BAB 6 Ketika Jatuh Cinta, Melanda

2760 Words
Jatuh cinta itu, seperti apa rasanya? Beberapa orang menyebut cinta sebagai satu pengungkapan dengan teknik-teknik yang mereka miliki. Beberapa diantara tak mampu melakukannya. Kesedihan, jika ia merasakan getir-getir pahit nan rindu yang tak kesampaian. Dan hanya mendapatkan lara. Lara oleh cinta, sama seperti halnya ketika Asmirandah mengalami proses cinta pada pandangan pertamanya. Ia bertemu dengan seorang mahasiswa yang dikenalnya lewat sebuah cara yang aneh. Asmirandah percaya dengan sebuah keajaiban, seperti layaknya di dalam cerita-cerita film dorama Korea. Banyak diantara para lelaki dan perempuan mencari pasangannya lewat acara perjodohan, beberapa ada yang ‘memburu’ sendiri buruannya. Salah satunya adalah gadis itu, yang saat ini tengah duduk sendiri di bawah pohon beringin tua. Dan beberapa orang seperti Asmirandah menemukan cinta dengan cara yang berbeda. Suatu hari, pada saat gadis itu tengah menyantap menu makan siang buatan ibunya, tepat di bawah pohon beringin tua. Salah satu tempat bersemayamnya, dan penghilang rasa penatnya ketika dirinya lelah menunggu pergantian waktu dalam jadwal mata kuliahnya.             Selembar kertas, membuyarkan konsentrasinya sejenak. Ya, selembar kertas yang berhenti tepat di alas kakinya. Terinjak. Asmirandah terdiam sambil kepalanya menunduk ke arah kakinya. Sepatu fantofelnya menginjak sesuatu. Gadis itu meletakkan rantang kecil di sampingnya. Kemudian ia mengambil kertas itu yang sudah kotor oleh bekas injakan kaki dan debu-debu yang menempel.             “Kartu Rencana Studi siapa ini?” tanyanya heran dengan mengernyitkan alisnya yang tebal. Ia mengibas-ngibaskan kertas yang terpenuhi oleh debu dan pasir. Namun ternyata debu-debu itu tak bersahabat dengannya, dan sempat membuatnya terbatuk-batuk. “Uhuk...,uhuk, sial..., kertas siapa sih ini?!” gerutunya kesal. Asmirandah pun melempar kertas itu menjauh darinya, alergi debu membuat penyakit sesak napasnya kambuh. Terdengar bunyi ngik...ngik layak pintu berdecit dan rona muka yang berubah menjadi merah. Ia pun lekas mengambil obat inhaler pelega nafasnya agar nafasnya dapat kembali menjadi normal kembali. Sial! Umpat gadis itu dalam hatinya dongkol, ia berpikir harusnya tak perlu mengambil kertas kotor itu jika nantinya akan membuat penyakitnya kambuh gara-gara terkena debu yang menyumbat saluran napasnya.             Asmirandah kembali beralih menatap rantang kecil di sampingnya, telur dadar dan nasi putih yang masih tersisa. Sedikit ada rasa enggan yang mengurungkan niatnya untuk menghabiskan makanannya, pikiran terpecah dengan teronggoknya kertas yang masih berhenti tepat di depan kakinya. Asmirandah merasakan keanehan setelah ia mengambil kertas tersebut, diantaranya adalah berhentinya angin yang beberapa saat lalu terus berhembus dan mengibar-ngibarkan helaian rambutnya yang panjang dan bergelombang. Asmirandah seperti dapat merasakan sesuatu di dalam dirinya, gejolak hatinya yang sepertinya menginginkannya agar ia mengambil selembar kertas itu lagi.             Gadis itu terdiam merenung, menatap ke arah lembaran kertas yang masih menantinya. Kenapa rasanya hatiku gundah? Perasaan apakah ini, Tuhan? Gelisahnya. Beberapa saat ia menengadahkan kepalanya menatap ke arah langit, beberapa saat kemudian ia kembali menghadap pada kertas itu. Dan, beberapa saat Asmirandah pun memutuskan untuk mengambilnya. Benar, gadis itu telah mengambil kartu rencana studi milik salah seorang mahasiswa di kampus hijaunya. Asmirandah membaca nama pemilik kartu tersebut, ia mengejanya satu per satu.             “Elmo. Elmo?” alisnya mengernyit pertanda heran dan aneh, ia berpikir bahwa nama pemilik kartu itu terdengar sangat aneh dan tak lazim digunakan.”Nama aneh.” Pikirnya sekali lagi. Asmirandah mulai mencari jurusan dari seseorang yang bernama Elmo, tepat di bawah nama itu.             Nama              :  Elmo             Jurusan           :  S-1 Akuntansi             NIM                 :  12002218             Asmirandah kembali terdiam sesaat, mencoba untuk terus berpikir dan berpikir. Apa yang harus ia lakukan saat ini. Kartu Rencana Studi tersebut, sudah usang. Dan bukanlah selembar kartu studi pada semester yang ia pijak saat ini. Gadis itu memasukkan kertas tersebut ke dalam tasnya, lalu menyudahi menyantap menu makan siang yang semenjak tadi tak pernah ia berkeinginan untuk memakannya, setelah ia baru saja menemukan kertas aneh itu. Matahari sudah berpindah kutub rupanya, sinarnya menyengat kulit Asmirandah yang terbakar oleh sinar matahari dan membuatnya semakin terlihat hitam. Asmirandah beranjak dari bangku panjangnya dan mengambil tasnya. Setelah semuanya merasa telah beres, gadis itu pun melangkahkan kakinya lagi masuk ke dalam kelasnya untuk mengikuti mata kuliah di jam ketiganya.             Namun, tak ada beberapa langkah dari area pohon beringin tua itu. Sepertinya daun-daun itu menyapanya lagi, dengan suara-suara  nyanyian syahdunya. Gadis itu terperanjat, dan menoleh ke belakang, ke arah pohon beringin tersebut.   Asmirandah, wahai penghuni beringin... Carilah nama itu, carilah.., karena dia yang akan merubah hidupmu.             Kemudian suara itu tiba-tiba menghilang seperti angin, yang begitu saja mudah datang dan pergi secepat kilat. Sunyi. Bertanya-tanya dalam garis kebisuan, apa maksud dari ungkapan hatinya tersebut? Namun, gadis bertubuh kurus nan jangkung itu memutuskan untuk terus melangkah ke depan. Sendiri dalam keramaian, sepi dalam kebisingan, hati yang lara dirundung nestapa. Berharap akan datangnya cinta yang suatu saat akan ia dapatkan, dan merasakan bagaimana cinta, mencintai dan dicintai oleh seseorang. *             Dalam setiap kesempatan, gadis itu mencoba untuk dapat berkumpul dengan teman-teman baruya. Tapi rupanya, ia tak mendapatkan itu. Selain hanya duduk sendiri di bangku paling belakang tanpa ada mahasiswa yang berniat untuk duduk menemaninya. Duduk diantara tujuh puluh orang mahasiswa, dan hanya dirinyalah yang tidak mendapatkan teman sebangku. Asmirandah mulai merasakan keanehan yang sangat, ketika itu. Bertanya-tanya di dalam hatinya tentang apa dan kenapa sampai mereka tidak mau duduk berdekatan dengannya. Salah apakah ia sampai harus dijauhi oleh banyak temannya? Salah apakah ia, hingga mereka seperti memandang takut dan jijik pada dirinya, entah mengapa. Akan tetapi, gadis itu tak pernah mengeluh, ia hanya terdiam dan berkompromi dengan hati kecilnya sendiri. Pada suatu waktu, bercermin dan bercakap-cakap di dalam kamar mandi. Untuk sekedar mengungkapkan rasa sedihnya. Pada sebuah cermin, tentang kenapa tak ada seorang pun yang menyukainya.             Pada setiap masa presentasi, ia pun hanya sendiri. Tak ada satupun kelompok yang menginginkan ia menjadi salah satu anggotanya. Tak ada alasan pasti tentang kenapa hal tersebut bisa terjadi dengan dirinya. No ones knowing about it..., no ones..., sendiri mempresentasikan tugas kuliah dan dengan penuh percaya diri diantara keraguan hatinya. Asmirandah, tak pernah mengeluhkan rasa sedih itu pada temannya yang lain, yang beberapa diantaranya menaruh rasa iba padanya. Atas kediamannya dan segala bentuk keanehan yang ada di dalam diri Asmirandah.             Tetapi, gadis itu tak terlalu mempedulikan rasa simpati mereka. Karena kebanyakan dari mereka hanya menaruh rasa kasihan atas dirinya yang dirasa berbeda dari teman-temannya yang lain. Hingga ia pun memutuskan untuk tetap duduk sendiri, di manapun ia berada. Tidak di hall A, hall B, dan Hall D. Sendiri di garis keramaian yang tak pernah mengusiknya untuk ikut masuk ke dalam setiap komunitas mereka, dan bergerombol. Berpura-pura kenal dan mendengar pembicaraan orang-orang yang dirasa bodoh itu dengan menyahut obrolan mereka padahal tidak pernah nyambung sama sekali. Asmirandah bukanlah orang seperti itu. Bukan. Ia adalah seorang gadis yang memiliki sebuah prinsip dan pandangan hidup sendiri. Di balik rasa sakitnya, yang orang lain kira itu semacam penyakit menular.             Yang memalukan. Karena beberapa orang menyatakan ia pengidap autis, padahal tidak. Ada sesuatu yang membuatnya menjadi seperti itu. Bukan karena satu penyakit kutukan yang memang autis dianggap sebagai sebuah kutukan. Ia tidak seperti itu, tapi ia mampu. Mampu mengutarakan perasaan dan emosinya, walau ia kebanyakan diam. Ada sebab, yang membuat Asmirandah tiba-tiba berubah menjadi seorang gadis yang aneh. Dan orang-orang tidak akan pernah mengerti apa yang ia rasakan selain hanya, cermin yang berbicara. Pada kegelapan. Di dalam hatinya, semenjak peristiwa itu. Ia sangat membenci suara-suara keras yang membisingkan telinganya, suara gaduh yang membuatnya ketakutan. Suara yang membuyarkan pikiran dan cita-citanya, pada suatu masa.             Ketika itu....             Saat dunia Asmirandah mendadak berubah. Karena suara. * Hari terakhir masa orientasi kampus             Pada hari sabtu, bertepatan dengan hari ulang tahun kampus hijau ke tiga puluh satu. Semua mahasiswa diharapkan berkumpul untuk menyambut hari jadi. Semuanya tampak dibuat sibuk oleh berbagai macam tugas-tugas yang membuat mereka berkeliling ke sana-ke mari melaksanakan tugasnya masing-masing. Asmirandah yang mendapatkan rasa kelelahan dari hari ke hari, karena disibukkan dengan berbagai macam kegiatan mencari benda ini dan itu, seperti mencari beberapa benda yang berbeda dan dijadikan satu. Dan semua hal itu menjadikannya orang terbodoh sepanjang masa, bahkan mungkin tak pernah dapat ia lupakan.             Sore hari itu.             Teman-teman baru Asmirandah mengatakan bahwa nanti sore, satu jam lagi akan ada kegiatan ospek paling menyeramkan dan menciutkan mental bagi siapapun yang tidak kuat menjalaninya. Dan Asmirandah pun sebenarnya juga telah mendapat pesan dari kakaknya bahwa akan terjadi satu hari paling menyeramkan sepanjang masa, dan kakaknya memperingatkan gadis itu agar dapat kuat menjalani juga mengacuhkan kata-kata dari setiap kelompok mahasiswa senior yang mungkin nanti akan menyerangnya. Dan gadis itu sama sekali tak pernah menduga bahwa, hari itu adalah hari yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup, karena tepat pada hari itulah yang benar-benar mengubah hidup Asmirandah untuk selama-lamanya. Dan terpuruk sepi dalam rasa ketakutan yang mana seharusnya karakter dan jiwa penakutnya itu telah lama tersembunyi di dalam dirinya dan tak pernah sekalipun tampak. Entah kenapa, ia membenci suara-suara itu.             Teriakan,             Bentakan,             Cercaan. ...........sore......sore.....sore.....sore....sore....., pada sebuah sore...., cerita masa lalu ini bermula. *                                   Hall A.             Para mahasiswa baru telah berkumpul dan saling berbaris tepat di baris yang telah ditentukan pada setiap kelompok. Semuanya tampak resah nan gelisah, beberapa ada yang dengan terang-terangan menampakkan wajah cemasnya, beberapa ada yang tidak. Mungkin, diantara mereka tahu bahwa sebentar lagi akan ada adegan penciutan mental yang membabi buta. Mendapatkan bocoran dari mahasiswa agar mereka tak perlu takut menghadapinya. Namun, tidak dengan Asmirandah. Gadis itu hanya merasa gusar, tentang apakah yang akan terjadi setelah ini. Apa dia akan menjadi korban keganasan dari mereka? Detak jantung Asmirandah berdegup semakin kencang.             Ia merasa jantungnya akan meloncat dan terlepas dari rongga dadanya. Meloncat keluar dan membuatnya mati seketika dengan mata terbelalak. Semua mahasiswa baru diminta untuk berdiri tegap sesuai dengan urutannya masing-masing. Entah kenapa saat itu kaki Asmirandah gemetaran, dahinya berkeringat hebat. Napasnya sudah mulai naik turun, berkali-kali ia mengambil napas agar penyakit asmanya tak kambuh pada jam-jam seperti ini. Berharap semoga seorang kakak senior yang berjaga di unit kesehatan melihatnya dan membawanya lagi bersembunyi di tempat perlindungan itu. Namun ternyata, selama seharian ini kakak senior yang diharapkannya pun tidak datang menyapanya, mungkin kakak senior itu lupa padanya atau memang sedang tidak bertugas. Asmirandah tak mungkin saat ini berpura-pura sakit dengan suara manjanya dan meminta pada mahasiswa senior yang berlagak sok tahu itu agar memberikannya dispensasi untuk diperbolehkan tidak mengikuti kegiatan perploncoan terakhir yang mendebarkan.             Aku takut...! resah gadis itu. Ia melongok ke belakang memperhatikan wajah teman-temannya yang lain dan terlihat sama gugupnya dengan dirinya.             “Tenang saja, Asmirandah. Semua ini hanya tipuan, setelah itu selesai.” Bisik salah satu temannya yang berada tepat di belakangnya. Namun, entah kenapa hati gadis itu amatlah gusar. Ia seakan-akan berada di antara pinggiran jurang yang sebentar lagi dirinya akan dijatuhkan oleh salah satu dari mahasiswa senior tersebut, menjatuhkannya. Sehingga ia jatuh, jatuh dan terjatuh.             Terdengar suara tepukan yang keras dan menggema di seluruh ruangan hall A. Berikut dengan seruan yang keras dari ketua BEM untuk melakukan acara pembukaan, malam perploncoan yang sejatinya dan tak kenal ampun sama sekali. Terlihat satu persatu dari setiap anggota pengurus itu mengawasi gerak-gerik mahasiswa baru yang terlihat gemetar dan ketakutan, mereka menatap dengan tatapan yang sinis dan seakan-akan tak manusiawi, pandangan tak manusiawi.             PROK..PROK...PROK...!             Suara tepukan yang keras tersebut membuat seluruh mahasiswa baru menjadi gugup. Sementara mereka masih saja dikelilingi oleh pengurus-pengurus ospek yang lainnya, dan membuat nyali semakin menciut.             “Semuanya siap!!!” seru ketua BEM itu pada seluruh mahasiswa yang hadir dan berkumpul di hall A. Beberapa diantara mereka yang sudah mulai ketakutan terlebih dahulu jatuh pingsan tak sadarkan diri. Karena mereka mengalami phobia atau gejala ketakutan dini yang tidak wajar. Dan beberapa diantaranya menangis tanpa sebab. Akhirnya mahasiswa baru bermental lemah tersebut dibawa di ruang kesehatan. Agar terhindar dari acara perploncoan.             “Yang punya sakit jantung, asma, keluar dari aula. Cepat!!! Kalau tidak mau mati bodoh di sini. Kami tidak bertanggung jawab jika nantinya yang punya penyakit tapi tidak keluar mati. Pihak kampus sudah mengingatkan, satu..., dua....tiga...!!! Cepat keluar!!!” bentak ketua BEM denga nada yang keras. Dan hentakan kaki yang membuat mereka tampak semakin gugup. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Sepuluh orang menyatakan mundur dari kegiatan terakhir ospek demi menyelamatkan nyawa mereka sendiri. Daripada mati konyol, lebih baik dianggap bernyali ciut daripada harus mempertaruhkan nyawa dengan satu tindakan kebodohan.             Tidak dengan Asmirandah, rupanya ia terlambat untuk keluar dari aula karena saking bingungnya. Entah kenapa kakinya seakan-akan terpaku bumi di tempat di mana ia berpijak gini. Di barisan nomor empat belas. Berdiri sendiri, seperti sebuah patung hidup. Keringat membasahi dahi, leher bahkan sampai pakaiannya pun basah oleh keringatnya yang semakin menghebat. Mulai dapat merasakan tanda-tanda dan satu hal keanehan yang sebentar lagi akan melandanya.             Tampaknya, ketakutan gadis itu dapat terbaca oleh salah seorang pengurus ospek lainnya. Dan, bukannya bertanya ia kenapa. Malah tiba-tiba membentak Asmirandah dengan keras dan membisingkan telinganya. Ia amatlah benci pada suara-suara gaduh dan berisik, apalagi teriakan-teriakan yang membabi buta. Tanpa kenal ampun sedikit pun. Mulailah acara perponcloan itu dengan kejamnya. Beberapa dari mereka, yang menjadi senior naik ke atas meja dan menggebrak kursi lalu melempakannya ke lantai. Asmirandah terpekik keras, ia jadi teringat akan suatu hal. Apalagi saat ketika ia menutup wajahnya dengan kedua tangan agar tak melihat para manusia yang berakting menjadi para iblis, tiba-tiba seorang perempuan berjalan menghampirinya sambil berteriak keras,             “Hei, Dik! Ngapain nangis? Dasar cengeng...! Kamu ya, orang yang nyuri uang itu? Jawab...!” bentaknya. Asmirandah melangkah mundur ke belakang, tapi semakin ia mencoba untuk menghindar, para iblis-iblis mencoba mendekatinya. Gadis itu tetap terus menutup wajahnya dan memejamkan matanya. Salah satu dari mereka menarik tangan Asmirandah, dan meludah di bawah kakinya dengan diiringi oleh caci-cacian yang menusuk hati Asmirandah.             “Anak manja, anak mama, pengecut! Bodoh! Baru digertak dikit udah nangis, dasar nggak punya nyali. Badan besar, wajah tua, ternyata masih netek ke mamanya. memalukan!” ejek perempuan berkacamata itu padanya. Asmirandah tak kuasa menahan rasa sedih dan takutnya yang berkumpul menjadi satu. Tatapannya nanar, bibirnya bergetar. Menangis sesenggukan. Gadis itu pun menjerit histeris, ketika tiba-tiba ketua BEM bertubuh tegap nan jangkung tersebut naik ke atas meja dan melemparkan kursi ke lantai. Suara gaduh itu semakin menjadi-jadi, apalagi ketika seluruh pengurus ospek berteriak-teriak layaknya para orang gila yang menjerit dan berteriak tanpa sebab yang jelas. Asmirandah.             Asmirandah menjadi satu-satunya korban kekerasan mental, ia mengalami satu tahap histeria. Di mana ia akan merespon teriakan-teriakan itu dengan teriakan yang sama pula. Beradu dengan tangisan. Beberapa penanggung jawab kelompok di mana mereka bertanggung jawab atas kondisi Asmirandah pun, segera mengeluarkannya dari aula. Menjauh dari suara kebisingan yang tiada habisnya. Sementara gadis itu masih saja tetap, menangis. *                   Sosok lelaki berjas almamater biru mencoba untuk membuka selimut Asmirandah. Semenjak peristiwa perploncoan terakhir itu, Asmirandah tak pernah mau membuka selimutnya. Tubuhnya gemetaran di dalam selimut, sambil menggigit kuku jemarinya untuk menghilangkan sedikit rasa cemasnya. Petugas yang berjaga di unit kesehatan berusaha merayu gadis itu agar ia mau membuka selimutnya, tetapi lagi-lagi ia menolak dengan alasan dan perkataan yang sama.             “Tidak, semua menakutkan. Mengerikan. Aku benci suara-suara itu. Itu suara setan, setan, setan...” ungkapnya pada mereka. Para pengurus di unit kesehatan pun dibuat bingung dengan setiap kata-katanya. Padahal acara perploncoan telah selesai, dan mahasiswa baru telah terkecoh dengan semuanya. Bahwa apa yang baru terjadi hanyalah kebohongan belaka, dan mengusili beberapa mahasiswa baru yang berulang tahun tepat di hari jadi kampus untuk yang kesekian kalinya.             “Asmirandah cantik, ini kakak yang kemarin. Kenapa kamu harus kembali lagi ke sini, dengan kondisi yang jauh lebih memprihatinkan?” tanyanya penasaran pada si gadis berselimut itu.             Tubuh Asmirandah masih gemetaran, ia sedikit enggan untuk menuruti permintaan lelaki itu untuk membuka selimutnya. Rayuan pun masih terus dilakukan, lelaki itu yang namanya dikenal dengan panggilan Krisna. Dengan rambut jambang yang membuat parasnya semakin terlihat manis dan senyum  tipisnya, nada suara yang lemah lembut sedikit membuat Asmirandah hanyut sejenak. Perlahan-lahan ia membuka selimut yang menutupi seluruh wajah dan tubuhnya. Berawal dari ia menampakkan alis dan matanya, kemudian hidungnya.             Lalu bibirnya. Gadis itu tersenyum lebar. “Kak Krisna..., terima kasih.” Pujinya. Krisna langsung memberikan dua bungkus wafer cokelat ‘TOP’ pada Asmirandah. Dua batang wafer kecil kesukaannya.             “Ini untukmu, kau suka cokelat khan?”             “Suka sekali,” sahut gadis itu polos. “tapi aku lebih suka cokelat pemberian darimu, Kak.”             “Kenapa?”             “Karena hanya kau yang perhatian padaku. Tidak seperti mereka.” Gerutu gadis itu mulai bercerita.             Krisna mendekati Asmirandah, ia terus menatap wajah gadis itu. “Kenapa kau tidak ke sini saat ada acara perploncoan itu? Jadi kau tak harus mendapati histeria karena teriakan mereka. Kenapa tidak mundur saja?”             Asmirandah menundukkan kepalanya, “Aku nggak ngerti, entah kenapa kakiku tidak bisa bisa kugerakkan. Aku terlalu takut, dengan mereka.”             “Sudahlah, semua sudah selesai. Setelah ini akan ada acara pementasan band. Kau mau ikut, atau pulang saja?” tawarnya.             Asmirandah mengernyit, “Pulang saja, bagaimana?” *  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD