BAB 12 Dan Laut pun …

2762 Words
Jemari Rabiah terhias oleh cat kuku berwarna merah menyala, ia termenung sendiri di depan cermin. Sendiri di dalam kamar, pada cermin itu ia berbicara. Berbicara sendiri dengan hatinya yang lesu. Esok adalah hari di mana dirinya akan dipinang oleh seorang anak lurah di desanya. Perpisahan mendadak itu sempat membuatnya shock. Ia tak sanggup menghadapi perubahan tanpa tawar-menawar terlebih dahulu. Dan, apakah ayahandanya tak memikirkan dirinya yang akan jauh lebih menderita saat masih hidup di dunia. Sedangkan ayahnya lebih mengutamakan kebahagiaan akhirat yang belum tentu ia tahu sendiri kapan itu akan terjadi.             Jika saja ayahnya mengerti. Pasti Rabiah tak teraniaya seperti ini. Rabiah berpaling ke luar jendela. Dari lantai atas ia dapat melihat rumah Husain dengan lampu yang masih menyala. Benar, itu adalah kamar Husain. Rupanya kekasihnya tersebut belum tidur.             “Sindrome pre wedding.” gumamnya pada diri sendiri. Malam ini mungkin Rabiah tak bisa tidur. Benar-benar tidak bisa tidur. Apakah Husain tahu tentang kabar pernikahan ini? tanyanya resah. Berkali-kali ia melirik ke arah jam dinding. Dan, andai saja jarum jam itu bergerak mundur kebelakang. Terus kebelakang. Cerita ini mungkin tak akan pernah ada. “Husain, mungkin lebih baik aku mati saja. Daripada harus menikah dengan orang lain.” tangisnya terisak-isak. Rabiah tidak tahu apa yang harus dia lakukan selain menangis di hadapan cermin itu. Yang menyisakan kepedihan batin.             Semalaman gadis itu tetap terus melamun, sampai ia dikejutkan dengan sebuah kabar yang mengejutkan. Dan memaksanya untuk keluar dari kamar setelah ia mendengar kegaduhan yang terdengar dari luar. Satu berita yang mengejutkannya, juga pada keluarga Sulaiman sendiri.             Rabiah keluar rumah sambil menangis, ia melihat sosok Husain tengah bersujud di depan kaki Sulaiman. Membawa sebilah pisau yang akan ia tusukkan ke jantungnya. Dengan menyembah kaki ayah Rabiah. Husain berkata,             “Om, aku mohon. Jangan pisahkan aku dengan Rabiah, hanya dia satu-satunya wanita yang kucintai di dunia ini. Bahkan melebihi nyawaku sendiri. Saat kita masih hidup di dunia, perkenankan kami untuk berbahagia bersama, menjalani suka dan duka sampai maut memisahkan kita. Biarlah nanti aku dan Rabiah yang akan mempertanggungjawabkan semuanya. Asalkan kami masih dapat bersama.” pintanya dengan menangis tersedu-sedu.             Namun, Sulaiman yang tak kenal hati mendorong Husain sampai ia terjatuh, menginjak-injak dadanya dengan sepatunya berkali-kali. Lelaki tua itu tak memperhatikan bahwa puterinya tengah melihat tindakan anarkisnya dari belakang.             “Kau setan! Iblis! Kau...! Aarrght...!” tiba-tiba Sulaiman merasakan jantungnya seakan-akan tertekan, ia jatuh terduduk di depan Husain sambil meremas-remas dadanya. Rona mukanya memerah, matanya melotot dan ia merintih kesakitan. “Kau..., selamanya tak akan pernah kumaafkan. Sampai kapanpun! Ka...pan...pun!” kemudian tubuhnya tergeletak tak berdaya, terkapar di atas tanah yang dingin. Semua orang berteriak kaget, begitu pula dengan Rabiah yang juga jatuh pingsan tak sadarkan diri.             Husain diam termangu, meratapi semua yang terjadi. Ia hanya bisa diam...diam dan diam.             Rupanya bumi pun tak menghendakinya bersatu dengan cintanya. Rupanya demikian. Desir-desir angin malam menjatuhkan sebilah pisau dari tangannya, semua tampak dibuat sibuk. *             Mereka berdua terusir dari rumah. Semenjak kematian ayahanda Rabiah akibat terkena penyakit serangan jantung. Semua anggota keluarga baik dari keluarga Husain dan Rabiah tak mempedulikan lagi apa yang diinginkan oleh mereka. Semua akhirnya menyetujui sepasang kekasih itu hidup bersama, tapi tidak diperbolehkan tinggal apalagi menampakkan batang hidungnya di daerah tersebut. Karena pelanggaran norma agama dan hukum Tuhan yang disepelekan.             Hingga akhirnya jatuh korban. Husain membawa barang-barang Rabiah masuk ke dalam taksi. Sementara Rabiah terus menundukkan kepalanya dan diam di kursi belakang sambil menangis. Ia terus menangis tanpa henti, seakan-akan laut pun menangis untuknya dan membuat air matanya tak kunjung kering dan berhenti.             Kuffina, adik kandung Husain berlari menemui gadis itu, Rabiah. Dia menggedor-gedor kaca jendela taksi itu dan memaksa Rabiah keluar sejenak.             Rabiah mengusap air matanya, dan membuka kaca jendela. “Ada apa?”             Kuffina tak berkata apa-apa, ia hanya memberikan sebuah kado kecil yang terbungkus rapi padanya. “Untukmu, dan anakmu. Sebuah pesan dariku, bahwa aku tetap mempedulikan kalian.”             Rabiah merasa terharu atas pemberian kado kecil yang sekarang ada di tangannya, ia tak mampu berkata-kata selain ia berbisik pada Kuffina. “Jagalah anakku, jika nanti aku dan Husain tak lagi mampu untuk menjaganya.”             Kuffina mengangguk dan menepuk pipi Rabiah. Setelah Husain selesai mengemasi barang, ia pun mengucapkan selamat tinggal pada semuanya, termasuk adik kandungnya yang semenjak tadi selalu menemaninya. Husain masuk ke dalam taksi dan duduk di samping Rabiah. Waktu pun melaju dengan cepat, hingga pada akhir suatu masa. Ketika...ketika...ketika             Dan pada satu ketika, maut memisahkan mereka berdua. Rabiah bersandar di d**a Husain kemudian ia membuka amplop kecil dari Kuffina. Semenit setelah ia membacanya, air mata pun kembali mengalir dengan derasnya. Jiwaku, kehidupan seperti perjalanan sang waktu..., malam. Semakin cepat ia melangkah, semakin dekat akan menjemput pagi. * Sepuluh bulan kemudian,             Untuk adik iparku, Kuffina. Puteriku telah lahir, namun aku tak sanggup untuk menjaganya. Rawatlah dia, jadikan dia seperti anakmu sendiri, sampai akhirnya ia dapat menerima siapa dirinya yang sebenarnya. Berikanlah ia kekuatan selalu. Singkat pesanku, tak lagi aku kuat menulis untuk kesekian kali. Aku dan suamiku, akan mempertanggungjawabkan dosa ini di akhirat. Tapi, didiklah puteriku dengan baik. Agar ia dapat menyelamatkan orangtuanya dari siksa api neraka.             Selamat tinggal. Salam untuk puteriku, Asmirandah.             Seorang wanita baru saja menerima surat wasiat terakhir itu dari saudara iparnya. Ia memasukkan kembali pesan itu ke dalam kotak kecil, sebuah kotak yang pernah diberikan pada Rabiah sebelum ia pergi dari rumah bersama kakaknya, Husain. Ia menitikkan air mata setelah membacanya. Kemudian seorang suster berjalan menghampirinya sambil menggendong seorang bayi yang baru berusia beberapa minggu setelah Rabiah melahirkan.             “Ini bayinya.”             Dan wanita itu pun berbalik ke luar berjalan dari koridor rumah sakit dengan pandangan lesu, sedih, duka dan tangis menjadi satu.             “Kau adalah puteriku, Sayang. Puteriku.” ia melangkah pergi meninggalkan rumah sakit, dan berjalan bersama irama waktu yang terus bergulir. Diiringi oleh suara nyanyian angin yang syahdu. *             “Bagaimana kondisinya, Dok?” wanita tua itu tampaknya ketakutan saat melihat Asmirandah tak juga sadar dari pingsannya.             “Lukanya sudah dijahit dan diperban. Semua telah diatasi dengan baik.”             “Tak harus sampai menginap, kan?”             Dokter tua itu pun menggeleng, “Tidak perlu, dia hanya perlu istirahat sejenak.”             “Baiklah kalau begitu, terima kasih.” wanita tua itu duduk di tepi ranjang rumah sakit. Di mana Asmirandah tengah terbaring tak berdaya. Selang infus menancap di pergelangan tangan sebelah kirinya. Dan masker oksigen yang membantu pernapasannya yang sesak. Detak jantung Asmirandah sudah kembali normal seperti sedia kala. Begitu pula dengan kondisi tekanan darahnya yang sebelumnya turun drastis. “Asmirandah, bangun.” Sambil menepuk pipi gadis itu dua kali, untuk membangunkannya dari obat bius yang membuatnya tertidur.             Asmirandah mulai mengigau, “Ayah, ibu..., ayah, ibu....” kepalanya bergerak ke kanan dan kiri. Merintih kesakitan, kemudian perlahan-lahan ia mulai dapat membuka matanya. Menatap wajah ibu asuhnya yang tengah menangisinya. “Ibu, ibu..., aku kenapa?” tanyanya kebingungan, ia melihat ke sekeliling dinding berwarna putih dan aroma rumah sakit yang menyesakkan hidung.             “Apa yang kau rasakan, Asmirandah. Apa tanganmu masih sakit?”             Asmirandah menggeleng, “Tidak, Bu. Aku tidak apa-apa.”             “Kenapa kau menggores tanganmu dengan pecahan cermin?”             “Bukan aku yang menggoresnya, Bu. Tapi..., eeeh..cermin itu sengaja kupecahkan.” Jelas Asmirandah mencoba untuk bangun, karena berbaring malah membuat tubuhnya sakit dan pegal-pegal.             “Kenapa? Kenapa kau pecahkan cermin itu?”             Asmirandah menengadah ke atas menatap langit-langit, “Cermin itu menghantuiku.”             “Itu peninggalan ibumu, Sayang. Cermin kesayangan ibumu.”             “Aku tahu,” Ia menghela napas sejenak, “tapi aku ingin jadi diriku sendiri, bahkan tanpa cermin itu. Cermin-cermin kecil yang juga selalu kubawa ke mana-mana.” Asmirandah menatap perban yang membalut pergelangan tangannya.             “Jalan hidupmu penuh derita, Sayang.”             “Aku tak menyesalinya, tapi masih terus mencari jawaban.”             “Jawaban apa?”             “Apakah aku benar-benar dapat menyelamatkan ayah dan ibu dari neraka j*****m? Seperti yang kulihat di dalam mimpi, saat kakek menyumpahi ayah demikian. Aku melihatnya, Bu. Aku baru saja melihat gambaran itu, masa lalu ayah dan ibu yang menyedihkan. Kenapa? Kenapa mereka semua jahat?! Dan tidak ada seorang pun yang merestuinya...., kenapa?!” serunya, tangan Kuffina lekas menutup bibir Asmirandah agar ia tak berteriak di kamar UGD rumah sakit.             “Ssst, kecilkan suaramu. Ini rumah sakit, ini sudah takdir mereka, Asmirandah. Tak ada satupun orang yang bisa mengubahnya. Semua sudah digariskan Tuhan, kau harus bertahan dengan itu. Di dunia ini memang berlaku hukum, jika tidak ada hukum semua manusia akan dengan seenaknya hidup tanpa aturan, begitu pula dengan syarat pernikahan. Ada yang boleh dan tidak diperbolehkan dalam hukum Islam. Percayalah, bahwa semua itu demi kebaikanmu. Dan tidak ada yang bisa mengubahnya. Termasuk ayah dan ibumu sendiri, bahwa mereka memang ditakdirkan sebagai saudara sesusuan. Jadi memang tidak boleh menikah, Sayang.” Kuffina mengecup kening Asmirandah.             Gadis itu tertunduk lesu, sepertinya memang benar-benar tidak ada jawaban yang pasti. Semua hukum telah menyalahkan cinta mereka. Asmirandah menitikkan air matanya, perlahan-lahan semakin deras. Apa yang harus ia lakukan kali ini, apa? Dan jika nantinya ia akan menikah, atau menjalin hubungan dengan orang lain. Bagaimana dia menceritakan tentang kisah masa lalu orangtuanya, semua tak akan pernah suka dan memandang Asmirandah dengan pandangan hina, haram! Haram...! Haram!             “Ini semacam kisah sedih.”             “Apa kau menyesalinya, kau terlahir di dunia atas nama cinta dan titipan Tuhan, jadi kau tak perlu menyesali semua yang telah terjadi. Hanya manusia yang memberi cap haram seorang anak yang tak bersalah atas kesalahan ayah dan ibunya. Berdoa selalu, Sayang. Dalam cinta, masalah akan muncul jika kau tidak bersedia mempertaruhkan segalanya. Kau bahkan harus mempertaruhkan lebih banyak lagi demi cinta.” Kuffina meminta gadis itu agar kembali berbaring. Dan tidak terlalu memikirkan sesuatu yang malah membuat kondisinya semakin melemah.             Gadis itu terus menatap langit-langit rumah sakit. Pikirannya terus melayang-layang pada nasib ayah dan ibunya. Kenapa Tuhan? Kenapa Tuhan? Kenapa Tuhan?             Kenapa?             Kenapa?             Kenapa?! *             Asmirandah membersihkan serpihan-serpihan cermin yang terbelah itu dan membuangnya ke tong sampah, dibantu ibu asuhnya. Sehari setelah ia opname di rumah sakit, Asmirandah memutuskan untuk pulang ke rumah agar dapat beristirahat dengan tenang. Walau kini kamarnya tak terhias dengan cermin, ia tak mengapa. Jika semuanya dapat kembali normal seperti biasa. Tak lagi melakukan hal-hal aneh semenjak masih berumur empat tahun.             Lelah hati, lelah batin. Ingin agar dirinya dapat menuntaskan semua dan menjawab pertanyaan yang belum juga dapat ia temukan. Bagaimana cara menyelamatkan orangtuanya dari siksa neraka.             SREEK...SREEK....SREEK....             Serpihan cermin itu pun semuanya telah dimasukkan ke dalam tong sampah, gadis itu lekas mengakhirinya dengan mengepel lantai agar kamarnya kembali terlihat bersih. Semua tampak dibuat sibuk dengan pekerjaan rumah masing-masing, ibu Asmirandah membantu memindahkan barang-barang Asmirandah dan mendekorasi ulang. Semua dilakukan agar gadis itu mendapatkan suasana baru dan tidak terlarut dalam perasaan depresi yang berkepanjangan. Gandu mengecat dinding-dinding dengan warna cerah, sedangkan ayah Gandu mengurus taman perkarangan di teras dan depan rumah. Semua tampak dibuat sibuk, namun gadis itu masih berdiri diam di depan sebuah pigura foto ayah dan ibunya.              Diam terpaku, bagai patung yang menyendiri menahan tangis. “Aku sudah berjilbab, mempelajari agama lebih dalam. Tapi kenapa hatiku masih saja terus gundah?” gumamnya dalam hati. Ia mengelus dadanya, lalu menarik napas dalam-dalam. Menenangkan diri untuk beberapa saat, pandangannya beralih pada perban yang membalut pergelangan tangannya. Membekas satu kenangan, bahwa ia telah tega menghancurkan cermin wasiat ibundanya. Tapi, Asmirandah masih teringat dengan ancaman dari bayangannya bahwa, selama masih ada cermin di dunia. Asmirandah tetap dapat melihat diri Asmirandah yang lain, terkungkung di dalam cermin. Itu sebabnya ia seakan-akan dikejar oleh yang namanya waktu, untuk segera mendapatkan jawaban.             “Dengan cara apalagi aku mencarinya?” Asmirandah merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit yang tergantung tepat di tengahnya sebuah lampu. Ini masih bentuk kamar jaman dahulu, pikirnya. Karena sudah bukan jamannya lagi untuk saat seperti ini memakai lampu gantung. Asmirandah merenung, pikirannya terbang jauh ke sebuah tempat. Sebuah tempat yang sejenak ia lupakan, benar....ia seakan terbang ketika matanya terpejam, bersambut dengan angin yang mendampinginya. Terbang...terbang...terbang, ke sebuah tempat.             Di sana ia melihat sesosok lelaki tengah duduk di bawah pohon beringin tua, sambil merokok dan asyik bermain dengan gumpalan-gumpalan awan kecil putih yang beterbangan. Sosok lelaki itu, sekiranya ia pernah bertatap muka. Tapi terlupa di mana dan kapan.             Sosok itu, mengingatkan Asmirandah akan sebuah tempat dan kejadian. *                                         “Bagaimana agar ibu dan ayahku dapat keluar dari api neraka? Dan mereka terselamatkan dari siksa itu. Apakah aku tidak dapat membantunya, Kak? Tolong jelaskan padaku, apakah Tuhan sekejam itu?” ungkapnya secara pribadi di dalam sebuah musholla kecil ruang hall D. Mereka sengaja bertemu di tempat-tempat tertentu saat tidak ada mahasiswa-mahasiswa lain yang memakai mushola kecil tersebut. Dalam tangis, Asmirandah bertanya tanpa henti.             Wina terdiam tak mengerti, sebelumnya ia tak pernah sama sekali mendengar Asmirandah mengutarakan tentang masalah pribadinya. Ia menepuk pundak Asmirandah, lalu tersenyum tipis mengisyaratkan sesuatu.             “Kau tidak pernah bertanya padaku tentang sesuatu hal seperti ini sebelumnya, dan juga kau tak pernah bercerita. Ada rahasia apa yang membuatmu belakangan terlihat sedih? Atau mungkin tujuanmu berjilbab bukan berasal dari dirimu sendiri tetapi karena untuk orang lain, jujurlah. Katakan padaku, aku pasti merahasiakan semua ini.” Ungkapnya berhasil menebak jalan pikiran gadis itu.             Kepala Asmirandah tertunduk lesu, air matanya berderai-derai seperti sungai yang mengalir terus dan bermukim di muara kesedihan. Wina memeluk Asmirandah dan mengelus-elus punggungnya.             “Kakak, aku tidak tahu lagi harus bagaimana agar orangtuaku tenang di alam sana. Atas kesalahan mereka di masa lalu, yang tak akan pernah termaafkan. Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa, karena semakin lama dadaku makin terasa sesak. Aku harus cepat menemukan jawaban yang pasti, agar Tuhan mengampuni dosa-dosanya, sebelum aku ikut mati menyusul mereka, Kak.” Tangisanya sedu-sedan.             “Kesalahan apa yang dilakukan ayah dan ibumu? Sampai kau tak yakin bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang?”             Asmirandah mendongak, “Apakah Tuhan sepengasih itu, Kak? Lalu kenapa Tuhan membuat hidup mereka menderita?” tanyanya polos, ia menyeka air mata dengan kain jilbab karena tak membawa sapu tangan. Dan persiapan untuk menangis. Asmirandah tak pernah berencana untuk menangis, tak pernah. Dan mungkin pula, menangis tak mungkin direncanakan.             “Jika kakak tahu, pasti akan menyebutku sebagai anak haram.”             “Anak haram?”             “Ya, haram. Karena ayah dan ibuku tak pernah mendapatkan persetujuan menikah dari agama maupun dari badan hukum sendiri, juga..., masyarakat yang menilainya sebagai satu kesalahan besar.”             Wina mengernyit, “Kenapa bisa begitu? Apakah salah satu dari mereka berbeda agama?”             Asmirandah menggeleng, “Tidak, mereka sama-sama muslim.”             “Terus? Kenapa dari agama dan hukum tak dapat menyatukan mereka?”             Getar hati Asmirandah saat ia hendak mengatakan, bahwa mereka berdua masih terlibat hubungan muhrim, bibirnya gemetar, matanya terpejam. “Karena, mereka masih saudara sesusuan.” Lalu ia menunduk lesu. Tak ada yang sanggup ia katakan lagi selain diam dan menanti reaksi dan jawaban dari seseorang yang diharapkannya dapat memberikan jawaban itu.             Ia menanti reaksi Wina. Terdengar helaan napas kecewa, dan Asmirandah sebelumnya dapat menebak pasti siapapun akan menghela napas setelah mendengar penjelasannya.             “Kau percaya dengan Allah?”             “Percaya,”             “Percaya bahwa Allah adalah Maha Pengasih dan Penyayang?”             “Sedikit percaya.”             “Percayalah penuh padanya, karena kepercayaanmulah yang akan menuntun orangtuamu untuk keluar dari siksa api neraka. Hanya itu jalan satu-satunya dan takutlah padaNya.”             “Benar itu, Kak? Kau tidak berbohong?”                Wina tersenyum tipis, “Boleh kau tidak percaya dengan kata-kataku, tapi Allah tetap harus kau percayai sebagai Tuhan yang dapat membolak-balikkan hati tiap manusia dan membalik semua yang buruk menjadi baik, dan yang baik jadi buruk. Kau mau mendengar kisah sahabat tentang pertanyaanmu ini?”             Asmirandah terlihat sangat antusias, ia mengangguk,”Mau, Kak.”             “Rasulullah bersabda: “Barangsiapa membaca kalimah: la ilaha illallah dengan memanjangkan bacaan huruf la hingga tiga alif, maka akan diampuni empat ribu dosa besar yang telah dia lakukan.” Suatu ketika Hazim bin Walid jatuh sakit, lalu memanggil dokter. Setelah diperiksa, ternyata tidak didapatkan penyakit dalam jasadnya. Dokter memerintahkan kepada keluarga yang menunggui agar menanyakan kepada Hazim, penyakit apa yang selama ini diderita. Ketika menjawab: ”Badanku tidak berpenyakit. Penyakitku adalah perasaan takut kepada Allah, dan kepada hari hisab. Aku merasa takut keimananku hilang, hingga harus menjalani siksaan di dalam neraka. Betapa sangat bahagianya mereka yang keluar dari dunia dengan membawa iman, sehingga tempat tinggal abadinya adalah sorga. Aku sangat mendambakannya.” Asmirandah, percayalah dengan kalimat Allah itu, puji-pujilah namaNya agar ia mendengar kesungguhanmu dan keinginanmu agar Allah yang masih murka pada orangtuamu itu tersentuh hatiNya, sehingga ia mengeluarkan mereka dari ancaman siksa api neraka.”             “La ilaha illallah? La ilaha illallah..., La ilaha illallah?” Asmirandah mengucapkan kalimat itu sambil tersenyum tipis bersamaan dengan tangisnya yang makin menjadi-jadi, mungkin jika ia tetap terus menangis sambil membaca kalimat itu, air matanya yang begitu deras akan membanjiri mushola. *                      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD