Lihat aku, kuputuskan untuk melingkarkan selalu, kain hijab pembawa perubahan ini. Duhai langit, aku mencintaimu! Setelah sekian lama aku terkurung di dalam batas ruang dan waktu. Menanti sentuhan tangan itu, tangan Asmirandah mengharapkanku, menggantikan wujudnya. Hanya aku yang bisa..., hanya aku...!
GADIS itu sedikit merasa sedikit canggung, saat mencoba menusukkan sebuah bros yang hendak ia lekatkan di kain kerudung putihnya. Malam hari itu, Asmirandah begitu percaya diri dan memakai sweaternya untuk menutupi auratnya. Benar, saat ini ia diharuskan untuk menjaga aurat agar tak terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya. Konsekuensi pertama dari selembar kain jilbab berwarna putih. Tak ada persiapan apapun, bahkan Asmirandah sama sekali tidak memiliki pakaian muslim satu pun. Semuanya serba mendadak dan dikompromikan oleh ibundanya sendiri.
Asmirandah tak sempat berpikir sejauh itu. Yang ia inginkan dalam detik ini adalah menyelempangkan kain jilbab itu untuk pertama kali, kemudian ia keluar rumah dan memperlihatkan perubahan itu untuk pertama kalinya. Malam hari itu, rumah terlihat sepi. Yang terlihat hanyalah sang ibundanya yang sedang berdzikir setelah ia menjalankan ibadah shalat isya’nya. Wanita itu, yang sebelumnya tengah berkonsentrasi memutar tasbih dan mengucapkan kalimat pujian untuk Tuhan, tiba-tiba berhenti.
Tertegun, ketika ia melihat sekilas bayangan Asmirandah yang baru saja melintas di sampingnya.
“Asmirandah...? Kau?”
Namun gadis itu sepertinya tak mendengar ucapannya, ia terus melangkah meninggalkan ibundanya yang sejak tadi masih terus menatapnya. Sosok gadis itu perlahan-lahan menjauh dan menghilang dari hadapannya. Tampak secercah senyum tipis melukiskan perasaan bahagia, bahwa puterinya telah melaksanakan kewajiban yang diperintahkan oleh agamanya, yaitu mengenakan jilbab.
“Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah telah kau bukakan pintu hatinya.” wanita tua itu mengusapkan kedua tangannya setelah mengucapkan kata’Amin’untuk pertama kalinya atas perubahan drastis dari sikap Asmirandah selama ini.
*
Perubahan itu ternyata tak semudah yang dikira. Asmirandah sempat merasa dirinya aneh dan orang-orang yang mengenalnya pun sampai mengernyitkan alisnya, melihat kerudung putih Asmirandah yang melekat di kepala dan menutupi rambutnya.
“Asmirandah?”
“Ya?” gadis itu menengadahkan kepalanya, menatap wajah si penjaga toko.
“Berjilbab? Tadi pagi masih enggak, kan?”
Asmirandah meringis,“Hidup itu penuh misteri, Mas.”
Kasir minimarket itu masih juga tak percaya atas keanehan Asmirandah yang mendadak berubah tanpa hitungan hari. Mirip dengan seorang Sailor Moon, pikir petugas kasir tersebut heran.
“Kenapa berjilbab?”
“Kamu enggak perlu tahu.” gadis itu pun segera pergi meninggalkan lelaki berkumis yang sejak dulu selalu mencari perhatian darinya. Asmirandah keluar sambil tersenyum, rupanya inilah awal dari seribu macam pertanyaan yang akan didengarnya, dan mungkin semua itu akan terjadi selama beberapa waktu. Hingga mereka akhirnya pun, mendiamkannya untuk selamanya. Ia pun terus berjalan dan berjalan, menyusuri setiap hitungan detik yang menampakkan perbedaan.
Ah, Asmirandah sudah jadi alim!
Ucapan tersebut sempat ia dengar saat berjalan melewati para pemuda-pemuda yang sering nongkrong di pinggir jalan. Asmirandah menengadahkan kembali kepalanya, menatap ke atas langit. Malam itu rupanya, malam kelima belas. Di mana sang bulan penuh itu menampakkan wujud dan sinarnya.
“Aaah....,” helanya. Gadis itu kembali pulang ke rumah. Keputusan masih tetap ada di tangannya, apakah ia masih berkeinginan untuk mengenakan jilbab itu, atau tidak. Bahwa Asmirandah percaya akan satu hal. Semua yang dilakukannya, barulah awal dari permulaan. Dan ia sendiri tidak tahu, apa yang akan terjadi nanti.
Benar, ia tak pernah tahu apa yang akan terjadi...
Sampai akhirnya, ia pun kembali menyentuh cermin itu. Ketika jilbabnya telah terlepas kembali. Menjadi Asmirandah yang nyata dan pemurung. Cahaya berkelebat masuk ke dalam cermin. Cahaya-cahaya itu menyilaukan mata Asmirandah, beberapa detik. Sampai pada detik ketika ia membuka matanya lagi.
*
Nasehat sang ibunda,
Asmirandah masih duduk di depan cermin, memandangi wajahnya dengan penuh keraguan. Percobaan untuk malam ini baru saja dimulai, dan baru seorang yang melihat perubahannya tampak aneh. Sejenak gadis itu ragu, walau sang cermin menguatkan mental dan hatinya untuk dapat mengenakan jilbab. Dalam sisi jiwanya yang lemah, dan terbayang-bayangi oleh aturan-aturan yang mutlak dan wajib ditaati. Sebagai seorang muslimah, akhwat. Padahal, tujuannya berjilbab adalah hanya satu, agar dirinya dapat diterima oleh teman-temannya dan keluar dari sikap individualisme yang memenjarakannya selama ini. Bukan dengan konsekuensi yang akan didapatnya.
Pintu kamarnya terbuka, terlihat seorang wanita tua berdiri diam sambil menyunggingkan senyum tipisnya. Asmirandah menoleh ke arah wanita itu, tanpa membalas senyumnya. Kemudian kembali menatap cermin.
Diam. Menundukkan kepalanya.
“Asmirandah...,” ia mendekati gadis itu. Dan membelai-belai rambut Asmirandah yang tergerai tipis. “sudah yakin mau berjilbab?” tanyanya.
Asmirandah diam sejenak, memikirkan kata-kata yang akan ia utarakan pada ibundanya. Apa? Kira-kira yang harus dikatakannya? Sebuah kejujuran?
“Kerudung dari siapa itu, Asmirandah?”
“Dari teman, anak UKKI di kampus.”
Ibunda Asmirandah mengernyitkan alis, “UKKI? Apa itu?”
“Kegiatan Kerohanian Islam, Bu.”
“Kenapa dia memberimu kerudung itu?”
“Biar aku ketularan berjilbab katanya, begitu.”
“Bagus itu, Asmirandah. Temanmu baik.”
“Tapi...,” Asmirandah mendadak ragu.
“Kenapa?”
“Konsekuensinya berat, Asmirandah nantinya akan susah mendapat pekerjaan. Dengan jilbab ini, karena kebanyakan perusahaan tidak mau menerimanya.”
Wanita itu mengambil jilbab putih Asmirandah, kemudian ia lingkarkan di kepala gadis itu.
”Jika seseorang gadis telah memutuskan untuk berjilbab, maka ia wajib menjalankan hukum-hukum yang telah ditentukan. Dan itu tidaklah mudah, bahwa nantinya kau akan dituntut ini dan itu, maka nasehat ibu dengarkanlah..., pakailah jika memang hatimu sudah siap. Tundalah jika memang kau masih terasa berat untuk melakukannya.” pesannya.
Asmirandah mengangkat kepalanya, menghadap wajah ibunya. “Bolehkah seperti itu?”
“Boleh.”
“Tidak berdosakah?”
“Asmirandah, tidak ada paksaan dalam beragama. Akan tetapi seorang umat yang mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Semua manusia dalam Islam mempunyai hak dan kewajiban yang sama, semua di hadapan syari’at Allah adalah sama. Siapapun itu, laki-laki dan perempuan yang mengerjakan amal saleh dalam keadaan beriman, maka Allah pun akan memberikan balasan yang sama. Begitu pula jika umatNya melakukan keburukan, akan mendapat balasan yang buruk pula._ Maka dari itu, ibu sarankan, pakailah kerudung ini jika hatimu benar-benar telah siap. Karena jika kau sudah memakainya, maka konsekuensi buruk harus kau terima jika tiba-tiba suatu hari kau hendak melepasnya.” wanita itu beranjak dari kursi dan meninggalkan Asmirandah yang tengah merenungkan kata-kata itu sendirian. Ibunya memberi waktu untuknya agar berpikir matang, sebelum mengambil sebuah keputusan yang akan mengubah hidupnya untuk selama-lamanya.
Dalam kamar itu...
Asmirandah kembali menatap ke arah cermin, ia menangis. Hanya satu yang ia dapat lakukan saat itu adalah, menangis. Pikirnya, kenapa untuk mengenakan jilbab saja harus dapat menanggung resiko pula jika melepasnya? Kenapa setiap orang yang baru mengenakan jilbab, pujian-pujian selalu menyertainya, sedangkan jika ada orang yang melepasnya karena sebuah alasan, caci maki akan turut menyertainya pula. Jilbab, hai cermin...! Sembunyikanlah aku, sekali lagi...!
Jari-jemari itu menyentuh dinding cermin, sekelebat cahaya yang menyilaukan matanya pun membuat dirinya seakan-akan ditarik masuk ke dalamnya. Asmirandah..., tubuh yang terganti oleh jiwa Asmirandah yang lain.
Dan ia mulai mengenakan jilbab itu.
*
Kampus,
Asmirandah duduk di kursi panjang, tepat di bawah pohon beringin tua. Sebuah tempat di mana ia selalu berpijak, menyendiri. Menanti seseorang yang datang menghampirinya, dan menemani hari-hari dengan kegembiraan seperti mereka lainnya. Asmirandah menanti, sekaligus ia beberapa menit mengeluarkan cermin kecilnya.
Gadis itu, berpura-pura sedang membaca buku novel karya Francoise Sagan’Bonjour Tristesse’. Yang mana penulisnya Francoise Sagan menerbitkan buku itu untuk pertama kalinya pada tahun 1954 di Prancis. Dan buku yang tengah dibaca tanpa rasa oleh Asmirandah itu ia tulis pada saat Francoise baru berusia delapan belas tahun yang kemudian menjadi best seller dan menyulut skandal heboh lantaran bertutur tentang seksualitas gadis remaja tanpa malu-malu.
Gadis itu menutup kembali novel romannya, kemudian ia mengangkat kepalanya menatap ke atas, tepat di dahan-dahan pohon beringin tua yang seakan-akan mengucapkan selamat atas perubahannya. Daun-daun yang bergoyang terkena tarian sang angin, berucap kata dan berbisik pada daun-daun lainnya, bahwa mereka tengah bersuka cita padanya. Asmirandah tersipu, rona pipinya memerah reda. Ia tahu, tahu tentang perbincangan para daun yang mengawasinya sejak tadi. Dan ia menanti.
Menanti manusia-manusia yang semenjak dahulu diharap-harapkannya, hanya sekedar untuk menyapa. Menyambut Asmirandah, dalam bentuk yang lain. Apakah mereka mengenalnya? Mengenali paras Asmirandah di mana ia terbalut jilbab? Apakah ada orang lain lagi yang kini tengah memperhatikan gerak-geriknya. Musim kemarau telah tiba, dan gugur-gugurnya daun-daun kering itu mendarat tepat di sekeliling Asmirandah. Menghujani daun. Sendiri, duduk menepi.
Kapan? Pikirnya, apakah benar dirinya telah pantas mengenakan kain hijab ini? Terbesit di dalam hati Asmirandah untuk segera beralih dari bangku penantian itu dan menuju ke kamar mandi untuk melepas kerudungnya lagi. Namun, sepertinya ada yang menahannya untuk melakukan hal itu. Asmirandah mengeluarkan cermin kecilnya, menatap parasnya yang terlihat lesu, letih dan kesal. Mungkin, seumur hidupnya ia tak pernah mendapatkan teman satupun. Jika karena ia ingin diterima di dalam komunitas pejilbab itu, diwajibkan dirinya harus mengenakan jilbab pula. Maka gadis itu akan melakukannya. Semua hanya untuk satu tujuan...
Agar ia, kembali diterima.
*
Satu jam menanti,
Diamnya gadis itu rupanya tak membawakan hasil apapun, selain daun-daun yang berguguran semakin menjadi-jadi, mengusik ketenangannya untuk memahami akan sebuah konsekuensi. Ia kembali melirik ke arah jam tangannya,
“Jam sebelas siang.” Asmirandah menghela napas panjang, lelah juga ia rupanya. Akhirnya, Asmirandah memutuskan untuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dan berniat untuk kembali pulang. Untuk mendapatkan sebuah pengakuan saja susah, tak ada yang melihatnya. Tuhan mungkin seakan menyembunyikannya dari gerakan sang waktu yang memunculkannya sebagai sosok manusia baru. Hingga tak satupun orang yang melihat keberadaannya. Terkucil seorang diri, dalam perenungan.
“Asmirandah, kau masih di dalam cermin?”
Iya.
Gadis itu menggenggam cermin kecil dan mulai berinteraksi dengan bayangannya.
“Aku tidak kuat.” ungkapnya, matanya mulai berkaca-kaca, mengisyaratkan tangis akan bersiap-siap sedu sedan meratapi nasibya.
Kenapa begitu? Kau bodoh...!
“Memang..., aku mau mati saja.” serapahnya dalam hati.
Asmirandah...!
“Kau selalu menggangguku, ah..aku tak sanggup hidup seperti ini. Tak ada yang menyukai aku, tak ada yang peduli keberadaanku. Tak ada satupun, yang menginginkan dan menganggapku ada. Aku benci!”
Asmirandah...!
Gadis itu pun beranjak pergi meninggalkan sebatang pohon beringin tua yang melambai-lambaikan salam mesra padanya. Dirinya yang telah menyatu dengan pohon semenjak kasus itu, sebuah kasus yang memalukan dirinya seumur hidup Asmirandah. Seumur hidup. Ketika ia tengah menjalankan ospek kampus, beberapa waktu lalu. Asmirandah menengadahkan kepala menatap ke arah langit, memicingkan matanya yang silau akan tarian-tarian sinar matahari yang menyilaukan pandangannya.
Tampang bodoh!
Gadis itu mengutuk dirinya sendiri dan kembali mengingat kisah masa lalu yang memalukan dirinya, dan kenapa sampai ia menjadi seseorang yang dicap aneh oleh semua orang.
*
“Siaaapp! Grak!” pandu seorang komandan yang tengah mewakili kegiatan Ospek kampus. Beberapa mahasiswa yang ditugaskan untuk mengikuti keberlangsungan hari pengenalan kampus dan mahasiswa itu sepakat untuk menggembleng setiap para MABA atau mahasiswa baru.
Tak terkecuali dengan gadis itu, yang terlihat sedang berlari-lari cepat dengan nafas cepat dan sesak, berharap agar ia tak terlambat menghadiri upacara bendera, fajar itu. Tepat pukul lima pagi, di lapangan kampus hijau.
Asmirandah berhenti tepat di depan pintu gerbang yang telah tertutup, sedang dua orang penjaga yang tak lain adalah mahasiswa senior itu menatap dirinya penuh hina dan ejekan. Atas keterlambatannya yang tak dapat ditolerir, Asmirandah berdiri dengan kaki gemetaran. Pandangan matanya terpaku pada dua sosok pemuda itu, yang memakai jas almamater biru. Dua pemuda dengan wajahnya yang kelewat ‘sangar’.
“Maaf, Mas. Boleh saya masuk?” tanyanya dengan nada gemetar. Seorang gadis yang tengah menjalankan masa orientasi pengenalan kampus. Dengan penampilan yang kelewat lucu dan terbilang seperti seorang badut. Di mana ia diwajibkan untuk menguncir rambutnya dengan delapan kunciran dengan warna pita yang berbeda-beda. Memakai kaos kaki pemain sepak bola dan tetap dengan dua warna yang berbeda pula.
Ia menanti jawaban itu.
“Masuklah, tapi kau berbaris di barisan paling ujung. Buat mahasiswi g****k yang suka ngaret!” bentak salah seorang dari mereka. Sementara pemuda yang satunya hanya tersenyum simpul dan tak ikut membentak seperti temannya yang lain. Asmirandah menghela napas lega, akhirnya ia diperbolehkan masuk juga. Akan tetapi, penderitaannya tak habis sampai di situ. Detak jantung Asmirandah berdegup semakin kencang tatkala ia melihat beberapa orang temannya jatuh terkapar setelah mendapatkan bentakan-bentakan yang tak mengenal hati.
“Dasar g****k! Sudah diberi tahu kalau masuk jam lima tepat! Telat lima menit saja, gerbang sudah ditutup, ngerti nggak kalian! Mahasiswa baru kok sukanya ngaret! Yang terlambat-terlambat, lari kelilingi lapangan sepuluh kali! Sekarang...!” perintah ketua BEM itu dengan membentak-bentak para mahasiswa baru yang semenjak tadi hanya menundukkan kepalanya, termasuk Asmirandah.
Satu per satu barisan itu berkurang, setelah mendapat giliran untuk berlari mengitari lapangan sebanyak sepuluh kali tanpa ada jeda sedikit pun. Asmirandah berada di barisan dan urutan paling terakhir. Ia sedikit kesulitan untuk berlari karena adanya penyakit sesak napas yang menghambatnya untuk dapat berlari cepat.
Hosh...hosh...hosh..., nafas gadis itu naik turun dengan cepat dan terdengar pendek-pendek. Dalam hati Asmirandah menjerit, Ah...tidak! Aku tidak kuat, aku tidak mau seperti ini! Aku tidak bisa, Ya Tuhan!
Ketua BEM yang mengamati gerak-gerik lamban Asmirandah pun menyemprotnya dengan bentakan dan kata-kata yang keras. Lebih kejam dari sebelumnya,
“Hei, dasar cewek ngalem! Yang cepat larinya, gombel!”
Sementara pandangan Asmirandah sudah mulai berubah remang-remang, telinganya bergemuruh, dan ia dapat mendengar detak jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya
*
Hei, hei..., bangun! Ayo, bangun!
Buka matamu, Asmirandah...!
Suara-suara itu terdengar demikian dekatnya, berbisik-bisik di telingat Asmirandah. Gelap, masih terlihat gelap. Apa yang terjadi? Pikir Asmirandah, saat itu. Bahkan untuk membuka mata saja ia tak sanggup. Sedangkan ia merasa seseorang tengah memberikan berkeringat hebat. Dan semua mendadak menjadi gelap. Gelap gulita.bantuan pernapasan dengan masker oksigen. Benar, nafasnya sesak. Bahkan amat-amat sesak sekali. Sepertinya ia merasa paru-parunya terjepit dan tenggorokannya tersumbat oleh sesuatu, yang menyebabkan ia tak dapat bernapas dengan baik.
Seseorang menepuk-nepuk pipi Asmirandah, “Bangun, Dik. Kamu sudah terlalu lama pingsannya.” seru suara orang itu. Asmirandah masih diam saja, suara-suara yang didengarnya pun makin lama terdengar makin jelas. Perlahan-lahan nafas gadis itu mulai kembali normal, sehingga Asmirandah pun tak mengalami sakit kepala lagi. Ia mencoba untuk membuka matanya, pelan-pelan.
“Aku di mana?” gadis itu mencoba untuk mengangkat kepalanya, dan melihat sekeliling. Tampak berjejer-jejer mahasiswa dan mahasiswi baru yang tergeletak di atas karpet dan berselimut tengah tertidur.
“Kau sudah sadar? Minum teh manis dulu, agar tubuhmu mendapat cairan.” celetuk seorang laki-laki yang berdiri di hadapannya. Gadis itu terbengong-bengong, diam terpaku dengan pandangan penuh tanda tanya.
“Aku di mana? Kau siapa?” tanya Asmirandah.
Lelaki itu mendekati Asmirandah, kemudian ia melihat tanda pengenal gadis itu yang terkalung di lehernya.
“Asmirandah, mahasiswi jurusan manajemen. Kau pingsan di lapangan, lama sekali. Bahkan lama dari mereka yang sekarang tertidur di tempat ini.” ujar lelaki yang tak ia kenal.
“Pingsan?” Asmirandah mengernyitkan alisnya. “Berapa lama?”
“Hmm, aku menunggumu di sini sekitar satu jam yang lalu.”
“Yang benar?”
“Kenapa kamu tidak bilang kalau ada penyakit asma?”
“Tidak sempat kukatakan,”
“Kau bodoh, harusnya kau katakan langsung pada ketua BEM itu, tentang penyakit yang kau derita. Semuanya kelabakan melihat nafasmu sedemikian sesaknya, aku pikir kau terkena serangan jantung.” Lelaki itu terus menatap Asmirandah tanpa berkedip.
Gadis itu menunduk, “Aku benci acara seperti ini,”
“Aku juga.”
“Terus, kenapa kau jadi pengurus?”
“Aku hanya ditugaskan di bagian kesehatan, itu saja.”
“Tidak ingin seperti mereka? Main bentak-bentakkan.”
Lelaki itu menggeleng, Asmirandah berusaha mencari tahu namanya dari tanda pengenal di jas almamater yang dipakainya. “Krisna, nama yang bagus.”
“Darimana kau tahu namaku?” tanyanya heran.
Asmirandah menunjuk jas almamaternya, “Dari situ.”
“Kalau kau sudah baikan, alangkah baiknya kau kembali ke aula.”
“Tapi..., badanku masih tidak sehat.”
“Mau kutemani?”
“Boleh.”
“Unit kesehatan, adalah satu-satunya tempat terbaik untuk menyingkir dan menjauh dari suara bentak-bentakkan itu. Aku juga benci, mereka yang suka menindas anak-anak baru. Bukannya memberikan satu pengarahan dengan cara yang baik, melainkan selalu melewati tekanan-tekanan macam itu. Yang tidak baik untuk perkembangan mental mereka, sama sekali.”
Asmirandah tersenyum tipis di antara rasa kepenatannya yang semakin membabi buta. Ia tidak mengerti apa fungsi sebenarnya dari penekanan-penekanan semacam itu selain membuat mental beberapa orang akan menciut karena tidak tahan melihat dan merasakan sakitnya hati ketika tengah dibentak-bentak tak keruan.
“Mungkin, mereka hanya sedang membalas dendam saja, mungkin pula orang-orang yang menjadi pengurus ospek adalah korban kekejaman seperti yang aku rasakan ini. Dan hukum itu memang berlaku.” Asmirandah menyibakkan selimutnya dan mencoba untuk berdiri. Akan tetapi tubuh gadis itu belum kuat untuk berdiri tegap. Pandangannya kembali berkunang-kunang, dan dalam hitungan detik kesepuluh, ia pun terjatuh kembali.
BRAK..!
“Asmirandah...!” seru suara laki-laki itu, yang terdengar samar-samar. Dunia hanyalah satu wujud kegelapan, gelap gulita. Seperti kegelapan di suasana hari tanpa sinar, dan gelap tanpa malam.
Bayang semuku, mengalun-ngalun, laksana gendang yang bertabuh kejam. Membisingkan telinga, memecah gendangku. Hingga aku tuli! Diamlah, suara-suara itu, berhentilah! Aku tak mau!!!
*