10. Memasak Bersama

2149 Words
Belum genap jam 8 malam, tapi pasangan kakak beradik itu sudah sampai di restoran untuk menjemputku. Beruntung aku sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Aku bahkan sedikit memoles wajahku supaya tidak terlalu tumpang dengan Seo Rin yang selalu terlihat glamour dan Hyun Soo yang selalu berkelas. Bukan berarti aku dekil dan menyedihkan, tetapi aku juga tidak mau kalah dengan pasangan kakak beradik itu. Kami pergi menggunakan mobil Hyun Soo, awalnya Seo Rin bersikeras untuk di depan tapi Hyun Soo menolak dengan keras dan memintaku untuk duduk di sampingnya. Aku yang kompetitif sangat suka melihat Seo Rin yang kalah di hadapanku. Kami berbelanja di salah satu super market yang cukup terkenal. Sebenarnya Seo Rin masih belum memutuskan untuk membuat apa, sehingga kami masih harus berputar-putar sejak tadi. "Bagaimana dengan lasagna?" usulku karena kita hanya berputar tidak jelas. "Terlalu repot," jawab Seo Rin dengan singkat. "Carbonara?" tanyaku lagi. "Kamu suka pasta?" tanya Seo Rin yang secara mendadak menghentikan langkahnya. "Tidak terlalu, aku hanya memikirkan masakan yang mudah," jawabku dengan jujur. Seo Rin kembali berjalan, mengabaikan ucapanku. Aku lalu kembali mengikuti langkahnya dengan Hyun Soo yang sejak awal memasuki super market selalu menautkan tangan kami berdua. Kita sudah terlihat seperti pasangan sungguhan. "Bagaimana dengan steak?" tanya Hyun Soo. "Baiklah, setuju. Kita makan steak saja," jawab Seo Rin dengan mudahnya. Ingin sekali aku memukul kepalanya dari belakang. Sejak tadi aku sudah menyarankan beberapa menu tetapi dia terus menolak, tapi saat Hyun Soo yang memberikan ide dia dengan mudah menyetujuinya. Bukankah itu juga kurang ajar? Aku terkejut ketika Hyun Soo menarik tanganku hingga aku menabrak tubuhnya yang berjalan di sampingku. "Jangan menunjukkan raut muka kesal seperti itu, kamu nampak menggemaskan," bisik Hyun Soo di telingaku. Aku bahkan merasa geli karena suaranya. "Dia menyebalkan," jawabku sembari melirik ke arah Seo Rin yang berjalan di depan kami. "Aku jadi ingin menciummu," bisik Hyun Soo lagi dengan frontal. Aku dengan refleks menginjak kaki Hyun Soo hingga dia memekik kesakitan. Seo Rin sontak menoleh dan menatap ke arah Hyun Soo dengan khawatir. "Oppa kenapa?" Aku bisa melihat jika Seo Rin memang menyayangi Hyun Soo, meskipun kakaknya hanya merasa sedikit kesakitan. "Aku menginjaknya karena dia kurang ajar," jawabku dengan santai. "Apa!" jawab Seo Rin terlihat tidak terima. "Ini bukan hal yang serius. Oppa tadi menggodanya," jawab Hyun Soo sembari mengusap pipi Seo Rin yang tampak mengembung karena kesal. "Oppa jalan bersamaku saja, biarkan dia sendirian!" ujar Seo Rin lalu mengampit lengan Hyun Soo dan berjalan terlebih dahulu meninggalkanku sendirian. Dasar kekanakan! Tapi dia memang masih bocah. Kami sedang memilih bagian daging apa yang akan kami beli. Sejak tadi Seo Rin bahkan tidak menanyakan bagaimana pendapatku, dia hanya bertanya pada Hyun Soo sepenuhnya. "Kamu mau yang mana?" tanya Hyun Soo yang secara tiba-tiba mendekatiku. "Aku mau wagyu tenderloin." Aku melihat Seo Rin yang menatap ke arahku. "Baikah aku juga sama," jawab Hyun Soo. "Tadi Oppa bilang tidak mau wagyu," ucap Seo Rin dengan memberengut kesal. "Tapi karena Rachel mau, jadi Oppa juga ikut mau," jawab Hyun Soo sembari tersenyum ke arahku. Aku bisa melihat Seo Rin yang nampak sangat kesal ketika melihat Hyun Soo yang lebih memihak ke arahku. Aku tidak tau jika menikmati raut kesal Seo Rin bisa semenyenangkan ini. "Kita akan masak saus apa?" tanyaku pada Seo Rin. "Oppa mau saus apa?" Seo Rin mengabaikanku dan malah bertanya pada Hyun Soo. Bocah ini memang minta di hajar. "Oppa terserah Rachel saja." Lagi-lagi wajah Seo Rin memerah karena menahan amarah. Aku ingin tertawa melihatnya. "Kenapa kamu nampak senang?" bisik Hyun Soo. Entah mengapa aku kurang suka ketika Hyun Soo berbisik seperti ini. Aku merasakan sensasi yang aneh ketika bibirnya berjarak cukup dekat dengan  telingaku yang merupakan titik sensitifku. "Melihatnya kesal, entah mengapa aku suka," jawabku dengan jujur sembari melirik ke arah Seo Rin yang beberapa kali terpantau mencuri pandang ke arah kami. "Aku bisa membantumu membuat adikku kesal." Aku menatap Hyun Soo dengan heran, kenapa juga dia justru senang melihat adiknya kesal? Belum sempat aku mencerna semuanya dengan baik, Hyun Soo menarik lenganku dengan tiba-tiba hingga bibir Hyun Soo mendarat di pipiku. Sontak aku langsung menatap Hyun Soo dengan terkejut. "Apa yang kalian lakukan?!" Tiba-tiba Seo Rin sudah berada di antara kami dan menarik tubuh Hyun Soo menjauh dariku. "Hyun Soo yang mencium pipiku," ucapku membela diri. "Kenapa memangnya mencium kekasih sendiri?' jawab Hyun Soo tanpa dosa. "Oppa tidak boleh melakukannya di muka umum seperti ini!" omel Seo Rin, tapi nampaknya Hyun Soo tidak peduli. "Jadi kami bisa bebas melakukannya di tempat sepi? Apartementmu misalnya," ujar Hyun Soo sembari terkekeh. Aku tidak tau jika Hyun Soo juga suka menggoda adiknya. "Oppa harus menjaga citra baik. Jangan berbuat hal seperti tadi di muka umum. Bagaimana jika ada yang membuat gosip tidak benar!" ujar Seo Rin dengan kesal. Dia terlalu mengkhawatirkan Hyun Soo. "Tapi Rachel kekasihku," jawab Hyun Soo dengan santai. "Kamu juga seharusnya tidak menerima dengan pasrah!" omel Seo Rin padaku juga. Salahku di mana? Hyun Soo yang menciumku kenapa aku yang mendapat omelannya juga? Apa dia pikir aku juga senang saja dicium Hyun Soo tanpa permisi? Aku juga kesal andai dia tau. Setelah selesai berbelanja, kita bergegas menuju apartement Seo Rin. Tetapi yang berbeda sepanjang perjalanan Seo Rin hanya diam karena masih kesal dengan Hyun Soo. Aku jadi berpikir jika mungkinkah Seo Rin memendam perasaan terlarang pada kakaknya? Aku tak bisa membayangkan jika harus terjebak di tengah kisah cinta segitiga yang tidak keren seperti itu. Aku akhirnya sepakat untuk membagi tugas, aku bagian memotong sayuran sedangkan Seo Rin bagaian memasak dagingnya. Kali ini kita hanya mengolah wagyu itu dengan di pan seared tanpa di grill. "Kamu mau tingkat kematangan apa?" tanya Seo Rin padaku. "Medium," jawabku singkat. "Kamu ingin lihat memasaknya?" tawar Seo Rin. "Boleh." Di dapur hanya ada kami, karena Seo Rin melarang Hyun Soo mendekat karena hanya akan mendekatiku dan mengacau saja. "Saat pan seared, jangan langsung menggunakan butter karena mudah gosong. Kamu bisa gunakan minyak saja, tapi dengan catatan teflon harus dipanaskan terlebih dahulu. Jangan juga menggunakan olive oil untuk masakan yang menggunakan api besar, karena bisa mengubah lemah baiknya menjadi lemak jenuh. Sedikitnya cukup berbahaya karena perubahan senyawa," jelas Seo Rin. Aku memang sedikitnya tau, tapi Seo Rin menambah wawasanku. "Kamu memarkan bawang lalu taruh di atasnya bersama dengan rosemary sebagai penambah aroma. Jika sudah berubah warna seperti ini, baru tambahkan butter. Supaya butter tidak gosong dan membuat daging ini terasa pahit." "Kamu cukup pintar memasak," tukasku sembari menatap Seo Rin yang masih fokus pada dagingnya. "Tidak pandai juga, aku hanya suka," jawab Seo Rin dengan acuh. "Apa yang membuatmu suka memasak?" tanyaku penasaran. Gadis sombong dan manja sepertinya cukup aneh jika suka memasak. Karena dapur adalah sarang bahaya, bisa saja tangan lembutnya tergores pisau atau kulit putihnya terkena oven panas. Tapi yang aku lihat Seo Rin sudah sangat biasa dengan alat dapur. Bahkan ketika menggunakan pisau. "Apa yang membuatmu memilih membuka restoran di saat kamu bodoh di dapur," ucap Seo Rin yang malah balik bertanya tapi dengan bahsa yang sangta tidak sopan. Aku pikir dia akan berubah, nyatanya tetap menyebalkan seperti biasa. "Aku hanya menikmati alur. Kami hanya memiliki restoran, maka aku tak punya pilihan lain untuk meneruskannya. Aku juga tidak rela jika usaha yang dulu dijalankan Eomma dan Daddy akan menjadi terbengkalai begitu saja," jawabku dengan jujur. "Aku bisa melihat usahamu, terbukti dengan restoranmu yang berkembang cukup pesat dalam 3 tahun terakhir," timpal Seo Rin. Aku terperangah, Seo Rin tidak sebodoh yang aku pikirkan. Dia tidak nampak seperti gadis yang memiliki keterbelakangan mental seperti biasanya, dia nampak normal dan terlihat seperti wanita kebanyakan di usia mudanya. Meskipun dia tidak bisa berbicara dengan intonasi yang santai padaku, tapi aku bisa menganggap jika dia sudah mulai menerimaku. "Kamu bisa mengecek kematangannya dengan menekan dagingnya. Lalu kamu samakan menggunakan jari yang kamu lipat dengan ibu jari. Sentuh bagian bawah ibu jarimu dan rasakan teksture tanganmu apakah sama dengan daging ini. Dengan tingkatan Rare, medium rare, medium, medium well dan well done." Aku melihat Seo Rin mempraktekannya tetapi aku masih tidak paham. "Baiklah mungkin kamu sulit mencerna. Mengecek kematangan daging mungkin lain kali saja," ucap Seo Rin yang sepertinya paham jika aku sama sekali tidak mengerti dengan penjelasanya. "Lain kali? Kita akan memasak bersama lagi?" tanyaku terkejut, karena jujur saja aku tidak ingin memasak dengannya lagi. "Kenapa? Kamu tidak suka?" Aku melihat ekspresi Seo Rin yang nampak tidak suka. "Bukan tidak suka, hanya tidak nyaman. Karena aku tidak terlalu suka memasak," jawabku dengan jujur. "Kenapa kamu selalu berbicara tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Kamu tidak ingin pura-pura supaya nampak baik di mataku?" tanya Seo Rin dengan heran. "Untuk apa aku harus terlihat baik di matamu? Jika dia hadapan Tuhan saja aku belum tentu baik dan tidak melulu berusaha menjadi baik," jawabku dengan santai. "Kamu calon istri nantinya, jadi harus bisa memasak." "Tidak ada peraturan di manapun yang menuliskan jika seorang istri haruslah bisa memasak. Aku bekerja keras untuk mempermudah hidupku, aku bisa membayar pelayan untuk selalu melayaniku. Kamu tidak perlu bertingkah menjadi gadis yang pandai memasak sedangkan kamu tidak menguasai bidang yang lain. Mungkin aku bodoh di dapur seperti ucapanmu, tapi aku lebih unggul dalam bertahan hidup dari pada kamu. Aku dilatih untuk menjadi mandiri dan bekerja keras, bukan menjadi pelayan seperti ini," jawabku dengan seringaian kemenangan. "Kamu pikir memasak hanya tugas pelayan!" sahut Seo Rin tidak terima. "Tidak juga, tapi kamu seolah merendahkanku karena aku tidak bisa memasak. Hati manusia bisa berubah secara mendadak, mungkin saja suatu saat aku bisa hobi memasak. Tapi sebenarnya aku bukan benar-benar bodoh, aku masih bisa memasak beberapa menu masakan untuk suamiku kelak." Setelah mengatakan semuanya, aku memilih meninggalkan Seo Rin sendirian di dapur. Dia yang sudah membuat moodku menjadi buruk, jadi terima saja jika dia harus repot memasak sendirian. Lebih baik aku menemani Hyun Soo yang menonton film di ruang tamu. -o0o- Aku akui jika steak buatan Seo Rin di masak dengan tingkat kematangan yang sempurna seperti permimtaanku. Dia juga membuat saus mushroom yang terasa sangat pas di lidahku. Secara keseluruhan aku menyukainya. Tapi aku tidak berani bertanya bagaimana step dan resepnya, karena bagaimana pun aku memiliki sebuah restoran. Aku paham jika resep itu mahal harganya, seseorang tidak akan membagikan resep dan trik temuannya dengan mudah. "Masakan kalian memang enak," puji Hyun Soo sembari menyuap sepotong steak ke mulutnya "Bukan kami yang memasak, tapi hanya Seo Rin. Aku hanya membantu sedikit dan lebih banyak berbincang tentang memasak," jelasku dengan jujur. Karena aku memang tidak berkontribuai banyak dalam membuat hidangan ini. Aku tidak ingin Seo Rin merasa aku menipunya karena mengakui jika aku ikut membuat masakan ini. "Kamu mengakui kehebatan Seo Rin di dapur?" tanya Hyun Soo dengan antusias. Sepertinya Hyun Soo senang jika hubunganku dan Seo Rin semakin membaik. Meskipun kenyataanya aku dan Seo Rin masih saja melakukan perang dingin. Meskipun tidak terlihat secara gamblang seperti sebelumnya. Aku sudah pernah mengatakan jika aku bersikap sebagaimana orang lain memperlakukanku. Maka aku akan meladeni bagaimanapun permaianan yang diinginkan Seo Rin. "Dia buruk di dapur," celetuk Seo Rin dengan santai. "Memang, aku sudah mengatakannya sejak awal," jawabku dengan santai. "Tidak masalah, aku masih sanggup mencukupi kebutuhan istriku sehingga dia masih akan terus makan enak tanpa perlu memasak," timpal Hyun Soo yang membuatku tersenyum ke arahnya. Laki-laki seperti Hyun Soo yang aku inginkan selama ini. Yakni membuat hidupku kelak lebih bahagia dan nyaman tanpa aku harus bekerja keras seperti sekarang. "Kamu jangan senang dahulu, belum tentu juga Hyun Soo Oppa menjadi suamimu," jawab Seo Rin dengan raut mengejek. "Semua orang tidak akan ada yang tau bagaimana rencana Tuhan. Siapa yang tau jika kamu yang akan kecewa jika kelak kami menikah," jawabku dengan asal. Hyun Soo seketika menoleh ke arahku lalu tersenyum dengan lebar. Tunggu, dia pahamkan jika aku hanya berniat menggertak adiknya tidak benar-benar serius dengan ucapanku. "Kita akan menikah," bisik Hyun Soo. Tapi aku lebih memilih kembali fokus makan dari pada menanggapi ucapan Hyun Soo. "Sembari berkumpul, bagaimana jika kita minum bersama?" tawar Seo Rin. "Tidak, toleransiku buruk pada alkohol," jawabku sembari meminum air putih yang berada di samping piringku. Sangat berbeda dengan Hyun Soo dan Seo Rin yang menikmati red wine. "Apa kamu akan pulang begitu saja tanpa berniat menikmati malam ini?" ucap Seo Rin yang membuatku menyeringai ke arahnya. "Maaf saja aku bukan pengangguran yang memiliki waktu bebas. Besok aku  harus bekerja, jadi aku tidak bisa menikmati malam seperti ucapanmu. Lagi pula ini juga sudah cukup larut, aku mulai mengantuk," jawabku yang membuat Seo Rin menatapku dengan tajam. "Kamu sudah mengantuk?" tanya Hyun Soo sembari melirik ke arah arlojinya. "Ya karena ini sudah mendekati jam tidurku." "Baiklah, setelah makan aku akan mengantarmu pulang." "Tapi kamu baru saja minun wine," ucapku tak setuju. Karena aku masih bisa pulang menggunakan taksi. "Toleransiku sangat bagus pada alkohol. Aku bahkan bisa menghabiskan sebotol whiskey tanpa mabuk." "Baiklah, kamu tidak perlu menyombongkan sesuatu yang menurutku tidak keren sama sekali," jawabku dengan jujur. Lalu dari ekor mataku, aku melihat jika Seo Rin sedang menahan tawanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD