BAB 13 Cinta dan Lara

2427 Words
Rindu dan cinta, datang menggoda. Meraih sukma, walau badai menerpa.             La ilaha illallah 33 x             Pesan yang ditulis oleh guru pembimbing rohaninya tersebut diletakkan di atas sajadah. Seusai Asmirandah menjalankan shalat isya’, ia meneruskan dengan membaca dzikir seperti yang telah diamanatkan. Bahwa agar dapat menolong ayah dan ibunya dari siksa api neraka, maka dirinya harus selalu mengingat nama Allah dan mengagung-agungkan namaNya. Gadis itu menyendiri di dalam kamar, sambil di tangannya memutar tasbih dan bibirnya berkomat-kamit. Air matanya pun menitik keluar dari pelupuk matanya. Wina juga mengajarkan tentang bagaimana cara agar dapat berhubungan dengan Allah, ia mengingat kata-kata itu;             “Tundukkanlah kepalamu dan pandanglah matamu di hadapan Allah, lalu pusatkan seluruh perhatianmu hanya kepada Allah. Kau juga tidak perlu berbicara tentang hal-hal yang tidak berguna, jangan banyak bergerak dan berusahalah agar kau tetap dapat berkonsentrasi padaNya saat kau tengah bermunajat pada Allah. Senantiasa berpikir dan merenungkan terhadap seluruh ciptaan Allah demi menambah tebalnya keimanan. Dan yang terakhir, bertawakal kepada Allah dalam setiap ikhtiyar menjalankan kebaikan. Asmirandah, seluruh etika bermunajat ini harus kau jadikan sebagai pakaian hidupmu, karena hubungan dengan Allah itu selalu berlangsung.”             Mata gadis itu terpejam, rasanya ia tak lagi kuat untuk menghentikan tangisnya. Karena saat matanya terpejam, sekilas ia melihat bayangan ayah dan ibunya yang memanggil-manggil namanya dan menangis kesakitan. Tak sanggup rasanya ia menahan diri dan diam saja ketika melihat pemandangan yang menakutkan itu. Di mana keduanya tengah dicambuk dengan cambuk api yang melukai tubuh keduanya. Sedang tangan mereka terikat dengan rantai yang membuat mereka tidak bisa lari dari genggaman api neraka. Asmirandah menjerit histeris, ia tak sadar sedang meronta-ronta di dalam kamar tengah memakai mukena dan berguling-guling di atas sajadah yang sudah miring ke mana-mana.             “Ayah, ibu..., Ya Allah hentikan, jangan kau siksa dia....aku mohon...! Ayah, ibu..., bagaimana aku harus menolong kalian di sana? Hhuhhuhu....” tangisnya tanpa henti, dalam rumah itu ia sendiri, dalam kamar yang kecil nan sunyi dan hanya terdengar suara tangisnya yang menjadi-jadi. Tak ada seorang pun yang mendengar tangisannya, semua penghuni rumah beberapa jam lalu tengah mengunjungi salah satu saudara mereka yang sedang opname di rumah sakit. Dan Asmirandah tidak ada waktu untuk ikut dengan ibunya, karena tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk. Dalam tangisan yang mendayu-dayu, Asmirandah kelelahan. Ia tertidur dengan masih memakai mukena dalam keadaan meringkuk dan menangis.             Hari ini terlalu lelah. Esok hari selasa, esoknya lagi berganti hari. Tapi kenapa hatinya masih saja resah? Seperti ada sebuah rahasia lagi yang belum terkuak dan menyamankan hatinya. Sepertinya kesalahan orangtuanya amatlah besar dan benar-benar tidak dapat diampuni melebihi dosa syirik sekalipun.             Hari ini Senin,             Esok selasa,             Esoknya lagi rabu,             Kamis,             Jum’at             Sabtu             Minggu...               Masalah yang belum terselesaikan itu melupakan pada seseorang, dia. Elmo. Yang sudah lama tidak ia hubungi karena tragedi yang menimpanya, bahwa ia terlalu takut untuk terjatuh dalam jurang percintaan yang membuatnya terlupa akan tugas utamanya untuk mencari jawaban selain pengampunan dari Tuhan. Apa itu, ia tak tahu dengan pasti, semua masih terpaut dengan tanda tanya yang tidak jelas ujungnya.             Dalam tidur ia bermimpi, bertemu dengan seseorang yang membawanya masuk ke lorong bercahaya putih yang menyilaukan pandangannya. Sinar itu begitu terang, seperti bukan sinar biasa yang pernah ia lihat sebelumnya. Gadis itu seakan-akan tengah digiring menuju suatu tempat yang tidak ia ketahui. Dan, ketika ia telah sampai di ujung terowongan, Asmirandah terkejut sampai ia mengucapkan kalimat subhanallah berkali-kali. Saat kakinya yang tanpa alas kaki menginjak pasir. Gadis itu berdiri di padang pasir.             Padang pasir. Di hadapannya ia disambut oleh sepasang suami istri yang wajahnya terlihat bersinar-sinar. Mereka berjalan menghampiri Asmirandah dengan menebarkan senyum yang cantik dan penuh cinta. Salah satu dari mereka memeluk Asmirandah dan menyapa, ‘Gandenglah tanganku, puteriku sayang. Mari kita bertemu Tuhan.’             Mari kita bertemu Tuhan,             Mari kita bertemu Tuhan....bertemu Tuhan, selamatkanlah kami dari murka Tuhan, anakku. Selamatkan kami...             Tiba-tiba padang pasir itu berubah menjadi terowongan yang gelap dan senyap. Gelap. *             Asmirandah dikejutkan oleh sesuatu saat ia terakhir masuk ke dalam base camp UKKI dan mendapati tulisan yang tertulis dengan spidol hitam di atas papan putih yang digantung tepat di bawah pigura foto presiden dan wakil presiden. Gadis itu amat sangat tercengang, jantungnya berdegup kencang karena ia merasa takjub dan tak mempercayai tentang apa yang kini dilihatnya.             Daftar pengurus baru.             “Benar itu nama ketuanya? Elmo? Ketua UKKI yang sekarang?” tanya Asmirandah menatap Siti Maisaroh yang duduk di sebelahnya.             “Iya, Elmo angkatan 2002. Kenapa? Kamu udah kenal dia?”             Asmirandah menggeleng, “Enggak,”             Siti Maisaroh mendekati Asmirandah lalu berbisik, “Eh, dia cowok yang cakep bangets lo! Sueerrr...! Aku nggak bohong. Fansnya dia juga banyak, sayangnya aku udah tua. Dua tahun di atasnya, jadi ya cuma kuanggap sebagai adik.”             “Yang benar? Ada fotonya?”             “Ada, kemarin waktu kau jarang masuk, itu acara pelantikannya. Sebentar, aku carikan dulu album fotonya.” Siti Maisaroh beranjak dari tempat ia duduk, lalu menuju sebuah rak dan mencari-cari album foto yang dimaksud. “Ah, ini dia. Fotonya.”             Detak jantung Asmirandah berdegup semakin kencang, ia merasa sebentar lagi akan tahu wajah dari sosok lelaki misterius itu. Apakah benar setampan yang dikatakan oleh Siti Maisaroh, jika itu benar tidak sia-sia Asmirandah mengenalnya. Siti Maisaroh kembali duduk di sebelah Asmirandah, kemudian ia membuka halaman per halaman album foto tersebut.             “Ini Elmo, ini dia. Kau anggota baru harusnya sudah tahu tentang para pengurusnya selain Kak Rani dan Wina, kau pulang mereka datang. Kau datang, mereka baru saja pulang. Jadi tidak pernah ketemu!” serunya.             Asmirandah hanya terdiam, ketika ia melihat foto sosok lelaki misterius. Tidak mungkin, dia! Tidak mungkin! Elaknya. Itukah sosok Elmo yang sebenarnya? Ah.., di luar dugaannya selama ini, bahwa ia memang tampan, kulitnya putih, hidungnya mancung, dan senyumnya sangat manis. Ah, seperti mendapatkan durian runtuh. Dan membuat hati Asmirandah semakin tertambat padanya. Atas perasaan asing yang ia rasakan, bagaimana dirinya harus mengungkap sejati secara nyata?             Bahwa ia dikenal dengan nama Pelangi. Benar, lelaki itu mengenalnya dengan nama Pelangi, bukan sebagai Asmirandah. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara-suara orang yang sedang melangkah menuju base camp, langkah kakinya begitu jelas. Ada beberapa yang berjalan dengan menyeret sepatunya dan seseorang ada yang berlari cepat menaiki tangga. Dan sampailah mereka di depan pintu lalu serempak menyapa.             “Assalamualaikum!!!”             Asmirandah menoleh dan terkejut, rasanya jantung yang semenjak tadi terdengar seperti meletup-letup. Ia melihat beberapa orang laki-laki berdiri di depan pintu, dan salah satu dari mereka tampak di dalam foto yang baru saja diperlihatkan oleh Siti Maisaroh padanya.             Mereka mendekat, dan langsung duduk sambil melepas lelah dengan saling berebutan mengambil air minum di dalam galon. Saling bergelak tawa dan bercanda membuat suasana base camp yang semenjak tadi sepi berubah menjadi ramai. Begitu pun dengan Asmirandah yang tertular untuk ikut tersenyum mendengar lelucon-lelucon mereka yang lucu.             Siti Maisaroh kembali menyapa semuanya untuk memperkenalkan anggota-anggota yang baru saja masuk. Ia meminta anggota-anggota baru berdiri di hadapan mereka.             “Teman-teman, aku mau ngenalin kalian anggota baru di sini. Yang tinggi ini namanya Lutfia, dan yang di sebelahnya Asmirandah. Mereka baru beberapa minggu di sini, dan baru sempat aku perkenalkan kalian. Lutfia, Asmirandah ayo beri salam!” serunya mencubit lengan Asmirandah sambil memberi isyarat mata padanya agar gadis itu melirik ke arah yang dimaksud. “Ssst...ssst, itu dia, di depan sendiri. Yang lagi natap kamu, tuh.” Bisiknya. Hati Asmirandah bergetar, ia pun mengamati wajah lelaki itu dengan seksama. Hari itu Asmirandah telah melihat Elmo, sosok lelaki misterius yang menjadi dambaan hatinya, bertemu dengannya. Wajah yang bulat telur, mata yang selalu memancarkan binar cahaya, juga bola mata yang hidup nan lincah. Sempurna, walau dirasa tinggi lelaki itu masih menjadi kekurangannya, bahwa ia bisa disebut pendek. Asmirandah terpana. Sampai matanya tak berkedip.             Sekarang, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah Elmo mengenalnya sebagai pelangi? Bahwa seseorang yang tiap malam menelponnya kini, ada di hadapannya! Persis!             Siti Maisaroh menyenggol pinggul Asmirandah dan berbisik sambil matanya melirik genit, “Ayo, sapa mereka!”             Asmirandah tergagap, “Ke...kenalkan, saya Asmirandah. Apa kabar?” ia menganggukkan kepala.             “Salam kenal, dan selamat datang. Aku Elmo, ketua UKKI. Semoga betah tinggal di sini.” Lelaki itu, Elmo menyapanya dengan ramah, semakin membuat rona pipi Asmirandah memerah.             Gadis itu kembali duduk setelah Lutfia telah selesai memperkenalkan dirinya. Degup jantungnya perlahan-lahan telah kembali normal, lega. Mungkin malam hari ini ia tak akan dapat tidur dengan nyenyak, oleh persebab bayang-bayang wajah lelaki misterius itu akan terus menghantuinya, ah....dengan indahnya.             Asmirandah melamun dalam keramaian, tak sadar ia pun tengah diperhatikan oleh sosok lelaki tersebut. Yang duduk diam menatap wajahnya, tanpa disadarinya. Rindu dan cinta, datang menggoda.... Meraih sukma, walau badai menerpa.... *               Pohon beringin tua. Bahkan manusia paling bijak di antara kita semua tunduk di bawah beratnya Cinta, padahal pada kenyataannya Cinta adalah seringan sepoi-sepoi angin Libanon. Barisan puisi itu, tertulis di atas secarik kertas putih. Pena hitamnya mengalun-alun dengan syahdunya, mengikuti irama nada kata saat garis kalimat itu berakhir dalam uraian kata sepoi-sepoi angin Libanon. Ah, pikir lelaki itu. Kata-katanya sungguh indah mengurai senyum yang tersipu malu karena jatuh cinta. Namun hatinya kering akan belaian yang menyentuh jiwa dan raganya, oleh sebuah penolakan yang sampai kini dirinya tak tahu akan jawabannya.             Ia bersenda gurau dengan sang angin yang berhembus dan mengitari asap rokoknya. Rambut bergaya ikal dan jenggot yang dipeliharanya, ditambah dengan jambang peliharaannya. Membuat sosok Krisna dikenal secuek kain gombal itu dikenal oleh banyak teman-teman, juga para dosen yang menyukai penampilan apa adanya tersebut. Namun, tidak dengan kisah cintanya. Yang diam-diam ia menyukai sosok Asmirandah sejak masih menjadi mahasiswa baru yang mengikuti ospek beberapa tahun lalu. Di mana ia tahu benar tentang kondisinya dan kepribadiannya yang terkenal cengeng dan lemah. Ia menyukainya, dan telah mengutarakan rasa dan perasaannya pada Asmirandah. Akan tetapi, entah kenapa, gadis itu masih memberikan sejuta teka-teki untuk mendapatkan persetujuan dari jawaban yang dinanti-nantikannya.             Lelaki berjenggot keriting itu menengadahkan kepala ke atas, menatap akar-akar yang bergelantungan seperti tangan gurita yang hendak menerkam tubuhnya dan memakannya bulat-bulat. Krisna berusaha untuk dapat meraih salah satu dari akar yang menjuntai ke bawah. Namun tak sampai. Saking penasarannya, ia pun berdiri di atas kursi dan meraih akar tersebut.             Tak sadar bahwa ada seseorang yang tengah memperhatikannya, tepat di hadapannya. Gadis itu melempar sebuah batu kerikil yang mengenai dadanya.             KLOTAK.             Sebongkah batu kerikil itu tepat mengenai sasaran, lelaki itu mengaduh kecil. Sambil mengelus-elus d**a ia mendongak ke bawah dan mencari siapa yang melemparinya batu. Pandangannya tertuju pada sosok gadis yang tengah berdiri malu-malu.             “Kau, Asmirandah...! Sejak kapan berdiri di situ?” Krisna segera beranjak turun ke bawah dan berjalan menghampirinya. Sudah sekian lama ia tak pernah melihat gadis itu, semenjak ia memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa cintanya. Mungkinkah gadis itu kini hendak menjawab misteri hati yang hilang itu? Ah..., sekali lagi ia bertanya-tanya sendiri, resah.             “Kak Krisna, apa kabar?”             “Ke mana saja? Aku tak pernah melihatmu duduk di sini lagi.”             “Hah? Memang Kak Krisna perhatikan aku terus saat duduk di bangku ini?”             Krisna mengangguk, “Benar, dari kejauhan. Dari atas gedung di lantai lima.”             “Kelihatan?”             “Manusia kecil, seperti semut. Kau seperti seekor anak ayam yang kehilangan induknya. Duduk sendirian tanpa teman.”             Asmirandah menundukkan wajahnya, “Seperti seekor anak ayam, yang...kehilangan induknya?”             Krisna mengangguk, “Iya, kenapa kau suka sendirian?”             “Aku memang seekor anak ayam yang kehilangan induk, kesepian. Tidak tahu ke mana harus kucari induk itu jika ia telah mati sengsara.” Jelasnya. Krisna mengernyitkan alisnya, ia tidak tahu maksud dari penjelasan Asmirandah.             “Aku bercanda, jangan marah.”             “Tapi aku memang benar tidak punya ayah dan ibu.”             Krisna terdiam tanpa kata, ia berpikir bahwa dirinya telah membuat satu kesalahan besar yang membuat gadis itu sakit hati. Ah, ini akan mengurangi poin plusnya, umpatnya dalam hati menyesal.             “Asmirandah, maafkan aku. Aku nggak bermaksud menyinggungmu.”             Gadis itu tersenyum tipis namun bola matanya berkaca-kaca, ia berusaha untuk dapat menahan air matanya agar tidak keluar. Mengangkat kepala sedikit, menatap matahari yang sinarnya mulai menyengat. Dan terik.             “Ayah, ibuku bahagia di sana. Mereka di sisi Tuhan.”             Krisna mencari-cari cara agar ia dapat mengalihkan perhatian Asmirandah dari permasalahan yang tidak ia sukai.             “Sekarang kau ikut kegiatan apa? Kenapa nggak masuk klub Himapala?”             Asmirandah kembali tersenyum lebar, “Aku, masuk UKKI.”             “UKKI? Wah, rivalnya Himapala, hahaha...!”             “Kok, bisa begitu?”             “Ah, kamu masih anggota baru. Nanti coba kau tanya sendiri di sana, kenapa kelompok Himapala amat dibenci oleh kelompokmu. Yah, pastinya nanti yang muncul adalah semacam dakwah-dakwah yang membosankan, dan mereka merasa suci seperti seorang nabi padahal banyak dari mereka munafik. Kamu nggak perlu terlalu dekat sama mereka, karena sebagian dari mereka itu punya sifat-sifat yang aneh. Apalagi sama yang biasanya pakai baju gamis panjang.” Ungkap Krisna blak-blakkan menilai setiap pribadi para anggota UKKI yang selalu diamatinya sejak dulu.             Asmirandah diam termangu mendengar penjelasan itu, “Mereka baik semua kok, Kak. Jangan pernah berpikiran buruk. Dosa nanti.”             Krisna tertawa gelak, ia menertawai Asmirandah karena melihat sikapnya yang polos dan  dirasanya telah terkontaminasi oleh racun-racun keagamaan yang mengotori otak.             “Hahaha, Asmirandah...Asmirandah, ya sudah. Nggak perlu dibahas lagi. “             “Kakak..., aku ada perlu sama kamu.”             “Sudah kuduga, kau menemuiku karena ada perlu. Asmirandah...”             “Ya, Kak?” gadis itu mengangkat dagunya, tubuh Krisna yang tingginya melewatinya membuat ia harus mendongakkan kepalanya ke atas.             Lelaki itu menatap bola mata Asmirandah yang terhias sifat kesucian dan tampak bercahaya jika ia mengamatinya lekat-lekat. Namun, dari bola mata tersebut sepertinya menyimpan sejuta air mata yang sewaktu-waktu akan keluar dengan derasnya dan bahkan jika itu membuat tubuh Asmirandah sendiri, ikut tenggelam di dalam sungai air mata. Krisna sangat ingin tahu lebih dalam tentang diri Asmirandah sebenarnya.             “Asmirandah, aku ingin tahu jawabanmu.”             “Jawaban tentang apa?”             “Perasaanku...” ungkapnya menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap mata itu.             Hening, yang terasa hanya suara angin yang berbisik-bisik ragu. Gadis itu diam, menatap Krisna yang tengah menunduk. Ragu, tentang setiap perasaan yang terbesit di dalam hatinya. Apakah ia mampu? Mengucapkan kata itu..., bahwa sejujurnya ia menyukainya hanya sebagai seorang kakak saja.             Asmirandah perlahan-lahan memundurkan langkah kakinya, satu...dua, tiga..., kemudian ia menjauh. Krisna kembali menatap wajah Asmirandah yang terlukis oleh seribu keraguan.              “Asmirandah...?”             Gadis itu tetap tak menjawab apa-apa, lalu ia berbalik dan berlari kencang tanpa menoleh ke belakang lagi. Secara ia tak menyadari bahwa bukunya terjatuh dari tangannya. Dan buku itulah yang tertinggal di hadapan Krisna, sang pecinta. Lelaki itu berjalan mendekat, kemudian membungkuk lalu mengambil buku kecil bergambar seekor kelinci berwarna putih yang sedang tersenyum. Ia mencoba untuk membuka halaman buku itu satu per satu, dan....             Sebuah pengungkapan rasa tertulis di sana. Sebuah judul.             Pada sebuah kisah, aku bercerita tentang bumi yang tengah menangis.    *  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD