Tetaplah Bersamaku

752 Words
‘Jeremy?’ Madeline melihat layar ponselnya. Detik berikutnya, ia menggeser ikon berwarna hijau. “Ya, halo?” “Apa kau sudah menerima hadiah dariku?” “Ya, aku sudah menerimanya.” “Apa kau menyukainya?” “Hmmm, ya, aku menyukainya. Terima kasih, Jeremy.” “Kau akan terlihat cantik saat menggunakannya. Warna ruby itu akan menyatu dengan kulitmu.” Madeline tersenyum getir. “Oh, ya. Aku tidak akan pulang malam ini,” ucap Jeremy setelah menjeda kalimatnya. Jantung Madeline terasa diremas ketika mendengar suara wanita di sisi suaminya. “Kau tidak memberitahunya bahwa kita akan makan malam roman….?” “Jaga dirimu.” Jeremy mengucapkan satu kalimat terakhir sebelum Madeline menjawab kalimat itu. “Ya ….” Meski suara telepon terputus tiba-tiba, Madeline masih mendengar dengan jelas suara Joanna. Apa katanya? Makan malam roman … tis?” Bukankah seharusnya ia yang berada disana? Bagaimana mungkin mereka merayakan anniversary namun suaminya justru makan malam romantis dengan wanita lain? Sungguh ironis. Joanna telah memenangkan hati Jeremy kembali. Meski Madeline tidak ingin percaya, tapi begitulah kenyataannya. Saat ini ia hanya bisa bersyukur karena tidak mengatakan yang sebenarnya. Jika tidak—mungkin akan menyulitkan keadaan mereka. Setelah menangis sejadi-jadinya dan meluapkan emosi yang selama ini ia pendam, akhirnya Madeline merasa tenang. Bukankah ini keputusan mereka? *** Malam hari, ketika Madeline bergegas tidur, seseorang dari ponsel teman Jeremy menghubunginya, Wayne Lawrence. “Jeremy bisakah kau kemari? Jeremy mabuk. Ia membuat keributan disini.” Kening Madeline mengkerut. Bukankah seharusnya Jeremy bersama wanita itu menghabiskan malam bersama? Merasa tidak tenang, Madeline bangkit dari ranjangnya, berganti pakaian, lalu meminta supir untuk mengantarkannya ke bar, tempat Jeremy mabuk berat. Setibanya di sebuah bar. Madeline langsung menuju private room yang sudah sepi. Saat itu titik pandangnya langsung tertuju pada Jeremy yang tengah tergeletak di atas sofa dengan setelan jas. Sehingga membuat Jeremy tampak begitu tampan dan bersahaja. Ia menghampiri Wayne. “Bagaimana bisa dia mabuk? Bukankah seharusnya dia bersama Joanna?” “Jadi kau sudah tahu itu?” Wayne menatap curiga. Kalimat sarkasnya seolah menuduh Madeline yang macam-macam. “Kau tidak keberatan ketika suamimu bersama wanita lain di sebuah bar?” Madeline mengepalkan jemarinya erat seraya menarik napas. Wayne tidak berhak menghakiminya. Sebentar lagi, ia tidak akan jadi istrinya lagi. “Tidak masalah. Lagipula, kami sudah sepakat untuk bercerai. Secara hukum, kami memang belum bercerai. Tapi, dia sudah menceraikanku. Jadi, aku tidak ada hak untuk menahannya lagi.” Wayne memandang Madeline sambil mencibir. “Kau terlalu dangkal!” Sambil bersedekap, Wayne memalinkan wajahnya. “Madeline, apakah kau tidak punya perasaan? Jeremy itu sudah sangat baik memperlakukanmu. Dia merawat dan melakukan apapun yang ia bisa sebagai suami. Jadi, saat ia meminta cerai, bukankah seharusnya kau menghentikan itu?” Madeline menatap dengan tanda tanya besar di kepalanya. “Dulu kau selalu menentang hubungan kami. Lalu, saat kami memutuskan untuk bercerai, kau justru menyalahkanku. Bukankah seharusnya kau senang?” “Tidak. Menurutku, kau lebih cocok bersama Jeremy dibandingkan wanita itu.” ‘Wanita itu? Joanna?’ Madeline bermonolog. Ia pun tak mampu lagi berkata-kata. Tak lama setelah itu, Madeline memanggil sang supir untuk membantu Jeremy masuk ke dalam mobil. Usai tiba di rumah, Jeremy langsung dibawa ke kamar. Saat keadaan mulai kondusif dan Madeline baru saja keluar dari kamar mandi, ia melihat Jeremy tergeletak di lantai. “Astaga!” Dalam keadaan yang belum fit, Madeline menghela nafas kasar karena harus membantu suaminya membuka pakaian yang dipenuhi aroma alkohol. Menit-menit berlalu, Jeremy akhirnya bersih kembali. Sementara Madeline sudah ingin buru-buru istirahat. Ketika ia berbalik, sebuah tangan menahannya. “Jangan pergi, tetaplah disini, bersamaku!” Madeline terkejut bukan main. Jantungnya pun ikut berdebar tak karuan ketika sebuah tangan menyentuhnya, hangat. Kalimat itu sangat langka terucap dari bibir manis sang pria. Alhasil, ia setuju. Hatinya yang keras kini melunak. Bukankah ini akan menjadi malam terakhir bagi mereka? Setelah bercerai, mereka tak akan lagi satu ranjang. “Baiklah.” Madeline tersenyum lalu berbaring di sisi suaminya—di bawah selimut yang sama. Berada dalam jarak yang begitu dekat, membuat jemarinya lantang menyusuri alis, hidung dan bibir suaminya. Jelas saja Madeline berani. Karena pria itu sedang tertidur pulas. Keesokan harinya, Madeline terbangun oleh getaran ponsel. Dengan wajah sedikit mengantuk, ia meraih ponsel di nakas. Tanpa sadar, ponsel Jeremy lah yang ada di tangannya. “Halo,” “Ya, halo. Ini … Madeline?” Sebuah kalimat tanya terdengar ragu. Suara di ujung panggilan itu sudah tidak asing lagi. Ia menyipitkan mata, sadar dari berbagai pertanyaan yang ada di otaknya. Saat yang sama, ia menatap kembali layar ponsel itu. ‘Joanna?’ ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD