Masak

1071 Words
"Apa yang sebenarnya terjadi nis?" Tanya james mengintimidasi diriku. Aku bingung hendak menjawabnya, sementara pandanganku tak berhenti melihat jenifer. Dia seperti orang yang terpengaruh obat. Sikapnya seperti orang kecanduan obat. "Nis..." "Aa?" Tanyaku gelagapan, "Uhm tadi rose terjatuh dan aku hanya mencoba untuk membantunya berdiri." Aku menjelaskan yang sebenarnya terjadi. James mengangguk mengerti, untungnya dia paham dan tidak memperpanjang nya. "Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya pada rose. Rose mengangguk sambil merapikan rok press bodynya itu, "I'm ok. Maaf bikin kekacauan. Aku gapapa cuma tadi kepeleset mungkin aku kurang hati-hati." Dia tersenyum kecil mereka saling bersitatap. "Momy..." Jennifer merengek sambil menarik-narik rok rose. Sadar dengan kehadiran Jennifer, rose langsung menggendongnya. "Aku mau suapin jenifer makanan, kemudian akan menidurkannya dikamar," Pamitnya membawa jenifer masuk kesalah satu pintu ruangan yang ada disisi kanan. James tampak sendu menatap kepergian putranya. Kenapa namanya jenifer? Alih-alih mempertanyakan sikapnya jenifer yang janggal aku justru bertanya-tanya tentang namanya. "Jadi? Sekarang aku harus apa?" Tanyaku pada James. Dia membenarkan kerah kemejanya, "Masaklah." Aku menyodorkan telapak tangan menghentikan langkahnya, "Apa? Masak?" Aku mengerutkan kening, apa aku tidak salah dengar? "Iya masak, apa kamu perlu pergi ke dokter THT sebelum tinggal menetap disini?" Aku mencoba untuk berfikir, "Aku? Masak?" Tanyaku lagi mencoba memastikan. "Iya nisa, masak! Kamu masak! Masak makanan," Tegasnya memberi penjelasan. Kerutan didahiku semakin rapat, "Kamu nyuruh aku MASAK?!" James menepuk keningnya, "Nisa, mau sampai kapan pembicaraan ini terus diulang-ulang?" Tanyanya melihat arloji ditangan kirinya, "Aku mau pergi nisa, jika kamu sudah tidak ada pertanyaan ijinkan aku pergi." Dia melangkah hendak meninggalkan diriku. Namun aku menghadangnya, "Tunggu dulu, kamu mau aku masak untuk apa? Siapa? Dan masakan seperti apa yang harus aku masak?" Tanyaku beruntut. James menghela nafasnya, "Kamu masak untuk memasak makanan, untuk aku, jenifer dan juga rose tentunya termasuk kamu. Kita akan makan siang bersama, kemudian untuk jenis masakannya kamu bisa tanya sama bibi yang ada didapur." Dia berjalan pergi begitu saja sementara aku masih mencerna kata-katanya. "Eh tapi-" Saat aku bicara, aku baru sadar bahwa dia sudah melesat jauh, "Cih!" Aku menggerutu didalam hati, semoga jalan hidupnya dipersulit karena telah Memperumit diriku! Aku berjalan menghentak-hentakan kaki menuju dapur, bisa-bisanya dia nyuruh aku masak padahal selama ini aku enggak pernah masak. Bisa-bisanya dia mengatakan aku istrinya, istri dari seorang pria kaya raya tapi masih nyuruh aku masak. Ah aku lupa kalau disini aku hanyalah perusak hubungannya dia dengan rose, alias PELAKOR BAYARAN. Aku melirik jam yang ada dinding menujukan pukul 11.30, "Bik, jam berapa makan siangnya dimulai?" Aku berdiri di samping seseorang yang menggunakan dress hitam dengan Efron putih yang diikat dibagian pinggangnya. "Jam 1 non, biasanya tuan dan Nyonya makan siang dijam segitu," Jawabnya tetap fokus memotong sayuran. "Oh ya, namanya bibik siapa? Supaya enak panggilnya." "Panggil saya, bik na aja non. Biasanya tuan jenifer manggil saya suster ana." "Ouh..." Dia mengangguk dengan senyuman kecil diwajahnya. Dia terlihat muda dan cantik umurnya mungkin setara dengan ku dia ddipikir-pikir. "Bik na umurnya berapa?" Tanyaku penasaran. Dia menjawab, "40 tahun non." Aku shock melihatnya, "MASA?!" Pekikku terkejut. Mukanya awet muda. Putih gak ada kerutan, cantik sungguh gak nyangka kalau dia berumur 40 tahun. "Iya non hehe." Dia terkikik melihat keterkejutan ku. "Bik na blasteran? Ada keturunan orang Tionghoa?" Pasti ada pasti feeling ku benar. Kulitnya putih tanpa bulu, mulus mukanya cenderung kering. Gak ada bekas jerawat, Pori-pori besar flek hitam. Benar-benar sempurna. Kalau dah modelan kayak gini sih aku yakin bik na bukan orang indo asli. "Ah? Enggak non saya bukan orang cina." Aku menepuk keningku, "Ya siapa tau di keluarga bik na ada keturunan orang luar." "Oh gak ada non, saya asli indo. Tapi, mungkin nenek moyang bibik mungkin ya non. Mungkin aja soalnya bibik tinggal di dataran tinggi yang ada komplek permukiman orang Tionghoa nya," Jelasnya padaku. Aku mengangguk mengerti, "Sekarang masak apa bik? Biar saya bantu. Tapi saya gak bisa bantu banyak-banyak." Bik na kemudian berpikir, "hm..." Sambil melihat-lihat disekitarnya. Dia mungkin sedang mencari-cari sesuatu yang bisa aku kerjakan. "Non bantuin motong sayur sup aja, terus nanti ngupas bawang terus diiris untuk dijadiin bawang goreng. Udah sih non itu aja kalau yang matrng-matengin biar bibik aja. Nanti non bantuin bibik menata makanan dimeja." Bukan main dalam hati aku cukup kesal karena dia tanpa sungkan sedikitpun memerintahkan diriku. Huft Aku melakukan sesuai dengan perkataan bik na. "Bik, kenapa nama anaknya tuan james itu jenifer? Padahal dia cowok?" Tanyaku basa-basi. Masih banyak hal yang harus aku ketahui. Sambil bantu, sambil nanyak, sambil ghibah emang enak kali ya. Apalagi kalau didapur seperti ini merumpi memang pas untuk dijadikan percakapan. "Kurang tau non. Saya cuman tau nama lengkapnya tuan aja." Akupun penasaran dan bertanya, "Siapa nama lengkapnya bik?" Bik na menjawab, "Aldrick vans jenifer." WUH gilak namanya cakep benar dah aldrick vans gilak itu bukan main sih nama orang luar emang beda ya bund sama nama orang indo apalagi nama ku nisa hadeh kampungan banget dah! "Namanya keren banget bik, tapi kenapa jenifer yang dipanggil?" Tanyaku lagi mencari seluk beluk. "Saya gak tau non. Tapi saya tau kalau nama jenifer itu dari ibunya. Dari ibunya, atau nama ibunya, atau pemberian nama ibunya yang ingin anak perempuan gitu. Ya semacam itulah non. Bibik gak tau persis." Aku mengangguk mengerti. Sepertinya aku akan mencari tau lebih dalam tentang mereka. Agar bisa menjalankan tugasku dengan baik. Terutama melihat sikap jenifer tadi, dia seperti orang yang dipengaruhi sesuatu. Untuk anak seumurannya, dia bertingkah sangat berlebihan. "Bik, jenifer itu anak kandungnya rose?" Tanyaku lagi mengingat-ingat. Bik na menggeleng, "Enggak non, tuan jenifer anak pertama dari istri tuan james." Aku mulai penasaran, "Dimana istrinya bik?" "Dia sudah meninggal non." Aku terpaku. Seketika aku berhenti mengupas bawang. Entah kenapa feelingku berkata bahwa rose, jenifer, istri pertama tuan james, mereka bertiga memiliki ikatan yang harus aku ketahui seluk beluknya. Aku harus tau tentang mereka semua yang saling berkaitan. Aku menata makanan diatas meja, makanan yang sudah matang dan sudah disiapkan bik na untuk aku tata.  "Bik, kalau saya tanya-tanya tentang keluarga ini, apa bik na bisa menjawabnya?" Tanyaku pelan saat hendak mengambil mangkok supnya.  Tampak bik na ragu untuk menjawab, "Saya bisa menjawab beberapa hal saja non. Mungkin gak semua yang non tanyakan bisa saya jawab. Tapi saya akan berusaha menjawab semampu saya non." Aku mengangguk mengerti. Pertama-tama yang aku butuhkan ada handphone! Aku butuh handphone dan sepertinya aku harus memebelinya. Supaya aku bisa mencatat semua hal yang aku butuhkan.  But.... Kenapa aku justru penasaran dengan mereka? Dan kenapa pula aku ingin tau? Apa aku benar-benar ingin membantu james?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD