BAB 10 Antara Pelangi dan Asmirandah

2781 Words
“Kau anak haram dari Om Husain dan Tante Rabiah ya?” celetuk salah seorang gadis keturunan etnis itu padanya tiba-tiba, saat ia baru saja melangkah keluar dari kamarnya dengan didampingi oleh ibu asuhnya.             Asmirandah terperanjat hebat, baru saja ia memberikan ultimatum pada wanita tua itu bahwa jika ada seorang yang berkomentar tentang status peranakannya, maka ia akan pergi jauh dari rumah dan tak pernah mau kembali lagi.             Kaki Asmirandah gemetar, detak jantungnya pun berdegup semakin kencang. Ia tak tahu harus menjawab apa untuk kali ini, ia tak sanggup menjawabnya. Hanya beribu rasa kecewa terpancar dari bola matanya yang perlahan-lahan air yang menggenang itu tertumpah ruah.             “Me...memangnya kenapa? Dengan status anak haram?”             Gadis etnis itu pun berlagak sok cantik dan menghinanya, “Anak tampungan, sampah masyarakat, dilaknat Tuhan. Harusnya kau lebih baik mati menyusul ibumu! Gara-gara ibumu, aku kehilangan om yang kusayangi. Gara-gara kau kami kehilangan anggota keluarga besar. Ibumu memang w***********g, tukang penggoda laki-laki, bahkan sampai menggoda saudara sesusuannya sendiri. Tidak punya malu!” makinya kemudian ia meludah di kaki Asmirandah.             “Ah..., kau!” Asmirandah mundur kebelakang untuk menghindari injakan ludah itu. Tak habis pikir bahwa saudara sepupunya begitu kejam padanya dan memandangnya dengan pandangan sinis. “Kau gila!” Asmirandah berbalik dan berlari menuju kamarnya. Suasana acara pesta mendadak berubah menjadi hening, semua tatapan mata terfokus pada gadis etnis itu.             Dan tamparan pun mendarat di pipi gadis etnis itu dengan keras, “Feifei...! Hentikan ocehanmu! Dia saudara sepupumu sendiri, bersikaplah baik!” serunya kemudian ia menyusul gadis itu ke dalam kamarnya. Gadis etnis itu diam tertegun, sambil mengelus-elus pipinya.             “Sakit sekali, Tante Kuff lebih berpihak pada anak haram itu.” gerutunya kesal, ia pun berlari keluar dari ruang tamu dan masuk ke dalam mobil sedan putihnya. Mobil sedan itu pun melaju kencang, melawan hembusan angin malam yang kala itu berhembus sangat kencang. Dan perkiraan cuaca malam itu akan terjadi hujan badai. Dan berbahaya sekali bagi para pengendara untuk berada di luar rumah.             Di mana keberadaan Asmirandah? Apa yang dilakukannya saat ini? *             Asmirandah sengaja mengunci pintu kamarnya dari dalam. Sepertinya ia tak mengijinkan siapapun termasuk ibu asuhnya sendiri untuk menemuinya.             “Asmirandah!” panggil wanita tua itu sambil menggedor-gedor pintu berkali-kali. Namun tetap tak ada sahutan dari dalam. Yang terdengar hanyalah suara isakan tangis yang mendayu-dayu, sedu sedan. “Asmirandah, buka pintunya. Kau tidak perlu mendengarkan ocehan Feifei, dia memang suka begitu. Tak usah diambil hati, Sayang. “             “Kata-kata yang tidak semestinya diucapkan! Aku benci! Benci semua!” sahut Asmirandah.             “Dia itu bodoh! Buka pintunya.”             Wajah Asmirandah semakin pucat, sorot matanya yang dalam dan kelam semakin muram. Ia kembali menatap cermin di sampingnya. “Anak haram! Kau yang di dalam cermin anak haram!” teriaknya sendiri, ia melempari cermin yang sudah retak itu dengan barang-barang miliknya. Asmirandah merasa bagai dipukul berkali-kali dengan sebatang tongkat. Selama hidup ia tidak pernah merasa dipermalukan dengan jelas-jelas di depan keluarga ayahnya seperti itu. Begitu malu, dan begitu rendah. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Hatinya bagai diremas-remas hingga seluruh tubuhnya terasa sakit.             Masih saja terdengar seruan suara ibunya yang memintanya untuk membukakan pintu.             “Biarkan aku sendiri, Bu. Biarkan..., sudah kukira akan terjadi hal seperti ini. Biarkan aku sendiri!!!” serunya tegas. Semenit itu pula tak ada suara-suara lagi selain keheningan. Satu per satu mereka memutuskan untuk pulang ke rumah dan meninggalkan acara pesta. Suasana yang berubah menjadi kacau.             Gadis itu terus menangis, sampai ia tak sengaja menekan nomor telepon sang lelaki misterius itu.             “Hallo, El?” sapanya di tengah isakan-isakan tangis.             “Pelangi? Kenapa dengan suaramu?”             “Aku pengen nangis...” Begitu lara suasana sedih nan bertabur kesunyian, begitu pedih akan satu hal kisah yang mencoreng hidupnya. Pada sebuah masa, kisah cerita yang tak pernah usai dan terhapus oleh waktu. Aku bertanya, kapankah semua akan usai?     Kering Harapan Ia berpikir, mungkin... Tuhan sedang menguji, mungkin juga Tuhan sedang membencinya, Ia terus berpikir, mungkin... Tuhan mengasihi, mungkin saja, saat ia sedang terputus asa. Harus bagaimana lagi? Jika u*****n menjadi penolong, untuk batinnya. *                       Malam hari itu, hujan sangat deras. Anginnya begitu kencang sampai membentur kaca mobil depan gadis itu, Feifei. Ia melaju dengan cepat, malam itu tepat pukul sepuluh malam. Jalanan sudah mulai agak sepi dan tak ramai oleh banyaknya pengendara sepeda motor yang menyesakkan pemandangan setiap pagi dan sore menjelang. Feifei tak habis-habisnya mengutuk hujan itu berkali-kali, apalagi jika ada suara halilintar yang makin membuatnya ketakutan.             “b******k, sialan! Semua gara-gara anak haram itu!” umpatnya terus tanpa henti. Feifei membunyikan radio dengan volume yang keras. Tanpa melihat bahwa mobilnya tengah melaju dekat rel kereta api yang tak jauh beberapa meter darinya. Gadis bermata sipit itu terlupa, bahwa rel di daerah tersebut tak dipasangi oleh palang pintu. Jadi, jika ada kereta api yang akan melintas tak ada penghalang untuk menghentikan laju mobilnya. Sambil mengunyah permen karet, ia terus melaju dengan kencang. Tak memperhatikan bahwa ada seorang petugas penjaga rel sedang memberikan aba-aba agar ia menghentikan mobilnya. Feifei bersikap acuh, pikirannya terpaku pada seseorang yang dibencinya. Adalah gadis itu, Asmirandah. Pikirnya, kenapa gadis itu bisa hidup di dunia? Dan kenapa Tuhan menanamkan bibit-bibit haram di rahim perempuan yang haram untuk dinikahi. Harusnya ia mati! Umpatnya kembali dalam hati. Ponsel Feifei berbunyi, semakin ia tak berkonsentrasi mengendarai mobilnya.             Ia mengangkat ponselnya, “Hallo? Tante Kuff?”             “Feifei, kau di mana?”             Feifei mulai melirik ke kanan dan mencari tahu ia berada di daerah mana malam itu, rupanya penunjuk jalannya terhalang oleh dedaunan yang terkena hembusan angin dan menutup tulisan itu.             “Aku..., di mana ya? Hah...? Kereta...?” Feifei menjatuhkan ponselnya dan diam terpaku tanpa dapat melakukan apa-apa. Tiba-tiba di depannya sekilas ia melihat dua sosok lelaki dan perempuan memakai pakaian putih tengah melambai-lambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Feifei tahu mereka siapa? “Om Husain? Tante Rabiah...?”             JEES...JEES...JEES...,GLUDUK...GLUDUK....BRAK!!!             Mobil sedan itu pun terpental jauh beberapa meter terseret oleh arus kencang dari laju kereta api dan meremukkan tubuh gadis yang malang.Sementara ponsel itu terpental ke jalan dan masih tersambung dengan Kuffina yang mulai cemas.             “Feifei..,? Kau di mana? Fei...Fei!!!”             Cermin di dalam kamar Asmirandah, retak. * Suasana duka,             Jenazah Feifei baru saja selesai dikremasi, pihak keluarga telah mengambilnya abunya untuk ditebarkan bersama angin. Semua tampak berduka atas kematian Feifei, si gadis etnis yang tiba-tiba mati menggenaskan karena tertabrak kereta api malam itu. Dan rasa penyesalan yang terdalam pun hinggap pada wanita tua itu, yang baru saja merayakan hari ulang tahunnya.             Suasana pesta yang berubah menjadi duka cita. Semua hadir dan saling berpandangan satu sama lain di dalam ruangan. Di depan abu Feifei. Dua orang biksu mendoakan Feifei dengan membaca kalimat-kalimat yang tak dimengerti agama lain selain agama Budha itu sendiri.             “Semoga arwah Feifei, tenang di alam sana bersama para Budhha.” lontar seorang biksu sambil menabur-naburkan kertas mantera. Kuffina semenjak tadi tertunduk sedih nan lesu, ia terus-menerus menangis dan menyalahkan dirinya yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi.             “Semua ini salahku, Feifei mati karena aku. Huhuhu....” tangisnya sedu sedan. Asmirandah hanya bersandar di dinding, diam terpaku tak berkata sepatah katapun. Apalagi saat ibunya dengan tergopoh-gopoh berlari menemui Asmirandah untuk mengatakan kabar buruk itu. Bahwa Feifei telah mati.             Tertabrak kereta api.             Gadis itu hanya membatin di dalam hatinya,”Hanya Tuhan yang pantas lebih sombong darimu, Fei. Bukan aku yang menghukummu, tapi Tuhan. Sudah kubilang jangan pernah menghinaku, jika tidak ingin Tuhan marah padamu. Tapi kau melakukannya. Andai saja kau mengerti akan apa yang sedang kucari, Fei. Kau tak akan pernah dengan seenak hati mengatakan, aku anak haram. Bahwa aku tengah mencari tahu bagaimana cara agar ayah dan ibuku tak tersiksa di alam barzah. Harusnya kau tahu itu, Fei.”             Saudara angkat Asmirandah, anak dari Kuffina mencoba untuk mendekati gadis itu dan memeluknya. Akan tetapi Asmirandah menolak tegas.             “Kalau kau tidak ingin mati seperti Feifei, jangan dekati aku.” ungkapnya mendorong tubuh lelaki itu.             “Asmirandah, maafkan aku. Kalau selama ini aku tak mempedulikanmu.”             “Kumohon, Gandu. Go away! Aku tidak mau berbicara dengan siapapun, untuk saat ini.” teriaknya. Suara Asmirandah yang keras sampai terdengar oleh semua orang yang berada di dalam. Gadis itu pun lekas-lekas berlari keluar menjauh dari rumah duka yang nampaknya semakin membuatnya frustasi.             “Asmirandah...!” Gandu berusaha untuk mengejar gadis itu, ia menarik lengan Asmirandah agar berhenti berlari.             “Le...paskan aku, kita bukan muhrim!”             Gandu melepaskan tekanan tangannya dari lengan Asmirandah, “Apa kau bilang?”             “Lepaskan, kita bukan muhrim!” tegas Asmirandah.             “Sejak kau berjilbab, sikapmu bertambah aneh.”             “Kau yang aneh, sudah tahu aku bukan saudara kandungmu, masih saja suka menyentuhku. Aku benci kamu! Sangat-sangat benci sekali, aku tidak ingin melaknat siapapun. Karena aku anak haram...haram, kau lihat Feifei mati, kan? Dia mati. Karena apa? Kau juga pasti tahu, kan? Jadi menghindarlah dariku!” Asmirandah mendorong Gandu sampai ia terjatuh. “Hentikan sikapmu yang selalu menjahatiku. Karena kau tahu apa yang akan terjadi nanti? Ayah ibuku tak pernah akan terima, anak satu-satunya dianiaya. Berhati-hatilah denganku, Gandu. Karena aku sudah membencimu.” Asmirandah secepat kilat berlari dan memanggil taksi yang melintas, kemudian ia pergi menjauh dari semua masalah yang membuatnya rumit.             Tidak tahu kali ini ia berada di mana. Untuk menghindari semua yang terjadi, dan berhubungan dengan dirinya. Haram... Haram... Haram.... *                 Jembatan Suramadu, Surabaya             Taksi Metro itu berhenti tepat di pinggir jembatan Suramadu, saat Asmirandah memintanya untuk diturunkan di tempat itu. Ia pun meminta agar sopir bersedia menunggunya selama beberapa saat, setelah ia menghirup udara segar.             “Non, kenapa sendirian?” tanya pak sopir penasaran melihat gadis berjilbab berdiri sendirian di pinggir jembatan. Pikirnya, mungkinkah gadis itu berniat untuk bunuh diri dengan menceburkan dirinya ke laut?             Asmirandah tersenyum tipis, “Kadang, tiap manusia butuh udara segar seperti ini, dengan melihat laut, Pak. Menenangkan diri dari hiruk pikuk manusia yang saling menyalahkan satu sama lain dan mencerca, membuatku muak.”             “Ah, coba lihat kehidupan yang lebih di bawah, Non.”             “Melihat kehidupan di bawah?”             “Benar, banyak orang yang nasibnya jauh lebih menderita dan kesusahan untuk mencari sesuap nasi untuk istri dan anak-anaknya. Tiap hari mereka selalu berpikir bagaimana cara mencari uang? Agar dapat tetap hidup dan memperjuangkan nasib. Sebagian orang yang bercukupan dan tidak perlu bersusah payah mencari mata pencaharian, terkadang sering mengeluh. Mereka tak pernah melihat ke bawah, orang-orang miskin seperti kami ini. Dari pagi sampai malam mencari uang, kadang dapat kadang pula tidak. Seharusnya, tiap manusia perlu bersyukur dan tidak menangisi diri sendiri. Apalagi kau masih sangat muda, untuk apa bersedih? Lihatah dunia itu dengan mata jernih dan kepala dingin. Lakukan amalan pagi hari hingga sore. Dan yang kau harus tahu adalah bahwa sesungguhnya seseorang dalam agamanya dapat digolongkan menjadi tiga tingkatan. Dan semoga kita berada dalam golongan yang pertama.” Sopir tua itu tampaknya serius menanggapi pertanyaan Asmirandah. Karena kisah masa lalunya yang kelam, mengajarkannya untuk berpikir lebih jauh ke depan.             “Hmm, memangnya golongan pertama itu apa?”             “Golongan yang selamat.”             “Itu saja?”             “Golongan ini hanya mengerjakan yang fardlu saja. Tanpa mau melakukan yang sunnah tapi meninggalkan kemaksiatan. Dan golongan yang merugi adalah, yaitu golongan orang-orang yang tidak pernah melaksanakan kewajibannya dalam beribadah. Selain itu, ia senantiasa meremehkan aturan agama.” Jelasnya, kemudian ia kembali masuk ke dalam taksi. “Non, jangan suka melamun, tidak baik. Lebih baik renungkan tentang Tuhan, itu jauh lebih afdhal.” Sambungnya.             Asmirandah menoleh ke belakang dan berkata pada sopir tersebut, “Bagaimana jika aku ditakdirkan sebagai anak haram?”             Sopir itu pun terdiam, ia tak mampu menjawab. Asmirandah selalu bertanya-tanya, kenapa tak ada yang bisa menjawab pertanyaannya? Tidak bisa ataukah tidak ingin menjawab?             Ataukah memang ayah dan ibunya kelak benar-benar berada di dalam jurang neraka? Dan ia sebagai anak tak pernah dapat menolong mereka dari hukuman Tuhan. Kenapa tak ada seorang pun yang sanggup menjawab pertanyaannya, itulah yang setiap detik ia pikirkan. Sampai detik itu. Asmirandah memutuskan untuk kembali masuk ke dalam taksi.             “Pak, kita ke pemakaman XX.”             “Untuk apa?”             “Haruskah aku jelaskan padamu?”             “Oh, baik, Non. Memang seharusnya ada peraturan sopir tidak boleh berbicara dengan penumpang.”             “Itu benar, tapi terima kasih atas pengajarannya tadi. Aku akan selalu mengingatnya.”             Dan alunan musik keroncong pun menghiasi perjalanan siang itu. Gending jawa, nyanyian sinden. Sekiranya dapat menenangkan hati dan jiwa sepi gadis itu untuk beberapa saat. Asmirandah menorehkan syair di atas kertas catatan kecilnya, tentang kehidupan. Kehidupan Asing Aku bagai hidup dalam sebuah pulau kecil yang terasing, pulau yang tiada berpenghuni, dan ku terdampar di atasnya. Lepas dari tumpangan kapal yang telah karam.             Mengapa semua menjadi begini?             Tiadakah secercah harapan kecil,seperti nyala api lilin?             Usah, hidup yang penuh keasingan *             Gadis itu berdiri di depan dua buah makam yang saling berjajar. Makam suami istri yang meninggalnya bersamaan, dan dimakamkan pada hari yang sama pula. Dan ketika para pelayat berbalik dan meninggalkan mereka, pastinya semua berkata dalam hati. Bahwa kehidupan ayah dan ibunya dipenuhi dengan dosa.             “Ibu, ayah..., maafkan aku, baru berziarah sekarang,” Asmirandah duduk bersimpuh di depan kedua makam tersebut. Kemudian berdoa,  “Aku mohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Hidup lagi Berdiri Sendiri. Aku memohon ampunan serta bertaubat kepadaNya. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa ayah dan ibuku atas kekhilafan mereka dulu. Bersihkanlah dari segala macam dosa yang karena terlupa olehMu. Aku memohon kepadaMu agar engkau memberiku surga dan segala sesuatu yang bisa mendekatkan diriku pada surga. Baik itu dari perkataan, perbuatan, niat maupun i’tikad.” Air matanya pun tertumpah ruah, namun secepat kilat ia menghapus dengan kain jilbabnya. Air mata itu tak boleh sampai jatuh ke tanah di mana tempat dikuburkan jenazah ayah dan ibunya, karena nantinya mereka berdua akan dapat merasa sedih atas tangisan itu. Di mana kematiannya ditangisi, dan itu tidak boleh dalam hukum agama yang baru saja dipelajarinya.             Perlahan-lahan gadis itu beranjak dari tempat ia berpijak. Berdiri sejenak, menatap kedua nisan yang mana namanya sudah sedikit memudar. Husain bin Fuadi. Dan disampingnya, Rabiah binti Sulaiman.             Asmirandah mengucapkan selamat berpisah dan keluar dari area pemakaman. Sendiri, semenjak kecil. Tak pernah mengetahui bagaimana kasih sayang orangtua yang sebenarnya. Selain dirinya yang hanya disayangi oleh ibu asuhnya.             Pada gerbang kematian, aku menyapa. Kabut senja menanti pagi, agar tetes embun itu jatuh menghidupi kehidupan baru. * Teka-teki cinta, sang lelaki misterius             “Kak, bisa ajari aku membaca Al-Qur’an.”             “Al-Qur’an?”             “Iya, sejak aku baru masuk di bangku kuliah. Aku sama sekali melupakan kegiatanku itu, biasanya ibuku memanggil guru ngaji ke rumah. Tapi sekarang, aku terlalu disibukkan dengan tugas-tugas kampus. Kali ini, karena aku sudah memutuskan untuk masuk ke dalam anggota kerohanian Islam, aku ingin tahu lebih dalam tentang dunia Islam. Aku juga, tak begitu fasih membacanya. Kapan kakak kira-kira bisa ada waktu untuk mengajariku agama yang sebenarnya?” pinta gadis itu dengan penuh harap-harap cemas.             Wina mencari-cari jadwal kegiatannya, “Sebentar, aku lihat KRS dulu. Ehm..., sepertinya ada, kita juga satu kelas di mata kuliah manajemen operasional, kan?”             “Ah, iya. Benar..., kalau gitu sore ini, bukan?”             “Iya, insyaallah tidak terbentur jadwal yang lain. Aku salut denganmu, jarang ada teman-teman yang niat seperti ini. Aku akan dengan senang hati meluangkan waktu untuk mengajarimu membaca Al-Qur’an.”             “Tapi, Kak.”             “Apalagi?”             “Aku juga ingin tahu sejarah Islam.”             Wina mengernyitkan alis, ia berpikir keingintahuan gadis itu rupanya semakin dalam. Bahkan pada hal-hal yang sekiranya tidak mungkin bisa dijangkaunya sekalipun. Karena mempelajari sejarah jauh lebih lama dibandingkan dengan membaca Al-Qur’an itu sendiri.             “Nanti saja, pelan-pelan jauh lebih baik.” Secara tak sengaja pula Wina menjatuhkan sebuah buku dari dalam tasnya. Tepat di depan Asmirandah. Gadis itu tertegun sesaat sebelum ia sempat bertanya, Wina langsung mengambilnya kembali dan lekas-lekas dimasukkan lagi ke dalam tasnya.             “Kenapa Kak Wina selalu membawa buku 25 cara menghadapi zaman edan itu? Bukannya kemarin Kak Wina bilang kalau buku itu sesat?”             “Kau diam saja, masih banyak yang harus kau pelajari, Asmirandah.”             Gadis itu pun termangu-mangu bodoh, ia tak tahu bahwa sebenarnya Wina, yang dianggapnya sebagai seorang guru pembimbing rohani menyimpan sejuta rahasia yang tak pernah ia tahu sendiri. Bahwa ada satu prinsip yang membuat gadis berjilbab panjang sampai seperut itu merahasiakannya. Ada sesuatu, yang mungkin lambat laun diketahui olehnya.             Asmirandah naik ke hall C. Dan menuju base camp UKKI untuk menyerahkan artikel-artikel yang telah selesai ditulisnya tentang hikayat sufi. Dan Asmirandah menyalin cerita dari apa yang dikisahkan oleh sang lelaki misterius itu, Elmo. Yang mana Asmirandah dikenal dengan nama Pelangi. Antara Pelangi dan Asmirandah, adalah satu pribadi yang sama. Ada satu alasan kenapa ia menamakan diri di dunia tak nyatanya dengan panggilan Pelangi. Karena pelangi memiliki banyak macam warna, dan keluar pada saat-saat tertentu. Jika hujan turun di pagi hari, kemudian kembali terang.             Pelangi.... *  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD