"Pak, bisa Anda periksa laporan keuangan bulan lalu?"
Friska, sekretaris Sean yang begitu sabar meski sekarang dia sedang berbicara dengan bosnya yang duduk membelakangi dengan acuh dan santai.
Datang terlambat ke kantor setiap hari mengabaikan semua jadwal yang sudah dia tulis rapi bahkan lebih sering tidak mengerjakan apa pun selain duduk dan memainkan ponsel. Friska tidak pernah mengerti kenapa dia bisa sangat sial seperti ini. Sebelumnya dia menjadi sekretaris dari papanya Sean namun ketika perusahaan diwariskan kepada anaknya ini, Friska juga turut diwariskan, dipercaya sebagai orang yang memahami siklus kerja papanya Sean yang sangat sibuk itu hingga bisa menyesuaikannya dengan Sean tapi nyatanya buah jatuh tidak selalu dekat dengan pohonnya.
Hari ini bahkan Sean bukan hanya terlambat, dia datang hampir di jam makan siang di mana semua staffnya hendak pergi ke kantin untuk mengisi perut yang meronta namun kedatangannya malah membuat mereka tertahan di kursinya. Sikap Sean yang seperti itu memang membuat semua orang di kantor tidak menyukainya, beruntung karena kendali masih dipegang oleh papanya meski pria itu cukup tua untuk pergi ke kantor dan mengerjakan semuanya dari rumah, Sean hanya perlu bergerak saat ada klien, memastikan target terpenuhi dan mereka tidak kehilangan apa pun.
Pria berusia 30 tahun itu memang menghabiskan setengah usianya di Manhattan, kota yang terlalu gila untuk membuat jiwanya juga ikut gila hingga 3 tahun lalu kembali ke Indonesia dan dipaksa untuk belajar mengatur perusahaan. Namun melihat waktu berlalu tanpa perubahan membuat semua orang menganggap Sean memang tidak berbakat bahkan tidak berusaha untuk terlihat berbakat tapi anehnya papanya tetap membiarkan Sean begitu.
"Sialan!!" Kembali mengumpat, Sean membuat Friska tersentak. Bosnya memang menyebalkan tapi berkata kasar? Friska baru kali ini mendengarnya.
"P-pak maksudnya Anda bagaimana?" Dengan hati-hati perempuan itu bertanya, memastikan bahwa dia tidak membuat kesalahan meski isi kepalanya sejak tadi membicarakan pria ini.
Tapi Sean hanya mendesis dan jelas menahan napasnya hingga Friska bisa mendengar bagaimana dia melakukannya.
Di tangan Sean dia menggenggam secarik kertas yang sudah kusut sisa dari emosinya tadi ketika mendapati perempuan itu menghilang begitu saja. Sean juga yang bodoh, dia berpikir bahwa dia tidak akan menemui perempuan itu lagi sebab keduanya hanya bersenang-senang dan mendapatkan kesenangan tersebut, tidak ada yang dirugikan bahkan jika berakhir begitu saja tapi sekarang Sean tidak bisa menghapus bayangan perempuan itu dari ingatan, setiap inchi tubuhnya dia ingat bahkan tatapannya yang menggoda dan suara napasnya membangkitkan gairah Sean meski hanya dengan memejamkan mata, Sean merasakannya lagi. Dia tahu ini adalah kali pertama tapi dia tidak berpikir bahwa dia akan menjadi sangat terobsesi. Kemudian yang paling besar dari itu semua adalah kemarahan karena harga dirinya serasa diinjak setelah perempuan itu mencampakkan dirinya lebih dulu.
"Pakk!!" Friska mulai kesal karena diabaikan.
Tiba-tiba saja Sean bangkit dari kursinya menghentak lantai dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sambil menatap Friska membuat perempuan itu terkejut dengan matanya yang terbuka sepenuhnya. Tetapi Sean tidak mengatakan apa pun, dia pergi begitu saja tanpa menyentuh pekerjaannya sama sekali. Benar-benar gila.
Langkahnya berayun melewati beberapa bilik kerja karyawan tanpa peduli pada mereka yang membungkuk sopan. Sean sibuk dengan ponselnya, mencoba menghubungi temannya yang tadi pagi dia suruh untuk menyelidiki perempuan itu tapi sampai sekarang tidak memberi kabar.
"Lo ngerti gue minta cepet enggak?" bentaknya ketika panggilan tersambung.
"Sorry Sean, lo kan suruh gue cek CCTV apartemen lo dulu baru gue minta orang-orang gue cari dia. Sabar dong!" Terdengar menahan kesal karena ocehan Sean, pria itu langsung memberi argumen tapi Sean tidak membutuhkannya.
"Terus sekarang?"
"Florist de beaute, di Jalan M Toha, dia ownernya."
Sean tersenyum miring, senang karena temannya bekerja dengan cepat meski dia sempat kesal. "Her name?" Sean menarik handle pintu mobil setelah menekan tombol pada kunci, dia bersiap untuk pergi menemui perempuan itu sebelum rasa penasarannya semakin menggila.
"Adeline."
"Okay, thanks."
"Sean, wait!!" Pria itu menahan Sean yang sepertinya hendak mengakhiri pembicaraan mereka dan beruntung karena masih sempat. "Dia punya anak."
"Anak?" Sean terkejut, jelas, perempuan itu tampak masih muda dan tidak terlihat seperti pernah melahirkan dan lagi jika dia memiliki seorang anak itu berarti dia memiliki pasangan.
"She is a widow."
"Okay," jawab Sean lagi dengan santai.
"Men!! Lo enggak gila, kan?" protes temannya, bisa Sean bayangkan bagaimana ekspresi pria itu ketika mengatakannya. "Lo bisa dapetin perempuan, perempuan yang single."
"Gue cuma mau pastiin sesuatu."
Menggeleng dengan ponsel di telinganya, teman Sean itu jelas tahu bahwa pria di seberang panggilan hanya mencari alasan. Dia mengenal Sean sejak sama-sama kuliah di Amerika dan Sean tidak pernah terobsesi pada perempuan seperti ini, membiarkan perempuan itu masuk ke dalam apartemennya saja sudah sesuatu yang luar biasa.
Pikiran Sean berkecamuk, ramai sendirian mengolah kosakata ketika dia bertemu dengan perempuan bernama Adeline itu. Membuka dashboard, Sean juga memastikan bahwa uang yang Adeline berikan kemarin ada di sana bersama secarik kertas lusuhnya. Dia akan melempar nominal tidak berharga itu dengan arogan dan memaki Adeline karena sudah meremehkannya. Dia akan melakukan itu.
Florist de beaute, tulisan meliuk itu menyambut Sean yang memarkir mobilnya di depan, dia menatapnya beberapa saat samapi kemudian yakin. Menurunkan tumitnya satu persatu, Sean kemudian merapikan jas yang ia pakai dan menutup pintu mobil. Dari sana dia bisa melihat perempuan itu melalui dinding yang sepenuhnya kaca dengan ratusan tangkai bunga yang memenuhinya, ada sesuatu yang berdesir dalam darahnya dan membuat kulit Sean bergidik, dia tidak tahu apa tapi rasanya begitu. Tampak juga dua atau tiga orang perempuan yang sibuk merangkai bunga yang Sean tebak adalah karyawan di sana.
Oke, Sean tahu dia harusnya berjalan masuk menemui Adeline dan melakukan apa yang dia rancang dalam otaknya sejak tadi, harusnya begitu. Tapi Sean malah berbalik, kedua tangannya berada di dalam saku merogoh uang yang hendak dia lempar tadi yang lagi-lagi sudah dia pikirkan sangat matang namun sekarang dia sangsi terhadap apa yang akan dia lakukan.
Kembali memperhatikan perempuan itu dari jarak aman, Sean hampir berubah pikiran nyalinya tiba-tiba ciut bukan karena takut. Ada hal lain yang membuatnya tidak mengerti meski akhirnya dia bergerak juga demi rasa arogan yang memenuhi hatinya saat ini. Lonceng berbunyi nyaring ketika pintunya di dorong ke dalam membuat semua orang yang ada di sana mengangkat kepalanya dan mengalihkan perhatian dari apa pun yang tengah mereka kerjakan, pun Adeline. Dia yang sedang menggunting ujung batang bunga mawar langsung terpaku dengan napasnya yang tercekat di tenggorokan.
"Selamat siang, mau pesan bunga?" tanya salah satu karyawan Adeline menghampiri.
Mengabaikan pertanyaan tersebut Sean masih sibuk menatap Adeline dengan intens seolah tidak ingin melepaskan pandangannya dari perempuan yang pagi tadi menghilang dari ranjangnya. Dan lagi sosok perempuan di hadapannya ini tidak sama seperti perempuan yang semalam mengerang dalam dekapannya dan menggoda dengan matanya yang ini terlihat begitu sederhana dan elegan dengan cara yang berbeda ada kesan polos dan pemalu juga dalam sorot matanya yang semalam nyaris dipenuhi kabut mendamba.
Adeline gugup karena dia jelas tahu kalau pria ini mencarinya tapi yang tidak bisa dia pikirkan adalah alasan kenapa dia mencari Adel dan sehebat apa sampai dia bisa menemukannya dalam hitungan jam saja. Tidak mungkin karena uang yang Adel berikan kurang, kan? Sialnya semalam dia memang tidak membawa uang tunai yang cukup untuk membayar seorang pria yang tidur dengannya ini selain sisa uang dollarnya ketika datang ke Amerika untuk menyusul mantan suaminya. Adel tidak tahu berapa harga yang pantas untuk pekerjaan semacam itu karena semalam adalah pertama kalinya.
Langkah Sean semakin mendekat dengan arogan saat dia menyadari kalau orang yang dia cari terintimidasi dengan kehadirannya. Kini jarak diantara mereka hampir pudar. Memperjelas pertanyaan yang muncul dalam benak orang lain yang ada di sana bahwa pria ini dan bos mereka saling mengenal.
Alis Sean terangkat begitupun sudut bibirnya yang nyaris tersenyum tajam dengan kedua tangan di dalam saku sedang tubuhnya bertumpu pada satu titik. "Adeline, mau bicara di sini atau ikut saya sekarang?"