar. Hidupku benar-benar kacau. Kini aku sedang hidup dijalan penuh bencana. Hidupku hanya akan dipenuhi oleh musibah. "Kita akan kemana?" Tanyaku melihat mobil berlalu begitu jauhnya dari wilayah Sanur. "Lihat saja kita akan kemana nanti. Kamu hanya perlu duduk manis. So Be a good and pretty girl okay lady?" Aku membuang wajah saat dia meletakkan jari telunjuk dibawah daguku. Mobil terus berjalan dan beberapa perhentian lampu merah sudah dilaluinya. Matahari mulai meninggi sudah berada dititik tertingginya sehingga jalanan tampak terbakar jika dilihat dari kaca. Seandainya saja aku sudah mulai merasa curiga saat Bisma membawaku pada pagi hari dan seandainya saja aku sudah lebih dulu kabur saat berada dirumah tadi, mungkin aku tidak akan berada disini saat ini. Aku bersandar dikaca mobil melihati jalanan sebagai bahan perenungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD