Desakan

1159 Words
Tiba-tiba tangan besar dan kokoh melingkar dari belakang dipinggang ku, "Makasih cantik, udah siapin makan malam untuk kami," Ucapnya sambil mencium pipi kananku. Dia melepaskan tangannya dari pinggangku, dengan secepat kilat aku membalikkan badan. Plak! Aku langsung menampar pipi kirinya. Mulutnya menganga lebar terkejut akan reaksi ku, "Area u seriously baby? What are u doing to me?!" Tanyanya tidak setuju dengan tamparanku. Aku tersenyum penuh kemenangan, "Siapa suruh asal nyosor main peluk-peluk plus cium-ciuman!" Aku kembali menata sendok yang ada ditanganku. "Kamu melukaiku baby.." Ucapnya tersendu-sendu tentu saja dibuat dramatis olehnya. Aku memutar bola mata malas melihatnya, "Apa kamu kurang belaian wahai Tuan James?" "YES!" Ujarnya penuh semangat dan b*******h. Seperti orang Indonesia dengan semangat 45. Menjijikan! Umpatku dalam hati, "aduduududu ternyata Tuan James ku ini butuh belaian kasih sayang?" Tanyaku sambil mengelus pipinya dengan punggung jariku layaknya wanita nakal. "Yez, baby. Jadi rencana apa saja yang sudah kamu siapkan untuk memisahkan ku dari rose?" "Ekhem ekhem hem.." Seketika tenggorakan serak dan menjauhi dirinya. Sial! Dia tidak memberikan aku hidup tenang. "Aku membawamu kesini untuk misi, dan jangan harap kamu bisa bersenang-senang begitu saja." "I know I know, i'm very well understand Mr.James." Aku duduk di kursi yang ada disisi kirinya. Dia menopang dagunya dengan kedua tangannya, "Dimana jenifer?" Tanyanya. Namun aku kebingungan siapa yang dia tanya? Hanya ada aku disana, dan bik na baru datang membawa nampan berisi hidangan makan malam yang belum aku bawa. Aku dan bik na saling bersitatap kebingungan, pasalnya sama-sama tidak tau dimana keberadaan jenifer. "Nisa.." Panggil James akhirnya membekukan suasana. "Ah.. Anu." Aku gelagapan, pasalnya sejak tadi aku tidak berurusan dengan bocah siapanya itu. Dan aku dihadapi induk yang kehilangan anaknya. "Aku akan mencari dikamar!" Ujarku pada akhirnya setelah kebingungan dan berpikir cukup lama. Aku menerka-nerka berjalan menuju kamar, yang sepertinya kamar jenifer dimana tadi rose membawanya masuk kesana. Tok! Tok! Tok! "Tuan, jenifer ini saya Nona Nisa. Apa anda ingin makan malam bersama kami?" Panggilku dari balik pintu. Hening, Tidak ada jawaban satupun dari dalam sama. Saat aku hendak mengetuk pintunya kembali, seorang maid membukakan pintu dari dalam dan jenifer keluar dengan pakaian rapi. Sepertinya dia baru saja mandi. "Mari tuan," Ucapku hendak menuntunnya namun dia menolak. "Aku bisa jalan sendiri." Errgg! Aku menggeram kesal mendengarnya. Siapa juga yang ingin menggendongnya dikiranya aku tidak akan membiarkan dia jalan sendiri? Aku mengibas-ngibaskan tanganku gerah dengan suasana dirumah ini. "Where's mommy?" Tanya jenifer melihat ke kiri dan ke kanan Mencari-cari sosok rose. "Dia tidak akan pulang sampai larut malam. Makanlah, jangan menunggu dirinya datang baru makan," Mendengar perintah daddynya dia mengangguk dan duduk dikursinya. Bik na menyajikan makanan untuk jenifer, suster lainnya menyajikan makanan untuk Tuan James dan aku. Entah berapa banyak pembantu dan pengawal yang dia punya dirumah ini. Tidak ada pembicaraan apapun dimeja makan. Sepertinya memang tradisi keluarga untuk tidak berbicara, bahkan seingatku tadi rose bicara saat dia akan selesai makan. "Dad, i'm finish. I want to sleep." Jenifer beranjak turun dari kursinya. James yang mendengarnya langsung menaruh sendoknya, dia segera membantu putra semata wayangnya itu untuk turun dari kursi, "Okey boy, goodnight and nice dream," Tuturnya mengelus-elus puncuk kepala jenifer. Jenifer mangut-mangut dan berjalan menuju kamarnya. Kini dimeja makan tiba-tiba saja suasana sedingin kutub es. Atmosfer terasa mencekikku dan mencengkram. James menatapku lekat-lekat. "What do u see?" Tanyaku gelagapan menghindari tatapan tajamnya. Dia justru memutar bola matanya malas, "Apa kamu sudah menemukan sesuatu yang spesial untukku?" "Seperti mini tart ini?" Tanyaku mencairkan suasana. Namun sepertinya dia tampak tak senang dengan sikapku yang bermain-main. Dia kini menyadarkan punggungnya di kursi, "Apa dipikiranmu hanya uang dan belanja?" Oh ya tentu saja. Belanja membuatku tenang, ucapku dalam hati. Dan sekarang aku sedang memikirkan kalimat yang pantas untuk melarikan diri, "Tenanglah Tuan, aku mungkin akan mempelajari sesuatu dulu selama tinggal disini." Tuan James menghembuskan nafas berat. Dia kemudian memberikan kartu pink padaku. Aneh! Sungguh aneh! Itu seperti kartu member jika dilihat lihat. "Jangan belanja menggunakan aplikasi online." Pufff puff Aku baru saja memuncratkan isi mulutku. Sial sepertinya aku tertangkap basah. Sebisa mungkin aku menyembunyikan wajah maluku dihadapannya. "Ini ambilah dan simpan, kau bisa menggunakannya belanja di mall VR resorts. Supir akan mengantarkan mu nantinya. Jangan pernah menggunakan aplikasi pengantar apapun yang menggunakan alamat rumah ini!" Sekejap aku bingung dan berpikir kenapa dia melarang ku untuk menggunakan alamat rumah? Namun disisi lain aku belum selesai mengerjap kagum akan kartu yang ada dihadapanku saat ini. "Are u hear me nisa?" Tanyanya melihat diriku yang hanya fokus pada kartu pink tersebut. "Yes.." Pada akhirnya aku menjawab malas dan tidak menyentuh kartu tersebut. Walau aku begitu ingin mengambilnya, tapi Nisa saatnya kamu untuk jual mahal! "Ambilah." Dia menaruh kartu itu ditelapak tanganku, "Ini kartu member khusus yang hanya digunakan oleh keluarga. Jangan pernah menjatuhkan nya, menghilangkannya atau memberikannya pada siapapun." "Dan ya, jika kamu ingin belanja kamu harus menyebut nama-Ku sebagai tanda bahwa kamu adalah anggota keluargaku." Ah bukankah itu gampang? Siapapun bisa menyebut namanya jika belanja hanya saja mereka butuh membawa kartu ini sebagai akses tambahan? Hal yang mudah untuk nisa. "James Victor Anderson." Aku menganga saat dia menyebutkan namanya, "Apa namamu kurang panjang? Biasanya seseorang hanya memiliki dua kata dalam namanya apa kau memiliki banyak marga didalam namamu?!" Tanyaku setengah berteriak saat dia melangkah menuju ruang kerjanya. Aku memijit pelan pelipis, sepertinya hari ini aku cukup emosional dan butuh refresing. SHOPING! "AKH!" Aku mengaduh kesakitan saat seseorang tiba-tiba menarik rambutku. "LEPASIN!" "Kamu butuh refresing kan? Ya udah sini aku antar." Ini orang bisa-bisanya bikin hati berdebaran, "Gak perlu narik rambut segala ya kan?!" Tanyaku sambil meronta-ronta. "Terlalu romantis kalau aku menarik tanganmu." WHAT?! Seketika aku menepuk-nepuk dadaku menahan kesabaranku. Dia memaksaku masuk kedalam mobil, sungguh aku seperti tawanan ditangannya. "Kita mau kemana?" Tanyaku seraya merapikan rambut yang berantakan karena ulahnya. "Belanja, aku tidak mau melakukan kesalahan lagi. Kau pasti hanya akan menyimpan kartunya dan tetap belanja online. Demi mendapatkan harga yang lebih murah dan menghemat uang sakumu." Aih kenapa orang ini begitu memperhatikan ku? Lagipula dimana dia bisa tau aku menggunakan aplikasi belanja online? Sial! Jika begini terus aku tidak bisa menikmati seluruh uangku. "Oh ya! Bukankah kau sudah berjanji akan memberikan investasi padaku?" Dia menaikan sebelah alisnya, "Tentunya akan kuberikan. Nanti, bila kau pantas menerimanya sebagai imbalan." Menyebalkan! Umpatku dalam hati. "Kita kemana?" Aku melihat dari balik jendela mobil, jalan raya yang begitu luas dan lebar. Ada tanaman pohon ditengah jalan sebagai pembatas sisi jalan. "Sudah aku katakan tadi. Apa aku perlu mengulanginya?" Tanyanya mendekat membuatku terkejut karena dia tiba-tiba saja sudah berada disamping telingaku. Tangannya dengan cepat menarik tirai untuk menutupi, seakan-akan memberikan privasi sendiri di jok belakang. "Kau sangat nakal, dan bengal. Apa aku perlu melakukan sesuatu agar kau jera dengan perkataan ku?" Nafasku tercekat, rasa takut tiba-tiba menghampiriku. Mataku terpejam, darahku mulai mendidih saat dia mengembat tekuk leherku. "Em.." Sontak aku terperanjat saat dia menarikku hingga menabrak d**a bidangnya. Yang awalnya aku menunduk kikuk dia mengangkat daguku dengan telunjuknya, "Katakan, aku harus berbuat apa agar kau menurut padaku?" Aku mengangkat pandanganku, menatap manik-maniknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD