Bagian 9 - Nyata?

1231 Words
Happy Reading Teja mengerjapkan matanya ketika air membasahi wajahnya. Ia kembali menutup matanya ketika pusing menyerang dirinya. Puk puk! "Bangun!" ucap suara itu membuat Teja terpaksa membuka matanya lagi. "Bagus cantik. Kamu baru bangun setelah tertidur panjang." "Aku di mana?" ucap Teja begitu lirih dengan mata yang sedikit terbuka. "Buka mata kamu dan lihatlah semua ini." "Kepalaku pusing." "Tentu saja pusing. Kamu tidur terlalu panjang dan tiba-tiba saja di bangunkan." "Tidur panjang?" "Ya, tidur selama 4 hari. Kalau ada lomba tidur terlama, saya akan langsung mendaftarkan kamu." Teja membuka matanya sempurna ketika suara itu tidak asing di indra pendengarnya. "Kau. Kenapa kau ada disini? Kenapa aku ada disini juga?" Dia menyeringai dengan jemari yang sudah bermain di permukaan wajah Teja, "Sangat mudah, sayang. Aku mengakali semua orang dengan kepintaran yang aku miliki." "Apa maksud mu Tante? Teja nggak ngerti dengan semua yang Tante katakan." "Dengarkan saya baik-baik Teja." ucapnya mulai mencengkeram dagu Teja. "Semua yang terjadi adalah akal-akalan saya saja. Wanita itu, maksudnya Mama kandung kamu. Bahkan kamu sudah melukai hatinya. Bagus, sayang. Kamu berhasil membencinya karena mengira ialah pelaku penculikan kamu di lobang." ucap wanita itu membuat Teja bingung. "Mama kandung? Penculikan? Apa maksud-" Seketika itu Teja menatap wanita di depannya dengan tak percaya. "Ja-jadi Tante pelaku yang sebenarnya? Mama kandung? Teja anaknya Tante Mama? Teja saudara-" "Saudara kandung Helshah." ucap wanita itu memotong perkataan Teja. "Kamu tahu masalah Mama Helshah yang kehilangan bayinya?" Teja mengangguk pelan. Ia masih ingat dengan cerita Helshah yang mengatakan Mamanya kehilangan bayi sesudah melahirkan. Bukankah bayi itu udah meninggal? Tapi, apa hubungan bayi itu dengan dirinya yang ternyata saudara kandung Helshah? "Kamu adalah bayi itu." ucapnya mulai melepaskan cengkeramannya dari dagu Teja. "Apa maksud Tante? Teja tau kalau Tante nggak akan pernah bisa melakukan hal sebejat itu. Pasti semua ini suruhan Tante-Mama kan? Dia ingin membuat Teja nggak percaya lagi sama Tante. Katakan pada Teja kalau semua ini nggak benar." "Kamu yang terlalu polos. Kamu nggak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Ini adalah saya yang asli. Saya nggak sebaik yang kamu pikirkan, Teja." "Saya yang menukar bayi hidup itu dengan bayi yang sudah tiada." ucapnya menarik lagi dagu Teja dengan kasar. "Ka-lau semuanya benar, shh- kenapa Tante melakukan itu pada keluarga Tante-Mama?" "Karena saya sangat benci dengan keluarga kamu." ucapnya menekan kata 'benci'. "Tan-te lepaskan Teja. Teja mau pulang, hiks!" ucap Teja mulai terisak. "Saya akan melepaskan kamu. Tapi sebelum itu, kamu harus membalas kematian suami saya." ucapnya sambil mengambil pisau lipat di kantong belakangnya. "To-tolong jangan lakukan itu pada Teja. Teja sama sekali nggak tau masalah kematian suami Tante, hiks!" "Karena kamu hanyalah gadis polos yang nggak tau apapun. Kamu terlalu mudah untuk dipengaruhi, Teja." "Tante tolong. Lepaskan Teja, hiks!" ucapnya memberontak ketika pisau itu sudah menempel di sebelah pipi mulusnya. "Ini nggak akan sakit jika kamu nggak memberontak. Biarkan saya melukis di pipi mulus kamu." "Enggak, Tante Sonia. Lepaskan Teja, hiks!" Darah segar mengalir begitu cepat ketika pisau itu melukai pipi Teja. Wanita itu, Sonia menggeleng kepala berulang kali. "Sudah saya katakan bukan? Jangan memberontak kalau nggak ingin merasakan sakit. Lihatlah sekarang? Pipi kamu berdarah karena kamu yang memberontak. Jangan salahkan saya yang melakukan itu." ucapnya dengan tenang. Teja menggigit kuat bibirnya. Ia menahan diri untuk tidak menangis. Karena kalau ia menangis, wanita di depannya akan makin gencar melukai dirinya. 'Tuhan, maafkan Teja yang sudah menyakiti hati Tante-Mama. Padahal selama ini Tante-Mama yang menjaga Teja dari jauh, tapi dengan mudahnya Teja melukai hatinya, hiks! Ini memang nggak sesakit yang dirasakan Tante-Mama ketika putrinya menuduh dirinya yang nggak-nggak.' batin Teja begitu sakit mengingat perlakuan dirinya pada Mamanya sendiri. "Apakah nggak ada yang ingin kamu sampaikan untuk keluarga kamu? Saya akan menyampaikannya langsung ketika kamu pergi dari dunia ini." ucap Sonia sambil menyodorkan sebuah pistol pada Teja. Teja menggeleng pelan dengan air mata yang sudah mengalir deras. Sekarang air mata itu sudah bercampur dengan darah yang mengalir dari kedua pipinya. Iya, Sonia tidak puas kalau sebelah pipi Teja masih mulus, jadi Sonia melukis kembali di pipi yang tampak mulus itu. Bukan hanya di pipi saja, semua wajah Teja sudah hancur bekas sayatan Sonia. Dengan tidak punya hatinya, Sonia menyodorkan pistol pada Teja. 'Teja sayang Tante-Mama dan lainnya. Maaf kalau Teja belum bisa jadi anak yang baik, hiks!' Ketika Sonia akan menekan pelatuknya, seseorang langsung mengarahkannya ke atas. DOR! Bruk! "Ah!" Sonia tersungkur dengan pistol yang terjatuh di sampingnya. "Mama-" panggil Teja begitu lirih ketika Mama Pari berhasil melepaskan tali di belakangnya. Mama Pari berjongkok di hadapan Teja. Ia segera melepaskan tali di kaki Teja. "s****n! Saya nggak akan melepaskan kalian!" DOR! "MAMA!" Teja terbangun dari tidur panjangnya. Peluh langsung tercipta di semua kulitnya. "I-itu- mimpi? Ke-kenapa seperti nyata?" ucap Teja menyentuh dadanya yang berdetak kencang. Dengan perlahan, kedua mata Teja tertutup kembali. Ia mulai mengatur napasnya dengan menarik dan menghembusnya berulang kali sampai detak jantungnya normal kembali. Teja membuka matanya lagi dan bersamaan air mata mengalir tanpa diminta. Tidak tahu kenapa hatinya mulai gelisah akan sesuatu yang sama sekali tidak ia mengerti. Teja membuka ponselnya yang baru saja mendapatkan sebuah pesan. Tante Nikita. |Saya akan membebaskan kamu dari rumah itu. Sekarang kamu keluar dari sana melalui belakang rumah. Jangan sampai ada yang tau kalau kamu kabur melalui belakang. Kamu mengerti kan Teja?| Teja berulang kali membaca pesan itu. Sepertinya ia pernah membacanya. Tapi, di mana? Apakah di dalam mimpi? "Pe-pesan ini sama di dalam mimpi itu? A-pa maksud semua ini? Apakah mimpi itu akan ter-jadi? Hiks!" ucap Teja terputus-putus dengan tangan yang sibuk menghapus air mata tak berhenti-henti. "Teja, kamu sudah bangun, sayang." ucap Mama Pari masuk ke dalam dengan yang lainnya. Tidak tahu kenapa ketika mendengar suara Mama Pari, Teja langsung merasa tenang. Mama Pari duduk di samping Teja, lalu tangannya terangkat berguna mengelus rambut panjang Teja. Segera Teja memeluk Mama Pari dengan isakan yang keluar kembali. Sekarang ia tidak mendengar apapun seakan dibawa ke alam yang lain. "Baru saja Tante-Mama masuk ke kamar, kamu sudah tidur. Padahal Tante-Mama cuma mau nyuruh kamu makan. Perut kamu pasti kosong sejak tadi pagi. Tante-Mama khawatir pada kamu. Jangan buat Tante-Mama khawatir, ya, sayang. Tante-Mama nggak masalah kamu bentak-bentak, kamu sakiti, asalkan kamu merasa tenang." "Tante-Mama sayang kamu. Tante-Mama nggak bermaksud mengunci kamu di kamar, tapi nyawa kamu dalam bahaya, sayang. Dia datang kembali dan ingin memisahkan kamu dari kami semua. Tapi Tante-Mama nggak akan biarin itu terjadi." Hanya itu yang tertangkap di telinga Teja berulang kali seperti radio rusak. "Sayang, ada apa? Kenapa kamu nangis, hem?" tanya Mama Pari khawatir. Mama Pari ingin melepaskan pelukan Teja, namun si pemilik tangan langsung mengeratkan pelukannya seakan tidak ingin lepas sedikit pun. Helshah yang melihat itu berjalan mengambil ponsel Teja yang masih menyala dan posisinya berada di samping Teja. "Saya akan membebaskan kamu dari rumah itu. Sekarang kamu keluar dari sana melalui belakang rumah. Jangan sampai ada yang tau kalau kamu kabur melalui belakang. Kamu mengerti kan Teja?" ucap Helshah membaca pesan itu. "Dari siapa, Sya?" tanya Papa Sachin. "Mamanya Nikita." Mendengar itu, tangan Papa Sachin mengepal kuat. Segera mungkin ia menahan kemarahannya pada Sonia. "Nikita minta maaf atas perbuatan Mama. Nikita sama sekali nggak tau kalau Mama akan melakukan semua ini. Maaf." ucap Nikita begitu tulus. "Om percaya kamu anak baik. Hanya saja jika kita mendiamkan Mama kamu, dia akan makin gencar melakukan hal yang nggak pernah terpikirkan oleh kita." ucap Papa Sachin. To Be Continued... 1266 kata Say next!!! Kiss jauh linar_jha2
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD