Ini baru kali ke tiga Dariel bertemu dengan Sekar. Dan dalam tiga pertemuan itu, Sekar selalu saja memberi Dariel kejutan. Mulai dari menghajar stalker, melakukan trik bagai dedemit, lalu sekarang dia malah membuat pingsan anak orang.
“Hahahahaha!” gelak Dariel sambil memegangi perutnya. Tingkahnya itu membuat Sekar dan Bagas yang ada di sana terheran-heran.
Karena Rizka adalah anak dari salah satu rekan bisnisnya, seharusnya Dariel merasa khawatir dengan keadaan perempuan yang terus mengejarnya itu. Namun, alih-alih khawatir, Dariel malah merasa excited. Baru kali ini Dariel merasakan sendiri bahagia di atas penderitaan orang lain.
“Pak, ini gimana?” tanya Bagas dengan suara yang sedikit bergetar.
“Pfft... gimana, ya diberesin lah! Ehem!”
Setelah berdehem beberapa kali, Dariel lanjut berkata, “Ingat, Gas. Di sini cuma kamu dan saya saksi matanya. Jangan sampai ada orang lain yang tahu. Paham?”
“P-pa-paham, Pak!” sahut Bagas.
Tindakan Bagas selanjutnya adalah memapah Rizka dan membawanya keluar dari ruangan Dariel.
“Oke, karena kamu lagi-lagi nolongin saya, jadi saya akan kasih kamu hadiah lagi. Cepetan bilang kamu minta apa!”
Sekar menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal. Dia mulai berpikir kalau telah ditugaskan di tempat yang salah. Mana ada orang yang diberi hadiah setelah menghajar teman dari bosnya?
“Kalau lain kali aja gimana, Pak? Saya beneran gak kepikiran pengin apa-apa. Malah bukannya Bapak harusnya menghukum saya, karena diam-diam kerja sambilan di pameran.”
Sebetulnya itu bukan masalah besar, tapi berkat ucapan Sekar sendiri, Dariel pun mendapatkan ide.
“Nah, itu deh! Anggap aja ini hukuman. Cepetan bilang kamu pengin apa, ntar saya langsung kasih.”
‘Duk!’
Sekar menepuk jidatnya sendiri saking merasa kalau dia telah mengatakan hal yang bodoh.
“Beneran gak usah, Pak.”
Sambil menggelengkan kepalanya, lagi-lagi Dariel semakin memaksa, “Gak bisa, Kar. Saya tuh kalau punya hutang, bisa galau berkepanjangan. Kamu tuh jangan tega sama saya, dong.”
“Kan waktu itu udah dikasih sembako. Saya rasa cukup, Pak. Malah lebih.”
“Saya aja masih galau, berarti kurang itu.”
Sekar mendengus kasar saking jengahnya dengan perdebatan yang entah kapan selesainya ini.
“Gini deh, Pak. Kasih saya waktu seminggu buat mikir gimana?” saran Sekar.
“Sehari.” tolak Dariel.
“Lima hari.”
“Sehari,”
Lama-lama pria ini semakin membuat Sekar emosi. Padahal tadi katanya mau berterima kasih, tapi kok maksa.
“Tiga hari,” tawar Sekar lagi. Dia tidak mau kalah.
“Seha... oke, deal! Tiga hari.”
Hampir saja Dariel mengatakan ‘sehari’ lagi. Untungnya dia urungkan setelah melihat tatapan Sekar padanya yang bagaikan elang mengincar mangsa. Sekar itu walaupun kelihatan kecil, sebenarnya macho. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi kalau Dariel meminta lebih dari ini.
“Deal.” ujar Sekar sambil mengulurkan tangannya.
Mereka pun bersalaman, tanda bahwa sudah ada kesepakatan di antara mereka. Dengan ini, selesailah perdebatan mereka yang tidak bermutu tadi.
“Kalau begitu, saya permisi untuk melanjutkan pekerjaan saya.”
Sambil tersenyum, Dariel berkata, “Silakan. Dan jangan lupa pikirkan apa yang saya katakan tadi.”
“Siap, Pak. Mari.”
Sekar pun keluar dari ruangan Dariel dengan perasaan bercampur aduk. Seumur-umur baru kali ini dia mengenal orang seaneh Dariel.
Saking terlalu fokusnya memikirkan tingkah Dariel, Sekar sampai tidak sadar bahwa semenjak keluar dari ruangan Dariel, seluruh mata tertuju padanya. Pemilik para mata itu terheran-heran dengan apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. Pasalnya, mereka tadi melihat Rizka yang dipapah keluar oleh Bagas. Padahal saat masuk, Rizka masih baik-baik saja.
Mau menegur pun mereka ragu, karena belum terlalu kenal dengan Sekar yang notabene baru bergabung kurang dari sebulan. Sebab itu, mereka diam saja sambil menerka-nerka peristiwa yang terjadi.
...
“Bapak kok di sini?” tanya Sekar pada seorang pria yang keberadaannya cukup ganjil di pos satpam.
“Kerja,” jawabnya sambil terus fokus pada laptopnya.
“Apa harus di sini banget? Bapak itu pimpinan perusahaan, loh. Masa kerjanya di pos satpam.”
Dariel meringis dan menjawab, “Lha itu tahu kalau saya pemimpin perusahaan. Jadi, terserah saya mau ngerjain kerjaan saya di mana.”
“Iya, sih...”
Lanjut Dariel, “Sekalian biar kamu ingat kalau kita ada janji.”
Kini Sekar tahu maksud Dariel sebenarnya. Tapi, apa memang harus begini?
Karena status Sekar masih karyawan magang di perusahaan out sourcing yang mempekerjakannya, tidak ada yang bisa Sekar lakukan untuk mengusir Dariel.
Namun untungnya, Dariel itu orang sibuk. Satu tempat saja tidak bisa dia gunakan untuk bekerja. Dariel masih harus berpindah dari satu tempat yang lainnya. Sekar juga masih harus patroli. Jadi, ujung-ujungnya sama saja seperti sebelumnya.
Meski demikian, Dariel terus melanjutkan keisengannya itu sampai deadline yang dijanjikan tiga hari kemudian.
Hari itu Sekar mendapatkan shift siang, artinya dia harus pulang pukul 10 malam atau saat mall sudah tutup dan benar-benar sepi. Sekar yang berjalan ke parkiran untuk mengambil motornya, tiba-tiba dikagetkan oleh sosok yang tidak asing lagi baginya.
“Gimana? Udah dipikirkan mau minta apa dari saya?” tanya Dariel sambil bersedekap menatap Sekar.
Sebetulnya Sekar masih belum kepikiran tentang apa yang dia inginkan. Kalau asal bicara, takutnya dia akan menyesal nantinya.
Untuk hal ini, Sekar bahkan sudah bertanya pada puteranya. Barangkali puteranya ingin sesuatu yang sulit didapatkan. Tapi, anak semata wayangnya itu malah berkata, “Aku ingin Mama bahagia,”
Ucapan itu tentu sangat menyentuh di hati Sekar, namun tidak membantunya untuk menyelesaikan masalah.
“Ngg... boleh saya minta waktu lagi, Pak?”
Dariel mendengus kasar.
“Gak bisa dong. Kita kan udah deal cuma tiga hari.”
Mata Sekar melirik ke sana kemari, seakan mencari jawaban untuk menyanggah ucapan bosnya. Sialnya, jawaban itu tidak bisa dia dapatkan dari mana-mana.
“Kalau kamu minta uang, saya juga bisa kasih. Berapapun saya kasih ke kamu. Apapun buat kamu, lah!” bujuk Dariel mengiming-iming.
Sekar ingin menolaknya lagi. Tetapi, saat dia akan membuka mulutnya, tiba-tiba seseorang menyela.
“Ck. Sudah punya pasangan baru kamu sekarang?”
Sekar mengenal suara ini. Diapun meningkatkan kewaspadaan, karena orang yang baru datang ini bukanlah orang sembarangan.
“Siapa?” tanya Dariel berbisik.
“Mantan suami saya, Pak.” jawab Sekar dengan suara yang sama lirihnya.
Mulut Dariel membulat. Diperhatikannya pria yang katanya pernah mengisi hati Sekar itu lekat-lekat.
Pria itu tidak lebih tinggi dari Dariel, mungkin sekitar 170-an. Tetapi, dari lengan bertato yang dia perlihatkan, Dariel bisa mengira kalau massa lemaknya cukup rendah. Dia bukan tipe yang bulky seperti Dariel, melainkan lebih seperti atlet lari yang ramping.
“Lumayan. Tapi, masih bagusan saya.” gumam Dariel saat memperhatikan wajahnya.
“Hah? Pede banget.” kata pria itu yang juga ikut memperhatikan Dariel.
Dariel terkejut, karena ternyata pria itu bisa mendengar suara lirihnya.
“Mau apa kamu, Jun?” tanya Sekar dengan tatapan datar.
Pria yang dipanggil Jun itu menyeringai dan menjawab, “Mau apa lagi? Aku mau kita balikan. Makanya aku datang jauh-jauh ke mari.”
Sekar menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Dia tidak mau terbawa emosi.
“Aku gak mau.” tolaknya singkat.
Sejenak Jun terdiam dan kembali melirik Dariel.
“Karena dia?” tuduh Jun.
“Itu bukan urusan kamu. Kita udah cerai dan aku gak mau ketemu apalagi berhubungan sama kamu lagi.”
Suasana di parkiran karyawan yang gelap pun semakin suram karena mereka berdua. Meski begitu, Dariel merasa ini bukan saat yang tepat untuk pergi. Dia justru berpikir mungkin ini adalah kesempatan baginya untuk membalas kebaikan Sekar.
“Di sini ada CCTV. Bodyguard saya juga sedang berjaga di sekitar parkiran ini. Sebaiknya Anda pergi jika tidak mau bernasib buruk.” ancam Dariel.
“Hahahaha!” Jun terbahak.
“Saya belum ngapa-ngapain, loh. Apa yang harus saya takutkan?” kata Jun.
“Anda sudah mengganggu calon istri saya.”