James baru saja tiba. Dia segera masuk keruang makan untuk makan siang, saat dia hendak duduk tiba-tiba dia berhenti dan bertanya, "Dimana jenifer?" Tanyanya pada rose yang bersamaan hendak duduk juga namun berhenti ketika james bertanya padanya.
Sesaat dia berpikir, "Jenifer ? Dia tidur." Kata-kata nya seolah-olah dia tidak peduli atau terkesan bodo amat.
"Panggilkan dia, suruh dia bangun dan makan bersama kita," Titah james sambil membenarkan posisi duduknya.
Sedikit kaku dan canggung aku ikut duduk di kursi yang agak jauh dari mereka.
"Baiklah." Rose yang tadinya sudah duduk kini berdiri dan memanggil jenifer agar ikut makan bersama kami.
Aku sedikit canggung dengan suasana disini tidak biasa. Bahkan tidak pernah kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah makan bersama dimeja yang panjang seperti ini.
"Nisa, kenapa kamu duduk diujung sana? Kemarilah duduk disampingku."
Baru saja aku hendak membalikkan piring yang ada dihadapanku namun kini aku mulai ragu-ragu untuk tetap berada disini, atau pindah ketempat yang james perintahkan. "Aa.. Aku disini aja," Jawabku setengah ragu-ragu.
"Duduk lah disini, kamu tidak perlu duduk sejauh itu."
Aku menggeleng sambil tersenyum, "Tidak-tidak aku disini saja."
Namun tiba-tiba para pengawal berjas hitam menghampiriku, "Akh- baiklah aku akan pindah." Sebal kenapa dia harus terus-terusan memakai pengawalnya itu.
"Gadis manis..." Goda james memegang daguku.
Aku langsung menampiknya. Dia terlihat seperti psikopat kebanding seorang pria yang ingin menggodai wanita.
"Kemarilah sayang, duduk disini." Rose menuntun jenifer untuk duduk disampingnya,
"What are u doing here?"
Mendengar suara jenifer, aku bertanya-tanya siapa yang dia tanyain? Aku? Aku menengok kekanan dan kekiri lalu menujukan diriku sendiri, "Me?" Tanyaku padanya.
Dia mengangguk, "Yes u are!"
"Eaten."
James mencoba membuat jenifer untuk mengerti, "She is your momy. So respect her."
Jenifer bergeming dia tidak lagi berbicara sepatah katapun. Kami makan dalam diam tidak ada yang berbicara. Sesekali rose menyuapi jenifer. Aku hanya menyaksikan interaksi mereka berdua.
Benar-benar canggung dan ini sangat memengapkan udara.
"Hari ini aku mau kumpul sama teman-teman ku,mau shoping sama karaoke. Nanti malam mau clubing. Aku ingin menghabiskan waktu bersama teman-teman ku." Rose meminta ijin pada james saat dia sudah selesai menyuapi jenifer.
"Sudah, sekarang kamu boleh main," Ujarnya pada jenifer.
Jenifer mengangguk dan pergi keluar diikuti seorang pengawal dan satu suster yang mengikutinya.
Aku geleng-geleng kepala, 'Banyak sekali pengawal dirumah ini.' batinku melihat para pria berjas hitam. Semuanya memakai airpod dan kabel yang melingkar di telinga belakang mereka.
"Terserah kamu," Jawab james tak peduli dengan rose.
Selesai makan rose pergi begitu saja menyisakan aku dan james. Aku yang hendak membersihkan meja dihentikan oleh james, "Biarkan bik na yang melakukannya dia memang bertugas dibagian dapur," Ucapnya
Sesaat aku melihat kearah bik na, kemudian mengangguk mengerti. Aku meletakkan kembali piring-piring yang aku pegang.
"Ini." James memberikan aku paper bag yang berisi kotak didalamnya.
Tentu saja aku tau didalamnya ada kotak karena paper bagnya kelihatan jelas dan berbentuk sesuai isi didalamnya, "Apa ini? HP?" Tanyaku mengambilnya.
"Lihat saja."
Aku menurutinya dan membuka paper bagian yang dua berikan. Benar saja didalamnya kotak HP.
"Kamu akan tinggal disini beberapa hari. Aku memberikan alat komunikasi untuk bisa menghubungi mu. Tenang saja aku akan memfasilitasi mu selama tinggal disini. Satu pengawal pribadi untukmu dan satu orang suster untuk membantumu dikamar jika kamu membutuhkannya," Terang James menjelaskan.
Aku hanya melongo sambil mangut-mangut, 'Seberapa kayanya sih nih orang. Dinegera asing aja dia bisa sekaya ini apalagi kalau dinegaranya dia sendiri?' aku geleng-geleng membayangkannya.
"Aku akan pergi kekantor untuk mengurus pekerjaan, jadilah good Girl selama dirumah."
Aku mengangguk sambil terpejam mendengar perintahnya. Dia melenggang pergi meninggalkan ku yang masih terduduk dimeja makan.
Mataku membulat melihat kotaknya, "GILAK!" IPhone 12 pro max
Namun tiba-tiba aku tersenyum miring. Didalam hpnya pasti dia sudah memasang sesuatu makanya dia memberikan aku HP semerek dengan airpod yang dipakai para pengawalnya.
"Pasti ada alat pelacak," Ucapku membolak-balikkan kotak hpnya.
Masih tersegel dan belum dibuka. Tapi siapa yang tau kalau disana sudah dibuka sebelumnya kemudian disegel kembali? Jaman kan semakin canggih.
'Mending aku jual kali, terus beli HP yang kualitasnya setara yang harganya jauh lebih murah!' dewi uang tersenyum indah padaku.
'Ah nisa kamu cerdik sekali!'
Lalu aku kembali bertanya-tanya, 'Ini aku bisa keluar atau enggak ya untuk jual HP. Kira-kira di kasih atau enggak?'
'Lalu kalau aku mau bilang ke conter HP kira-kira bilang mau ngapain? Beli barang?' aku menggosok-gosok daguku dengan jari telunjuk memikirkan cara agar bisa menjual HP ini dan menggantinya dengan HP yang lebih murah.
Bilang aja dulu, usaha aja gagal urusan belakangan! Batinku menyemangati diri sendiri. Membulatkan tekad dan memantapkan mental!
'Manggilnya pak atau kak ya?' aku kembali Bertanya pada diriku sendiri. 'Ah pak aja bodo amat diakan pengawal!'
"Pak! Anterin saya ke counter HP!"
Para pengawal lain yang mendengar perintahku terkikik menahan gelak tawanya.
"Kenapa ada yang salah?" Tanyaku pada mereka.
Namun mereka segera menggeleng dan menegapkan kembali badannya.
"Ayo non, mari saya antar."
Wah! Daebak! Aku bisa keluar dengan mudah. Ah kalau keluar minta ijin emang diperbolehkan kali mungkin, tapi kalau pergi nyelonong tanpa meminta ijin mungkin aku akan dicegat oleh mereka.
Dia mempersilahkan diriku untuk jalan lebih dulu. Aku kebingungan karena harus berjalan kearah mana.
"Mari non saya antar," Ujarnya.
Dengan ragu-ragu aku melangkah lebih dulu kemudian dia mengikutinya. Tidak dia tidak mengikutiku tapi seperti aku yang mengikutinya karena beberapa kali aku harus berbalik badan memastikan dia tetap ada dibelakangku. Aku kebingungan untuk berjalan, wajar saja aku baru disini. Dan sudah minta pergi keluar.
"Mari non.." Dia membukakan pintu mobil, menyuruhku untuk masuk kedalam.
"Kita ke counter HP yang dimana non?" Tanyanya saat dia sudah duduk didepan dibagian kemudi.
Aku gelagapan bingung mau menjawabnya, "Aa.. Yang di Teuku umar aja."
Mendengar perintahku dia menganggukan kepala, "Kita mau ngapain kesana non?"
"Mau beli aksesoris HP," Dustaku tersenyum indah. Ah tidak tau saja aku akan menukarnya dengan HP lain.
"Pak, boleh pinjam HP mu sebentar?" Aku meminta ijin meminjam hpnya untuk searching Google setidaknya aku harus mencari-cari tipe HP yang aku inginkan.
"Boleh non." Dia memberikan handphonenya namun sebelumnya dia membuka lebih dulu kata sandinya.
Baik sekali, sepertinya dia tidak mengawali james. Memang dikhususkan untuk mengawal wanita sepertiku atau Jeniffer.
Aku mulai browsing merek HP yang terbaru dengan kualitas bagus namun harga jauh dibawah. Xiaomi adalah merek dengan harga miring dengan ram besar dan kamera yang cukup bagus.
Samsung dan iPhone bersaing ketat dengan harga yang tidak jauh beda. Tapi seriesnya bisa lah mengembalikan 2/3 harga HP yang ada dipangkuanku saat ini.
'Mending mana ya? Xiaomi? Oppo? Vivo? Realme? Samsung?' kenapa aku tidak ingin iPhone ? Karena iPhone ios dan ios sama seperti Microsoft. Tipe HP yang susah untuk digunakan dibanding dengan sistem android. Aku lebih suka pakai sistem android bodo amat sama gengsi yang penting kualitas gak jauh beda.
Samsung? Ram 8gb kamera belakang 48pixel snapdragon.harga 6jt
Xiaomi? Ram 8 gb kamera belakang 48 pixel snapdragon, harga 3 jt.
Harga xiaomi emang melesat jauh
Hum aku kembali berpikir harga handphone ditanganku sekitar 18jt kalau beli baru kalau aku jual baru dengan masih segelnya mungkin gak jauh-jauh banget paling gak aku masih dapat 16-17 kalau aku beliin HP masih ngantongin 10 jt.
Mataku berbinar membayangkan uangnya.
Ah mending xiaomi aja dah gak jauh beda kualitas 11 12. Aku memantapkan diri.
Mampus deh lo tuan james gak bisa ngelacak HP gua karena gua ganti HP. Trututututu aku berjoget joget ria didalam mobil.