Jeremy terkejut.
“Hmmmm, Madeline … tolong jangan seperti itu,” ucapnya tersipu. Disaat yang sama mobil mengerem tiba-tiba. Madeline yang tak siap, langsung ditangkap oleh Jeremy. Jika tidak, mungkin ia sudah tersungkur ke depan.
Sopir itu meminta maaf.
“Saya minta maaf, Tuan Jeremy.”
“Tolong fokus kalau sedang menyetir.”
Jeremy mengalihkan perhatiannya pada Madeline.
“Kau tidak apa-apa?”
“Ya.”
“Syukurlah. Tadi … maksudku, bukan seperti itu ….”
Jeremy gugup. Mendengar Madeline dengan suara menggoda membuatnya bingung.
“Tapi, Mas bilang sikapku kurang baik. Apa seperti ini juga kurang baik?”
Madeline melanjutkan kalimatnya dengan suaranya yang tenang dan lembut. Sejak menikah dua tahun silam, ini pertama kalinya Jeremy mendengar Madeline dengan suara mendayu.
Dulu, Madeline lebih menjaga sikap karena tak ingin membuat Jeremy ilfeel. Namun, mengingat mereka akan segera bercerai, ia tak lagi menghiraukan itu. Bagaimanapun, ini terakhir kali ia bisa bersikap manis pada pria itu.
“Duduklah dengan baik,” pinta pria itu.
Madeline segera mengambil posisi duduk yang benar.
“Tidak boleh ada alergi seperti ini lagi.”
“Oke.”
Jeremy tampak tak puas dengan jawaban itu. Ia pun memprotesnya.
“Apa kau dengar aku, Madeline?”
“Ya, Mas. Aku dengar.”
“Kalau begitu kau harus ingat itu.”
Jeremy mengambil jeda sesaat.
“Juga, kau tidak boleh berbicara dengan nada mendayu seperti itu di depan pria lain,” timpal Jeremy.
Jeremy mengutuk dalam hati. Apa yang ia lakukan? Apa ia sudah gila? Mereka bahkan akan bercerai. Jadi, seharusnya itu hak Madeline untuk berbicara seperti apa?
Tiba-tiba Jeremy sadar. Ia mengumpat dalam hati dan tahu itu tidak masuk akal. Akibat kesal, ia melonggarkan dasi dan menarik nafas dalam-dalam. Alhasil, ia menjadi sedikit lebih nyaman.
Jeremy mulai mengoles salep itu perlahan-alan. Ujung jarinya menyusuri setiap ruang di tubuh belakang istrinya hingga membuat wanita itu menggeliat pelan.
Madeline merasakan deru nafas Jeremy mengusap daun telinganya dengan lembut. Hal itu, membuat debaran jantungnya semakin berdetak kencang. Ia bergidik dan jemari Jeremy pun gemetar.
Sorot matanya menunjukkan sebuah perasaan yang sulit diungkapkan. Setelah Jeremy selesai mengoles salep itu, Madelin pun bisa bernafas lega.
Di lampu lalu lintas, Jeremy memerintahkan supirnya untuk berbelok.
“Kita belok kiri, ya. Menuju pusat perbelanjaan.”
“Mas tidak pergi ke kantor?”
“Ulang tahun kakek sebentar lagi. Kita belum menyiapkan hadiah.”
“Baiklah.”
Madeline pun mengerti dan mengangguk pelan.
Mereka langsung menuju ke tempat perhiasan. Saat mereka tiba di toko, sebuah suara lembut menyapa mereka. “Jeremy!”
Madeline berbalik lebih dulu dan menatap seorang wanita yang berjalan ke arah mereka. Tubuhnya hampir gemetar melihat pemandangan yang tak biasa. Ia benar-benar tak percaya bahwa takdir mempertemukan mereka disana. Itu Joanna. Tapi tunggu … mengapa ia duduk di kursi roda? Bagaimana mungkin?
Madeline ingat sekali bahwa Joanna adalah seorang penari. Dan tidak ada berita yang menyebutkan wanita itu cedera kaki. Madeline sangat terkejut. Ia menatap begitu lama dalam ketidaksadaran.
“Kenapa kau disini? Hawa disini sangat dingin. Jangan sampai kau masuk angin.” Suara Jeremy akhirnya menyadarkan lamunannya.
Seraya menasehati, Jeremy sudah melepas mantel dan menyampirkannya di tubuh Joanna. Kala itu, hati Madeline terasa sakit. Sementara tatapan Joanna seolah tengah mengejeknya.
“Padahal aku tidak kedinginan. Dia selalu saja mengkhawatirkanku.”
Kalimat itu jelas ditujukan agar Madeline merasa cemburu. Alhasil, Madeline hanya tertunduk malu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Titik pandang Joanna beralih pada Jeremy.
“Kudengar pesta ulang tahun kakek dimajukan? Aku ingin memberikan hadiah untuknya. Karena kau disini, bagaimana kalau pilihkan satu untukku? Aku tidak tahu apa yang disukai kakekmu.”
“Tentu!” Jeremy mengangguk walaupun ragu. Joanna tersenyum puas.
“Narra, bisakah kau ambilkan minumku?”
“Maaf, Nona. Air minum habis. Saya akan minta seseorang bawakan botol anda.”
“Berapa lama kau membiarkannya menunggu? Kalau begitu aku yang akan mengambilnya.”
Jeremy menyela lalu menatap ke arah Madeline. “Aku akan segera kembali.”
“Baiklah,” jawab Madeline.
Setelah Jeremy pergi. Joanna meminta Narra pergi. Sangat jelas tujuannya meminta air minum. Karena wanita itu ingin berbicara empat mata dengan Madeline.
Hampir saja Madeline mengucapkan sebuah kalimat, Joanna langsung menyelanya.
“Dengar, Madeline. Dia sangat perhatian padaku. Apapun yang berkaitan denganku, biarpun itu hal kecil, dia akan selalu melakukannya sendiri untukku.”
Meskipun Madeline tidak tertarik dengan kalimat yang terlontar dari bibir Joanna, tapi kata-kata wanita itu berhasil mengacaukan pikirannya. Ia akui, Jeremy memang perhatian.
Selama dua tahun pernikahan, Jeremy tidak pernah melewatkan hari ulang tahun, anniversary atau hari liburnya. Namun, semua itu selalu diwakilkan oleh Partick. Jeremy tidak pernah sekalipun turun tangan seperti yang ia lakukan saat ini di hadapan Joanna.
Tapi untuk Joanna, bahkan hanya sekedar membawakan air minum, ia rela melakukannya sendiri. Madeline merasa sangat kecil di hadapan pria itu. Ia sudah kalah.
Setelah hening sesaat, Joanna pun memecah atmosfer tak nyaman disana.
“Kau mau mengatakan sesuatu?”
“Ya.”
Madeline mengangguk sambil menatap kaki Joanna.
“Kau sepertinya benar-benar tidak tahu mengapa aku seperti ini,” ucap Joanna.
Madeline menggelengkan kepala.
“Aku belum pernah dengar. Apa yang terjadi dengan kakimu? Jeremy tidak pernah memberitahuku.”
“Tentu saja tidak.”
Nada bicara Joanna tiba-tiba meninggi.
“Saat itu kakek Jeremy bertekad menjodohkanmu dengan cucunya. Tapi—Jeremy tidak pernah setuju. Mereka tidak bisa berkompromi lagi. Kekuasaan kakeknya lah yang akhirnya berhasil menekan Jeremy. Pria tua itu melakukan berbagai cara untuk menekan cucunya. Dan akhirnya, Jeremy menyerah.”
“Kau pasti berbohong.”
Tiba-tiba Madeline merasa bersalah. Ia tampak gelisah karena mengetahui bahwa pernikahan mereka hanya karena sebuah keterpaksaan. "Tidak, kamu berbohong."
Joanna terkekeh pelan.
"Aku mengatakan yang sebenarnya padamu, Madeline. Jeremy menikahimu hanya untuk melindungiku dari kekuasaan kakeknya."
***