Bagian 11 - Sakit

1410 Words
Happy Reading Helshah menatap sosok yang sejak tadi tak terlihat dimatanya kini sedang bicara dengan cewek lain. Ingin rasanya menarik Varka dari cewek itu. Apalagi saat tangan cewek itu melingkar di lengan Varka. Pasalnya Helshah tidak tau siapa cewek itu. Tidak mungkin ia datang-datang langsung melabrak cewek itu. Bisa aja ia salah paham. Contohnya, cewek itu adalah mantan Varka. Tapi, bukankah Varka tidak punya mantan? Lagian mereka kelihatannya sangat akrab sekali. Tunggu, mantan bisa akrab kan? Apa benar cewek itu mantannya Varka? Helshah hanya bisa mengepalkan tangan kanannya dari kejauhan, "Gue salah orang untuk dicari. Ternyata dia lagi bahagia dengan cewek barunya." "Shut, Sya! Woy Helshah!" bisik Nikita di seberang Helshah yang lagi melamun. "Eh, Helshah b***k! Guru lagi nanya lo woy!" ucap Nikita makin kesal melihat Helshah. "Ja, lo senggol dong lengannya!" tegur Nikita pada Teja yang teman sebangku Helshah. "Udah gue senggol bahkan gue cubit! Nih orang memang cari masalah sama guru!" balas Teja tak kalah kesalnya. "Sudah, kalian semua diam saja. Biar Ibu yang menegurnya," balas Bu Beti yang sejak tadi menerangkan pelajaran ekonomi. Brak! Helshah berucap saat meja bagiannya di gebrak Bu Beti. "Eh, Ibu. Ada apa ya, Bu?" ucap Helshah dengan cengengesan. "Berapa anak yang sudah kamu urus?" "Ha? Anak?" "Keluar dan jangan masuk ke kelas sebelum jam pulang berbunyi." "Eh, keluar ya, Bu?" "Iya, Helshah. Kamu mau saya tendang atau keluar sendiri?" ucap Bu Beti berusaha mengumpulkan kesabaran. "Enggak perlu, Bu. Saya juga mau keluar," balas Helshah dengan santainya keluar dari kelas. Sampai di taman Helshah membuang napasnya kasar, "Dua kali dalam satu hari gue keluar dari kelas karena melamun. Semua itu juga karena cewek yang sok akrab dengan Varka. Sebenarnya siapa sih tuh cewek sampai buat gue penasaran begini?" Sebelum istirahat pertama Helshah memang keluar karena ketahuan tidak fokus di pelajaran Pak Joko. "Awas aja kalau gue lihat tuh cewek bareng Varka la-," Kekesalan Helshah bertambah saat matanya tak sengaja melihat cewek itu masuk ke dalam mobil Varka. Jarak antara taman dan parkiran mobil siswa/siswi memang tidak jauh. Helshah berdiri dan ingin menghampiri mobil Varka, namun mobil itu sudah melaju sangat jauh. "Kenapa harus gue yang lo sakiti, Ka?! Kenapa harus gue, ha?!" "Lo kenapa sih, Sya? Melamun terus dari tadi. Banyak pikiran lo?" ucap Teja sambil menggelengkan kepala saat tidak mendapatkan jawaban dari Helshah. Gadis itu malah pergi masuk ke kamarnya meninggalkan Teja yang hampir mati penasaran. "Kakak kamu kenapa, sayang?" tanya Mama Pari yang sejak tadi menatap keduanya dari kejauhan. Teja menggeleng tak mengerti, "Dua kali lho dia dikeluarkan dari kelas." "Kok bisa?" "Melamun. Enggak tau apa yang dilamunkannya." "Sudah, sekarang kamu makan dulu. Mama mau ke kamar Helshah," ucap Mama sesudah mengusap rambut Teja. "Bawa makanan sekalian, Ma. Sejak tadi dia nggak mau makan di kantin." Mama Pari masuk ke kamar Helshah. Duduk di samping putri pertamanya, lalu menyentuh bahunya, "Putri Mama kenapa, hem?" Helshah tersentak kecil. Ia menggeleng lemas, lalu meletakkan kepalanya di bahu Mama Pari, "Ma, Helshah buruk, ya?" "Kenapa ngomong begitu?" "Ma, Helshah mencintai seseorang," ucap Helshah lirih. "Wah, putri Mama ternyata sudah besar. Terus, kamu kenapa bisa keluar dari kelas?" ucap Mama Pari sambil mengelus rambut Helshah. "Pasti Teja bocor yang bicara," balas Helshah berdecak. Mama Pari terkekeh, "Kenapa, hem?" "Dia jahat banget, Ma. Helshah mencarinya kemana-mana seperti orang gila. Ternyata dia lagi bahagia dengan cewek lain," ucap Helshah mengadu. "Jangan berpikir begitu, sayang. Mana tau cewek itu sahabatnya atau sepupunya." Helshah menggeleng keras, "Mereka sangat akrab. Helshah juga baru lihat tuh cewek. Enggak tau anak baru di sekolah atau apa. Pokoknya Helshah kesal sama Varka. Bersama Helshah aja dia nggak pernah senyum, tapi dengan cewek lain dia bisa senyum." "Varka, ya? Namanya bagus. Sepertinya Mama suka dengan cowok kamu," ucap Mama Pari sambil mengangguk-angguk. Helshah berdecak, lalu menjauhkan kepalanya dari bahu Mama Pari, "Mama jahat, ih! Anaknya lagi minta masukkan Mama malah bilang suka sama cowoknya Helshah. Memang Papa mau Mama kemana kan?" "Mama suka karena ingin Varka selalu bersama Helshah. Bukan Mama yang suka, sayang," ucap Mama Pari sambil tersenyum geli. "Tuh, kan! Mama tersenyum memikirkan Varka pasti," ucap Helshah menunjuk Mama Pari. Dengan gemas, Mama Pari mendorong kening Helshah dengan jari telunjuknya, "Kamu itu kerjaannya suuzon mulu deh!" "Ma, jadi Helshah harus melakukan apa?" tanya Helshah kembali lesu. "Kamu hanya perlu mendengarkan. Apa pun alasan yang akan diberikan Varka, kamu harus percaya." "Mama kenapa ngomong begitu? Memangnya Mama kenal sama Varka?" "Karena Mama percaya dengan pilihan anak Mama sendiri. Kamu nggak mungkin kan salah memilih pasangan?" Helshah tersenyum tipis, "Varka susah ditebak, Ma. Dia itu terlalu tertutup dengan siapa pun." "Kamu hanya perlu belajar lagi untuk mengetahui isi pikirannya. Sudah dong, masa anak Mama lemah begini." "Hiks, Helshah kesal sama Varka! Varka nggak pernah mau mengerti Helshah! Varka jahat sama Helshah! Helshah benci Varka!" racau Helshah sambil memukul kesal bantalnya. Mama Pari hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Helshah yang terlihat gemas. "Sepertinya kami harus melakukan sesuatu," gumam Mama Pari. Brak! "Woy, Sya! Lo melamun lagi?!" ucap Nikita setelah menggebrak meja disalah satu restaurant yang lagi mereka datangi. Setelah sadar, Helshah menatap sekeliling mereka. Sedangkan Teja, ia sudah menutup wajahnya dengan buku menu menahan malu. "Apaan, sih?! Lo buat gue malu aja!" ucap Helshah menggerutu. Nikita yang mendengarnya langsung menatap tajam Helshah, "Oh, hello! Gue kali yang malu dilihat mereka karena ngomong sendiri." "Lo ngapain coba ngomong sendiri?" Nikita menahan geramannya, "Karena lo nggak dengerin gue ngomong! Lo kebanyakan melamun Helshah!" "Memang iya?" "Astaga... Tabahkan hati hamba-Mu ini," ucap Nikita sambil mengelus dadanya. "Lo kenapa, sih? Gila lo?" tanya Helshah polos. "Lo mikirin apa, sih?! Kok jadi bodoh begini!" ucap Nikita mengeluarkan geraman yang tak bisa ia tahan lagi. "Ah, ayo dong lo pergi dari pikiran gue, Varka! Gue keluarkan mau refresh dikit! Kenapa jadi mikirin lo terus, sih?!" ucap Helshah menggerutu sambil memukul kepalanya. "Uh, tenang Helshah. Lo harus bisa lupakan kejadian tadi pagi. Lo lupakan dan anggap kalau cewek s****n itu nggak ada di samping Varka." Helshah menghirup udara, lalu membuangnya kembali, "Sudah, gue harus tenang." Helshah keluar dari kamar mandi restaurant setelah membenarkan pakaiannya yang sedikit kusut. Tanpa di sengaja seseorang menabrak dirinya. "Lah? Dia yang nabrak, kenapa dia yang jatuh?" ucap Helshah tak habis pikir dengan cewek yang baru saja menabrak dirinya. "Eh, woy! Bangun woy!" ujar Helshah dengn lancangnya menggoyangkan kaki cewek itu dengan kakinya. "Kok nggak bangun?" Merasa takut terjadi sesuatu dengan cewek itu, Helshah jongkok untuk melihat keadaannya, "Lo pingsan? Kok lo bisa pingsan? Kan lo yang menabrak gue woy!" Penasaran dengan cewek itu, Helshah menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya, "Dia cewek tadi pagi bersama Varka. Ternyata lemah juga nih cewek. Rasain lo! Ini namanya karma, karena lo udah berani dekatin cowok gue!" Helshah berdiri sambil mengusap telapak tangan yang terkena debu lantai. Pandangan Helshah masih menatap sinis cewek yang berbaring lemah di atas lantai depan kamar mandi. "Bagus deh kalau lo belum bangun juga. Mati aja sana!" ucap Helshah tanpa melihat jalan membuatnya bertabrakan dengan orang lain lagi. Bruk! Helshah mencengkeram baju orang yang ternyata lebih tinggi darinya. Ia mendongak untuk melihat si pelaku yang baru saja ia tabrak. "Var-ka? Lo ngapain disini?" tanya Helshah takut-takut melihat wajah merah Varka. "Apa yang lo lakukan padanya?" "Gu-gue-" "Gaguk lo!" bentak Varka membuat Helshah tersentak. Varka menarik pinggang Helshah yang sempat menjauh, "Jawab, Helshah! Kenapa dia bisa pingsan begitu?!" "Gue, gue nggak tau. Tadi kami tabrakan terus dia pingsan." "Dan lo mau biarin dia begitu terus tanpa meminta pertolongan orang lain?" Helshah menahan air matanya yang akan terjatuh. Ia tidak boleh menangis di hadapan Varka. Ia tidak boleh lemah, karena Varka tidak suka cewek lemah. Tapi, kenapa bersama cewek lain Varka bisa menerima mereka? "Sebenarnya dia siapa lo, sih? Kenapa lo sampai segitunya lihat cewek itu pingsan. Dia cuma cewek lemah, Ka. Bukankah lo benci banget direpotkan?" ucap Helshah lirih. "Lo nggak perlu tau dia siapanya gue. Dia juga bukan cewek lemah seperti yang lo pikir. Gue nggak pernah merasa direpotkan dengan dia," balas Varka sambil melepaskan Helshah darinya. Helshah melihat Varka yang menggendong cewek itu ala bridal style. "Kalau terjadi sesuatu dengan dia. Gue nggak akan biarin hidup lo tenang," ucap Varka sambil membawa cewek itu pergi dan meninggalkan Helshah yang sudah menangis tersedu. "Gue nggak akan tinggal diam, Ka. Gue akan cari tau siapa cewek itu," ucap Helshah sambil mengusap pipinya yang basah. To Be Continued... 1435 kata Helshah Syaputri Hapipa Varka Derrel Fellano Tejaswi Kheyla Anvy Pari Rismayanti Indira Sachin Rifqiawan Irfansah Sonica Amalia Raissa Alka Lafitri Sumanja Abhijit Adzkia Tiansyah Kiss Jauh linar_jha2
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD