Diagnosis yang Menghancurkan
Pagi itu seharusnya menjadi hari biasa bagi Alina Kusuma. Seharusnya dia duduk di meja kerjanya yang menghadap jendela lebar kantornya di kawasan Sudirman, menyelesaikan desain renovasi sebuah rumah mewah di Kemang. Tapi sekarang, dia duduk di kursi tunggu Rumah Sakit Siloam, Jakarta, dengan mulut yang terus berdoa.
Di sampingnya, Ratna Ibunya yang duduk dengan tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menunggu hasil tes laboratorium lengkap. Wajah Ratna yang dulu cantik jelita kini tampak pucat dan kurus. Dalam tiga bulan terakhir, berat badannya turun drastis hampir sepuluh kilogram.
"Alina, sayang, jangan terlalu cemas," ujar Ratna sambil menggenggam tangan putrinya. "Mungkin hanya kelelahan biasa."
Alina mendekap Ibunya karena Ia tahu ini bukan kelelahan biasa. Batuk yang tidak kunjung sembuh, sesak napas yang semakin sering, dan darah yang kadang muncul saat ibunya batuk.
Semua itu bukanlah tanda yang baik.
"Nyonya Ratna Kusuma?" Seorang perawat muncul dari balik pintu ruang konsultasi. "Dokter Andika sudah menunggu."
Alina merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia bangkit, memapah ibunya masuk ke ruangan yang berbau antiseptik itu. Dokter Andika, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal, sudah duduk di belakang meja dengan beberapa berkas di hadapannya. Ekspresi wajahnya serius.
"Silakan duduk," kata dokter.
Alina membantu ibunya duduk, lalu dia sendiri mengambil kursi di samping. Tangannya meremas tas hingga buku-buku jarinya memutih.
Dokter Andika menarik napas panjang. "Nyonya Ratna... saya sudah menerima semua hasil pemeriksaan. CT scan, biopsi, dan tes darah lengkap."
Jeda sejenak. Alina menguatkan hatinya menerima keadaan terburuk.
"Diagnosis menunjukkan... kanker paru-paru stadium empat dengan metastasis ke kelenjar getah bening."
Alina merasa lemas. Stadium empat, metastasis. Dia tidak perlu menjadi dokter untuk tahu apa artinya itu.
"Berapa lama?" Suara Ratna mengejutkan Alina. Ibunya bertanya dengan nada yang begitu tenang,
Dokter Andika melepas kacamatanya. "Dengan kemoterapi dan perawatan intensif... mungkin enam bulan hingga satu tahun. Tapi ini hanya perkiraan, Nyonya. Setiap pasien berbeda."
Enam bulan, paling lama satu tahun.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Tidak... pasti ada cara lain. Mungkin operasi atau terapi lain?"
"Alina..." Ratna memegang tangan putrinya dengan erat.
"Maaf Mbak, stadium empat artinya sel kanker sudah menyebar. Operasi tidak lagi menjadi pilihan. Yang bisa kita lakukan adalah memperlambat perkembangan dan mengurangi rasa sakit."
DEG!
Alina langsung memeluk Ibunya dan menangis histeris. Ratna adalah satu-satunya keluarga yang dia punya setelah ayahnya meninggal lima tahun lalu.
"Saya ingin bicara dengan putri saya sebentar. Boleh kan dokter?" kata Ibu Ratna pada dokter.
Dokter Andika mengangguk. "Tentu. Saya akan menunggu di luar. Panggil saya jika ada yang ingin ditanyakan."
Setelah dokter keluar, Ratna langsung menyeka air mata Alina dan memeluknya sambil menepuk punggungnya, "Sayang... Kita bisa berusaha, tapi Tuhan punya jalannya sendiri."
"Mama..." Alina menangis terisak. "Kenapa Mama bisa begitu tenang?"
"Karena Mama sudah menduganya, sayang." Ratna tersenyum tipis sambil mengusap air mata di pipi Alina. "Dan karena Mama masih punya waktu. Enam bulan... cukup untuk menyelesaikan satu hal yang paling Mama inginkan."
Kening Alina semakin menangis, "Mama masih aja mikirin aku..."
Ratna mengelus kepala Alina, "Karna Mama sayang banget sama kamu... Setelah Mama ga ada, Mama takut kamu ga punya siapa-siapa."
"Bisa ga mama hidup lebih lama lagi? Alina belum bahagiakan Mama sampai Alina rela melepas Mama."
Ratna tersenyum tipis, "Ingat sayang, semua bakal gugur pada akhirnya."
Alina menyeka ingus di hidungnya. "Mama sepengen itu ya peluk Papa yang udah ada di sorga? Tega banget..."
"Bukan begitu sayang... Mama juga kepengeenn banget buat lihat kamu menikah, lahirin cucu buat Mama. Tapi kalau Mama bisa bertahan selama itu, Mama yakin Mama akan menderita sayang."
Alina masih belum bisa menerima maksud Mamanya. "Hidup tanpa Papa aja udah sakiiitt banget. Alina ga bisa hidup makin menderita lagi."
Ratna menatap dalam mata putrinya. "Makanya, Mama mau kamu punya teman hidup. Mama mau melihatmu menikah. Nanti di surga, Mama bakal cerita ke Papa kalau Mama udah berhasil lihat Alina sayangnya Mama dan Papa nikah."
Alina terdiam. Dari semua hal yang bisa diucapkan ibunya di saat seperti ini, kenapa harus soal pernikahan?
"Mama..." Alina menggeleng cepat. "Sekarang bukan waktunya membicarakan itu. Kita harus fokus pada pengobatan Mama, pada—"
"Alina Kusuma," Ratna memotong dengan nada tegas yang membuatnya seketika terdiam. Mamanya hampir ga pernah bersikap setegas ini sebelumnya. "Dengarkan Mama. Selama dua puluh tujuh tahun hidupmu, Mama melihatmu tumbuh menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Tapi Mama juga melihat bagaimana kamu menutup hatimu untuk cinta. Mama sadar, kehilangan Papa yang selingkuh kemudian meninggal ga lama setelah nikahin selingkuhannya itu bukan sesuatu yang mudah untuk kamu terima. Kamu jadi takut untuk terlalu sayang sama pria manapun karena kamu pasti takut dia meninggalkanmu karena direbut manusia atau menghadap Tuhan."
Alina menunduk. Ibunya benar. Meninggalnya Papa setelah menikahi selingkuhannya, membuat traumatis yang parah di masa remajanya. Alina jadi membangun tembok setinggi mungkin untuk melindungi hatinya. Dan karirnya yang cemerlang sebagai arsitek adalah segalanya baginya. Menurut Alina, karier itu takkan meninggalkannya untuk menghadap ke pencipta. Dan mengenai cinta dan pernikahan, baginya itu hanya ilusi yang berakhir dengan kepahitan.
"Mama tidak ingin mati dengan kekhawatiran," lanjut Ratna dengan suara bergetar. "Mama tidak ingin membayangkan kamu sendirian di dunia ini tanpa seseorang yang bisa menjagamu, menemanimu, mencintaimu seperti Mama dan Papa melakukannya seumur hidup."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Ma," bantah Alina. "Lagipula, ga ada cowo yang bisa melakukan seperti yang Mama inginkan."
"Mama tahu, sayang. Tapi manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Mama ingin melihatmu bahagia, bukan hanya sukses."
Ratna mengeluarkan sebuah foto dari dalam tasnya. Foto lama yang sudah kusam. Alina mengenali foto itu. Foto ibunya bersama seorang pria dan seorang anak laki-laki.
"Ini Pak Bambang Mahendra. Sahabat Mama sejak SMA. Kami kehilangan kontak setelah menikah dengan pasangan masing-masing, tapi dua tahun lalu kami bertemu lagi di sebuah acara reuni."
Alina menatap foto itu. Pak Bambang tersenyum lebar dan ramah. Di sampingnya ada anak laki-laki yang terlihat serius meski masih kecil.
"Ini anaknya, Darren. Umurnya lima tahun lebih tua darimu. Sekarang dia CEO Mahendra Group, perusahaan properti besar."
Alina mulai tidak suka arah pembicaraan ini. "Mama... jangan bilang—"
"Mama sudah bicara dengan Pak Bambang." Ibu Ratna menggenggam tangan Alina erat-erat. "Dia setuju untuk menjodohkan kalian."
"Apa?!" Alina berdiri dari kursinya. "Mama tidak bisa melakukan ini! Ini hidupku! Aku tidak mau dijodohkan dengan orang yang tidak aku kenal!"
"Alina, tolong dengarkan dulu—"
"Tidak!" Alina menggeleng keras. Air matanya mengalir deras. "Aku tidak akan menikah dengan orang asing hanya karena Mama mau! Ini bukan zaman dulu, Ma! Ini tahun 2015!"
"Alina Kusuma, duduklah." Suara Ibu Ratna kali ini penuh dengan otoritas seorang ibu.
Alina ingin melawan, ingin lari dari ruangan ini, tapi melihat wajah pucat ibunya membuatnya tidak tega. Dengan berat hati, dia duduk kembali.
Ibu Ratna memegang kedua tangan Alina. "Dengarkan Mama baik-baik. Ini permintaan terakhir Mama. Satu-satunya permintaan Mama sebelum... sebelum Mama pergi."
Kata-kata itu lagi. Sungguh membuat kaki Alina bahkan enggan berdiri kokoh seperti sebelumnya.
"Mama tidak minta kamu mencintai dia dari awal. Mama hanya minta kamu memberi kesempatan. Temuilah dia, kenal dia. Jika setelah menikah kalian benar-benar tidak cocok, Mama tidak akan memaksa kalian bertahan."
"Mama serius?" Alina menatap ibunya tidak percaya.
"Mama serius. Tapi setidaknya, beri kesempatan. Lakukan ini untuk Mama. Please, sayang."
Alina menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ini tidak adil. Sangat tidak adil. Ibunya menggunakan kondisinya sebagai senjata emosional. Tapi di sisi lain, bagaimana Alina bisa menolak permintaan terakhir satu-satunya orang yang dia cintai di dunia ini?
"Enam bulan," bisik Alina akhirnya. "Kalau Mama diberi enam bulan... aku akan mencoba."
Ibu Ratna tersenyum lega. Air mata mengalir di pipinya yang kurus. "Terima kasih, sayang. Terima kasih."
Mereka berpelukan erat. Alina menangis di pelukan ibunya, sementara di luar jendela, langit Jakarta mulai mendung. Seolah ikut meratapi nasib yang menimpanya.
Hari itu, hidup Alina berubah. Tidak hanya karena dia akan kehilangan ibunya, tapi juga karena dia baru saja setuju untuk menikah dengan orang asing yang bahkan belum pernah dia temui.
Seperti apa pun keputusan yang akan dibuat Alina dan Darren, akan diputuskan setelah mereka bertemu.