Entah trik apa yang Sekar gunakan untuk menghilang seperti tadi. Seakan menyatu dengan angin, dalam hitungan detik perempuan itu sudah tidak terlihat lagi. Sialnya, selain Dariel tidak ada orang lain yang melihatnya.
“Apa bukan halusinasi? Bapak belakangan kan kecapekan.” begitu tanggapan Bagas saat Dariel bercerita.
“Kamu kok gak percaya sama saya? Orang beneran tadi Sekar ada di situ, terus dia ngilang gitu aja!” Dariel mencoba meyakinkan.
Tetapi, reaksi Bagas masih sama. Tatapan prihatin masih terlihat dari pria yang lebih tua setahun dari Dariel itu.
“Pak, jangan bikin saya takut, deh.”
Merasa percuma, Dariel pun hanya membuang napas kasar. Apa yang Sekar lakukan tadi terlalu ajaib untuk dipercaya. Kalau tidak melihatnya sendiri, Dariel mungkin juga akan bereaksi sama seperti Bagas.
Dengan langkah perlahan sambil terus menengok ke tempat menghilangnya Sekar tadi, Dariel berjalan menuju mobil yang sudah berhenti di depannya. Bahkan saat membuka pintu dan berada di dalam mobil pun matanya masih tertuju ke arah yang sama.
“Atau jangan-jangan tadi itu dedemit?” gumam Dariel.
Mendengar gumaman itu Bagas yang duduk di kursi sopir pun semakin prihatin. Dia takut mental Dariel terganggu, karena belakangan memang Dariel sangat sibuk dan sering diterpa bahaya.
Yang kemarin itu hanya salah satu saja. Dalam waktu tujuh bulan terakhir, nyawa Dariel sudah hampir melayang sebanyak sembilan kali. Sudah begitu, pelaku utamanya belum juga ketahuan.
“Pokoknya gue kudu kerja yang bener, biar Pak Bos gak makin stres.” begitu tekad Bagas.
...
Siang berlalu menjadi malam, Dariel pun terbang ke Singapur seperti yang sudah dia rencanakan. Di notifikasi hapenya, puluhan pesan dari Lukman terpampang di sana. Tetapi, karena lelah, Dariel baru membalasnya berjam-jam kemudian. Toh pesan-pesan itu tidak begitu penting.
Berdasarkan jadwalnya, Dariel akan mengecek cabang perusahaannya di negara itu. Lalu, dia juga akan menemui beberapa pimpinan perusahaan lain terkait kerjasama yang tengah mereka lakukan. Semua kegiatan itu hampir memenuhi seluruh jadwalnya dan hanya menyisakan satu hari untuk liburan.
Sialnya selama itu, dia masih kepikiran tentang Sekar yang tiba-tiba lenyap dengan ajaib. Dariel masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, hingga hampir saja dia tidak fokus dengan pekerjaannya. Untungnya masih ada Bagas yang bisa mengingatkannya.
“Ya ampun, Pak. Masih dipikirin? Itu tuh cuma fatamorgana. Bapak lagi kebanyakan pikiran, makanya bisa ngeliat halusinasi,” ujar Bagas saat mendapati bosnya melamun saat sarapan terakhir mereka di Singapur.
“Kamu tuh gak tahu, sih. Ini itu kedua kalinya saya lihat Sekar nge’cling’ kayak gitu.” Dariel membela diri.
“Maksudnya yang di parkiran mall itu? Emangnya Bapak lihat langsung?”
Dariel memutar bola matanya dan berkata, “Nggak, sih. Tapi, waktu itu saya nengok, tiba-tiba dia udah ilang sama pelakunya. Ghaib banget sumpah.”
Kalau sudah membawa-bawa sumpah, Bagas sudah mulai malas menyanggah ucapan Dariel. Ujung-ujungnya Dariel pasti tidak akan mendengarkan Bagas dan kukuh dengan pendapatnya.
...
Benar saja. Begitu pulang ke Indonesia, pria berkulit sawo matang itu langsung menghubungi HRD Hardiansyah Grand Mall untuk memanggil Sekar ke ruang CEO.
Perempuan itu dengan ragu-ragu masuk ke back office yang jarang dia kunjungi. Pikirannya yang sudah seminggu ini kacau semakin amburadul begitu mendapatkan panggilan mendadak dari manager HRD.
“Ini gue mau diapain ya? Kemarin udah dapat hadiah sembako, masa dikasih hadiah lagi? Atau jangan-jangan soal yang di pameran itu ya? Gimana kalau gue dikira punya double job? Duuuh...” batin Sekar panik.
Sama halnya dengan Dariel, sebetulnya Sekar pun terus kepikiran dengan kejadian di pameran lukisan minggu lalu. Waktu itu, saking kaget dan takut dikira melanggar aturan perusahaan, dia langsung melarikan diri.
Sekarang, Sekar harus menerima konsekuensinya. Entah apa yang akan dia dapatkan nanti di dalam ruangan itu. Dia hanya bisa berdoa, agar tidak dihukum berat ataupun dipecat.
“Permisi, Pak.” ujar Sekar sambil mendorong pintu yang sedari tadi sudah setengah terbuka.
“Masuk.”
Begitu diminta, Sekar baru masuk lalu menutup pintu itu. Dia tidak mau ada orang lain yang mendengar saat dia dimarahi, karena itu sangat memalukan.
“Maaf saya panggil kamu mendadak. Silakan duduk dulu.”
Dariel mempersilakan Sekar untuk duduk berhadapan dengannya di sofa, bukan meja kerja.
“Gapapa, Pak. Tapi, ada apa ya?”
Di mata Sekar, sebetulnya Dariel sama sekali tidak mengeluarkan aura mengerikan seperti orang yang sedang marah. Malah rasanya pria itu begitu ramah. Karena itu, dia sedikit me-relax-kan diri.
“Bingkisan dari saya sudah diterima?” tanya Dariel memastikan.
“Sudah, Pak. Terima kasih banyak atas hadiahnya.” sahut Sekar.
Sekar tanpa malu-malu menerima hadiah itu, karena memang butuh untuk keperluan sehari-hari. Baginya, tidak baik kalau menolak hadiah. Toh dia juga tahu alasan mendapatkan hadiah tersebut.
“Harusnya saya yang bilang makasih, karena kamu sudah menyelamatkan saya. Jujur saya belum merasa sreg, karena belum mengatakan itu selama seminggu ini. Hadiah yang kemarin saya kasih juga rasanya belum sepadan dengan yang kamu lakukan.”
Sambil tersenyum kikuk Sekar berkata, “Bapak gak perlu sungkan. Itu sudah tugas saya.”
“Kamu mau dapat apa lagi? Silakan kamu bilang saja ke saya, ya. Atau mau naik jadi karyawan tetap?”
Sekar menggelengkan kepalanya.
“Gak usah, Pak. Yang kemarin sudah cukup. Saya ingin bertahap saja seperti karyawan lain.”
“Wah, saya nanti makin gak enak. Atau, gini aja!”
Dariel tiba-tiba teringat sesuatu.
“Kemarin saya ketemu sama anak kamu sendirian di rumah. Gimana kalau saya pekerjakan nanny di sana?”
Seketika Sekar menolak, “Gak usah repot-repot, Pak. Duh...”
“Gapapa, nanti saya yang bayar gajinya. Kamu bisa bilang ke suami kamu, kalau dia tidak perlu khawatir soal biaya sekolah anak kamu juga.” Dariel masih kukuh.
Sekar pun juga ingin menyanggah. Tapi, ada satu hal yang menarik perhatiannya.
“Suami?” lirihnya.
“Saya dengar dari putramu, katanya suamimu sedang di luar kota. Kalau mau, saya bisa pekerjakan dia di Ibu Kota. Jadi, kalau kamu kerja, masih ada yang jagain anak kamu.”
Beberapa saat Sekar terdiam. Setelah menghela napas pelan, dia berkata dengan suara yang agak bergetar, “Dipta ternyata masih memikirkan Ayahnya.”
Lanjutnya, “Ehem! Maaf, Pak. Itu tidak perlu. Saya sudah tidak punya suami.”
Dariel tertegun.
“Oh, maaf. Saya... gak tahu.” sesalnya.
Entah itu cerai hidup atau mati, Dariel tidak berai menanyakannya. Terbaca dari sirat wajahnya, Sekar tidak mau membicarakan hal tersebut.
“Gapapa. Kejadiannya memang baru-baru ini, tapi saya sudah ikhlas.”
Dariel jadi teringat dengan perjuangan Ibunya yang membesarkan dirinya seorang diri tanpa Ayah. Walaupun tadi Sekar berkata tidak apa-apa, pasti ini adalah saat-saat yang sangat berat baginya dan puteranya.
“Kalau gitu...”
‘Brak!’
Belum sempat Dariel melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Dari sana muncullah seorang perempuan yang tidak asing baginya. Tapi, sayangnya dia bukanlah orang yang Dariel harapkan untuk datang. Jangankan bertemu, melirik pun Dariel sudah malas.
“Mas Dariel, kamu tuh kenapa menghindari aku terus, sih? Aku udah berkali-kali telfon, gak pernah diangkat. Tiap kali ke kantor, kalau gak rapat pasti kamu ke luar kota. Kapan kamu ada waktu buat kita?” cerocos perempuan itu tanpa jeda.
Dengan kasar Dariel mendengus, kemudian berteriak, “Siapa yang izinkan perempuan ini masuk ke sini!?”
Suaranya begitu menggelegar hingga terdengar sampai ke luar ruangan. Mendadak para karyawan pun bergidig takut. Mereka tidak menyangka, bos mereka yang terkenal penyabar itu bisa membentak sekencang itu.
Selang beberapa detik, seseorang ikut masuk ke dalam ruangan. Dia adalah Bagas. Napasnya ngos-ngosan dan peluhnya menetes hingga ke lantai.
“Maaf, Pak. Tadi saya ditahan sama orang suruhan Mbak Rizka.” alasannya.
“Mas, kamu tuh ngertiin aku dong! Aku tuh kangen sama kamu. Harusnya kamu kasih waktu juga dong buat aku. Buat kita!” kata Rizka memelas.
Dariel memijat-mijat kepalanya yang mendadak dibuat pusing.
“Denger, ya. Saya gak ada perasaan apapun sama kamu. Saya ketemu kamu waktu itu cuma karena bujukan orang aja. Ngerti gak, sih?” Dariel menegaskan.
Mata Rizka mulai berkaca-kaca.
“Tapi, aku tuh cinta sama kamu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu. Please, kasih aku kesempatan!”
Detailnya Sekar tidak paham apa yang sedang terjadi. Tapi, dia tahu bahwa Dariel tidak suka dengan kehadiran perempuan yang datang seenaknya itu. Sekarang saja dia bisa melihat kalau kerutan di jidat Dariel bertambah.
“Ck,” Sekar berdecak saking jengahnya.
Diapun berdiri dan mendekat pada Rizka.
“Kamu mau ap..”
‘Dakh!’
Dalam sekali pukulan di leher, Rizka langsung terkulai tak sadarkan diri.
“Tidur dulu, gih!”