WHEN I MEET YOU | 3

1756 Words
    Allisia menatap jengkel ke arah pria yang tidur santai di sofa apartemen Heyley. Apartemen milik Heyley bukanlah apartemen mewah yang pernah Allisia tempati dulu ketika dia masih menjadi putri mahkota Stephen Warren. Apartemen ini hanya apartemen studio yang pantas di tempati oleh satu orang saja. Namun, semenjak Allisia di usir dari rumah kedua orang tuanya, apartemen ini harus di isi oleh dua orang dan mendadak malam ini di isi oleh tiga orang karena kedatangan pria menyebalkan itu.    Allisia mencuri-curi pandang ke arah cup kopi yang masih mengeluarkan uap. Aromanya begitu  menggoda namun alih-alih mengambil salah satu cup kopi itu, Allisia memilih meneguk soda nya. Padahal rasanya akan lebih enak meminum kopi di bandingkan soda di musim hujan seperti ini.     “Hey, kenapa om-om ini ada di apartemen kita?” tanya Allisia. Gadis dengan kaos kebesaran itu melirik dengan kesal ke arah Ellard yang menyeringai bagaikan iblis di sofa.     “Bukannya ini hanya apartemenmu Hey? Waktu itu aku membelikannya atas namamu. Tidak ada nama yang lain,” ucap Ellard menyindir Allisia, dia menatap ke arah Heyley dengan serius, keningnya membentuk beberapa lipatan seolah dia benar-benar sedang berpikir dengan keras.     Allisia lagi-lagi mendengus. Pria yang dia ketahui bernama Ellard Whalen itu benar-benar sangat menyebalkan di mata Allisia. Semenjak bertemu dengannya di W Caffe, Ellard semakin sering muncul bahkan seperti hari ini. Dia dengan seenaknya ikut ke apartemen Heyley.     “Hey, bukannya jam bertamu sudah habis? Kenapa om-om menyebalkan ini belum kembali ke rumahnya? Apa dia masih berpikir ingin berbuat mesuum padaku?” tanya Allisia. Dia melirik ke arah Ellard dengan tajam. Ellard yang sedang tiduran di sofa panjang itu hanya bersiul seolah sedang menikmati keadaan dan kekesalan Allisia     “Hey menurutmu bagaimana rasa kopi yang aku bawakan? Ini racikan terbaruku. Rencananya tidak akan aku jual di W caffe. Kopi ini spesial, hanya boleh di nikmati oleh orang-orang tertentu saja,” ucap Ellard. Heyley menghirup aroma kopi yang ada di genggamannya. Aromanya begitu menggoda dan sangat menenangakan.     “Ini sangat berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya kopi racikanmu sangat enak, kali ini luar biasa enaknya. Aku yakin jika ini di tambahkan dalam daftar menu di W Coffe akan sangat laris,” ucap Heyley. Gadis yang duduk di atas karpet bulu itu kemudian kembali menikmati kopinya.     Allisia kembali melirik kearah empat cup kopi yang ada di atas meja. Empat cup itu belum tersentuh sama sekali. Allisia diam-diam meneguk air ludahnya. Rasanya dia ingin sekali mencicipi kopi itu namun alih-alih mencicipi Allisia kembali meneguk minuman sodanya dengan rakus. Allisia tidak ingin terlihat murahan di mata Ellard. Harga dirinya lebih tinggi dibandingkan satu cup kopi.     “Sia, kau tidak ingin mencicipi kopi racikan Ellard?” tanya Heyley saat menyadari sedari tadi Allisia hanya meminum sodanya. Padahal Heyley sendiri tahu, Allisia bukan orang yang menyukai minuman berakohol. Allisia itu tidak kuat dengan alkohol.     “Aku tidak menyukai kopi. Lagian soda yang ada di tanganku rasanya lebih enak,” jawab Allisia dengan cuek. Heyley mendengus.     “Bukannya kau pernah bilang, minuman bersoda itu rasanya tidak enak. Terakhir kali kau meminumnya, kau berakhir muntah-muntah di kamar mandi dan mengeluh sakit perut seharian,” ucap Heyley membuat mata Allisia membola sempurna. Dia dengan cepat melirik kearah Ellard yang sedang menyeringai puas ke arahnya.     “Tentu saja tidak. Sekarang aku sangat menyukai minuman bersoda. Rasanya jauh lebih enak dari kopi,” jawab Allisia masih mempertahankan harga dirinya. Padahal kaleng minuman bersoda yang ada di tangannya masih terisi penuh. Allisia hanya bertindak seolah menikmati minuman itu padahal tidak sama sekali. Baunya saja sudah membuat Allisia merasa pusing.     “Benarkah? Bukannya tadi pagi kau sarapan dengan dua cup kopi dari W Caffe? Terus sejak kapan kau mendadak tidak menyukai kopi?” tanya Heyley dengan raut bingung. Wajah Allisia sedikit menegang. Kenapa setiap ada Ellard, Heyley tidak pernah bisa di ajak bekerja sama?     “Apa kau lihat-lihat?! Aku tahu, aku sangat cantik!” seru Allisia pada Ellard yang menatapnya dengan seringai geli.     “Tidak usah terlalu percaya diri. Aku sama sekali tidak menatapmu. Aku menatap kaleng sodanya. Sepertinya sangat mencurigakan,” ucap Ellard dengan tatapan penuh selidik.     “Mencurigakan? Bilang saja kau ingin mencicipi soda milikku. Tidak boleh, ini stok terakhir yang aku miliki,” ucap Allisia gelagapan. Tentu saja itu bukan stok terakhir, mengingat Heyley sangat menyukai minuman itu. Heyley tidak akan membiarkan minuman itu kosong di dalam kulkas.     Allisia semakin menyembunyikan minumannya ketika Ellard melangkah mendekat kearahnya. Karena merasa panik dan takut di goda habis-habisan. Allisia meneguk minuman bersoda yang baru ia minum sedikit itu sampai habis. Wajah gadis itu langsung memerah setelahnya. Heyley menatap ke arah Allisia dengan khawatir sedangkan Ellard menatapnya dengan jahil.     “Tidak ada yang mencurigakan dari minumanku. Kalau kau benar-benar ingin. Makan saja kalengnya,” ucap Allisia sambil memberikan kaleng soda itu pada Ellard, namun saat Ellard belum berhasil menerima kaleng itu Allisia sudah lari terbirit-b***t kearah wastafel.     Heyley menyusul dengan wajah khawatir sedangkan Ellard menatap dengan bingung  sambil menatap kaleng soda yang tergeletak tak berdaya di lantai sedikit airnya tercecer di lantai. Ellard mengambil kaleng minuman itu dan melemparkannya ke dalam tong sampah kemudian dia menyusul Allisia dan Heyley dengan langkah santai.     “Hoek…hoek…hoek” suara itu memenuhi ruang apartemen Heyley. Heyley memijat tengkuk Allisia. Gadis keras kepala dan gengsi setinggi langit itu tidak berhenti mengeluarkan isi perutnya sedari tadi bahkan air matanya sudah meleleh.     Ellard menatap Heyley seolah bertanya apa yang terjadi namun Heyley menjawabnya dengan gelengan kepala.     Tubuh Allisia luruh begitu saja di lantai. Gadis itu sudah menangis segukan.     “Daddy aku tidak bisa berjalan lagi. Tubuhku rasanya sudah tidak memiliki tulang. Gendong aku,” ucap Allisia dengan segukan. Ellard dan Heyley kembali saling tatap. Mereka merasa bingung sendiri dengan tingkah Allisia yang mendadak tidak biasa. Heyley semakin yakin Allisia itu manusia dengan banyak kepribadian.     Namun,  ketika Allisia merangkan kemudian memeluk kaki Ellard dengan erat membuat pria itu tersentak sedangkan Heyley mati-matian untuk tidak tertawa. Alih-alih menjawab kebingungan Ellard. Heyley memilih mengambil ponselnya kemudian mulai merekam aksi Allisia. Gadis itu akan terlihat sangat menggemaskan ketika dalam keadaan seperti ini.     “Apa Daddy marah padaku? Kenapa tidak menggendongku? Daddy aku tidak ingin bekerja, aku ingin liburan keliling dunia,” Allisa kembali merenggek. Dia sesekali menggesekkan hidungnya ke kaki Ellard yang terbalut celana bahan karena memang pria itu baru saja pulang bekerja.     “Daddy, aku sedang sekarat, kaki ku tidak bisa berjalan, Daddy gedong aku,” Allisia kembali merengek. Air mata mengalir deras. Ellard dibuat semakin kebingungan oleh keadaan yang sedang terjadi sedangkan Heyley sudah tertawa cekikikan dekat wastafel dan tentu saja masih merekam aksi Allisia.     “Daddy…” Ellard terkesiap ketika tiba-tiba Allisia memeluknya dengan erat. Gadis itu mendongak dengan wajah penuh air mata. Matanya mengerjab lucu menatap ke arahnya.     “Kenapa Daddy berubah jadi om-om jelek menyebalkan itu? Bahkan gara-gara om jelek, mesuum itu aku tidak jadi minum kopi padahal aku sangat menginginkannya. Daddy tolong tembak saja kepalanya. Aku ingin menyaksikan dia berdarah-darah,” ucap Allisia masih dengan memeluk pinggang Ellard dan menatap wajah Ellard. Ellard menegang di tempatnya. Entah kenapa menurutnya Allisia sangat menyeramkan ketika mabuk.     “Suruh Mike untuk menembaknya Daddy. Hancurkan saja kepalanya. Aku yakin pasti dia tidak memiliki otak!” seru Allisia semakin sadis namun gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada Ellard dan tanpa di sangka-sangka Allisia sedikit melompat kemudian melingkarkan kakinya di pinggang Ellard dan mengalungkan tangannya di leher pria itu membuat Ellard hampir saja kehilangan keseimbangan tubuhnya.     “Sekarang ayo antar aku ke kamar. Aku sudah mengantuk dan ingin tidur bersama Daddy,” racau Allisia di ceruk leher Ellard membuat Ellard semakin melotot. Dia menatap memohon pada Heyley namun Heyley hanya tertawa.     “Aku ingin tidur bersama, Daddy,” ucap Heyley tanpa suara. Gadis itu kemudian melangkah dengan santai ke arah sofa sambil mengatakan pada Ellard untuk membawa Allisia ke kamar.     Ellard melangkah pelan dengan Allisia dalam gendongannya. Napas gadis keras kepala itu terasa sangat teratur. Racauan anehnya yang membuat buluk kuduk Ellard meremang kini tidak terdengar lagi. Diam-diam Ellard merasa lega. Dia kemudian dengan perlahan menidurkan Allisia di kasur. Mata gadis keras kepala itu benar-benar sudah terpejam. Tidak ada lagi wajah yang selalu menatap sinis ke arahnya, mulut dengan bibir tipis menggoda itu juga tidak lagi menentangnya. Sekarang yang Ellard lihat di hadapannya adalah gadis dengan wajah cantik namun sangat menggemaskan. Bibir tipis dengan warnah merah muda alami itu kini seolah-olah sedang memanggil Ellard minta di cicipi.     Jemari Ellard kemudian bergerak dengan lembut menelusuri tulang wajah Allisia, menghapus dengan lembut sisa air mata yang ada di sana. Ketika Ellard ingin mendekatkan wajahnya untuk mengamati Allisia lebih dekat, gadis itu tanpa ada angin, tanpa ada kabut dan tanpa ada hujan menampar pipi Ellard begitu saja kemudian berubah posisi tidurnya dengan memunggungi Ellard sambil memeluk gulingnya.     Ellard menatap menatap gadis itu tidak percaya, dia mengusap pipinya yang terasa panas. Dia menyeringai ke arah Allisia yang kini dengan tanpa berdosa tidur dengan damai. Ellard sangat yakin esok atau lusa gadis itu akan memohon padanya.     Dengan pipi yang masih terasa panas, Ellard melangkah keluar kamar, dia melihat Heyley yang sedang asik memainkan ponsel di sofa. Mulut gadis yang sudah Ellard anggap seperti adiknya sendiri itu sibuk mengunyah cemilan.     “Bayi besar mu sudah tidur?” tanya Heyley dengan suara penuh ledekan ketika Ellard duduk di sampingnya.     “Bahkan dia sempat-sempat menampar pipiku dengan mesra!” seru Ellard membuat Heyley tertawa puas. Allisia memang sangat bisa diandalkan untuk menyiksa orang lain.     “Kau ingin menginap atau pulang?” tanya Heyley. Ellard masih mengusap pipinya kemudian pria itu meneguk kopinya yang sudah dingin.     “Kau ingatkan, ini tanggal berapa?” tanya Ellard pada Heyley. Heyley buru-buru melihat tanggal di ponselnya. Ekspresi gadis tomboy itu mendadak berubah. Dia langsung menoleh pada Ellard.     “Kau akan menginap di lantai atas? Sampai kapan kau terus ingin melakukan itu? Semua sudah berakhir El. Bahkan sejak lama,” ucap Heyley menatap Ellard dengan rasa yang sulit di definisikan.     “Tapi dia tidak akan pernah hilang Hey, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa berhenti,” ucap Ellard dengan wajah sendu. Tidak ada lagi seringai jahilnya. Siapapun yang melihat pria itu sekarang pasti akan merasa sangat kasihan atau akan mengatakan pria itu terlalu bodoh.     “Terserah kau saja. Tapi pastikan besok pagi tidak ada keributan apapun yang terjadi diluar apartemen. Aku sedang tidak ingin melihat media dan para fansmu yang berteriak seperti orang gila atau tuntutan gadis-gadis yang pernah kau tiduri,” ucap Heyley mengingatkan. Ellard menyeringai.     “Kalau soal itu, aku tidak bisa berjanji,” ucap Ellard kemudian pria itu melangkah meninggalkan apartemen Heyley dengan tawa puas tapi Heyley tau banyak hal yang tersimpan di balik tawa itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD