“Lelaki yang kau cintai selama bertahun-tahun. Aku penasaran siapa yang beruntung mendapatkan hatimu.”
Mendengar ucapan itu membuat d**a Madeline seketika sakit. Ia mengepalkan tangan lalu tersenyum getir.
“Kau tidak perlu tahu siapa dia.”
Madeline mengambil jeda. “Lagipula, dia sudah memiliki kekasih dan akan menikah lagi.”
“Menikah lagi?”
Jeremy sangat terkejut. Mereka sudah bersama selama dua tahun, tapi tidak tahu bahwa pria yang dicintai oleh Madeline sudah memiliki pasangan.
Madeline mengangguk lembut. “Hmmmm, dia pernah menikah karena tuntutan keluarganya. Tapi, sekarang kekasihnya sudah kembali, jadi tidak ada alasan untuk dia bertahan pada pernikahan pertamanya.”
Setelah mendengar itu, Jeremy merasakan gejolak panas di d**a.
“b******n sekali, menyakiti dua gadis sekaligus. Tak masalah, Madeline. Kau bisa mendapatkan yang lebih baik. Lupakan dia dan cari yang baru.”
Madeline mengangguk.
“Aku rasa kau benar.”
Jeremy dan Madeline saling memandang dalam diam.
‘Aku sudah mencintaimu selama sepuluh tahun, Jeremy. Tidakkah kau menyadari itu? Pria yang kucintai itu adalah kamu.’
Madeline mengepalkan tangan seraya berseru dalam hati bahwa tak akan mungkin bisa mencari yang baru.
Di sisi lain, Jeremy merasakan sesuatu yang aneh dengan tatapan Madeline.
“Madeline ….”
“Hmmmm?”
Namun, Jeremy menggeleng. Entah perasaan apa yang kini mengganggu pikirannya. Ia merasa kesal.
“Tidak jadi.”
Barang sesaat, ia terpikir jika ciri-ciri pria yang disebut sang istri mirip dengan dirinya. Akan tetapi ia menggeleng. Tak mungkin. Madeline jelas mengatakan telah mencintai pria itu selama sepuluh tahun. Sementara mereka baru saling mengenal selama empat tahun?
Setelah Jeremy pergi dari hadapannya, Madeline langsung mengambil hasil lab dari tempat sampah.
Ia merapikan kertas lecek itu lalu menyimpannya dengan hati-hati.
***
Kian hari Madeline merasa tubuhnya semakin tidak beres. Setiap hembusan nafas, terasa begitu menyakitkan baginya. Ia berbaring di tempat tidur dan terlelap. Tiba-tiba sebuah ponsel berdering hingga membangunkan tidurnya.
“Halo?” sapa Madeline setengah tertidur. Suaranya terdengar sengau dan lembut.
“Kau masih tidur?” tanya Jeremy dengan lembut.
“Hmmmm, baru saja bangun.”
“Sudah siang, jangan lupa makan. Ngomong-ngomong, asistenku akan datang untuk mengantarkan hadiah.”
“Hadiah … apa?”
Setelah bangun tidur, Madeline benar-benar belum sadar sepenuhnya.
"Hadiah ulang tahun pernikahan kita. Sebelum benar-benar berpisah, kau masih menjadi tanggung jawabku. Aku ingin menjadi suami yang baik lagi. Tidak boleh ada seorang wanita pun yang membuatmu iri.”
Lihatlah betapa manisnya Jeremy? Ia merupakan sosok pria yang begitu sempurna. Dan kesalahan terbesar Madeline hanya satu, karena mencintai seorang pria yang tidak pernah mencintainya.
“Aku minta maaf karena ada sedikit kesalahan, jadi aku mengganti hadiahnya dengan yang lain. Tidak apa-apa ‘kan?”
Suara Jeremy menyadarkan lamunannya.
“Jangan khawatir, Jeremy.”
Madeline mengerti. Ia merasakan gejolak yang tak biasa. Entah mengapa mendengar ucapan penyesalan pria itu, membuat hatinya teriris. Padahal hubungan mereka sudah berada di ujung tombak. Tapi, Jeremy tetap mengingat hari pernikahan mereka.
Tak lama bel berbunyi. Itu pasti asisten Jeremy—Patrick Wardell. Madeline gegas menutup telepon lalu beranjak dan berganti pakaian.
“Selamat siang, Nyonya. Tuan Whitman meminta saya memberikan ini untukmu.”
Patrick memberi hadiah tersebut seraya menunduk hormat.
“Terima kasih.”
Madeline menatap kotak indah tersebut. Tak diragukan lagi, hadiah itu pasti mahal. Meski bukan sesuatu yang ia inginkan. Madeline tetap membuka kotak tersebut. Sebuah kalung dan anting berwarna rubi tampak berkilau saat ia membukanya. Diam-diam ia tersenyum.
Apakah Jeremy sedang berusaha menebus kesalahannya karena tidak bisa mendapatkan hadiah yang ia inginkan?
Bayangkan saja, ia menghadiahi sebuah berlian dengan harga fantastis.
Bulan lalu, mereka sempat menghadiri acara lelang perhiasan bersama-sama. Madeline sempat terpesona pada sepasang anting berwarna zamrud. Dan ketika itu, Jeremy mengetahuinya. “Jika kau menyukainya, aku akan menawarnya.”
“Tidak. Itu terlalu mahal.”
Bagaimanapun mereka hanya menikah secara kontrak. Jadi Madeline merasa tidak pantas menerima begitu banyak pemberian dari pria itu.
“Anniversary kedua kita sebentar lagi. Ini hadiah untukmu. Jika kau merasa ini terlalu berlebihan—kau bisa berikan aku sesuatu sebagai imbalannya.”
Kalimat itu memberi peluang bagi Madeline untuk mengatakan bahwa dirinya hamil. Namun sayangnya, Jeremy justru meminta cerai. Hadiah yang sudah ia siapkan nyatanya harus dibuang.
Rasanya seperti takdir tak mengizinkan mereka bersama. Kini tiba saatnya mereka harus berpisah. Lagipula, Jeremy akan menolak percaya bahwa Madeline tengah mengandung.
Patrick hendak berlalu ketika hadiah itu sampai ke tangan nyonyanya. Namun, tiba-tiba Madeline menahan langkah kakinya.
“Patrick, tolong berikan ini untuk Jeremy. Katakan bahwa aku sendiri yang membuatnya.”
Madeline mengambil sebuah kotak berisi kue. Tapi, Patrick tampak ragu Ia ingat betul bahwa tuannya tak suka makanan manis.
“Aku tak suka makanan manis.”
Melihat binar mata di wajah Madeline, Patrick mengatakan yang sebenarnya.
“Maaf, Nyonya. Tapi … Tuan Jeremy tidak menyukai makanan manis. Ia tahu Anda lebih menyukai itu. Jadi, tuan pasti akan lebih senang jika anda yang memakannya.”
Madeline berupaya agar kue itu sampai ke tangan Jeremy. “Kue ini tidak terlalu manis. Jadi, bisakah kau bawa agar dia mencicipinya?”
Patrick menghela nafas.
“Saya rasa tidak perlu, Nyonya. Daripada dia hanya menyimpannya dalam lemari es, lebih baik anda saja yang memakannya.”
Disaat berikutnya, Patrick undur diri. Setelah kepergian pria itu, Madeline membawa kembali kotak tersebut ke dalam kamar.
Tubuhnya bersandar di balik pintu dan beringsut perlahan-lahan. Air mata pun seakan tak bisa terbendung. Ia menangis sejadi-jadinya.
Jika kue itu pemberian dari Joanna—kekasihnya. Pasti Jeremy tak akan menolak itu. Jadi, seharusnya ia tak perlu berharap lebih. Jeremy hanya berusaha menghormatinya sebagai istri.
Tak lama kemudian, suara telepon berdering.
‘Jeremy?’
***