Rumah James

1190 Words
Harus kuakui bahwa dirinya sangat kaya. Kini kami telah tiba disebuah rumah tepatnya dijalan Seminyak, Kuta, Badung. Rumah elite dengan latar putih ini berhasil membuatku berdecak kagum. Rumput hijau menyapa telapak hellsku. "Daddy!!!" Teriak lantang dari pintu depan rumah itu, menampakan seorang anak laki-laki berambut pirang. Karena diterpa rasa penasaran aku bertanya pada James, "Apa dia anakmu?" Dia menangkap anak yang tengah berlari itu jatuh kedalam pelukannya, "Hello, what are u doing?" "I miss u dad, where are u in the morning? I've been looking for you everywhere." "Maaf Tuan, sejak pagi Tuan Jen belum makan. Dia menolak untuk sarapan karena tidak melihat dirimu." Mendengar pelayan berbaju biru dengan Efron putih yang melilit dipinggangnya baru kutahu bahwa anak kecil yang sekiranya berusia 8 tahun itu bernama Jen. "Nis, kenalkan dia Jennifer. Dia anakku. Jennifer kenalkan ini Nisa, dia akan menjadi calon ibumu." Sontak aku terperangah melihat kearahnya, Jennifer anaknya? Aku? Calon ibunya? Oh sungguh ini sangat gila bagaimana dengan istrinya itu? OMG ini benar-benar bencana besar untukku. "Dad, are u seriously? You're not divorced with rose." Rose? Tanyaku dalam hati sebuah nama? Atau bunga? James mengelus rambut Jen, degan lembut berkata, "Boy, Don't worry about dad okay?" Jen manggut-manggut dihadapannya. "Baiklah ayo kita masuk." James membawa masuk Jen dalam gendongannya. Saat kami masuk, aku kembali terpukau dengan desain interior rumah ini. Rumah yang didesain bak istana itu berhasil memberikan kesan megah dan elegan dimataku. Baru aku temui sebuah pilar ada didalam ruangan rumah, disinilah aku melihat pilar yang dicat dasar putih dengan warna gold yang melingkar dibeberapa bagiannya. Tak! Tak! Tak! Suara hak Hells menuruni tangga. Kaki jenjangnya berjalan anggun nan tegas, kaki mulusnya berhasil mendarat dengan sempurna layaknya model, "Siapa dia?" Tanyanya tanpa basa-basi. Rambut panjangnya berawarna putih menggunakan pakaian merah yang menampakan setiap lekuk tubuhnya. Warna bibirnya merah muda yang senada dengan riasannya, "Apa kau yang membawanya kesini?" Nada sarkastisnya mendengung tajam ditelingaku. Dia terlihat seperti ibu tiri yang kejam dimataku. "Ya aku yang membawanya." James memeluk pundakku, "Dia istriku." Setelah James mengatakannya entah kenapa aku melihat dia bukanlah pria yang sukses dalam sebuah hubungan pernikahan. "Hay, aku rose. So I know In a few days you will definitely go just like the previous women." Dia mengambil Jen dari dekapan James, "Boy, sekarang sudah siang saatnya kamu tidur setelah itu mengerjakan PR mu." Jen menurutinya dan dia mengikuti setiap langkah wanita itu. "Apa dia rose?" Tanyaku pada James dan lagi-lagi dia tidak menjawab pertanyaan dariku. James berjalan tanpa memperdulikan diriku lagi dia masuk kedalam ruangan yang berbeda disebuah pojok kanan dimana pintu itu sudah dijaga oleh 2 orang penjaga. "Cih! Dia seperti presiden saja!" Dengan kesal aku menyusul dirinya, "Hey tuan! Kenapa kau membawaku kesini!" Tanyaku kembali padanya mengingat dia sudah 2 kali mengacuhkan diriku. Dari tempat duduknya dia masih sibuk mengurus beberapa file, "Duduklah aku akan menceritakan semuanya." Masih dengan ditempat yang sama dia bersiap untuk memberi tahukan tentang Rose dan Jennifer. Aku duduk disofa yang berhadapan dengan dirinya meskipun jarang kaki begitu jauh terhalang oleh meja, sofa dan tentu meja kebesaran miliknya. "Kamu lihat wanita tadi? Dia adalah Rose-" "Aku tau," sanggahku memotong pembicaraannya. "Diamlah! Mau aku cerita atau tidak?!" Dia mulai membentak sepertinya dia memiliki emosi yang belum dia luapkan. "Tidak, aku hanya ingin pergi dari sini." Dia mengusap gusar rambutnya, "Sudah kubilang kau tidak akan bisa kabur!" "Aku bisa!" Dia menyipitkan matanya menatap tajam ke arahku, "Sudah kubilang kalau kamu mau pergi dariku kau harus membayar sejumlah uang yang aku bayar untukmu, ditambah denda yang sudah kau buat." 1 juta dollar saja tidak bisa aku bayar sekarang aku harus membayar plus denda tadi pagi. Astaga Nisa! Kamu mempersulit hidupmu sendiri! Dengan pelan aku berpikir, "Aku ingin bekerja! Aku akan bekerja!" Dia tersenyum kecut mendengar perkataanku, "Pekerjaan yang seperti apa? Aku sudah memberimu pekerjaan tinggal kau jalani saja!" "Tidak bukan itu, aku ingin bekerja ditempat lain dengan bergitu aku akan bisa membayar hargaku termasuk denda yang telah kau berikan padaku." "Silahkan aku akan memberikan waktu 1 Minggu untuk itu." Ah sial! Double s**t! Dia kembali mengatakan jangka waktunya. Jangankan 1 Minggu! 1 bulan saja belum tentu dapat uang sebanyak itu. Aku mendengus sebal memikirkannya. "Kenapa tidak bisakan? Sudah kubilang jangan menghasbikan energi. Kau hanya membuangnya secara percuma." Aku kembali berpikir bagaimana caranya memiliki pegangan hidup jika seandainya aku diusir dari rumah ini. Mengingat Ros tadi ah dia bahkan sudah kupanggil Ros nama kakak dari 2 b***k tuyul serial Malaysia itu. "Jangan menghabiskan waktu dan membuang energi yang jelas-jelas kau tidak mampu untuk mewujudkannya." Kata-katanya seperti racun yang merasuki tubuhku. Aku tidak bisa menerima ini. Tuhan bantu aku berpikir. Astaga beginilah aku yang selama sekolah kerjaannya hanya bolos, tidur dan makan dikantin. Mendapatkan nilai rata-rata bahkan saat kuliah nilai IPK ku juga rendah. Aku terus berpikir berusaha sejernih mungkin untuk mencari cara, nyerah? Nyerah? Kata-kata itu seperti mencuci otakku. Angka 1 juta dollar terus berputar dikepalaku aku bahkan melupakan denda 0,1% itu. Jika digabungkan aku harus mengembalikan uang sebanyak 1 juta Seribu Dollar. Ah sial aku tidak akan pernah bisa membayangkan uang itu dalam hitungan rupiah. James mendekatiku, "Kenapa lama sekali berpikir? Tidak bisa bukan? Sudahlah jangan pernah berharap bisa pergi dari sini." Cih! Aku tak akan pernah Sudi hidup diatas peraturan orang lain. Menuruti setiap perintahnya? Oh gila! Dia saja bukan keluargaku bukan orang tuaku. Dia tersenyum sinis melihatku, "Jadi bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" Aku menaikan kedua alisku memberikan kesan bertanya tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia merogoh isi dompetnya, "Ini." Dia menyerahkan kartu kredit berawarna biru padaku. "Apa ini?" Tanyaku padanya menerima kartu yang dia berikan. "Ini adalah saldomu. Uang yang ada didalamnya bisa kamu gunakan untuk menunjang kehidupan termasuk memperbaiki tampilanmu. Ah ya satu lagi, jika kamu mau melayaniku kau akan mendapatkan uang tambahan." Aku tersenyum getir tidak menerima dengan kesepatakan yang dia berikan untukku, "Aku ingin lebih dari sekedar kartu ini." Aku meletakkan kembali kartu itu dimeja. "Katakan!" Ujarnya tanpa pikir panjang. Ah aku sepertinya harus menyerah untuk beberapa waktu kedepan sampai bisa mengumpulkan semua uang itu, "Aku ingin sebuah investasi yang terjamin." Dia menggemakan suara tawanya, "Hahahha Investasi?" Aku menganggukan kepala, "Iya aku ingin sebuah kos-kosan elite berlantai dua, kemudian sebuah rumah minimalis ditambah sebuah toko yang menjual kebutuhan rumah tangga." Cuma ini satu-satunya cara dengan begitu uang bisa aku kumpulkan hahaha sebuah pemalakan yang sangat menguntungkan. Dia tersenyum kecil, "Hanya itu? Baiklah nanti malam kau akan mendapatkan sertifikatnya." Dia memasukan kembali kartu kredit itu. "Eh apa yang kau lakukan?!" Tanyaku setengah membentak. "Ini punyaku! Sudah diberikan tidak boleh diambil kembali." Aku mengambil kembali kartu kredit tersebut kemudian membawanya pergi keluar ruangan. Semoga saja selama waktu berjalan aku tidak menerima tantangan yang merenggut setiap nyawa yang aku punya. Doaku dalam hati sambil memegang kartu kredit itu didekapan dadaku. Bruk! Tiba-tiba saja Rose terpeleset jatuh dari tangga. Sontak aku langsung membantunya untuk berdiri. "MOMMY!" Teriak Jennifer dari kejauhan membantu Ros untuk berdiri. "DON'T TOUCH MY MOM, U ARE EVIL!!!" Jennifer berteriak lantang. Kalimatnya bergema diseluruh ruangan mengejutkan semua orang, aku mematung melihat anak laki-laki itu menyebutkan sebagai orang jahat. James berjalan mendekatiku Jennifer, "What happened Jen?" Jen menatap tajam ke arahku, bola matanya berlinang memancarkan kesedihan yang mendalam, "Dia telah melukai Momy!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD