"Arghhhh.." Entah berapa kali aku menggeram frustasi didalam kamar.
"Why? Why? Why? Kenapa aku harus tinggal disini?" Aku melentangkan kedua tangan menatap langit-langit, "Dosa apa yang aku perbuat sampai berurusan dengan mahluk dajjal seperti mereka! Ahh s**t!" Kini aku Bertelungkup. Menenggelamkan diri dibawah bantal.
Tok! Tok! Tok!
Aku menggaruk-garuk kepala malas mendengar ketukan pintu, "Siapa lagi?" Tanyaku enggan bangun dari tempat tidur.
"Ini saya non, pengawal anda. Saya ingin memberikan Handphone anda," Kata seseorang dari balik pintu.
"Bukanlah pintunya tidak dikunci."
Hump!
Jantungku hampir saja copot saat dia tiba-tiba melemparkan kotak hpnya padaku, "APA HPNYA HARUS DILEMPAR?!" Tanyaku memekik mengibas-ngibaskan telapak tangan. Emosiku meledak.
"Maafkan saya non."
Dia pasti sengaja melakukannya!, "Nama kamu siapa?!" Umurnya pasti masih muda. Makanya tadi para pengawal lainnya tertawa saat aku memanggilnya dengan sebutan pak.
"Daniel non. Nona bisa manggil saya dengan sebutan mas dani."
Idih najis! Mas? Aruhhh kampungan. Kelihatannya aja maskulin tapi giliran kenalin namanya udah kayak fuckboy kampungan.
"Oke dani, by the way umur kamu berapa? Biar saya gak salah sebut lagi. Saya malu diketawain sama yang lain."
"Umur saya 30 non."
Aku menepuk jidatku lagi-lagi bersikap tidak sopan. Dia lebih tua tapi aku panggil dengan sebutan kamu, "Mas ya? Gak ada yang lain panggilannya?"
Dia melirik ke kanan dan kekiri sambil mengerutkan keningnya, "Gak ada non."
"Oh ya udah mas dani. Udah kan gak ada urusan lagi? Ditutup pintunya ya mas."
Dengan wajah masam mas dani keluar seraya menutup pintunya.
Asyik! HP dah ditangan. Sekarang mau belanja online!
Download aplikasi ini itu
Tiktok
Snack video
Innovel
Dana
Gojek, grab
WPS
Shopee
Lazada
Done!
Jangan lupa 4 permainan sebagai hiburanku... Ah baru kali ini berasa diangkasa bebas diatas awan. Terbang kesana kemari.
Shopee
Shopee
Notikasi masuk setelah aku mendaftar.
"S-We-at-er." Aku mengetik di kolom pencarian dan melihat beberapa sweater yang cukup menarik, "Ihh murah-murah ini bagus gak ya?" Kemudian aku membaca review pembeliannya.
Tas
Sepatu
Dompet
Celana
Rok
Kemeja
Dress
Baju
Jacket
Troliku sudah 240 barang sekarang, "Banyak banget." Aku kembali mengecek satu persatu, "Ah ini beli satu aja." Mengurangi satu barang yang sama dengan arna yang berbeda, "Pilih warna apa ya? Ungu? Putih?" Aku kembali memilah-milah tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.20.
Aku bersorak kegirangan melihat barang-barang unyu yang ada di marketplace mereka. Badan tidur telungkup mengayun-ayunkan kaki kiri dan kanan keatas dan kebawah secara bergantian aku memilih kembali barang yang aku incar.
"Uwu... Bagus banget."
"Ihh ini juga kiyowo."
"Jinja!" Aku memasukannya kedalam troli, "Aaaa bagus banget. Omo..."
Begitulah aku kegirangan melihat barang-barang yang ada di aplikasi oren tersebut.
Ah udah sip! Aku memastikan barang-barangnya, saat aku mencentang semuanya. Barang yang banyaknya 357 itu senilai 20.356.789 rupiah. Jiwaku langsung mleyot melihatnya
"Ya ampun banyak banget hiks..." Aku mengurungkan niatku dan memilah kembali barang-barang yang aku hendak beli dari 357 barang menjadi 201 barang namun entah kenapa total pembayarannya tidak jauh beda.
Harga yang harus aku bayar adalah 15.235.670 rupiah.
Akhirnya aku menghapus beberapa barang yang tidak aku perlu kan dan hanya memasukan barang yang aku butuhkan boom!
Total pembayarannya 3.500.460 rupiah
Ku lemparkan hpnya begitu saja diatas kasur, "Antara niat belanja untuk upgrade diri sama belanja ngabisin uang saku gak beda jauh."
Aku kembali tidur telungkup pasrah, "Begini banget nasib orang miskin kalau mau belanja."
Tok! Tok! Tok!
"SIAPA?!" Lagi emosian juga masih aja ada yang ngetuk pintupintu, ganggu aja.
"Saya suster non, atas perintah tuan James untuk menaruh kebutuhan nona dikamar."
Aku mengatur pernapasan menahan emosi, "Masuklah, pintunya tidak dikunci."
"Baik non."
Suster itu kemudian masuk sambil mendorong troli bell boy. Trolli yang biasanya ada di hotel-hotel. Aku juga kebingungan kenapa dirumah ini ada troli sebesar itu. Di dalamnya ada 3 koper, entahlah isinya apa aja didalam koper tersebut.
"Tuan membelikan beberapa pakaian, Outwear dan underwear untuk nona."
Mataku sontak membulat saat suster tersebut mengatakan underwear. Yang benar saja?! Apa dia tau ukuran ku?
"Ada tas dan dompet juga?" Tanyaku mendekati trolinya. PELIT! Dia hanya membelikan satu koleksi. Padahal kaya dan banyak duit, menyebalkan!umpatku dalam hati.
"Iya non," Jawab suster tersebut sambil menata satu persatu pakaianku didalam lemari.
"Semua ini untukku?" Tanyaku takjub melihat koleksi pakaiannya. Sungguh seleranya cukup tinggi pakaiannya bagus-bagus semua.
"Iya non."
Aku mengambil salah satu set pakaian yang sudah digantung oleh suster tersebut, "Wah! Daebak!" Aku berputar didepan cermin yang berada disamping lemari.
"Jinja! Ini pasti sangat mahal!" Ujarku takjub dengan pakaian yang bertengger di lemari ku saat ini. Bahan berkualitas tinggi, model yang beraneka ragam, Warnanya yang soft dan tidak norak. Pakaian itu pasti merek dari brand terkenal.
"Siapa yang membelikannya?" Tanyaku pada suster tersebut.
"Sepertinya tuan James. Tuan memiliki toko sendiri namanya Victoria Raya atau disingkat VR."
"VR?" Tanyaku mengingat-ingat namanya. Kalau tidak salah saat bisma memperjualbelikan aku dulu, aku pernah mendengar nama itu.
"Non, pasti tidak asing dengan namanya. VR adalah perusahaan yang bergerak dibagian real estate."
"Real estate?"
"Iya non real estate adalah real estat adalah sebuah istilah hukum yang mencakup tanah bersama dengan apa pun yang tinggal tetap di atas tanah tersebut, seperti bangunan atau proyek. Lahan yasan sering dianggap sinonim dengan real property, kontras dengan hak milik pribadi. Contoh real estate sendiri di antaranya adalah lahan, rumah, mal, apartemen, gedung perkantoran, pabrik, hingga bentuk-bentuk bangunan lainnya."
"Ouh.., jadi tuan James punya real estate pribadi? Ada mall, apartemen, gedung perkantoran dan pabrik juga?"
"Iya ada fasilitas lainnya juga seperti tempat olahraga, rumah sakit dan sekolah."
Astaga, kaya banget pastinya. Aku berdecak kagum sambil keheranan. Itu dia bangun sendiri? Atau kerjasama dengan orang lain? Bisa bangun sebanyak itu, ah pasti ada penggelapan dana. Tidak mungkin tidak.
"Oh ya non, Tuan James meminta anda untuk membantu bik na memasak. Katanya dia ingin memakan makanan yang dibuat nona."
Aku menganga mendengarnya. Yang benar saja? Aku disini untuk bantu dia cerai? Atau masak untuk dia? Dia ingin mempermainkan diriku, YA?!
"Non," Panggil suster saat aku hanya berdiam diri.
"Ah ya, saya akan kedapur."
Dasar JAMES! s**t! Dia manusia atau Iblis?! Dia memanfaatkan diriku disini, terus mempermaikanku, memerintah diriku sesuka hatinya.
"Bik na, ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku pada bik na dengan nada semanis mungkin. Pura-pura Alim, bersikap manis padahal didalam hati sedang mengumpat-umpat.
Bik na yang tadinya sibuk memotong ayam menjadi beberapa bagian langsung berhenti mendengar suaraku, "Ah nona. Apa tuan James menyuruh nona datang kemari lagi?"
Aku hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.
Bik na kemudian melihat kearah pantry dimana beberapa hidangan sudah tersaji, "Bibik belum siapin dessert untuk makan malam. Apa nona bisa membuatnya?"
Aku tersenyum lebar sambil.menjawab, "Bisa bik, mau bikin dessert apa?"
"Tart mini fruit, sama fruit scone aja biar cepat non."
Aku tersenyum mengangguk, mengiyakan perintahnya.
Fruit scone? Hahah aku tertawa dalam hati, mampus gak tuh pakai pengembang roti. Aku gak pernah masak, disuruh pakai buat roti-rotian segala. Apa gak mampus tuh hasilnya nanti? Kedikitan gak ngembang, kebanyakan letih.
Nah hayo, nisa... Harga dirimu sedang dipertaruhkan pada masakan. Siap-siap nanti dapat komentator juri.
Aku menghela nafas panjang, "Bik, bibik ada resepnya? Untuk buat fruit scone?" Tanyaku menyerah setelah berhasil membuat adonan tart. Aku tidak ingin mengira-ngira untuk sconenya.
"Ada non, Sebentar ya non selesai bibik masukin ayamnya ke oven."
"Ya bik."
Bik na kemudian membantu memasak fruit scone nya terutama adonannya. Dia menimbang beberapa bahannya dan aku tinggal memgaduknya menjadi satu.
"Udah siap non, tinggal di bake sama tartnya nanti kemudian dihias."
"Makasih bik, kalau gitu saya buat krimnya untuk hiasannya."
Bibik mengangguk dan kembali mengurus ayam panggangnya.
Semua hidangan sudah tersaji diatas meja. Aku menatanya satu persatu. Beberapa piring, sendok dan garpu serta gelas juga sudah aku tata dengan rapi.
Tiba-tiba tangan besar dan kokoh melingkar dari belakang dipinggang ku, "Makasih cantik, udah siapin makan malam untuk kami," Ucapnya sambil mencium pipi kananku.