BAB 4 Pernyataan Cinta Si Pelaut Muda

2782 Words
Dear diary, kau tahu tidak waktu dia mengajakku berkencan, dan kemudian ikut memeriahkan acara event komik bersama teman-teman, Kau tahu tidak, kalau banyak cewek-cewek yang kepengen kenalan sama si serda Koko ini. Bikin aku cemburu 1000 persen. Tapi, mengingat aku masih bukan siapa-siapanya  dia. Mau tak mau ya aku cuma bisa diem aja menahan rasa dongkol. Kebanyakan pula serda Koko ini  welcome juga sama mereka, apa nggak mikir gimana aku yang tengah berdiri tepat di seberangnya, sambil aku membagi-bagikan selebaran acara komik dan pertunjukan lainnya. Tak kuat menahan rasa kesal, jiwaku pun mengambil alih.         "Jangan dekat-dekat, dia ini pacarku."         kaget nggak kamu, diaryku? Pasti kaget, sebab ini tanpa diduga-duga sebelumnya. Kepikiran pun nggak pernah. Tapi, ini baru pertama kalinya aku mendatangi seseorang kemudian menyatakan diri dia itu pacarku. KIra-kira gimana reaksi si pelaut itu? Pastilah seperti baru kesetrum listrik 1000 volt. Maafin aku ya Koko, serda Koko. Pun juga kamu tidak tahu gimana rasanya itu, ah tapi ... apa balasan serda Koko saat itu?         Dear diary, kamu mau tahu atau nggak?         Mau!!! [kata si diary]         Okelah kalau begitu, jadi si Koko ini malah merangkul pundakku dan didekatkan ke arahnya. Mukaku memerah merona, seperti buah plum atau eh ... salah ... kepiting rebus..                                                                                     *         Dedaunan mulai banyak yang berguguran, kalau di negeri lain dedaunan yang gugur diartikan musim gugur. Tepat di depan rumah orang tuaku ini, aku berdiri menatap gugurnya daun-daun yang sudah menguning. Tanda berakhirnya masa atau habisnya waktu kehidupan. Sejak kecil aku suka melihat dedaunan yang gugur, jika diibaratkan manusia, daun yang gugur adalah usia. Yang semula hanya menjadi satu bibit kemudian berkembang hingga menjadi tua menguning daunnya. Hei, daun! Kamu mau ke mana? Jangan jatuh, jangan jatuh ya! Sebab diriku...[...] [… Dan bumi pun tersenyum padaku, ketika kutengadahkan wajah ke atas, menatap langit biru, yang bertebarkan burung-burung gereja di mana mereka saling berkejaran, bersatu, menari, bergembira menyambut hari yang kian pagi.   Tak mendung hari ini, rupanya tak ada hujan. Entah mungkin nanti, ketika sore menjelang, saat senja memikat dan menarik sang malam.   Tatapanku menatap ke satu arah, pada sebuah benda yang teronggok di hadapanku, jika aku terpaku, ia pun juga ikut terpaku, jika aku bergerak, ia pun juga ikut tersentuh...   Namun aku tak pernah berani menyentuhnya, sebab ada diriku di dalamnya, seonggok cermin, menarik ruhku, ruhku, ruhku... yang kini telah berganti dengan sosoknya, sudah, biarlah..., biar saja...][1]    sejak gadis kecil itu masih berusia empat tahun, ia sering menatap ke arah cermin. Dan bertanya pada ibunya, tentang kenapa dirinya menjadi dua.             Ibunya berkata pada gadis kecil itu, bahwa gadis yang satu di dalam cermin itu terperangkap dan tidak bisa keluar. Ia selalu menanti si gadis kecil untuk bertatap muka dan merawat wajahnya. Begitu kata sang ibu pada si gadis kecil.             Saat gadis itu berusia dua belas tahun, ia pun bertanya lagi pada ibunya. Kenapa wajahnya sudah berubah dan kulitnya sedikit kasar? Ibunya menjawab bahwa dirinya sudah tidak bisa disebut gadis kecil lagi, ketika ia telah mendapatkan darah haid untuk pertama kalinya. Gadis itu menangis, entah kenapa....             Sampai akhirnya ia berusia dua puluh satu tahun. Ia tetap sering menatap ke arah cermin dan duduk di depannya. Bisa bermenit-menit, bahkan berjam-jam memandangi wajahnya yang tiap tahun mengalami perubahan. Bahkan di mana pun ia berada, cermin tak bakal berada jauh dari dirinya.             Sebenarnya, ada yang ia harapkan ketika tengah menatap cermin itu. Ia ingin agar dirinya yang terpenjara tersebut keluar dari dalam cermin. Karena, setiap ia melihat cermin, dan berkaca. Gadis itu selalu tampak seperti menyesali dirinya. Melihat setiap kesedihan-kesedihan yang ia tak pernah akan melihat sendiri bagaimana rupa wajahnya, selain ia tahu dari cermin itu. Sebuah cermin yang dapat menampakkan setiap ekspresi, senang, sedih, menangis dan pura-pura akan terlihat dari ekspresi wajah tersebut.             Seperti ada sesuatu yang ingin ia ungkapkan, gadis di dalam cermin itu seakan-akan memaksa agar dapat keluar dari dalam. Entahlah, sempat gadis itu berpikir apakah ia tengah berada di dalam jurang kegilaan? Karena ia seperti tak mengenal dirinya yang sebenarnya. Sebatang pohon beringin tua meneduhkannya dari sengat panas matahari yang semakin menjadi-jadi. Sambil merenung sendiri menatap cermin kecil di tangannya, ia melihat beberapa kumpulan para gadis-gadis yang berjilbab tengah tertawa dengan riangnya. Seperti tak ada beban yang menghantui tiap detik di dalam pikiran mereka, sekalipun.             Gadis itu, bernama Asmirandah.             Terbesit di dalam hatinya, keinginan untuk menghiasi rambutnya dengan kain jilbab. Ingin seperti mereka. Agar ia dapat terbebas dan menjalani dunia-dunia barunya, sebagai bentuk manusia baru. Dan ia berharap, mungkin saja dunianya mendadak berubah. Benar, berubah. Memang itulah yang ia harapkan saat ini, adalah mengalami satu perubahan yang besar. Asmirandah menatap ke arah cermin, dan tersenyum kecil. Hatinya berteriak-teriak girang, dan berkata. Hore...! Asmirandah sebentar lagi jadi alim...! Hore, Asmirandah berjilbab! *                 Cermin.             Gadis itu menatap dan terfokus di depan cermin. Sengaja ia mengunci pintu kamarnya agar tak ada orang yang masuk ke dalam dan memergokinya tengah memakai kain hijab itu. Selembar kain kerudung yang pernah ia dapat dari seorang teman kampusnya, ketika ia tengah mengikuti acara seminar dunia marketing setahun yang lalu. Kerudung putih yang ia simpan di dalam lemari pakaiannya. Dulu, saat ia menerimanya. Ia hanya diberi pesan oleh temannya tersebut bahwa jika seorang wanita memakai jilbab, maka dunia akan memandang hati dan wajahnya sebagai orang tercantik. Sempat ia tak mempercayai akan kata-kata tersebut yang sempat ia cap sebagai rayuan saja. Namun, setelah malam ia menghadap ke arah cermin dan mulai mengikatkan kain pasmina itu di kepalanya. Asmirandah tertegun. Apakah ini aku? Apakah ini diriku yang sesungguhnya, atau yang lain? Tidak, ini pasti tipuan cermin. Tidak, benarkah ini aku? Pasti bohong, ini Asmirandah yang bukan aku. Asmirandah dalam cermin. Asmirandah dalam cermin. Gadis itu tersenyum-senyum memandangi cantik wajahnya yang tampak lain dari sebelum ia tak menggunakan kain jilbab itu. Ia mulai beraksi, melenggak-lenggok dan berpose saat ia akan mengambil gambar untuk ponselnya. Cermin itu seakan-akan memunculkan satu perubahan yang nyata. Semenit itu pula Asmirandah terdiam, ketika ia tersadar dari apa tujuan ia memakai kain itu? Jilbab. Hijab dan hukum yang harus ia taati jika telah memakai kain kerudung ini. Asmirandah sama sekali tak mengerti akan beberapa hukum yang mengharuskan ia memakai jilbab. Yang ia tahu, adalah..., sekumpulan teman-temannya yang tiap harinya dapat tertawa riang dan berkumpul dalam satu mimbar. Agar ia tak lagi duduk sendiri di bawah pohon beringin tua yang menemaninya sejak ia baru masuk kuliah untuk pertama kali. Sambil menangis sesenggukan. Dan tak ada yang memperhatikannya, selain orang lain menganggap dirinya adalah manusia yang aneh. Gadis itu kemudian melepas jilbabnya lagi. Aku tak berani! jeritnya dalam hati. Tiba-tiba gadis di dalam cermin itu seakan-akan berbicara pula padanya. Dengan menunjukkan wajah marahnya setelah tahu jilbabnya terlepas. Kenapa kau melepasnya, Asmirandah? Aku tidak siap menghadapi semua ini? Pakailah, agar kau tampak cantik. Itu harapanmu, bukan? Tidak, aku takut. Jika orang-orang menganggapku aneh. Pakailah, bodoh! Pakailah...! Untuk apa? Supaya aku dapat keluar dari cermin ini. Pakailah...!   Asmirandah terdiam. Apa yang baru ia dengar dan lihat dari pengungkapan hati tersembunyi gadis di dalam cermin. Bahwa ia ingin keluar dari sana dan menjadi manusia baru? Apakah ia sudah gila? Berbicara sendiri dengan cermin. Asmirandah beranjak dari depan cermin itu. Kemudian menyimpan kain kerudungnya tersebut kembali ke dalam lemari. “Mungkin, hatiku belum siap memakainya. Mungkin, suatu saat aku benar-benar akan memakai ini.” ujarnya sendiri dengan hatinya. Akan tetapi, terjadi sesuatu saat ia membalikkan badannya dan saat ia hendak keluar dari kamar. Bodoh...! Bodoh! Bodoh! Kata-kata itu selalu terngiang di dalam kepalanya. Bahkan ketika keanehan yang lain pun muncul. KRETEK...KRETEK...KRETEK.... Cermin itu pun retak, tepat di tengah-tengah. Asmirandah terdiam terpaku dan ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat. Satu persatu keanehan telah muncul. Ada apa dengan cermin itu? Pikirnya resah. Ada apa? * Ruang Perpustakaan, Asmirandah mencari-cari sebuah buku tentang cara bagaimana menghilangkan stres dan beban hidup di dalam dirinya. Akan tetapi, ia malah menemukan sebuah buku tentang bagaimana cara menghadapi perubahan. “Perubahan membawa perubahan yang terkadang disertai kepedihan?” gadis itu mulai mengasingkan diri dengan duduk di sudut meja perpustakaan, agar tak ada yang mengganggunya dari suara-suara diam para pegawai yang setiap hari mengeluhkan masalah-masalah hidup pada teman-temannya yang lain. Perubahan Membawa Perubahan (Terkadang Disertai Kepedihan) Kita menghabiskan banyak waktu untuk mengubah (atau memperbaiki) orang lain. Bagaimana mungkin kita bisa berharap untuk dapat mengubah orang lain, jika mengubah diri sendiri saja sangat sulit? Renungkan hal ini. Ketika perubahan memasuki kehidupan Anda (baik di tempat kerja atau di rumah), RC pun meningkat. (Resistance to Change-sikap penolakan terhadap perubahan); ini biasa terjadi jika perubahan tersebut mempengaruhi Anda secara langsung, sedangkan Anda tidak tahu apa yang tengah terjadi. Hasilnya, RC yang besar. Untuk mengawali perubahan, Anda hanya perlu bantuan dari satu orang: yaitu diri Anda sendiri. Ini benar. Dengan terlebih dahulu menerima dan memikul tanggung jawab Anda (alih-alih malah menyalahkan orang lain) dan dengan mengusahakan sendiri kedamaian, kebahagiaan, dan kesehatan mental, Anda akan memperoleh perubahan yang berarti. Pandanglah ke dalam cermin, jangan ke kaca pembesar. Saat Anda berubah, semua orang di sekitar Anda mungkin juga berubah (itu pun jika mereka juga mampu berubah). Walaupun mereka tidak berubah, Anda masih bisa menjadi lebih bahagia, sehat, dan damai. Apabila dengan begitu Anda harus mengguncang keadaan, ya sudah, biarkan saja. Sebenarnya, Anda justru harus membalik keadaan itu untuk memperoleh perubahan yang diperlukan. Anda pikir Anda sedang mengubah seseorang, namun bisa saja sebenarnya Anda hanya mengambil sandera (atau menjadikan diri Anda sebagai sandera). Sejumlah orang akan menuntun Anda pada keyakinan (memperdaya Anda supaya berpikir) bahwa mereka sudah cukup berubah, hanya agar Anda berhenti mengubah mereka; kemudian mereka akan mengembalikan Anda ke komidi putar untuk melakukan satu putaran lain bersama tingkah laku lama mereka. Mari kita periksa tiket komidi putar Anda. Wah....wah, rupanya Anda sudah naik komidi putar berulang kali. Bukankah sekarang waktunya untuk turun? Kebanyakan orang tidak berubah hanya karena mereka melihat cahaya. Mereka biasanya berubah setelah merasakan panasnya!               Asmirandah memberi tanda garis pada kalimat yang ia rasa dapat dijadikan sebagai cambuk untuk dirinya agar segera bangkit dan berani mengambil keputusan. Apakah ia harus berubah atau tetap menjadi Asmirandah yang biasa-biasa saja dan tidak dipandang oleh siapapun, karena ia buruk. Tidak, Asmirandah tidaklah buruk rupa, ia hanya sedikit aneh.             “Aku harus,” resahnya dalam hati. Gadis itu menutup bukunya, lalu beranjak dari kursi dan melangkah menuju pada dua penjaga perpustakaan tersebut. Yang semenjak tadi tak henti-hentinya bergurau satu sama lain. Asmirandah meletakkan buku tebal itu. “Saya pinjam yang ini.”             “Ouw, kartu mahasiswanya?”             “Ini,” Asmirandah memberikan kartu itu, ia masih tetap memperhatikan tingkah laku si penjaga perpustakaan yang menurutnya sedikit nyentrik. Seorang lelaki bertubuh kurus dengan wajah oval, dan berkumis tipis. Sedang di dekat bibirnya terdapat sebuah t**i lalat yang besar. Asmirandah tak sadar ia tengah tersenyum tipis melihat wajah lelaki itu.             “Asmirandah, seminggu lagi. OK!” ujarnya setelah ia selesai mendaftarkan buku tersebut ke dalam file komputer.             “OK!”             Dan gadis itu pun segera keluar dari ruangan perpustakaan untuk melanjutkan bacaannya. Tapi, rupanya..., perut Asmirandah tak mengajaknya untuk berkompromi. Perutnya menuntut gadis itu agar lekas menjejal-jejalkan makanan ke dalam lambungnya. Barisan bertepi, ia berdiri menyudut di sela-sela gerombolan mahasiswa-mahasiswa yang saling berebut mendapatkan kunci loker untuk menyimpan tas mereka. Asmirandah selalu mendapatkan kunci loker yang sama, nomor 42. Untuk mendapatkannya ia rela sendirian menanti sebelum perpustakaan itu buka. Gadis itu selalu menanti petugas perpustakaan itu, memberikan kunci nomor yang sama. Entahlah, Asmirandah menyukai nomor tersebut karena mengandung sebuah arti tersendiri. Akan sebuah kenangan, dalam bentuk angka.             Kruyuk...Kruyuk...Kruyuk...             Perutnya tak lagi dapat berkompromi. Ia harus makan siang kali ini, tidak boleh tidak. Karena jam kedua akan segera dimulai. Gadis itu merogoh sakunya, ah...rupanya ia hanya menemukan dua lembar uang lima ribuan yang sedikit kumal. Ibu Asmirandah tidak memberinya uang makan. Asmirandah tidak pernah mengeluhkan tentang hal itu, karena ia tahu akan kondisi keluarganya yang tengah mengalami krisis keuangan. Ia pun mau-mau saja dan nurut ketika ibunya membawakan bontotan untuk makan siangnya. Walau lauk-pauknya hanyalah nasi dan telur dadar. Ia tak mengapa, sungguh! Ia tak pernah berkomentar tentang hal itu. Akan tetapi, Asmirandah mencari-cari tempat bersembunyi untuknya makan. Persis di jendela yang terbuka itu, ada sebuah kursi kecil, kursi yang hanya cukup untuk ukuran p****t sekecil p****t Asmirandah. Gadis itu melihat ke sekitar, berharap tak ada seorang pun yang memperhatikannya. Karena perutnya sudah menuntutnya untuk makan.             Ketika ia merasa telah aman dan tidak ada yang melihat gelagatnya. Asmirandah pun membuka tasnya dan mencari sebuah rantang kecil berikut dengan sendok dan garpu kecilnya. Hidup dalam kepapaan tak membuatnya malu untuk menerima kondisi tersebut. Asalkan ia masih dapat sekolah dan kuliah di jurusan yang diinginkannya sejak kecil. Asmirandah tak pernah mengeluh. Hanya, hanya satu yang ia keluhkan saat itu. Yaitu tentang perubahan. Bagaimana cara agar disukai dan mendapatkan banyak teman. Selama ini ia bersikap individualis dan menutup hatinya untuk menerima teman-teman baru. Oleh sebab itu, sifatnya semenjak kecil yang bertemankan dengan cermin dibawanya hingga dewasa.             Gadis itu menangis. Air matanya tertumpah ruah saat melihat nasi dan telur dadar yang sudah dingin itu baru saja dimakannya. Masakan ibu. Hanya telur dadar yang ia suka sejak dulu. Sayang, ibunya tak pernah sekalipun mengerti tentang pergaulan anaknya. Yang tak pernah mendapatkan teman. Ada sesuatu yang ia sembunyikan di balik rasa sedihnya. Rahasia kecil, yang tak mampu ia ceritakan pada siapapun. Jika pun ia bercerita, semua orang tak akan pernah percaya padanya. Bahwa dirinya dapat berbicara sendiri dengan dirinya di dalam cermin itu. Karena nantinya, ia akan dianggap gila. Mana ada yang percaya? Karena itu ia hanya diam. Pada siapa ia bercerita? Jika nantinya mereka malah menertawai Asmirandah sedemikian rupa. Ia mencoba untuk menghindari akan hal itu. Sampai pada saat ia benar-benar telah menemukan jawaban yang pasti.             Dari semua, teka-tekinya.             Secara gadis itu tak sadar ketika ia tengah asyik melamun sambil melahap menu makan siangnya. Bahwa ia tengah diperhatikan oleh seseorang di belakang yang sedang asyik merokok dan mengepul-ngepulkan asap rokok membentuk awan-awan kecil. Asmirandah terbatuk-batuk, ia pun mendadak tersedak. Gadis itu meletakkan rantangnya dan mengambil sebotol air putih yang juga dibawanya. Matanya memerah. Masih pula ia terbatuk-batuk kecil. Asmirandah menepuk-nepuk dadanya beberapa kali, agar makanan yang tersedak itu segera turun ke lambung.             Ia mencari-cari penyebab kenapa dirinya sampai terbatuk. Asap? Tanyanya heran. Gadis itu beranjak dari kursi kecilnya dan membalikkan tubuhnya. Dan seketika ia pun terkejut kembali. Sesosok lelaki dengan penuh santainya mengepulkan asap itu ke wajah Asmirandah.             PUFH...             Dan gadis itu pun terbatuk-batuk lagi, untuk kesekian kali. Setan! Umpatnya dalam hati.             “Heh, setan kau!” Asmirandah mengumpat pada lelaki itu.             Tapi anehnya, lelaki itu tak menggubris kata-katanya. Semprul! Asmirandah mengumpat di dalam hati. Ia pun sedikit takut dengan lelaki itu, karena penampilannya yang kelewat eksentrik. Dengan memakai jeans belel, dan robek-robek. Ditambah pula bentuk rambutnya yang seakan tak terawat dan sedikit gimbal. Asmirandah, sedikit memaklumi keanehan tersebut. Mungkin, ia pun sedang asyik menyendiri sepertinya.             Manusia aneh!             Gadis itu menundukkan kepalanya dan tak lagi memperhatikan sosok lelaki yang baru saja membuat hatinya marah sejenak. Ia kembali ke kursi kecilnya dan menutup rantang makanannya. Nasi itu sudah terlalu dingin, berikut juga dengan telur dadarnya. Ia kembali merenung, sebelum ia memasukkan rantang itu ke dalam tasnya. Dan kembali menjalankan rutinitas seperti biasa. *             Jilbab.             Lagi-lagi gadis itu bercermin diam, menatap wajahnya dalam-dalam. Sengaja ia mengunci pintu kamarnya agar tingkah anehnya tidak sampai diperhatikan oleh ibunya, bahkan kakaknya yang sering mengusili Asmirandah dengan ejekan-ejekan tak bermutu. Seperti anak kecoak, muka tikus dan hati semut. Entahlah, ia mendapatkan julukan gratis itu darimana. Kakaknya memang senang sekali mengusili Asmirandah dengan panggilan-panggilan aneh. Bagaimana reaksi keluarganya jika tahu ia akan merubah dunianya dengan selembar kain jilbab yang menutup auratnya.             Apakah semakin bertambah hebat ejekan-ejekan mereka? Tapi pasti, tidak dengan sang ibundanya yang dengan sepenuh hati mendukung apapun dan segala hal yang positif putrinya. Termasuk dalam hal berkerudung. Hanya satu yang ia takutkan, adalah beban itu. Beban-beban yang nantinya akan ia dapatkan dari lingkungan barunya, di dunia keagamisan. Pada sebuah cerita, ia ingin mengenakan jilbab. Tapi satu yang ia takutkan, tentang konsekuensi dari jilbab itu sendiri. Bahwa ia haruslah menjadi seseorang yang alim. Dan, apakah ia bisa dan mampu?             Menggapai pintu surga dengan kain ini? Dan malam ini, Asmirandah bertanya-tanya dengan cermin itu. Ia pun bercakap-cakap, menimbang-nimbang. Sampai pada saat gadis itu pun mengambil keputusan yang akan merubah hidupnya, kala itu juga.             Seorang gadis menyentuhkan tangannya di depan cermin. Ia menangis, berharap agar dapat sembunyi. Ia takut menjalankan konsekuensi itu, si gadis memilih untuk berkompromi dengan bayangannya.             Bantulah aku..., bantulah! Sembunyikanlah aku dari sini...! Sembunyikanlah...!             Dan untuk pertama kalinya, bayangan dari cermin itu berpindah tempat. Sosok Asmirandah yang menangis tanpa jilbab kemudian masuk ke dalam cermin. Dan begitu pula dengan bayangan itu, yang kini dengan penuh percaya dirinya langsung menyelempangkan kain hijab itu menutupi rambutnya. Menjadi seorang Asmirandah yang berbeda dari sebelumnya. Dunia kala itu berubah, saat angin badai menyibakkan tirai jendela dan berhembus kuat. Lonceng-lonceng kecil pemanggil hujan itu saling bertabrakan satu sama lain. Menceritakan tentang kehidupan baru.             Kehidupan Asmirandah. *      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD