BAB 3 Serda Koko Si Tampan yang Gagah

704 Words
“Kau harus bisa meneruskan tugas ayahmu ini dengan menjadi seorang pelaut seperti ayah ini, Nak.” Begitulah ucapan dari sang Ayah selepas Serda Koko baru saja lulus wisuda. Tepatnya setelah dia mendapatkan toga dan IPK yang memuaskan dengan nilai cumlaude. Berbekal ijazah terakhirnya, Meski sebenarnya Serda Koko jauh lebih menyukai pekerjaan di bidang desain grafis. Berbakti untuk ayahnya, jauh lebih penting. Sebab dia adalah seorang anak laki-laki yang wajib berbakti dan bertanggung jawab sampai nanti. Jadi, selepas kelulusannya—Serda Koko langsung menyerahkan ijazah kelulusannya dari Perguruan Tinggi Negeri ternama itu pada pihak panitia penerima calon anggota TNI Angkatan Laut yang baru.             Lelaki bertubuh tegap dan berparas tampan itu kini tengah berdiri di depan cermin. Memandang tubuhnya yang berlengan bisep dan rambut cepaknya. Sebentar lagi Serda Koko akan mendatangi rumah Asmirandah, dia harus berdandan kece agar tidak mempermalukan diri di hadapan orang tua Asmirandah saat bertemu nanti. Pun juga dia tidak ingin salah di depan Asmirandah sendiri. Jadi, Serda Koko sengaja mengenakan kemeja warna hitam berbahan silk dengan dipadu padankan celana panjang kain berwarna putih. Tak lupa dia semprotkan parfum kesukaan yang didapatnya dari sang Kakak—Kak Sherly sepulang dari tour ke Eropa dua bulan yang lalu.             “Asmirandah pasti langsung jatuh hati saat mencium wangi parfum Clive Christian ini, siapapunakan langsung terlena dan jatuh cinta.” Pujinya bicara sendiri. Merasa sudah selesai dan siap keluar rumah, Serda Koko keluar dari dalam kamar dan berpamitan pada ayah-ibunya yang tengah duduk bersantai di teras depan rumah.             “Mau pergi ke mana? Kok necis gitu?” tanya ibunya yang biasa dipanggil Bu Neti.                     “Ke rumah temen, Bun … hehehe …” jawabnya sambil tersipu-sipu.             “Temen, apa temen?” sahut Bu Neti tak percaya seraya menggoda pula.             “Temen, Bun. Beneran,”                   “Bukan temen ya nggak apa-apa, sudah waktunya toh kamu cari pacar?” seloroh sang Ayah, bernama Pak Braja menggoda putranya yang sudah makin dewasa saja. “Jangan sampai salah pilih pacar, karena sekali salah akan berimbas pada hidupmu kelak. Kau tahu, hal yang paling bahaya yang hinggap pada diri seorang lelaki adalah ketika dia mulai jatuh cinta. Sebab jika cinta itu patah, hidupnya juga akan patah. Sebab itu, Ayah sejak dulu melarang kalian jatuh cinta di usia yang belum matang. Kenapa? Untuk menghindari acara patah hati, sebab jika sudah mengenal yang namanya cinta, t*i kucing berasa coklat. Jika cinta tak sejalan dengan hati, hancurlah sudah. Sebab itu, pesan Ayah padamu, jangan sampai salah pilih pacar. Mengerti, Ko?” tegas Pak Braja sebelum mengizinkan putranya itu keluar dari rumah. “Iya, Yah. Mengerti. Koko yakin pilihan kali ini tidaklah salah, Koko melihat ketulusan dari mata dia saat berkenalan kemarin.” “Kamu adalah seorang pelaut, carilah wanita yang sangat tulus dan setia mencintaimu dan rela menantimu sekian lama saat bertugas di laut selama berbulan-bulan. Tipe yang sabar dan tidak genit. Itu sudah modal yang cukup. Paham?” sarannya sekali lagi. Koko menundukkan kepala, tidak boleh menolak apapun nasehat dari sang Ayah yang sangat dihormatinya. Baginya, tiap kata-kata ayahnya adalah titah yang harus dipatuhi. Dan untuk urusan cinta kali ini, boleh dibilang bukanlah satu perkara  yang mudah. Sebab melibatkan sejuta perasaan, yang juga tidak mungkin bisa diterka-terka. Perkara cinta adalah urusan yang rumit. Yang mungkin bisa saja tipe-tipe yang diinginkan oleh ayahnya itu memang ada tapi hati siapa tahu? Sebab hati tiap manusia pun bisa berbolak-balik. Tentunya Koko hanya berharap Asmirandah sesuai dengan keinginannya juga keinginan ayahnya. “Saya pamit dulu, Yah, Bun.”                                                                             *   Memandang wajah ayu si Asmirandah, Koko tak henti-hentinya menatapnya dengan senyuman. Keduanya tampak seperti sepasang kekasih saja, padahal mereka baru saja bertemu untuk kedua kalinya. Pun begitu, dipandang oleh semua orang yang lewat di samping mereka, Asmirandah dan Koko tak menggubris, pikirnya buat apa ngurusin diri orang lain, jauh lebih enak memikirkan diri sendiri. Begitulah pemikiran sepasang sejoli yang tengah dirundung api kasmaran. "Pengen nonton film apa?" tawar si Koko menyembunyikan rasa gentarnya, tak terbiasa berhubungan dengan perempuan, malah jadi keki saat tengah berkenalan dengan sesosok yang nyata. "Aku?" Asmirandah menyedot minumannya sembari berpikir. "enaknya nonton apa ya?" "Kalau film fantasy mau ga?" Asmirandah menggeleng, "Nggak, nggak mau," "Kenapa?" "Nggak suka fantasi-fantasian," "Terus, film apa?" "Film romance gitu deh." "Oke, baiklah. KIta cari film itu nanti."                                                                                     *              
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD