Aku mengangkat pandanganku, menatap manik-maniknya. Saat ini yang aku lihat bukanlah tuan james, tapi seperti seorang mafia yang sedang mengancam. Matanya seperti elang yang mengincar mangsanya.
"Kau tau nisa, aku bukan tipikal orang yang suka bermain-main. Tapi..." Dia mengeratkan lingkaran lengannya di pinggang ku, "Jika kau ingin merasakan bagaimana rasanya bermain denganku, aku akan bersedia melakukannya."
Aku segera menggeleng dan berusaha mendorong d**a bidangnya agar bisa menjauh, "Aku tidak ingin merasakannya."
Dia semakin mengencangkan pelukannya, "Jadilah wanita yang menurut padaku, jika tidak..." Dia ber seringai jahat menatap diriku, "Kau akan tau bagaimana rasanya hidup dengan Tuan James."
Degup jantungku ber gemuruh, ini benar-benar seperti diancam oleh seorang mafia atau geng gangster. Sepertinya aku salah Masuk kandang. Aku harus bisa menjaga sikapku mulai sekarang, "Maaf.." Ucapku penuh rasa bersalah dan penyesalan.
Meski aku mencoba untuk menjauh dia tetap memelukku, "Kau sangat manis, menurut seperti ini..." Dia menyibak helaian rambutku yang menghalangi pandangan mata, "Aku jadi ingin.." Dia mendekat mulai mendekat semakin mendekat, aku semakin mundur.
Tiba-tiba mobil berhenti, "Tuan kita sudah sampai," Ujar sang sopir membuat james melepaskanku.
"Ou, oke." James membuka pintu dan keluar dari mobil. Sedangkan aku kebingungan mau keluar dari pintu yang dibuka James atau membuka pintu yang satunya.
Setelah berpikir aku memutuskan untuk membuka pintu satunya saja, namun baru saja aku hendak membuka.
"Apa kau akan diam begitu saja? Cepatlah keluar!" Titahnya masih memegang pintunya agar tetap terbuka.
Dengan gelagapan aku mengangguk dan keluar dari mobil.
Ahhhh s**t! Kenapa ada mahluk seperti dia yang harus hadir dikehidupanku?! Kenapa aku harus mengenalnya, berurusan denganya?! Aku menggeram frustasi didalam hati.
Mengikuti langkah James dari belakang, aku dibuat takjub dengan dekorasi di mall ini. Ini tidak seperti mall pada umumnya, mungkin akan lebih terlihat seperti lobi hotel. Lantainya terbuat dari marmer, temboknya terbuat dari batu marmer, pohon cemara yang ada dipotong disusun rapi menghiasi pintu masuk.
Sangat indah.
Para pegawai membungkuk hormat saat James masuk. Akupun mebungkuk membalas mereka sama. Para pengawal tetap berjalan dibelakang James melindunginya seperti biasa. Dia sudah seperti seseorang paling terpengaruh di mall ini. Tentu saja, dia pasti pemiliknya?
Aku masih belum berhenti berdecak kagum dengan dekorasi mall VR ini. Mall yang sangat mewah dan megah dilantai dasar sudah ada petunjuk dimana letak store fashion, stand makanan, bioskop, restoran, store make up dan lainnya.
Dari penjelasan yang ada dipapan gantung, mall ini terdiri Atas 3 lantai dimana dilantai dasar terdiri atas 21 store fashion kecantikan wanita, pria dan anak-anak.dilantai dua ada 7 store kebutuhan primer, 5 store permainan. 10 stand makanan dan restoran serta 1 bioskop ekslusif dilantai paling atas.
Gilak! Ini seperti mimpi, aku tidak pernah berada di tempat mewah dan megah seperti ini.
"Kau ingin beli apa?" Tanya James mengembalikan kesadaranku.
"Aku, ingin beli pakaian."
"Sudah ada banyak baju yang aku berikan padamu. Apa itu tidak cukup dipakai selama kamu tinggal dirumah?"
Aku mengerjapkan mata menatap dirinya, "Ah ya udah, beli makeup aja, sama beli sepatu dan sandal."
Dia memutar bola matanya malas, "Kau sangat menguras keuangan ku."
"Aku tidak memintamu untuk membawaku kemari."
"Kau sangat tau bagaimana caranya menggunakan uang yang ada ditanganmu."
"Kau yang memberikan uangnya, jika tidak. Aku tidak mungkin menggunakan uang sebanyak itu."
"Kau sangat ahli mengendalikan segalanya."
"Tentu saja, NISA!" Ucapku membanggakan diri dihadapannya.
Sementara dia hanya tersenyum miring melihatku.
Kami berjalan berkeliling memasuki store fashion satu persatu.
"Apa ini bagus?" Tanyaku memperlihatkan sepatu kets putih dengan motif sederhana berwarna biru tosca.
Dia tampak meremehkannya, "Itu terlalu mencolok untukmu."
Shit! Apa dia baru saja mengejek kulit kusam ku?! Pada akhirnya aku menaruh kembali sepatu itu. Kemudian mencoba sepatu lainnya. Flatshoes berwarna coklat muda dengan hiasan pita di ujungnya, "Bagus..." Pujiku di depan cermin.
Namun James berkata lain, "Buruk, itu sangat buruk di kakimu."
Aku tersungging tidak percaya dengan perkataannya, "REALY?! Jika tidak ada yang cocok denganku disini kenapa kau membawaku kemari?!" Aku meletakkan kembali flatshoes itu dengan kasar.
Dia tampak tenang dan tidak berpengaruh. Dia masih tetap membolak-balikan sebuah hels hak tahu berwarna coksu (coklat s**u) warnanya sangat soft dan terlihat elegan.
"Cobalah." Dia menyerahkan hells itu padaku.
Hells yang tingginya hanya 5 cm dan hiasan tali yang menyilang berhasil membuatku kakiku seperti seorang Puteri kaya raya.
"Sempurna."
Meski dipuji aku tetap tersenyum miring, "Apa aku akan terus menggunakan hells seperti ini?" Tanyaku padanya.
Dia menaikan sebelah alisnya, "Pilihlah yang lain."
Aku bersorak kegirangan dan bersiap untuk mencoba beberapa sepatu dan sandal pilihanku.
Pertama-tama aku mencoba sepatu kets hitam dengan model panjang dan tali berwarna putih. Sepatu ala-ala korean style.
"Itu pilihanmu?" Tanyanya melihatku sambil duduk disofa.
Aku mengangguk dengan senyuman lebar, "Bagus bukan?"
"Pilihan yang buruk."
Aku membelalak tercengang dengan komentarnya. Tidak apa aku akan menggantinya. Aku beralih memakai flatshoes berwarna moca polos tanpa hiasan. Sangat simple tapi terlihat stylish dimataku.
"Terlalu biasa." Dan itulah komentarnya.
Berkali-kali aku mencoba dia tetap saja berkomentar.
"Eumm itu tidak cocok denganmu."
Sesaat kemudian aku kembali, dia berhenti membaca majalahnya dan berkomentar, "So bad."
"Tidak, itu sangat jelek dikakimu."
"Ganti, tidak berkesan."
"Ganti."
"Jelek."
"Buruk, lebih buruk dari sebelumnya."
"Sangat tidak cocok dengan kepribadian mu."
"Jelek."
"Em em em." Jawabnya sambil geleng-geleng.
"Hufft apa pilihan mu tidak ada yang bagus? Sangat rendahan." Komentar terakhir darinya dan dia berdiri.
"Bungkus ini, dan carikan yang serupa atau yang bermodelan seperti ini. Kau tunggu dan masukan pesanannya ke mobil." James memberikan hells pilihannya pada SPG dan menyuruh satu pengawalnya untuk menerima pesanannya.
Sementara itu dia Menganndengku keluar dari store tersebut, "Untuk apa membawaku masuk? Mengajakku ke mall jika pada akhirnya kau hanya memilih apa yang kau mau."
Dia sejenak berpikir, "Untuk mencocokkannya jika kau ada disana aku tidak perlu berimajinasi ketika kau memakainya. Dan tentunya untuk memilih ukuran yang lebih pas dipakai."
"Sekarang apa kita akan pulang?" Tanyaku padanya.
"Iya lalu apa lagi?"
"Beli make-up," Renggekku menarik narik kemejanya.
"Aku akan menyuruh pengawalku untuk membelinya dan akan diantarkan kerumah. Ini sudah terlalu larut, kita harus pulang."
Aku mendengus kesal mendengarnya, "Baiklah tapi aku akan ke kamar mandi dulu sebentar."
"Cepatlah aku akan menunggu mu disana." Dia menunjuk kearah sofa yang ada didekat pintu keluar.
Aku mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi.
Saat masuk kedalam kamar mandi di wastafel tempat orang berkaca, aku sosok yang tidak asing disana.
"Sepertinya itu rose?" Tanyaku saat menutup pintu.
"Aku tidak menyangka bahwa kau akan menjadi istrinya James, rose. Setelah perjuanganmu selama ini akhirnya terbayarkan."
"Tentu saja, apapun kemauan Rose Kimberly pasti akan terwujud. Tidak ada yang bisa menyangkalnya."
"Aku tidak menyangka bahwa kau akan melakukan apapun demi bisa hidup bersama James."
"Tentunya, lagipula dari awal James memang ditakdirkan untukku, kami memang sudah dijodohkan hanya saja gadis kampungan dan murahan itu merebutnya dariku. Aku sangat Membencinya."
"Hahah sudahlah rose jangan merusak riasanmu demi menghujatnya, dia sudah berada di alam baka. Dia pasti sudah menerima hukuman atas perbuatannya."
"Ou Ya! Pastinya! Dia menerima hukuman yang setimpal. Dia harus berterima kasih padaku karena membantunya masuk kedalam baka, Mungkin malaikat maut juga enggan mengantarnya masuk ke pintu neraka."
Sontak aku menutup mulutku tercengang mendengarnya.
"Yuk, kita pulang ini sudah malam. James pasti sudah menungguku dikamarnya."
"Ah.., rose kau membuatku iri."
"Hahahha."
Aku mengintip perlahan dari pintu memastikan bahwa mereka benar-benar telah pergi, "Apa yang barusan aku dengar tadi?" Aku terduduk diatas kloset menatap tidak percaya dengan kebenaran yang baru aku dengar.