MAAF KALAU NEMU TYPO?
"Sekarang kehidupanku berada di tangannya, entah apa yang akan terjadi kedepannya akan aku pastikan dia tidak bisa menyentuhku dan kakakku lagi." Gerutu Renata pada dirinya sendiri.
Setelah pesta pernikahan itu Renata kembali ke rumah yang di mintanya, Rumah tanpa istri-iatri menyebalkan Frans. Rumah itu cukup besar bahkan rumornya rumah yang Renata tempati adalah rumah utama Frans Alvarado, bagaimana bisa dia dengan mudah memberikan rumahnya ke wanita lain bahkan para istrinya belum pernah sekalipun menginjakan kaki ke rumah utama.
TOK TOK TOK.
Seorang pelayan masuk sembari membawakan segelas s**u dan roti panggang, "Nyonya silakan di makan." ujarnya
"Tunggu-"
Renata menghentikan pelayan itu saat hendak keluar, "Dimana Sanne, pelayan pribadiku?."
"Maaf Nyonya Sanne bilang kepada saya jika dia akan pergi sebentar. dan Tuan besar berpesan malam ini Tuan langsung pergi ke London untuk bisnisnya." Terangnya
"Jadi dia akan pergi berapa hari?." Tanya Renata.
Pelayan itu menundukan kepalanya, "Sepertinya 2 atau 3 hari Tuan Besar pergi Nyonya, Nyonya Renata apa ada hal lain lagi yang bisa saya bantu?"
Renata merasa ada yang aneh setiap pelayan itu berbicara, dengan nada seolah Renata akan memakannya.
"Siapa nama kamu? pokoknya jangan panggil aku Nyonya, panggil saja Nona dan berbicaralah santai OK." Ujarnya sembari meraih susunya.
Pelayan itu tersenyum lalu pergi meninggalkan kamar Renata, rumah ini lumayan tenang jika Frans tak ada disini.
berbicara soal ketenangan Renata sedikit kawatir dan masih penuh tanda tanya, banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya sekarang. Haruskah dia bertanya kepada Frans atau Sekertarisnya???
kepalanya seakan-akan meledak, yang dia kawatirkan ialah dia menjadi istrinya yang keberapa? kenapa sampai sekarang Renata belum mengetahuinya. Ke 3 kah, ke 4 kah atau lebih parahnya sampai ke 10. Jika benar, dia laki-laki yang b******k.
tapi kenapa Renata harus peduli. Pernikahan ini hanya Aset baginya demi kakaknya juga, "Ayolah Renata Perkins apa yang kau pikirkan.!" Bisiknya.
***
London, 08:30 AM.
Frans tengah menghadiri rapatnya, salah satu pemegang saham terbesar di Prancis Frans juga memiliki posisi besar di London sebagai penyalur investasi besar di perusahaan Teknology inovation.
Padahal dirinya baru melangsungkan pernikahan dan belum menikmati malam pertamanya. Frans memberikan sedikit kebebasan waktu untuk Renata tapi setelah itu waktu penuh Renata hanya milik Frans Alvarado, hal itulah yang selalau Frans pikirkan mengapa dia berada di London sekarang.
Frans kembali ke hotel dan meraih ponselnya lalu menghubungi Renata.
toot toot toot,
berulangkali panggilan itu tidak Renata angkat, Frans tidak menujukan jika dia marah melainkan dirinya justru sedikit tertawa.
"Dia sangat susah untuk aku atur." Bisiknya
Jemarinya kini menari di atas layar ponsel dan mengetik beberapa pesan lalu dikirimnya ke Renata,
To Renata,
Sayang, kau mengalihkan panggilanku kau tahu kan apa hukumannya?? tunggu saja saat aku pulang. Mengerti!!.
dan terkirim.
Frans menaruh ponselnya di atas meja lalu mengambil botol wine dan menuangkan ke gelas. saat dia hendak meminum Wine itu ponselnya berdering. seperti dugaan Renata tetaplah seorang wanita dan wanita mampu Frans taklukan siapaun dia.
"Halo Sayang." ujar Frans
"Frans apa yang mau kau lakukan, hhaaa. kau mengancamku?? kau pikir aku takut?? kau pikir kau bisa menindasku?!" gertak Renata dari sebrang telepon.
"Sayang tenanglah jika kau tidak tenang kasihan Anak kita ha ha."
"A...anak apa maksudmu Frans?." tanya Renata sedikit terkejut
"Sayang, apa kau lupa malam itu hhmm?? mungkin darah dagingku sudah terbentuk di dalam rahimmu." Ujar Frans yang membuat Renata kesal.
"Ok ok, aku cuma bercanda-."
Renata langsung mematikan sambungannya membuat Frans tertawa lalu meneguk winenya.
Kau memang istimewa Renata, Batin Frans.
TOK TOK TOK,
masuklah sekertaris Jim dengan berkas yang ada di tangan kanannya, di berikan berkas itu pada Frans.
"Tuan, seperti dugaan anda." ujarnya
Frans mengangkat ujung bibirnya lalu menaruh gelas berisikan wine itu dengan hentakan cukup keras.
"Sepertinya aku tidak bisa meremehkannya!!" Gerutu Frans
Dylon Caren kau pikir bisa memilikinya, batinnya.
"Tuan apa saya harus-"
"Tidak.... kita perlahan saja aku ingin melihat dia bertekuk lutut hingga meminta kamatiannya." Potong Frans
***
2 hari kemudian
Mentari sudah menampakan cahanya, tirai yang menutup sinar pagi ini sudah Sanne buka sehingga mampu masuk ke kamar bernuansa Soft itu. sedikit demi sedikit menyilaukan mata Renata yang membuat dirinya menarik kembali selimut.
"Sanne haruskah kau menyiksa mataku sepagi ini?" tanyanya
"Anda yang meminta kamar ini, kamar yang saat pagi hingga siang akan ada tamu yang menyambut mata anda Nona. bukankah Anda sangat menyukai sinarnya?" jawab Sanne sembari mengangkat selimut yang menutupi Renata dan menyuruh Renata untuk bangun.
"Aku tahu. tapi hari ini aku sangat lelah. Apa kau tahu setelah pernikahan aku menghabiskan waktuku untuk bekerja?"
"Nona apa anda lupa? suami anda pembisnis anda seharusnya menjadi Nyonya Besar tidak usah bekerja lagi cukup berdiam diri." Ujar Sanne sambil tertawa.
"Sanne berhentilah berpikir seperti itu!"
"Baiklah, Nona berpesan hari ini akan ada acara Fashion week inroom."
Renata langsung meraih ponselnya yang berada di beja sebelah tempat tidur, di lihatnya beberapa panggilan dari Arin.
"Sanne siapkan sandwich dan s**u untuku, aku akan pergi mandi."
"Baik Nona." jawabnya
"Sial bagaimana aku bisa lupa. Arin menelfonku 5 kali, dan pesan darinya."
Renata membuka pesan itu,
From Arin
Ren, nanti waktu kau kesini jangan lupa bawa rancangan pokok kita. aku rasa itu masih tertinggal di rumahmu.
Renata teringat sesuatu saat Arin memberikan pesan tersebut, dia benar rancangan pokok Fashion week itu berada di rumahnya karena dia mengerjakan rancangan itu di rumahnya yang dulu dan itu sebelum dia terjerat dalam kehidupan Frans.
Tapi bagaimana caranya dia kembali kerumah?, akankah penjaga suruhan Frans mau mengantarnya?. Renata tidak peduli di perbolehkan atau tidak yang pasti Frans sudah berjanji jika dia tidak akan membatasi kegiataanku.
Renata bersiap-siap, lalu dia ke ruang makan untuk sarapan. hanya sandwich dan s**u sudah mampu mengganjal perutnya. Renata meminta Sanne untuk bertanya ke salah satu penjaga akankah dia bisa mampir ke rumah kakaknya?
"Bagaimana?" Tanya Renata saat Sanne sudah menanyakan ke salah satu penjaga itu.
"Mereka menyuruh Nona untuk meminta izin sendiri ke Tuan Frans Nona." Jawabnya
Apa dia berniat mengurungku! saat aku memintanya nanti 100% dia akan meminta balasannya, Bisik Renata
"Sanne apakah Frans sudah kembali ke Prancis? aku malas berbicara dengannya meski lewat telepon!" Ujar Renata sembari berdiri lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil tas selempang.
Sanne mengikuti Renata, "Nona Renata, mereka bilang Tuan besar akan kembali sekitar 3 hari lagi." Jawab Sanne
"3 hari?-"
Renata terdiam lalu kembali meraih tasnya yang berada di atas tempat tidur, "Bukankah dia pergi hanya 3 hari dan ini sudah 2 hari berlalu seharusnya dia besok pulang? kenapa mengambil hari panjang dia sana?." Tanya Renata sembari menatap Sanne.
Renata yang melihat reaksi Sanne tersenyum saat dia berkata hal seperti itu, dia mengangkat satu alisnya dan bertanya ke pada Sanne, "Apa yang kau senyumkan?"
"Nona apa Anda merindukan Tuan Besar?" Ejek Sanne.
"A...Apa!!-" Sontak Renata mengatakannya sembari melotot.
"Aku merindukan si Psikopat itu! Ogah!!!, justru aku senang jika dia tinggal di sana lama kalau bisa selamanya." Ocehnya penuh amarah.
Bagaimana bisa seorang Frans yang kasar tidak berperasaan mampu mendapatkan hati Renata.
Haii?? Thanks semuanya sudah menyempatkan untuk membaca cerita ini. jangan lupa tinggalkan komen dan memberi suara yuuppss.