Ucapkan Dengan Manis

876 Words
“Siapa?” tanya Jeremy. “Oh ini ….” Madeline hanya menatap ekspresi Jeremy. Sementara pria itu langsung mengambil ponsel dari tangannya. Jeremy berjalan ke jendela lalu berbincang selama beberapa menit. Meski Madeline tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi ia bisa melihat raut wajah yang semula tidak nyaman berubah menjadi tenang. Usai menutup panggilan tersebut. Jeremy melangkah menuju ranjang. Madeline memandang dengan penuh penyesalan. “Maaf karena aku tidak sengaja mengangkat panggilannya. Apa dia salah paham?” “Tidak apa-apa, aku sudah beri pemahaman.” Sejenak Jeremy menjeda lalu memandang wanita disana. “Sebagai suami istri, berada di ranjang yang sama bukankah hal yang wajar?” “Iya,” jawab Madeline sambil mengangguk. Saat ia hendak bangun, Jeremy tiba-tiba mendekat. “Apa yang terjadi dengan wajahmu?” Madeline langsung beranjak menuju cermin. Entah mengapa wajahnya dipenuhi ruam. Bahkan sudah menyebar di kaki, lengan, dan tubuhnya. Seketika ia teringat bahwa kemarin memakan begitu banyak kue. Dalam komposisi kue itu terdapat telur yang membuat alerginya menjadi kambuh. Padahal, Madeline berharap hanya dengan menggigitnya, tak akan membuat alergi menjadi-jadi. Madeline selalu berharap bahwa pernikahannya akan berjalan dengan baik dan berlangsung lama. Namun, kenyataan memaksa untuk jauh-jauh mengubur harapan itu. “Mungkin hanya alergi. Aku sudah minum obat. Beberapa hari lagi pasti akan hilang,” jelas Madeline. “Kau benar baik-baik saja?” “Iya, hal ini tidak akan mengganggu pertemuan kita dengan kakek. Mas tenang saja. Aku akan menyamarkan ruam di wajah dan berganti pakaian. Hari ini, aku akan mengatakan tentang perceraian kita pada kakek.” Jeremy sudah sangat menginginkan perceraian. Jadi, tidak ada alasan untuk wanita itu menundanya. Madeline tidak akan mencari simpati. Sebab, ia tak butuh itu. “Kita tidak akan pergi ke rumah kakek. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.” “Tidak perlu. Kakek pasti sudah menunggu.” Jeremy menggelengkan kepala. “Ada perubahan rencana. Karena kakek sedang tidak sehat, jadi acara ulang tahunnya pun akan diundur menjadi minggu depan.” “Oh.” “Lagipula, kakek sangat menyukaimu. Jika kau mengatakannya sekarang, dia pasti tidak akan bisa menikmati pesta. Jadi, kita bicarakan itu lagi setelahnya saja.” “Hmmm, baiklah.” Madeline mengangguk. “Jangan khawatir. Begitu ulang tahun kakek berakhir, aku akan mengatakannya dengan segera.” Madeline tidak ingin Jeremy salah paham sehingga harus mengatakan itu. “Sepertinya kau ingin cepat-cepat bercerai dariku. Apa kau tidak sabar untuk memulai hidup baru dengan kekasihmu?” Jeremy terkekeh seraya mengusap pelipis. Anehnya lagi, ia merasa kesal tanpa alasan. Usai sarapan, Madeline terpaksa di bawa ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa ia mengalami gejala alergi. "Saya akan meresepkan beberapa obat. Minumlah secara teratur. Jika gejalanya terus berlanjut, kita akan mengambil tindakan lain.” Madeline mengusap perutnya dan menjadi ragu. Mungkin saja obat-obatan akan mempengaruhi perkembangan janinnya. Memandang Jeremy yang berdiri di sisinya, ia jadi tidak bisa bertanya secara langsung. Tak lama, suara dering ponsel pria itu berdering. Ia pun keluar untuk menerima telepon tersebut. “Aku keluar dulu, ya.” Madeline mengangguk. Setelah melihat punggung pria itu menghilang dari balik pintu. Madeline mengalihkan pandangannya pada sang dokter. “Dok, saya sedang hamil. Apa boleh mengkonsumsi obat-obatan?” “Jadi anda sedang hamil?” Madeline mengangguk. “Baiklah, seharusnya anda bilang dari awal. Saya akan berikan obat luar saja, ya.” “Terima kasih, Dok.” *** Saat meninggalkan tempat pengambilan obat, raut wajah Jeremy berubah. Tiba-tiba saja, sikapnya menjadi dingin. Jeremy berusaha menekan emosinya sepanjang berjalan di koridor rumah sakit. “Kenapa kau tidak bisa menjaga dirimu dengan baik, Madeline?” Madeline menebak Jeremy marah karena resep obat yang berbeda. “Kita akan bercerai, jadi aku tidak ingin merepotkanmu. Lagipula, selama dua tahun aku sudah banyak membuatmu kesulitan.” “Baguslah jika kau sadar kalau dirimu merepotkan.” Ucapan Jeremy kala itu, bukanlah tanpa sebab. Ia hanya berusaha meluapkan emosinya. Namun, kata-kata itu justru menyakitkan bagi Madeline. Tak lama, nada bicaranya melemah. “Aku sudah biasa menghadapimu. Jadi masalah seperti ini, aku juga bisa bantu atasi.” Jeremy melihat obat yang diresepkan itu. “Bukankah tadi dokter bilang akan meresepkan obat? Lalu kenapa yang ada hanya salep saja? Madeline terperangah. Lidahnya kelu dan tak bisa mengatakan apapun. Ia tak ingin Jeremy curiga. “Obat salep juga sangat bagus.” “Alergimu sudah sangat parah. Jika kau tidak minum obat, bagaimana akan sembuh? Sedangkan acara ulang tahun kakek sudah di depan mata. Ruam itu pasti akan membuat kakek mengira aku menganiayamu,” Jeremy hampir kembali ke ruang konsultasi untuk memprotes, namun Madeline menahannya. “Tidak, Mas. Aku yang minta ganti obat sama dokter karena perutku sedang tidak nyaman sejak beberapa hari lalu.” “...” Madeline berhenti sesaat. “Obat oles mungkin lebih lambat, namun resikonya lebih aman bukan?” “Baiklah.” Di dalam mobil, Madeline langsung mengoleskan salep itu ke wajah, kaki, dan lengannya. Namun, ia tidak bisa mengoles bagian punggungnya. “Apa kau tidak butuh bantuanku?” Madeline merasa Jeremy bisa membaca pikirannya. “Iya, ini ….” Madeline memberikan botol itu tanpa basa-basi. Saat yang sama, Jeremy mengerutkan kening. “Apakah ini sikap seseorang yang meminta tolong?” Madeline tersipu sambil menggigit bibir bawahnya. Ia terlalu terbawa suasana. Seraya mengedipkan mata, ia memohon dengan tatapan polos dan manis. “Sayang, bisakah kau membantuku mengoles ini di punggungku?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD