Hp Terjual

1222 Words
James menatapku tajam-tajam. Matanya seperti elang yang siap mencengkram mangsanya. Aku seperti mangsa yang siap dia terkam. "Apa ini?!" Sontak bahuku terangkat terkejut dengan suaranya. Hahaha tentunya dia marah karena telah aku jual handphone pemberiannya dan membeli HP baru. "Aku gak bisa pakai iPhone," Jawabku to the point. James menatapku gregetan dan dia meremas rambutnya, "Kamu berpendidikan tinggikan nisa? Kamu bisa mempelajari nya?" "IPhone sama kayak Microsoft, harus pakai email khusus untuk akun sistemnya. Terus pelit untuk berbagi. Sulit untuk dimengerti. Banyak aplikasi yang tidak ada di sistem mereka." "Argh- kau!" James kembali membentak diriku. "Lagipula kenapa kamu semarah itu? Bukankah itu hanya handphone biasa? Ini juga handphone sama-sama digunakan untuk berkomunikasi," Elakku membela diri. James berkali-kali memukuli dahinya, "Yang aku heranin, kenapa kamu menjual HP mahal itu dengan HP yang murah ini?! NISA..." Tanyanya dengan menekan namaku. Aku memanyunkan bibir, "Aku sudah mengatakan alasannya tadi." Tidak, tidak. Itu bohong aku hanya ingin mendapat uang tambahan, setidaknya aku bisa membeli lebih banyak barang dengan uang itu. Aish- kenapa Tuan James sangat marah padaku. "Lagipula kenapa kau semarah itu denganku? Bukankah itu bukan hal penting untukmu? Kau memiliki banyak uang! Menjualnya tidak akan mengurangi uang didalam rekening mu iyakan?" Lagi-lagi aku membuat pembelaan diri. "Kau!" Dia menunjuk kearahku. "Kenapa? Apa didalam HP itu ada barang penting? Apa didalamnya ada brangkas harta karun? Apa kau sedang menaruh bom disana?" Aish dia pasti sudah meretas programnya agar bisa mengawasiku. Dia juga pasti sudah mengutak-atik hpnya dan menaruh semacam alat pelacak. Aigo aigo dikira aku b***k kecik apa? James menghembuskan nafasnya, dia mengusap-usap keningnya frustasi dengan diriku. "Nih.." Aku menyerahkan segepok uang yang sekiranya adalah denda ku tadi padanya. Denda berusaha kabur. Huhu aku ingin menangis tidak rela untuk memberikan itu padanya. Tapi aku harus ikhlass.... "Apa ini?" Dia mempertanyakannya. "Uang dendaku." Dia semakin menggeram frustasi melihat diriku, "Kau!" Awalnya dia menunjuk kearahku kemudian dia mengepal tangannya, "Lupakan uang ini, aku akan membebaskan dirimu. Berikan ini pada pak Thomas." James memberikan kotak hpku pada pengawalnya. "Hpmu akan dikembalikan sebentar lagi. Kamu bermainlah dulu dengan Jeniffer. Pengawal akan memberikan HandPhonenya padamu nanti." Aku mengangguk meninggalkan nya persis seperti rakyat jelata yang menurut pada perintah tuannya. Aku tersedu-sedu, James pasti mengutak-atik hpku sekarang. Feeling ku pasti benar! Tidak mungkin dia membiarkan aku hidup tenang, memberikan HP begitu saja padaku. Pasti ada alat semacamnya didalam sana yang akan dia taruh. 'Kenapa pula dia harus semarah itu?' batinku bertanya-tanya. Ah padahal aku udah senang tadi. Senang kegirangan namun tiba-tiba saja. Flashback on "Mbak ingin menukarnya dengan xiaomi note 10s?" Tanya mbak SPG itu memastikan. Dia pasti heran kenapa ada orang yang mau menukar iPhone dengan HP merek cina yang terkenal dengan harga super duper murah. Aku mengangguk, "Iya mbak, saya ingin menukarnya." Sementara teman yang ada di sampingnya menahan senyumannya. Sepertinya dia merendahkanku dikiranya aku tidak mampu untuk membuang-buang uang hanya demi HP elit begini. Yang tentu dia benar aku tidak mampu, inikan yang beliin James kalau aku mah ya gak akan buang-buang duit untuk barang mati. "Ini ya mbak, notanya. Uangnya dalam bentuk cash, dan ini handphonenya yang mbak inginkan. Mau di program dulu hpnya?" "Boleh." Mbak SPG itu menuntunku duduk kesofa. Dia mulai menghidupkan ponselnya dan memasukan kartu SIM yang baru aku beli. Kalian bertanya dimana pengawalku?dia ada dimobil. Karena counternya cukup kecil tidak begitu luas dia menjagaku dari luar. Matanya cukup jernih untuk memastikan apakah aku sudah keluar atau belum. Lagipula counter ini terbuat full dari kaca, jadi semuanya transparan dia bisa melihat semuanya. "Sudah mbak. Ini handphonenya sudah bisa dipakai. Sudah saya isi w******p, f*******:, i********: dan beberapa aplikasi lainnya yang mbak butuhkan. Mau download lagi aplikasi lainnya? Mumpung pakai wifi." Aku menggeleng, "Enggak usah." Nanti saja di mobil aku download supaya cepat pulang. Dan lagipula aku punya cukup uang untuk beli kuota, dirumah James pasti ada wifi. Karena aku lihat kebanyakan dirumahnya memasang alat yang membutuhkan sinyal internet. "Makasih ya mbak..." Pamitku pulang setelah memasukan semua barang-barangku kedalam paper bag. "Makasih kembali mbak, semoga senang dan datang kembali kesini." Betapa indahnya aku tersenyum melihat segepok uang didalam paper bag ku. 14jt ada didalam GENGANGGAMANKU! Tunai! Cash! Aku gak pernah memegang uang sebanyak itu berwujud kertas biasanya hanya berbentuk kartu bahkan saat aku dulu menjadi model.. Ah dulu jauh sebelum menikah dengan bisma. "Apa yang akan aku beli dengan uang ini? Baju? Tas? Sepatu?" Mataku berbinar-binar membayangkannya, "Ah aku belanja dimana?" Aku bertanya sambil berjalan menuju mobil. "Mungkin aku aka mendownload aplikasi s****e karena banyak yang membicarakannya tadi saat aku berada didalam counter." Aku berjalan sambil mengayun-ayunkan paper bag ku. Namun tiba-tiba saja aku terkejut tadinya tidak ada mobil pengawal dibelakang mobilku. Sekarang mobil itu menyamar diantara para mobil yang terparkir dipinggir jalan. Aku masuk keheranan, "Kenapa aku diawasi ketat begitu?" Tanyaku pada pengawal yang ada didepanku. "Karena nona telah melanggar aturan tuan James." Aku mengerutkan kening kebingungan, 'Tadi rasanya hasil browsing ku sudah aku hapus. Aku juga menghapus jejak searching ku. Kenapa bisa ketahuan?' Tiba-tiba aku terkesiap, 'GILAK! Apa James benar-benar maju dalam teknologi seperti yang ada di film-film?' Aku mengetuk-ngetuk keningku sesekali menggigit jempolku. James pasti sedang menunggu dirumah? Dan siap untuk menerkam diriku. Ngomong-ngomong sedekat mana kantornya bolak-balik cepat dan seenaknya pulang pergi? Aishah! Nisa! Bisa-bisanya bertanya hal lain sementara kamu lupa kalau nyawamu dalam bahaya. Hidupmu dalam terancam saat ini! Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal gimana caranya supaya aku bisa bersikap tenang saat nanti diintegrasi olehnya? Flashback off Aku menghela nafas berat, susah juga berurusan dengan orang asing. Mereka seperti bukan orang biasa, sangat pandai dengan bergerak begitu cepat. Aku menghela nafas berat melihat langit, "Sampai kapan aku akan tinggal disini?" Aku melihat jenifer sedang menonton film lewat layar tancap buatan. Bermodalkan laptop dan mini led dia menonton dibelakang kursi ayunan. Akupun ikut menonton dan duduk disampingnya. Jeniffer menonton sambil bermain mobil-mobilan. "Main apa?" Tanyaku berusaha akrab denganya. Dia jengah melihatku bahkan dia bangun menjauh saat aku mendekatinya. Aku menghela nafas dia mungkin takut denganku. Apa wajahku seseram itu dimatanya? "Sesaat aku kira kamu adalah kunti." Shit! Gak anak, gak bapak sama aja! Bisa-bisanya wajah secantik diriku dibilang KUNTI? Aku mengusap-usap dadaku menahan kesabaran sementara suster yang mengajak jenifer menahan gelak tawanya. "Adik ganteng, kamu imut sih tapi kenapa menyebalkan?" Tanyaku menoel-noel pipinya yang gembul. "Are u sure? Aku menyebalkan?" "Ya.." Jawabku dengan anggukan kepala. "Itu karena dirimu membuatku begitu muak." Aku mengigit bibir mendengar jawabannya, bukannya makin tenang gitu malah makin panas. Bisa-bisanya seorang anak kecil ngomong seperti itu. "Lagipula, apa yang kamu lakukan disini? Apa kau juga berusaha memisahkan ibu dan ayahku?" Aku menggaruk-garuk kepalaku, siapa juga yang mau berurusan dengan keluarga ini. Tapi memang begitulah tugasku. "Ah boy, kau terlalu kecil untuk mencampuri urusan orang tua," Ucapku berusaha menenangkannya aku tidak ingin membesar-besarkan masalah. "Aish-" Eh? Apa itu tadi? Dia meremehkan diriku? Dia menyunggingkan senyumannya? Auhh kenapa ada bocah seperti ini didepanku. "Kau meremehkan diriku?" Tanyaku padanya menunjuk kearah senyumannya. Dia tersenyum miring, "Jika aku anak kecil, aku adalah anak kecil bermerek OshKosh B'Gosh. Bukan seperti mu wanita dewasa yang hanya bermerek label abal-abal." Aku menganga tidak percaya dengan dirinya. Rasanya didalam hatiku penuh umpatan, "Lupakan berbicara denganmu. Lebih baik aku masuk kekamar dan merapikan barang-barangku." Aku pergi meninggalkan dirinya. Sial! Apa itu tadi? OshKosh B'Gosh? Merek abal-abal. Dikira aku barang! Sialan bocah itu berani-beraninya meremehkan diriku! "Argh!" Aku berjalan sambil mengacak-acak rambut frustasi dengan tingkah anaknya James.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD