9. Tentang Hyun Soo

2019 Words
Aku pikir acara ini akan segera berakhir, tapi ternyata masih banyak serangkaian acara yang belum terlaksanakan. Kini aku mulai bosan mengikuti acara nonton bersama. Sebenarnya bukan karena drama mereka yang buruk, tetapi karena aku memang tidak terlalu menyukai drama. Kisah yang di bawa juga menurutku terlalu di buat-buat. Aku sudah meminta izin Hyun Soo supaya aku bisa pulang terlebih dahulu, tetapi dia menolaknya. Hyun Soo memintaku untuk menemaninya hingga acara berakhir. Aku bukan tipe orang yang suka bergadang sehingga saat sudah pukul 11 malam, mataku sudah tidak kuat untuk tetap terbuka, terlebih aku yang tidak menikmati acara. "Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, aku mau pulang," ucapku pada Hyun Soo. Ini bukan sebagai bentuk rengekan, tapi aku sudah lelah terus meminta Hyun Soo untuk pulang. Aku terbiasa tidur pukul 10 malam, kini bahkan sudah jam 11 tapi aku masih berada di restoran. Tubuhku juga sudah cukup lelah karena membantu menyiapkan segala keperluan. "Kamu mengantuk?" tanya Hyun Soo sembari mengusap pipiku. Bahkan sejak beberapa menit yang lalu, aku dengan berani bersandar di bahunya. "Iya, kamu bisa tetap di sini. Aku mau pulang," jawabku dengan memelas. "Baiklah, kita pulang," jawab Hyun Soo sembari tersenyum lembut. Aku mendapatkan sedikit semangatku ketika Hyun Soo mau di ajak pulang. Akhirnya Hyun Soo benar-benar berpamitan pada beberapa orang dan kami berhasil untuk pulang. Karena aku sudah tidak kuat menahan rasa kantukku. -o0o- Ketika aku bangun, aku sudah berada di kamarku. Sinar matahari juga sudah memasuki kamarku melalui jendela yang terbuka. Aku bahkan terkejut, kenapa sekarang sudah pagi? Aku sekilas mengingat ketika aku meminta pada Hyun Soo jika aku ingin tidur sebentar dan segera bangunkan aku jika sudah sampai rumah. Tapi kenyataanya aku sekarang ini sudah berada di kamar saat pagi, aku tidak mengingat jika aku mengigau dan berjalan sendiri saat tidur. Apakah Hyun Soo yang membawaku ke kamar? Tak ingin menanggung rasa penasaran ini lebih lama, aku segera bergegas untuk mandi dan sarapan. Aku ingin bertanya pada Eomma segera. Saat aku turun, Eomma terlihat sudah bersiap untuk menungguku sarapan. Aku bisa melihat jika mood Eomma sedang sangat bagus, membuatku semakin yakin untuk bertanya. "Apa semalam Hyun Soo yang membawaku masuk ke dalam kamar, Eomma?" tanyaku membuka pembicaraan. Meskipun sedang sarapan, tapi aku tak bisa lagi membendung rasa ingin tahuku "Iya, Sayang. Tidak mungkin Eomma kuat menggendongmu sampai kamar," jawab Eomma dengan santai. "Lalu kenapa aku bisa berganti pakaian dan make upku sudah bersih? Tidak mungkin Eomma membiarkan Hyun Soo menggantinya, kan?!" tanyaku dengan menatap Eomma tajam. "Tentu saja tidak, Eomma yang menggantikan bajumu. Kamu tidur seperti mayat," ucap Eomma dengan raut mengejek. "Tapi Hyun Soo yang menghapus riasanmu," tambah Eomma. "Apa! Kenapa bukan Eomma?" tanyaku sedikit histeris. Aku tidak kuat membayangkan Hyun Soo yang melihat keadaan wajahku saat itu. Aku yakin akan sangat buruk sekali. Tertidur dengan Hyun Soo yang membersihkan riasanku. "Hyun Soo yang menawarkan diri, jadi tidak ada alasan Eomma untuk menolaknya," jawab Eomma lalu terkekeh geli. Aku sedikit kesal dengan Eomma, kenapa di tidak menyelamatkan putrinya dari rasa malu sedikit saja. "Eomma, kalau aku sampai pulang dalam keadaan tertidur, maka Eomma harus membangunkanku bagaimana pun keadaanya. Ingat itu!" ucapku dengan menatap Eomma tajam "Tapi kalian nampak sangat serasi semalam, Eomma suka saat melihatnya," jawab Eomma sembari terkekeh geli. "Tapi bukan seperti itu caranya, Eomma. Aku malu sekali, bagaimana aku harus menghadapi Hyun Soo." "Mengapa harus malu? Hyun Soo bahkan memujimu cantik ketika tidur semalam." Pipiku seketika memerah mendengar ucapan Eomma. Ya Tuhan, bahkan tanpa mendengar dari orangnya langsung saja sudah berhasil membuatku malu. "Eomma senang melihat perkembangan kalian. Eomma jadi tidak merasa sia-sia karena sudah memperkenalkan kamu dengan Hyun Soo." "Aku masih harus menilainya lebih jauh Eomma, aku terkadang melihat jika Hyun Soo suka bersikap seenaknya," celetukku dengan asal. "Itu karena kamu terlalu tertutup dan membatasi diri. Cobalah mulai terbuka dan menerima Hyun Soo apa adanya. Eomma yakin Hyun Soo juga memiliki perasaan yang sama denganmu." "Perasaan yang sama denganku? Seperti Eomma tau bagaimana perasaanku saja," ujarku sembari mengunyah sandwich. "Eomma lihat bagaimana interaksimu dengan Hyun Soo semalam," ucap Eomma sembari menggoyangkan alisnya. Aku baru ingat kejadian saat di restoran. Mengapa aku sampai tidak berpikir jika Eomma akan melihat apa yang dilakukan oleh Hyun Soo. "Kalau untuk semalam, itu di luar perkiraanku. Aku tidak pernah menyangka jika Hyun Soo akan memperkenalkan aku pada para karyawan dan artisnya," ucapku dengan gugup. Mengapa aku harus merasa malu di hadapan Eomma. Sial! "Itu artinya Hyun Soo ingin semua orang tau, jika dia telah menjadi milikmu, Sayang." "Menjadi milikku apanya? Kita bahkan belum memiliki hubungan jelas," ujarku dengan kesal. "Lalu kenapa tidak menjalin hubungan saja? Kamu yang terlalu mempersulit dirimu sendiri." "Aku masih melihat beberapa keraguan padanya." "Apa yang kamu ragukan, Sayang? Bukankah dia mapan dan bekerja keras seperti pria kriteriamu?" Aku terdiam untuk berpikir sejenak. "Iya memang, tapi entah mengapa begitu sulit untukku mempercayai Hyun Soo sepenuhnya." "Karena ada banyak wanita di sekitarnya?" tebak Eomma yang aku jawab dengan anggukan kepala. "Mungkin salah satunya," jawabku dengan jujur. "Dulu Min Rin juga pernah menceritakan keraguannya pada profesi Jong Pal, Min Ri  takut jika Jong Pal akan lebih mudah tergoda dengan banyaknya wanita cantik dan lebih muda darinya. Tapi kepercayaan yang dia berikan pada suaminya akhirnya berbuah dengan manis, Jong Pal tidak pernah mengkhianati Min Rin." Setiap manusia jelas diciptakan berbeda, jika Paman Jong Pal bisa setia tapi belum tentu Hyun Soo juga sama. "Itu mungkin karena Paman Jong Pal memang sudah setia dari sananya, Eomma." "Memang kamu tau jika Hyun Soo bukan pria yang setia?" Aku menggelengkan kepalaku, karena aku memang belum mengenal Hyun Soo sepenuhnya. "Tapi Hyun Soo bisa menjalin hubungan tanpa saling jatuh cinta. Seolah dia bisa dengan mudah mempermainkan sebuah hubungan." "Mudah saja bagi kita menilai orang lain seperti yang kita lihat, padahal belum tentu apa yang kita simpulkan pertama kali adalah hal yang benar. Profesinya yang memaksa Hyun Soo untuk bertemu lebih banyak wanita cantik tidak selalu membuatnya harus menjadi pria b******k. Dan dari apa yang Eomma lihat dari Hyun Soo, dia bukan tipe orang yang seperti itu." "Eomma tidak mengenalnya cukup dekat," kilahku masih tidak terima. "Sebenarnya cukup dekat, hanya Hyun Soo yang tidak menyadarinya. Eomma adalah orang yang paling dekat dengan Min Rin." "Berarti Eomma menilai Hyun Soo bagus karena Eomma dekat dengan Bibi Min Rin," jawabku tidak terima. "Tapi kamu putri Eomma satu-satunya. Untuk apa Eomma harus menjerumuskan putri Eomma sendiri pada pria yang tidak benar?" "Bukan seperti itu juga maksudku, Eomma." "Seekor ikan, meskipun hidup di lautan yang sangat luas dengan airnya yang terasa sangat asin, selama dia hidup maka tubuhnya tidak akan terkontaminasi garam sehingga menjadi asin. Tetapi ikan yang mati, secara perlahan akan membusuk dan tubuhnya akan teras asin karena terkontaminasi garam." Aku menatap Eomma dengan kening berkerut. "Apa maksudnya Eomma?' tanyaku tidak mengerti maksud ucapan Eomma. "Seseorang yang memiliki lingkungan yang buruk, tidak akan ikut tercemar selagi dia bisa berpikir dan memiliki akal sehat. Tetapi jika sesorang sudah tidak lagi memiliki akal sehat, maka dia akan mudah terkontaminasi dengan faktor lingkungan yabg buruk. Menjadi baik atau buruknya seseorang bukan karena faktor lingkungan, tetapi pilihan orang itu sendiri." Aku terdiam sembari menatap Eomma dengan dalam, apakah benar jika Hyun Soo pria yang baik untukku? "Dengan banyak artis dan model yang cantik dan tubuhnya yang memukau, Hyun Soo bisa saja membawa mereka dengan mudah ke ranjangnya. Apalagi di dukung dengan tampilan fisik Hyun Soo yang tampan. Tapi yang Eomma tau, Hyun Soo tidak pernah dekat atau bahkan sampai menjalani hubungan dengan seseorang di agensinya." "Bagaimana jika dia pernah tapi menyembunyikannya?" Aku bisa melihat sedikit keraguan di ekspresi Eomma. Jadi memang Eomma tidak mengetahui sepenuhnya tentang Hyun Soo. "Kalau untuk itu Eomma tidak tau. Tapi Min Rin dan Jong Pal tidak pernah menceritakan jika Hyun Soo pernah menjalin hubungan dengan seseorang di agensinya. Padahal Jong Pal tidak pernah melarang Hyun Soo untuk menjalin kasih dengan siapa pun. "Apakah dulu Daddy juga mengenal Hyun Soo?" tanyaku penasaran. Jika Eomma memiliki hubungan yang begitu dekat dengan Bibi Min Rin dan Paman Jong Pal, maka seharusnya dekat dengan Daddy juga, bukan? "Daddy pernah bertemu dengan Hyun Soo beberapa kali. Mereka juga saling mengenal, tapi tidak pernah tau jika Hyun Soo akan menjadi calon menantunya," jawab Eomma sembari tertawa. "Belum tentu juga Hyun Soo menjadi menantu Eomma," celetukku. "Setidaknya Eomma boleh berharap," jawab Eomma sembari tertawa. -o0o- Seperti beberapa hati terakhir, seorang pelayan memberi tahu jika Hyun Soo datang dan mencariku. Sudah menjadi kebiasaan barunya untuk Hyun Soo makan siang dan menggangguku di restoran. Tapi saat aku menghampirinya, aku melihat jika Hyun Soo tidak sendiri. Ada Seo Rin yang tengah asyik makan siang di sampingnya. Awalnya aku sedikit lebih bersemangat, semua ini juga karena perbincanganku dan Eomma pagi tadi sehingga aku memiliki sedikit pandangan yang baik tentang Hyun Soo. Tapi setelah melihat keberadaan Seo Rin di sini entah mengapa membuatku kembali merasa malas. Aku bahkan belum berada dalam taraf membencinya, tetapi hanya dengan melihat wajahnya sudah membuatku merasa malas. "Hai," sapaku pada mereka berdua. Hyun Soo menyambutku dengan senyuman lebar, tetapi Seo Rin mengacuhkanku dan tetap melanjutkan makan siangnya. "Seo Rin ingin merasakan makan di restoranmu," ucap Hyun Soo untuk menjelaskan tentang keberadaan Seo Rin di sini. "Eomma bilang dia pernah kemari, jadi ini bukan pertama kalinya," jawabku untuk memperjelas jika ini hanya akal-akalan Seo Rin untuk mengganggu pertemuan kami. Untung saja Eomma pernah mengatakan hal ini saat kami membahas tentang Seo Rin. Nyatanya informasi ini sedikit berguna. "Benarkah? Kapan Seo Rin? Kamu bilang belum pernah kemari?" tanya Hyun Soo. "Aku sedikit tidak asing dengan tempat ini Oppa, mungkin aku pernah kemari tapi lupa. Atau aku hanya mengantar Eommoni saja kemari," jawab Seo Rin. Aku sebenarnya ingin sekali tertawa. Ternyata bocah ini memang sangat pandai bersandiwara di hadapan kakaknya. "Bagaimana menurutmu makanan di sini?" tanyaku mencoba mengakrabkan diri. Setidaknya aku lebih dewasa, maka sudah sewajarnya mengalah pada anak kecil. "Enak, cuma salmon steaknya di pan seared terlalu kering, sehingga aku tidak seperti memakan salmon," jelas Seo Rin. Meskipun aku tidak menyukainya, tapi setidaknya kali ini dia menimpali ucapanku dengan lebih sopan. Aku bahkan tidak tau jika bocah manja ini memiliki sedikit pemahaman tentang proses memasak. "Apakah aku perlu menggantinya?" Karena dia bersikap profesional, maka aku juga harus melakukan hal yang sama. "Tidak perlu, aku tidak masalah. Tapi akan lebih baik jika tidak terlalu kering, juicynya akan lebih terasa. Sehingga tidak seperti ikan murahan." Meskipun ucapan Seo Rin dibuat sengaja dengan menohok, tetapi aku tetap paham apa maksud dari ucapannya. "Terima kasih atas masukan yang kamu berikan. Aku akan lebih mengevaluasinya dengan para staf," jawabku dengan tersenyum. Karena dia sudah memberikan masukan yang positif, membuatku sedikit menghargainya. "Seo Rin suka memasak. Jika di rumah, dia akan merecoki dapur untuk membuat karyanya," timpal Hyun Soo. "Aku punya restoran, tapi tidak terlalu bisa memasak," jawabku dengan jujur. "Kalian bisa berkolaborasi sesekali," ujar Hyun Soo. Aku ingin menolaknya tetapi Seo Rin sudah lebih dulu menjawabnya. "Bisa juga, aku jadi bisa tau sebanyak apa kemampuanmu," jawab Seo Rin dengan menatapku penuh intimidasi. Inilah yang menyebabkan aku ingin menolak, aku jelas mengatakan dengan jujur jika aku tidak pandai memasak, aku tidak ingin terlihat lebih rendah di bawah Seo Rin, hal itu akan sangat memalukan. Tetapi sialnya bocah ini lebih cepat dari pada aku, secara tidak langsung dia juga sudah merendahkanku di hadapan Hyun Soo. "Kapan kalian akan masak bersama? Aku akan menjadi orang pertama yang mencicipinya," ujar Hyun Soo yang terlihat antusias. Sedangkan aku ingin sekali berteriak dengan keras jika aku tidak setuju. Aku melihat Seo Rin yang tersenyum puas ke arahku. Apa dia sedang mengejekku? "Bagaimana jika nanti malam? Kita berbelanja bersama untuk makan malam," ujar Seo Rin. "Ide yang bagus," jawab Hyun Soo dengan senang. "Maaf, tapi aku juga bekerja. Aku punya jam kerja sehingga tidak bisa pulang begitu saja sesuai kemauanku," timpalku untuk menunjukan secara tidak langsung jika aku menolak. "Jam berapa kamu pulang?" tanya Seo Rin sembari menatapku dengan menelisik. "Jam 8 malam." "Tak masalah. Kami akan menjemputmu. Kita masak di apartementku supaya lebih bebas," jawab Seo Rin dengan tersenyum puas. Aku menghela nafas lalu mengangguk dengan tidak rela. Sedangkan Hyun Soo nampak sangat bahagia sekali. Apa yang membuatnya begitu bahagia? Apakah dia tidak sabar menantikan aku dipermalukan oleh adiknya? Sialan!  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD