BAB 11 Saat Semua Terdiam

2268 Words
Beberapa saat lamanya. Asmirandah tenggelam dalam perasaan pedih yang menyakitkan, yang belum ia rasakan sebelumnya.             Pergi kuliah, belajar, pulang kuliah, pulang ke rumah. Kehidupannya berubah jadi amat teratur. Dan setiap malam ia mengurung diri di kamar, sama sekali tidak ke luar rumah. Ia tidak menonton televisi, tidak membaca buku-buku agama, juga tidak keluar rumah. Sudah setengah bulan lamanya ia tidak mengunjungi base camp UKKI. Ia sering mendengarkan lagu dari piringan hitam-piringan hitam apa saja. Sekali memasang salah satu piringan itu, ia akan mendengarkannya sampai larut malam.             Kadang-kadang ia tidak mengerjakan apa pun, hanya bertingkah seperti orang bodoh, matanya menatapi lampu meja namun pikirannya entah melayang ke mana. Sejak kejadian itu, yang membuatnya malas untuk berhubungan dengan siapa pun lagi. Merenung, merenung dan merenung. Memikirkan tentang sebuah cinta dan perasaan yang tiba-tiba timbul dari dalam hatinya.             Asmirandah sedang jatuh cinta. Pada sosok bayangan mayanya, sementara ia sendiri berada dalam dilema. Karena ada seseorang pula yang nyata-nyata mengaku mencintai Asmirandah sejak ia masih mengikuti kegiatan Ospek di kampus beberapa waktu lalu. Krisna, salah satu anggota klub Himapala. Dua hari lalu baru saja mengutarakan perasaannya pada saat mereka duduk berdampingan di kelas yang sama. Dan gadis itu masih mendiamkannya saja, tidak tahu harus menjawab apa untuk pernyataan cintanya tersebut. Bahwa sebenarnya, ia menyukai sosok manusia bayangan, Elmo dari yang lainnya. Karena laki-laki itu membuat hatinya nyaman dengan segala pembahasan yang selalu dibicarakan ketika Asmirandah menelponnya.             Alangkah bingungnya Asmirandah. Berkali-kali ia menghela napas panjang, dan mengeluh kesah kenapa harus ada orang lain yang mencintainya tatkala ia menaruh rasa cintanya pada orang lain? Asmirandah mulai mengutarakan perasaannya ke dalam syair-syairnya. Pemilik Cinta, Tuhan. Bawalah daku ke dalam singgasanaMu, yang Agung. Degup jantung ini tak bisa berhenti, saat kupandang wajahMu. Berikan aku, satu kepastian, jawaban dan harapan. Pemilik Cinta, Tuhan. Tubuhku terbujur kaku, dingin. Aku merasa Kematian akan menjemputku.             Asmirandah menempelkan selembar kertas itu di sisi cermin, sepintas lalu ia melihat dirinya yang berada di dalam cermin tengah menangis. Air matanya mengucur deras, hampir-hampir seperti menangis darah. Gadis itu terperanjat hebat. Ia menyentuhkan jemarinya pada cermin.             “Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis seperti itu?”             Tuhan tak memaafkan kesalahan ayah dan ibu kita Asmirandah. Kenapa kau masih sempat memikirkan cinta?             “Cinta?”             Iya, Cinta. Belakangan kau disibukkan dengan permasalahan cintamu. Hatimu, gundah karena memikirkan laki-laki, apa kau tidak malu?!             Asmirandah terhenyak, “Tunggu-tunggu, maksudmu apa?”             Kau jangan berlagak bodoh, Asmirandah. Hapuskan rasa cinta dan pengharapan itu dari dalam jiwamu. Kau sudah berjanji untuk mencari tahu jawaban atas kematian ayah dan ibu kita, kenapa mereka mati dan tersalah, terlaknat, dan kau dicap sebagai anak haram! Lupakah kau dengan itu?             Asmirandah diam seribu bahasa, ia menarik cermin itu dari paku dan melemparnya ke lantai. “Aku tidak akan pernah berhubungan lagi denganmu, kau iblis!”             Selama ada cermin di mana-mana, kau tak akan pernah bisa menghindar dari bayanganmu sendiri. Hahhahaha.....             Tiba-tiba Asmirandah menjerit histeris, ia berusaha mencari sesuatu untuk memecahkan cermin tersebut. “Pergi kau dari kehidupanku, pergi!” serpihan-serpihan cermin itu mengenai tangan Asmirandah dan kulitnya robek, darah merah segar bercucuran di mana-mana. Asmirandah merintih kesakitan, ia memanggil ibunya sambil berlari keluar dengan tergopoh-gopoh. “Ibu...ibu....!”             Wanita tua itu tengah sibuk memasak di dapur, mendengar panggilan Asmirandah yang berbeda dari biasanya membuat wanita itu terkejut dan lekas-lekas mematikan kompor yang masih menyala. Dan berlari menjemput Asmirandah.             BRAK! Tubuh mereka saling berbenturan hingga keduanya terjatuh.             “Ibu...!”             “Asmirandah ada apa?!”             Gadis itu membantu ibunya berdiri, dengan kondisi tangan yang berdarah-darah. Wanita tua itu menjerit saat melihat darah berceceran di lantai dan sempat beberapa tetes mengenai pakaiannya.             “Cermin itu, Bu. Cermin di kamar.”             “Kenapa dengan cermin? Tanganmu terluka, kau kenapa?”             Asmirandah menangis sesenggukan dalam pelukan ibundanya, “Ibu, cermin itu tidak memperbolehkan Asmirandah jatuh cinta. Cermin itu ingin agar Asmirandah tetap sendiri dan bersamanya. Cermin itu, Bu..., huhuhu...” gadis itu pun jatuh tak sadarkan diri, tubuhnya melemas sejak darah itu keluar dengan derasnya dari robekan kulit akibat serpihan cermin yang besar yang melukai tangannya.             “Asmirandah...!” *             Dalam keadaan setengah sadar Asmirandah dibopong ke mobil. Gandu mengambil alih kemudi, ayah Gandu duduk di sampingnya, sementara Asmirandah dipangku oleh ibu asuhnya yang tengah menangis ketakutan. Darah segar itu masih mengucur deras dari pergelangan tangan yang sudah terbalut kain untuk menghentikan laju darah. Entah kenapa Asmirandah berpikiran untuk memecahkan cermin yang sudah menjadi temannya sejak ia masih berumur empat tahun.             “Asmirandah sayang, jangan mati. Kuatkanlah dirimu. Kuatkanlah...., ibu ada di sini selalu.” Kuffina mengecup kening Asmirandah berkali-kali. Memeluknya erat dan merapikan rambutnya yang berantakan.             “Tenang, Bu. Asmirandah akan baik-baik saja. Dia orang yang kuat.” Hibur Gandu untuk menenangkan ibunya yang sedang panik. Mobil BMW hitam itu melaju dengan kencang, menuju ke ruang gawat darurat. Asmirandah tampak seperti sedang tertidur pulas. Hingga ia kelihatan seperti, mati. *             Sosok dua sejoli yang tengah dirundung asmara itu tak peduli akan akibat yang akan terjadi jika mereka benar-benar memutuskan untuk bersama. Semua karena cinta yang membutakan akal sehat dan hukum agama.             Di sebuah hotel tempat mereka menginap, malam hari itu. Ketika keduanya kebasahan karena terguyur air hujan, kedua sejoli itu memutuskan untuk menginap di hotel berdua selama satu malam.             “Mas Husain, kalau ditanya ibu kita berada di mana, kira-kira apa yang akan kau jawab? Kalau mereka tahu kita berada di hotel ini. Mungkin orangtua kita akan langsung membunuh kita.” Rabiah bersandar di sisi pintu kamar hotel yang tertutup. Lelaki bertubuh tegap nan gagah itu mendekati Rabiah dan merayunya dengan bisikan cinta.             ‘Rabiah, aku tak peduli. Yang penting kita bisa saling bersama sehidup semati. Walaupun banyak sekali yang menentang cinta kita.” Sahut Husain memeluk tubuh Rabiah dan mengelus-elus punggungnya. Gadis polos bermata lentik nan cantik itu terbuai dengan rayuan kekasihnya.             “Aku tak mengerti kenapa kita dilahirkan sebagai saudara sesusuan, harusnya aku tak perlu meminum air s**u ibumu, Mas Husain. Andai saja saat itu ibuku tidak sakit.”             Husain menutup bibir Rabiah dengan tangannya, “Jangan bicara seperti itu, Sayang. Jika kau tak pernah meminum ASI ibuku, kita tak akan pernah bisa sedekat ini. Kau tahu?”             Gadis itu menunduk diam, “Aku ingin mabuk malam ini, kau mau?”             “Pasti mau. Kebetulan aku sudah membawa dua botol bir di dalam tas.” Husain mengambil tas ranselnya dan mengeluarkan dua botol anggur.             Rona wajah gadis itu sedikit memerah rona, “Mabuk itu sangat tidak enak, bukan begitu?” katanya lembut.             “Minumlah seteguk saja,” pinta Husain menyodorkan segelas bir kecil padanya.             “Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya mabuk itu, tapi malam ini aku ingin tidur bersamamu.” Rabiah langsung meneguk segelas bir itu dan menambah lagi untuk tegukan kedua kali, tiga kali, hingga tegukan kesepuluh. Yang membuat tubuhnya jatuh di pelukan Husain.             Gadis itu telah mabuk.             Mabuk dan mabuk. Tersungging senyum tipis dari bibir Rabiah yang halus dan menyentuh. Ditatapnya senyuman itu, tanpa sadar ia menunduk, seolah membawa perasaan yang tulus dan suci. Ia pun menempelkan bibirnya dengan ringan ke atas senyuman itu. Husain membungkam bibir Rabiah dengan bibirnya dipeluknya pinggang gadis itu, lalu membawa dan membaringkannya ke sofa. Dirinya sendiri berlutut di depan sofa, menciumnya dalam-dalam, sepenuh perasaan dan gairah. Rabiah menumpahkan seluruh perasaan cinta, penyesalan, kepedihan, dan janji... seluruhnya ke dalam ciumannya.             Rabiah yang mabuk. Berbaring, rambutnya tergerai di bantal sofa. Dan malam-malam yang menghembuskan kehangatan tubuh keduanya. Melawan arus kehidupan, menyalahi norma, semua karena cinta buta. Cinta terlarang. *                 “Kalian tidak diperbolehkan untuk menikah! Haram hukumnya! Mengerti?!” bantah seorang ustadz yang sengaja dipanggil oleh orangtua mereka masing-masing, suasana tegang di rumah keluarga Sulaiman, ayahanda Rabiah. Husain bersitegang untuk melawan pernyataan yang ia pikir tak berdasar tersebut.             “Hukum darimana? Kami saling cinta, apa yang salah?”             “Kalian ini sesama saudara! Sesama saudara dilarang untuk menikah!” seru Sulaiman membantahnya. Urat-urat leher lelaki tua itu sampai terlihat karena saking tegangnya suasana yang sedang terjadi. Berkali-kali hubungan cinta itu ditentang, kedua sejoli itu malah semakin menjadi-jadi.             Sang ustadz kembali menyahut, “Kalian masih ada hubungan mahram, jika kalian tetap melakukan hubungan terlarang ini, kalian sudah menentang hukum Allah. Dosa besar ini tak pernah akan terampuni, sampai kapan pun!”             Husain membenturkan kepalanya ke dinding, ia frustasi, bahkan lebih dari itu. “Tuhan menciptakan rasa cinta ini pada manusia, perasaan cinta itu sendiri dari Tuhan! Dan aku sangat membenci itu! Siapapun kalian yang sok tahu tentang agama, kalian tidak berhak memisahkan kami, selain Tuhan!” ancamnya menggandeng tangan Rabiah, ia berniat untuk membawa kabur gadis itu dari mereka.             Namun Rabiah menahannya, gadis itu bersujud di kaki ayahandanya dan berharap agar hubungannya direstui olehnya. Akan tetapi lelaki tua itu, Sulaiman menyingkirkan kaki dari kepala Rabiah yang tengah bersujud.             “Aku tidak akan menjerumuskan puteriku ke dalam neraka j*****m, selama kau belum menikah. Kau adalah tanggung jawab ayah. Dan jika kau tak menuruti ayah, tapi menuruti keinginan dan hasrat pribadimu dengan laki-laki yang seharusnya pantas jadi saudaramu, tapi dia memang saudaramu, Rabiah. Jika kau tetap memilih dia, maka Tuhan akan meminta pertanggungjawaban itu pada ayah nanti. Siapa yang jelas-jelas kau sayang, Rabiah. Ayahmu yang ingin menyelamatkanmu dari api neraka, atau Husain yang menjerumuskanmu dalam jurang neraka. Semua ini ada padamu, pilihan ada padamu. Kau bisa menolaknya, dan hubungan terlarang ini akan berakhir.” putusnya untuk terakhir kali. Gadis itu menoleh kebelakang menatap diri Husain yang diam terpaku memandangnya. Kemudian ia berdiri dan berjalan menghampiri lelaki tersebut.             Diam. Suasana semakin bertambah tegang. Bulir-bulir air mata pun membasahi pipinya. Bibirnya bergetar, bibir merah ranum yang sering dikecup oleh Husain. Menangis.             “Pergilah, Mas Husain.” ucapnya dengan nada gemetar, tangannya berusaha untuk meraih tangan Husain. Tapi keinginan itu tertahan saat ia melihat amarah ayahnya yang menjadi-jadi.             Husain tak habis pikir mendengar keputusan Rabiah yang tidak berpihak kepadanya, seluruh pengorbanannya hancur seketika hanya dengan dua kalimat, ‘Pergilah, Mas Husain’. Husain memalingkan wajahnya dari tatapan sendu Rabiah, lalu ia kembali menatap ayah Rabiah, Sulaiman lurus-lurus. Mereka saling berpandangan lama sekali. Tanpa berkata sepatah katapun lagi, Husain mengunci mulut erat-erat, mengatupkan rahang, dan melangkah lebar ke luar pintu. Punggungnya tegak lurus, matanya menatap lurus ke muka, lehernya tampak kaku, seluruh tubuhnya mempertahankan wibawa yang tersisa. Ia membuka pintu depan dan berjalan ke luar tanpa menolehkan kepala lagi.             Rabiah yang setelah itu memeluk ibunya terkejut dan melepaskan diri. Matanya menatap tubuh Husain yang menghilang dan pintu yang menutup. Akhirnya ia mengeluarkan seruan yang memilukan, “Husain!” Ia melesat ke pintu, sementara ibunya memeluk pinggangnya untuk menghalangi. Rabiah mencoba untuk memberontak, namun pelukan ibunya semakin erat. Air matanya mengalir bagai air hujan. Pintu sudah tertutup sejak tadi, bayangan tubuh Husain sudah lama menghilang. Akhirnya Rabiah melepaskan diri dari ibunya, menangis sambil berlutut di depan kaki Sulaiman.             “Ayah!” katanya sambil menangis. “Ayah sangat keji, sangat kejam, sangat kejam, sangat kejam...”             Sulaiman terpana. Ibunya juga terpana. Seluruh anggota keluarga dan seorang ustadz pun terpana.   Jangan tanya rembulan yang bersinar pun bagai enggan, mungkin dia pun merasakan, lukaku semakin dalam.             Diri bagai nelayan,             terhempas ombak lautan,             yang tak mungkin yang kuharapkan,             engkau kembali pulang.... *                 Sejak kepergian Husain, Rabiah mengurung diri di dalam kamar, berbaring di ranjang dengan berurai air mata. Selama beberapa hari, bahkan berminggu-minggu. Tubuhnya berubah menjadi kurus kering, gadis itu jarang sekali mau menyantap hidangan yang telah disediakan untuknya. Ia tak mau, katanya. Sampai pada saat Rabiah mendengar pernyataan mengejutkan yang datang dari ayahandanya.             “Bersiap-siaplah, kau akan dipertemukan dengan seorang calon suamimu.” ujarnya membuat Rabiah terkesiap.             “Ah, apa? Calon suami? Mas Husain? Ayah akhirnya setuju dengan hubungan ini?” tanya gadis itu penasaran di balik rasa senangnya. Tapi ternyata, tak seperti dugaannya bahwa sebenarnya, bukanlah Husain yang akan dinikahkan dengannya. Dan calon suami itu, memang bukanlah Husain.             “Neraka itu jauh lebih menakutkan, jika kau ingin melihat tubuh ayahmu nanti terbakar oleh api yang sangat panas itu. Pergilah dari rumah ini, dan kau tak akan pernah ayah anggap sebagai seorang anak.” jawabnya menegaskan. Rabiah lemas seketika. Pilihan itu terasa sulit baginya, di lain pihak ia memikirkan pujaan hatinya, Husain. Yang sampai saat ini Rabiah tak pernah mendengar kabarnya. Bagaimana perasaannya jika ia akhirnya tahu orang lain akan menikahinya. Dan bukan dengan Husain sendiri. *             Semalaman Husain tak dapat tidur.             Ia terus-menerus bermimpi buruk. Mimpinya aneh-aneh. Sebentar ia bermimpi dikejar harimau yang masuk ke dalam rumah. Tapi, begitu ia menolehkan kepalanya ke samping, harimau itu tiba-tiba lenyap. Saking ketakutannya Husain, ia mengigau. Memanggil-manggil nama Rabiah dengan kesetanan. Dan ketika ia kembali terjaga, seluruh tubuhnya bermandikan keringat. Ia memutuskan untuk kembali tidur, lalu bermimpi lagi. Kali ini di mimpinya ada seorang penghulu yang memimpin akad nikahnya di masjid. Gaun pengantin putih Rabiah yang dihiasi rangkaian bunga mawar merah itu membalut tubuhnya dengan elok bagai puisi. Tiba-tiba sang penghulu bertanya pada Husain, “Apa ada orang yang menentang perkawinan ini?” Husain memusatkan pandangan ke empat penjuru dengan cemas, begitu menoleh ternyata masjid itu sudah kosong melompong, hanya tinggal dirinya berdiri seorang diri di dalam masjid. Bahkan Husain pun tak tak nampak wajah Rabiah lagi. Husain berteriak histeris dan terjaga dari mimpi, tubuhnya basah lagi oleh keringat.             Husain terbangun dan melompat dari tempat tidur. Apakah hal buruk tengah terjadi pada kekasihnya? Rabiah...Rabiah? tanyanya dalam hati resah, bahkan teramat sangat resah. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar.             TOK...TOK...TOK             Husain bergegas membuka pintu dan terlihat seorang lelaki berdiri tegap di hadapannya, yang tak lain adalah ayahnya. Ia menyodorkan sebuah undangan dengan senyum sinis.             “Undangan, sabtu depan kau harus datang.”             “Siapa yang menikah, Yah?” Belum sempat Husain membaca nama calon pengantin di dalam undangan tersebut, ayahnya sudah membuatnya terkejut terlebih dahulu. Ia seperti baru saja tersambar halilintar yang begitu dahsyatnya. Ketika ia berkata,             “Rabiah.” *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD