BAB III - DI TEMPAT TAK TERDUGA

1159 Words
Baik Dariel maupun Bagas tidak yakin dengan apa yang baru saja mereka dengar. Sungguh sulit dipercaya bahwa perempuan semuda Sekar sudah memiliki putera seusia anak SD. Pasalnya, Sekar terlihat begitu muda. Di mata mereka, mungkin Sekar masih berusia sekitar 20an awal. Kalaupun punya anak, cocoknya masih bayi atau balita. “Sekar... mama kamu, atau di komplek ini ada Sekar yang lain?” tanya Dariel memastikan. “Nama mama saya memang Sekar. Saya gak tahu yang lain, soalnya baru pindah.” jawab anak itu. Jika diperhatikan baik-baik, wajah anak ini memang mirip dengan Sekar. Anak itu juga tidak terlihat sedang berbohong. “Kalau papa kamu ada?” tanya Bagas sekarang. Sejenak anak itu terdiam. Kemudian, dia menjawab, “Papa di luar kota.” “Ternyata dia udah nikah.” batin Dariel. Entah kenapa dia merasa sedikit kecewa. Tapi, memangnya dia siapa pakai kecewa segala? “Jadi, kamu sendirian?” Anak itu mengangguki pertanyaan Dariel. Mengetahui itu, Dariel jadi prihatin. Masa anak sekecil ini dibiarkan sendirian di rumah. Sekarang memang masih masa libur sekolah, tapi apa tidak ada saudara yang bisa menjaganya? Begitu pikirnya. “Omong-omong saya boleh masuk? Ada yang perlu saya kasih ke Ibu kamu.” ujar Dariel. Seketika anak itu malah masuk ke dalam rumah dan hampir menutup pintu lagi. “Tunggu, tunggu!” seru Dariel sambil menahan pintu agar tidak ditutup lagi. “Mama bilang, ga boleh kasih masuk orang yang gak dikenal!” anak itu balas teriak. ‘Brak!’ Wajar bila anak itu bereaksi seperti itu. Malah aneh kalau tadi dia membiarkan Dariel dan Bagas masuk. “Ya udah, lah. Kita cabut aja.” kata Dariel sambil mengutak-atik ponselnya. Kemudian, mereka berdua merapikan kembali barang-barang yang tadi mereka ambil dari mobil ke dalam bagasi. Setelah itu, meluncurlah mereka menuju lokasi selanjutnya yang sudah dijadwalkan. Tujuan mereka setelah ini berjarak cukup jauh dari rumah Sekar. Butuh waktu sekitar satu jam setengah hingga sampai di lokasi, karena itulah mereka berangkat pagi-pagi sekali. Begitu mesin mobil menyala, hal pertama yang Dariel lakukan adalah membuka laptopnya. Menurutnya sayang kalau satu jam setengah hanya dia habiskan dengan melihat-lihat jalan. Toh dia bukan CEO yang ada di drama yang terlihat santai terus dan bisa punya banyak waktu untuk pacaran. Begitu sampai di tujuan, barulah Dariel menutup laptopnya dan turun dari mobilnya. Saat turun, dua orang berpakaian serba hitam langsung maju mengiringinya. Mereka adalah bodyguard yang biasanya hanya Dariel tugaskan untuk menjaga dari jauh. Tapi, untuk saat-saat tertentu mereka ditempatkan di garda depan. Seperti sekarang, Dariel tengah berada di sebuah pameran lukisan. Dariel sendiri tidak tertarik dengan lukisan maupun seni lain pada umumnya. Satu-satunya seni yang dia sukai hanya game. Itupun tidak dia tekuni dan hanya dia lakukan sebagai hiburan di waktu senggang. Tetapi, berhubung pameran ini digelar oleh temannya, Dariel pun menyempatkan untuk datang walaupun hanya sebentar. “Lho, Dariel. Kirain lo bakal datang malam ini.” Seorang pria kurus berambut gondrong datang menyambut Dariel dengan begitu antusias. Dialah Azam, teman Dariel yang dimaksud. “Soalnya nanti malam harus ke Singapur. Di sana sampai seminggu. Jadi, ya sempetnya sekarang.” jelasnya. Azam manggut-manggut sambil berdecak. “Ckckck... emang ya, bos besar tuh sibuk terus. Gimana dapet jodohnya coba?” Dariel membuang muka dan berkata, “Gak penting banget.” “Haaah...” dengus Azam. Lanjutnya, “Serah, deh. Omong-omong gue mau ketemu yang lain dulu. Lo liat-liat dulu aja deh, kalau ada yang suka, langsung gue kirimin.” “Ya... ya...” sahut Dariel sekenanya. Untuk menghormati temannya, Dariel mulai menjelajahi isi pameran. Ada beragam lukisan yang terpajang di pameran ini dengan berbagai ukuran. Lukisan-lukisan ini tidak hanya dipajang, tapi juga untuk dijual dan dilelang. Berhubung pelukisnya cukup terkenal, tentu hanya orang-orang berduit saja yang nekat membeli lukisan-lukisan ini. Adapun yang paling spesial akan dilelang malam hari nanti. Lukisan-lukisan itu juga ditempatkan di ruangan khusus agar tidak dijamah oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Tapi, bagi yang ingin sekedar melihat, mereka masih diizinkan. Satu persatu Dariel memperhatikan lukisan-lukisan itu. Bukannya takjub, semakin lama memperhatikan, Dariel malah semakin tidak mengerti apa yang orang lain sukai dari lukisan ini. Maksudnya, dia tahu kalau lukisan-lukisan itu bagus dan memiliki nilai seni, tapi di antara lukisan ini tidak ada satupun yang menarik hatinya. Lagi-lagi ini soal selera, sih. Setelah puas melihat-lihat, Dariel lalu memanggil Bagas yang masih memperhatikan lukisan-lukisan di sekitarnya. “Gas, nanti ambil yang gambar api itu aja. Bilang Pak Hasan buat ambil nanti sore.” bisik Dariel. “Oke, Pak. Segera saya laksanakan.” sahut Bagas. Dia tidak ambil banyak waktu untuk segera menghubungi Hasan, asisten rumah tangga Dariel yang akan mengambil lukisan tadi. Lukisan yang Dariel maksud adalah lukisan abstrak berwarna dominan merah dengan bentuk yang menyerupai api yang menyala-nyala. Entah apa arti lukisan itu, Dariel pun tidak paham. Dia hanya asal beli. “Apa ada lagi, Pak?” Dariel berpikir sejenak, lalu menjawab, “Kalau kamu mau, ambil satu lagi juga gapapa. Terserah yang mana.” “Pak, nanti saya ambil yang paling mahal, loh.” Salah satu ujung bibir Dariel terangkat. Dengan sombong dia berkata, “Kalau kamu berani, coba aja.” “Oke.” Bagas perlahan mundur sebelum bosnya berubah pikiran. Tentu dia tidak benar-benar akan mengambil yang termahal. Seperti halnya Dariel, Bagas juga tidak terlalu tertarik dengan lukisan. Jadi, dia juga akan memilih sembarang saja. Setelah ini rencananya Dariel ingin ke ruangan selanjutnya, ruangan di mana barang yang akan dilelang tengah dipajang. Begitu masuk, Dariel langsung disambut dengan segerombolan orang yang tengah melihat lukisan terbesar yang ada di sana. “Pak Dariel juga tertarik pada lukisan?” Seorang pria paruh baya tiba-tiba muncul dari belakang Dariel dan menepuk pundaknya. “Wah, Pak Lukman juga ke sini ternyata. Saya memang datang untuk membeli lukisan.” Orang bernama Lukman itu menanggapi, “Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertaruh pada lelang manam ini?” “Hahaha... Saya jadi tidak berani.” Bukan tidak berani, Dariel memang tidak akan ikut. Tetapi, berdasarkan pengalamannya, Lukman selalu mengajaknya berlomba-lomba dalam berbagai hal. Lukman juga beberapa kali menjadi saingannya dalam mendapatkan tender. Padahal rasa-rasanya dia tidak pernah mengajak ribut. Jadi, Dariel menjawab begitu hanya untuk memuji Lukman saja. “Permisi, Pak. Kita sudah harus ke kantor. Rapat akan segera dimulai.” kali ini Bagas lah yang menyela. Secara diam-diam, Dariel memberikan kode jempol pada Bagas. Dengan ini, Dariel tidak perlu berlama-lama mengobrol dengan Lukman. “Seperti biasa, Anda selalu sibuk. Sesekali longgarkan waktu kan tidak masalah. Kita main-main lah ke bar saya. (Berbisik) Nanti saya kenalkan yang cantik-cantik di sana.” Lukman masih mengajak Dariel untuk berbasa-basi. “Hm... mungkin lain kali. Mari, saya permisi dulu.” pamit Dariel yang kemudian beranjak dari sana. Dengan ditemani bodyguard, Dariel dan Bagas bergegas keluar dari pameran. Sambil menunggu mobil mereka keluar dari parkiran, mereka berdiri di depan pintu masuk. Dan saat itulah Dariel akhirnya justru menemukan orang yang dia cari dari pagi. “Sekar?” Mata mereka saling bertemu. Sekar juga mendengar saat Dariel memanggilnya. Namun, bukannya mendekat, perempuan itu malah lenyap seketika. Ya. Bukan lari, tapi lenyap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD