Semua orang berlarian termasuk aku dan Miku. Aneh, mengapa mereka lari seharusnya mereka melawan Yupiter Alliance karena memiliki sihir?
Suasana sangat ribut. Wanita muda tadi berteriak histeris, tetap memanggil nama bayinya yang tertinggal di rumah.
"Orshid!" teriak wanita muda itu sambil menangis. "Suamiku, anak kita tertinggal di sana!"
"Kita tidak punya waktu untuk menyelamatkannya!" ucap suaminya dengan nada pasrah.
"Tidak! Aku akan pergi untuk menyelamatkannya!"
"Jangan! Itu bahaya!"
Suaminya tetap menarik istrinya untuk pergi. Aku yang mendengar itu, berinisiatif untuk pergi menyelamatkan bayi itu.
"Kiku, kamu pergilah dulu.” Aku melepaskan genggaman tangan Kiku dari tanganku. "Aku akan segera kembali."
"Zian! Kamu mau kemana?" Kiku panik lalu mengejarku.
Aku berbalik berlari melawan arus keramaian. Ledakan-ledakan mewarnai sekitar kami. Beberapa orang yang mencoba melawan dengan sihir penyerang, ternyata tewas terkena serangan dari robot tempur Yupiter Alliance.
Aneh, ada sesuatu yang mengganjal. Tapi, hal itu aku kesampingkan dulu, yang penting aku pergi menyelamatkan bayi itu.
Kobaran api tersebar di mana-mana. Bangunan-bangunan hangus terbakar dan rata dengan tanah. Rumah Kiku masih utuh, dan rumah si bayi yang terperangkap, juga masih utuh.
Musuh berhasil mendeteksi keberadaanku. Serangan cahaya berwarna merah terbang meluncur ke arahku. Aku nyaris terkena serangan itu, tapi, untung saja Kiku datang menghalangi serangan itu.
"Ena!" Kiku membaca mantra. Dari ujung telunjuknya keluar sebuah kubus cahaya putih yang berfungsi sebagai pelindung, dan serangan musuh terserap oleh kubus cahaya putih itu. "Dasar, kamu membuatku cemas saja! Memangnya apa yang membuatmu berbalik ke sini?"
Dari nada suara yang terkesan marah tapi peduli, Kiku menatapku dengan tajam. Ia berdiri di depanku.
"Maaf, karena seorang ibu yang mengkhawatirkan bayinya, aku harus pergi menyelamatkan bayinya." Aku tertawa maklum.
"Sebegitu pentingnya nyawa orang lain daripada nyawamu?" Kiku berwajah dingin.
"Nyawa orang lain lebih penting daripada nyawaku."
Aku mengatakan itu dengan lantang. Kiku terdiam lalu menunjukku. "Ena!"
Kubus cahaya putih membungkus tubuhku. Kiku juga memanggil robot tempurnya.
"Izsaukt, Centauri!" lanjut Kiku.
Dari lingkaran sihir bercahaya putih, muncul robot tempur berbentuk Rubah berwarna putih berkaki empat. Matanya bernyala biru, bersuara menggeram layaknya Rubah asli. Tingginya kira-kira tujuh meter.
Aku terpaku menyaksikan Centauri mendarat dengan mulus di dekat Kiku. Kiku memandangku.
"Aku akan coba mengalihkan perhatian Yupiter Alliance. Kamu teruskan penyelamatan bayi itu. Sihir perlindungan yang melindungi tubuhmu, hanya bertahan selama lima belas menit." Kiku masuk ke pintu utama yang berada di kepala Centauri. "Zian, aku percaya padamu karena kamu adalah satu-satunya teman yang tidak akan mengkhianatiku."
Usai mengatakan itu, pintu tertutup. Kiku mengendarai Centauri hingga Centauri terbang melesat ke langit. Mereka mengejar beberapa cahaya kelap-kelip yang masih menghancurkan wilayah ini.
Aku terpana dengan perkataan Kiku barusan. Aku mengangguk mantap.
"Kiku, aku akan tidak pernah mengkhianatimu."
Aku tidak boleh berdiam diri lagi. Aku harus pergi menuju ke rumah itu.
Pintu terbuka lebar, memberiku kemudahan untuk masuk. Keadaan gelap gulita karena penerangan terputus. Aku tidak bisa mencari jika keadaan gelap begini, tapi telingaku menangkap suara bayi menangis. Asal suara itu dari arah depan. Naluri menuntutku untuk pergi ke asal suara. Kedua tanganku meraba-raba seperti orang buta agar tidak menabrak apapun.
Perjalananku mulus tanpa hambatan. Sedikit lagi, aku mendekati suara tangisan itu. Tapi, begitu aku sudah mendekat ke suara itu. Guncangan terjadi. Ledakan mengenai rumah ini. Gawat. Aku harus cepat-cepat mengambil bayi itu. Jangan sampai terlambat, kalau tidak, nyawa bayi itu akan melayang.
Tiba-tiba, aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku mengambil bayi itu, yang kutemukan tergeletak di atas tempat tidur. Bayi perempuan berambut merah yang dibedung dengan kain putih. Ia berwajah cantik, mirip seperti ibunya.
Ledakan masih terjadi. Aku tersentak dan baru menyadari aku tiba di suatu tempat yang asing. Suara yang mengejutkan aku lagi, membuatku tidak asing dengan suaranya.
"Ah, kenapa kamu tiba-tiba muncul di sini, Zian?" Itu suara Kiku. Gadis itu mengintip dari balik bangku yang didudukinya. Ia berpakaian besi berbentuk Rubah putih.
Mulutku terkunci rapat. Aku syok karena bingung mengapa aku bisa tiba-tiba muncul di sini -- di dalam robot tempur yang dikendarai Kiku.
Kiku masih melawan Yupiter Alliance. Karena masih syok, aku berusaha menjawab pertanyaan Kiku.
"Aku ... tidak tahu, Kiku."
"Hm. Nanti saja kita bicarakan. Tapi, jangan lupa pasang sabuk pengaman."
"Aku sedang menggendong bayi. Jadi, tidak bisa memasang sabuk pengaman."
Tiba-tiba, sabuk pengaman bergerak sendiri dan membelit tubuhku.
"Aku sudah membantumu memasang sabuk pengaman itu, Zi."
Kiku melihat ke depan lagi. Dua tangannya dengan erat memegang tuas-tuas pengendali untuk menyerang robot-robot tempur yang tersisa. Guncangan keras terjadi, sehingga membuat bayi yang kugendong ini, menangis kencang.
"Jangan menangis. Kumohon.” Aku kewalahan menenangkan si bayi. "Kamu baik-baik saja, adik bayi yang lucu. Kamu aman bersama kak Zian dan kak Kiku."
Bayi itu masih saja menangis. Aku mengayunkannya dengan pelan, berharap ia berhenti menangis. Sesekali aku menyanyi sebuah lagu tidur yang biasa dinyanyikan Ibu angkatku sewaktu aku masih kecil. Hasilnya, bayi itu berhenti menangis. Aku bernapas lega.
"Syukurlah." Aku melihat ke depan.
Kiku masih melawan pasukan Tentara yang bernama Yupiter Alliance.
Karena gelap, yang terlihat hanyalah cahaya kelap-kelip bersama cahaya ledakan. Centauri sedikit bergetar, saat melewati asap-asap hitam bekas ledakan tersebut.
Dari dua sisi kami, muncul titik-titik cahaya yang berkelap-kelip. Itu ternyata missil.
Ledakan terjadi saat beberapa missil menghantam tubuh Centauri dari berbagai arah. Centauri bergetar hebat, tapi ia tidak apa-apa karena terlindungi perisai tidak terlihat.
Bayi itu kembali menangis. Aku kewalahan lagi.
Centauri berbelok kanan, ia mengejar missil-missil yang meluncur ke arahnya. Di tangan kanannya, sudah tergenggam tombak laser. Sekali kibasan, missil-missil itu hancur berkeping-keping oleh tombak laser. Centauri tetap maju hingga menemukan sumber serangan itu.
Beberapa cahaya kelap-kelip mendekat. Centauri dengan gesit menembaki mereka dengan missil. Serangannya mengenai robot-robot tempur musuh tersebut. Ledakan-ledakan besar mengguncang langit. Centauri terbang salto, mengejar beberapa musuh yang tersisa. Dengan serangan yang sama, missil-missil dikerahkan untuk menghancurkan mereka. Sekali lagi, ledakan-ledakan besar menerangi kegelapan. Suara Kiku terdengar saat aku berusaha menenangkan bayi yang menangis.
"Semua musuh berhasil dimusnahkan."
"Aaah. Syukurlah. Kamu hebat, Kiku."
"Tapi, rumahku sudah hancur karena ditembak musuh."
"Eh? Maaf, karena aku, kamu mengalami nasib yang buruk."
"Jangan beranggapan seperti itu, bangunan-bangunan yang sudah dihancurkan, juga bisa dibangun lagi. Dengan sihir, itu bisa dilakukan."
"Benar."
"Syukur juga. Kamu berhasil menyelamatkan bayi itu, Zi."
"Iya."
Aku tersenyum. Bayi itu kini tertidur di pangkuanku. Kiku mengintip kami dari balik bangku, entah bagaimana ekspresinya sekarang karena terhalang helmet.
Centauri terbang menjauh dari tempat tinggal Kiku. Kiku melepaskan helmet-nya dan mengaktifkan mode pilot otomatis saat menekan sebuah tombol di dashboard hologram. Giliran Centauri yang bergerak sendiri tanpa dikendalikan Kiku.